[Fanfic] D-Day – Part 1 –

20120721_infinite_l-600x701

D-Day

Casst :

1.Kim Myungsoo a.k.a Infinite L

2.Shin Hyunmi (OC)

3.Another Infinite Members and OC

 

Genre : Tentukan sendiri😀

 

Pembaca yang terhormat.. jeng jeng.. chibisukechan kembali membawa oleh-oleh FF setelah bertapa di gua bidadari (?)

This special FF dedicated to my twinnie admin  Yuntaeryo for her birthday gift. Jadi, dia sedang ulang tahun yang ke 80.. eh.. maksudnya 18😄

Jyaaaa.. enjoy it ^^

 

Musim dingin tampaknya belum mau melangkahkan kakinya meninggalkan Seoul. Tumpukan salju yang turun memenuhi pinggiran jalan, pepohonan, dan atap-atap gedung. Sepagi ini, udara dingin datang menusuk-nusuk hingga ke sumsum tulang. Cara terbaik untuk menghangatkan diri adalah tetap meringkuk di balik selimut tebal.

Setidaknya begitulah yang dilakukan oleh ketujuh namja keren di dalam apartemen mereka. Infinite, begitu mereka dikenal di masyarakat. Boygroup yang tengah naik daun dan lekat dengan image cool dan karismatik.

Namun segala bentuk sifat keren dan karismatik itu runtuh seketika di hari bersalju ini. Bahkan tampaknya sisa-sisa ketampanan mereka yang biasa terlihat di atas panggung, hilang tergantikan oleh wajah mengantuk bercampur air liur. Tapi peduli apa mereka. Biar saja mereka terlihat jelek. Asalkan bisa tetap hangat di cuaca ekstrim ini.

Tidak, bukan bertujuh. Satu makhluk diantara mereka tampak duduk bersila di atas sofa ruang tamu dengan pandangan kosong kedepan. Beruntung dengan wajahnya yang sangat tampan sebagai visual infinite, dia tidak terlihat sebagai  toshio versi dewasa.

Rambut hitamnya dibiarkan agak berantakan (meski begitu dia tetap terlihat sangat tampan). Wajahnya sedikit pucat dan bersih tanpa make up (sekali lagi meski begitu dia tetap tampan). Myungsoo memakai kaos putih oblong dan celana setut berwarna hitam. Ia tidak mengenakan selimut, sweater, atau jaket sama sekali. Tampaknya udara dingin enggan menjamahnya. Entah karena takut dengan sorot matanya yang setajam dan sedingin es kutub utara, atau karena udara dingin itu terlalu terpesona dengan wajah tampan pemuda itu sehingga ia meleleh begitu mendekatinya.

Dia tetap berpose seperti itu hingga 30 menit berlalu. Seperti manekin pada toko-toko baju. Hanya kelopak matanya yang berkedip serta dadanya yang naik turun yang menandakan ia hidup. Meski begitu, sel-sel otaknya berloncatan kemana-mana. Ingin membuktikan bahwa ia bukan no brain man.

Sementara itu, di ruangan lain, dua orang namja tampak tidur di dalam gulungan selimut yang membungkus mereka dari kepala hingga kaki. Satu gulungan tidak bergerak sama sekali. Sedangkan gulungan yang lain tampak mulai bergera-gerak pelan. Lalu sebuah kepala muncul perlahan. Sungyeol.

Pik.. Pik.. Pik..

Sungyeol mengedip-kedipkan matanya beberapa kali dan menggerakkan kepalanya melihat ke seluruh ruangan. Dia melihat ke arah makhluk terbungkus selimut yang tidur satu ruangan dengannya. Melihat pose dan posturnya, ia tahu itu dongwoo hyung. Lalu ia menyadari satu roomate-nya tidak ada. Akhirnya ia sekuat tenaga bangkit dan berjalan mendekati pintu.

Sungyeol berjalan sangat pelan masih dalam gulungan selimut yang membungkusnya dari kepala hingga kaki. Ia tampak seperti ulat sutra raksasa yang tengah berdiri. Ia menuju ruang tamu. Di dapatinya sang visual duduk bak manekin di atas sofa. Ia menatap Myungsoo bingung.

“Myungsoo~” sapanya dengan suara serak sembari duduk di sebelahnya.

“Apa yang akan kau berikan kalau yeojachingu mu ulang tahun?” tanya Myungsoo tiba-tiba. Pemuda itu masih pada posisi duduknya semual. Tidak berubah 1 milimeter pun.

Sungyeol menoleh dengan mata setengah tertutup. Setengah kesadarannya masih berkeliaran di luar.

“Molla.. Aku kan tidak punya yeojachingu”jawabnya sambil menguap.

“Kalau suatu saat kau punya yeojachingu apa yang akan kau berikan sebagai kado ulangtahunnya?” tanya Myungsoo lagi. Posisinya masih tidak berubah.

“Molla.. aku tidak pernah membayangkannya” jawab Sungyeol lagi.

“Apa yang akan kau berikan di hari ulang tahun gadis yang kau sukai?”

“Molla. Aku tidak sedang menyukai seorang gadis”

“Apa yang akan kau berikan kepada teman perempuanmu atau saudara perempuanmu atau ibumu saat mereka ulang tahun?”

“Molla. Aku tidak punya saudara perempuan. Lagipula ulangtahun mereka masih lama sehingga aku belum memikirkannya”

“Jika teman perempuanmu ulang tahun besok, apa yang akan kau berikan padanya?” Myungsoo masih belum menyerah.

Sungyeol mengdip-kedipkan matanya, “Molla. Teman perempuanku tidak ada yang ulangtahun besok”

Myungsoo diam. Ia lalu menolehkan kepalanya 90 derajat ke arah kanan. Ia menatap Sungyeol dengan tatapan sedingin es kutub utaranya. Bzzzt… Bzzzt.. Bzzzt… sinar-sinar laser ala robot-robot di televisi keluar dari kedua bola matanya menuju ke arah Sungyeol.

Sementara itu, merasa ada aura tidak enak yang menyerangnya dari sayap kiri, Sungyeol menoleh dan menatap Myungsoo tepat di kedua bola matanya. Untuk beberapa detik, mereka saling diam dan menatap. Bzzzt… Bzzzt… Bzzt.. laser-laser Myungsoo menghujam tepat pada mata Sungyeol.

Pik.. Pik.. Pik..

Sungyeol mengedip-kedipkan matanya lalu kembali memutar kepalanya menghadap ke depan. Kemudian pemuda tinggi itu menarik kepalanya masuk kembali ke dalam gulungan selimut putihnya. Layaknya seekor kura-kura yang tengah ketakutan.

Tampaknya ia sudah membuat Myungsoo berubah menjadi badai salju.

*****

         Myungsoo menghembuskan napasnya. Penampilannya sudah lebih rapi. Rambutnya sedikit basah dan tersisir mengikuti pola. Ia mengenakan celana jeans hitam dan kaos hitam lengan pendek bermotif aneka warna. Meski tanpa make up, ketampanannya sudah naik 100 kali lipat dibanding tadi pagi.

Ia duduk sendiri di balik meja makan. Di hadapannya, tampak secangkir cappucino hangat terhidang dengan asap yang mengepul. Kedua sikunya bertumpu di atas meja dan jari-jarinya saling mengatup terangkat sebatas dagu. Ia duduk dengan pose cowok-cowok keren dalam drama-drama. Tatapan matanya menatap lurus ke depan dengan syahdu.

Ia tengah bingung. Tiga hari lagi ulang tahun Hyunmi, yeojachingu-nya. Ani.. tunangannya. Ia bingung harus memberi apa. Pada ulang tahun setahun yang lalu, ia memberi sebuah kalung. Setahun lalu lagi, ia memberi sebuah jam tangan. Tahun ini ia ingin memberi sesuatu yang berbeda.

Di saat ia tengah bimbang, sang leader granpa Sunggyu, memasuki dapur dan duduk di sebelahnya.

“Kau kenapa? “ tanyanya.

Myungsoo menghela napas. Ia mengambil cangkir cappucino-nya dan menyeruputnya sedikit.

“Hyung.. Hyunmi sebentar lagi ulangtahun. Menurutmu, apa yang sebaiknya kuberikan?” akhirnya Myungsoo jujur pada Sunggyu. Ia percaya Sunggyu bisa membantunya.

Ditanya seperti itu, Sunggyu memiringkan kepalanya 10 derajat ke kanan. Dahinya sedikit berkerut dan mulutnya sedikit terbuka. Ia tampak berpikir. Lalu ia menoleh ke arah Myungsoo dan menatap pemuda itu beberapa saat.

“Kenapa kau bertanya padaku?” kata Sunggyu.

“Karena aku bingung. Saat Haena ulangtahun, apa yang kau berikan padanya?”

Sunggyu semakin mengerutkan dahinya sehingga mata sipitnya semakin tidak terlihat.

“Kenapa kau bertanya padaku? Aku ini berbeda denganmu”

Myungsoo menghela napas, “Aku tahu hyung.. Aku hanya..”

“Lagipula kenapa kau menanyakan apa yang kuberikan pada Haena? Itu privasiku”

Myungsoo menatap leader itu. Bersiap mengeluarkan jurus tatapan dingin es kutub utaranya. Namun,baru saja ia berniat, Sunggyu sudah menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan kedua mata sipitnya dengan sangat tajam. Bzzzttt.. Bzzttt.. Bzztt.. laser keluar dari kedua matanya 1000 volt lebih tinggi dari laser mata Myungsoo.

“Kenapa kau mau tahun privasiku? Kenapa kau tidak memikirkannya sendiri? “

Mulut Myungsoo terbuka sedikit dengan sendirinya (tetapi sekali lagi tetap sangat tampan). Ia menatap Sunggyu heran. Apakah usia tua itu membuat seseorang lebih sensitif batinnya.

Sunggyu lalu beranjak dan meninggalkan Myungsoo sendirian. Tepat saat itu, Hoya dan Sungjong masuk ke dapur. Mereka mengikuti perginya Sunggyu dengan kedua mata mereka.

“ Tidak usah dipikirkan” Kata Hoya sambil duduk di sebelah Myungsoo. “Gyu granpahyung sedang ada masalah”

Myungsoo menaikkan satu alisnya.

“ Gyu granpahyung sedang ada masalah dengan Haena sshi” bisik Sungjong sambil membawa segelas susu ke meja.

Myungsoo tidak menyahut. Ia kembali meneguk minumannya lalu berpaling ke arah Hoya.

“Kau.. apa yang kau berikan saat Seungmi ulangtahun?”

“Eh? Aku? Aku  mengirim ucapan dan hadiah”

“Hadiah apa?”

“ Aku memberinya novel”

Mata Myungsoo melebar mendengarnya, “Novel?”

Hoya mengangguk, “Novel cerita detektif. Karena dia menyukainya, makanya kuberikan saja”

“Hanya itu?”

“Ah, sama vitamin juga”

“Vitamin?”

“Soalnya Seungmi waktu itu lagi flu. Dia paling keras kepala kalau disuruh minum obat. Dia juga tidak suka jika diberi vitamin begitu saja. Dia pasti membutuhkannya. Karena itu….”

Myungsoo memandang Hoya tanpa berkata sepatah katapun. Kali ini dia tidak mengeluarkan jurus maut tatapan sedingin es kutub utaranya. Jika digambarkan dalam emoticon, ekspresinya akan seperti (-____-)” ini.

Ia lalu berdiri meninggalkan Hoya dan Sungjong yang menatapnya bingung.

Melihat itu, Hoya dan Sungjong berpandangan.

“Apa aku salah menjawab”

Sungjong menggeleng.

“Jawabanku keren, kan?”

Sungjong mengangguk. “Tapi kenapa dia tidak bertanya padaku?” Sungjong balik bertanya dengan polos.

Hoya tampak berpikir sejenak. Kemudian ia berujar, “Tunggu dulu, memangnya kau punya yeojachingu?”

Sungjong menggeleng.

“ Makanya dia tidak bertanya padamu”

Sungjong mengangguk-angguk.

*****

         Myungsoo melangkah gontai menuju kamarnya. Harapannya tinggal dua. Woohyun dan..

Kreekk… pintu kamarnya terbuka. Dan matanya langsung tertuju pada gulungan putih besar yang meringkuk di dalamnya. Seketika itu, harapannya pupus satu. Dongwoo tampaknya akan menjadi sleeping handsome di hari bersalju ini dan mustahil untuk dibangunkan dan dimintai pendapat. Myungsoo keluar dengan aura yang semakin gloomy. Harapannya tinggal..

“Yak! Uri visual Kim Myungsoo, kenapa wajahmu keruh begitu?” seseorang menepuk punggungnya dari belakang.

“Woohyun?”

Si nation youngman, namja yang (mengaku) paling romantis seantero Infinite, menatap Myungsoo sembari cengar-cengir.

“Ada yang bisa kubantu?”

Myungsoo menghela napas. Ia berjalan menuju ruang tamu dan membiarkan Woohyun mengikutinya. Mereka duduk berdampingan.

“Kau pasti sedang bingung memikirkan hadiah untuk Hyunmi? “

Myungsoo menoleh dengan tatapan tajam andalannya. Namun yang ditatap masih cengar-cengir. Tampaknya jurus maut Myungsoo tidak mempan terhadap Nam Woohyun. Pemuda itu malah membalasnya dengan memberikan jurus heart throw andalannya. Myungsoo menekan dahinya pelan. Terasa berdenyut.

“Aku tahu kau bertanya pada semua member kan? Dan aku tahu apa jawaban mereka semua. Ah, kau datang pda orang yang tepat” Woohyun menepuk bahu Myungsoo. Pemuda itu semakin menekan dahinya. Semakin berdenyut. Firasatnya tidak enak.

“ah, begini, dengarkan saranku. Di malam hari tepat jam 00:00, datanglah ke bawah jendela kamarnya dengan membawa gitarmu dan seikat mawar putih. Lalu bernyanyilah dari hatimu yang paling dalam, naekko haja~ seperti itu”

Myungsoo menghela napas, “Tapi dia sudah menjadi milikku”

Namun Woohyun tidak peduli, ia terus berceloteh,”Bernyanyilah dari hatimu yang terdalam. Apa yang dari hati, akan sampai ke hati” Woohyun mengakhiri kata-katanya dengan pose bak aktor drama paling romantis sedunia.

Myungsoo hanya bisa melongo. Woohyun pun berlalu setelah memberinya satu heart throw.Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya terpejam. Sebuah pose yang bisa membuat hati para gadis meleleh dalam waktu kurang dari 0,000000001 detik.

“Kenapa kau mau tahun privasiku? Kenapa kau tidak memikirkannya sendiri? “ Ia terngiang jawaban Sunggyu.

“Novel cerita detektif. Karena dia menyukainya, makanya kuberikan saja. Aku juga memberinya vitamin. Soalnya Seungmi waktu itu lagi flu. Dia paling keras kepala kalau disuruh minum obat. Dia juga tidak suka jika diberi vitamin begitu saja.Dia pasti membutuhkannya. Karena itu…”

Lalu jawaban Hoya. Myungsoo membuka matanya. Sebuah titik terang mulai tampak.

”Bernyanyilah dari hatimu yang terdalam. Apa yang dari hati, akan sampai ke hati”

Cling! AHA!

Lampu yang redup di kepala Myungsoo menyala kembali. Cahayanya bersinar 1.000.000.000.000 kali lebih terang dari biasanya. Ia menaikkan sudut bibir kanannya, tersenyum puas. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “[Fanfic] D-Day – Part 1 –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s