[Fanfic] Silent Monologue – Part 4 –

 

Cast :

  1. Infinite Hoya
  2. Yang Seungmi (imaginer)
  3. Yoon Kira (imaginer)
  4. MBLAQ Seungho as Seungmi’s older brother
  5. After School Jungah
  6. Another Infinite & Mblaq Member

author : chibisukechan

 

mianhae, telat banget ngepostnya >.< author sibuk sih.. :p

hmm… part ini ditulis dengan ide yang udah semaput. trus ngerjainnya juga ganti2an dengan ngerjain tugas kuliah.. wkwkwk

ne..enjoy it , crtitcs and comment please😀 gomawo

 

“Saengil chukka hamnida” ucap seorang yeoja sambil mengulurkan tangannya. Seungmi yang baru datang, tersenyum.

“Gomawo”

Siswa-siswa lainnya berdatangan untuk memberinya ucapan selamat ulang tahun. Gadis itu tersenyum senang. Hari ini adalah hari spesialnya. Sepagi tadi ia sudah menerima sebuah hadiah dari Kira.

“Seungmi!!!” terdengar seseorang berteriak dari arah pintu. Tampak Sungyeol setengah berlari menghampirinya. Hoya berjalan tenang di belakang pemuda itu.

“Saengil chukka hamnida” Sungyeol menyodorkan sebuah hadiah yang dibungkus dengan kertas kado bermotif jerapah. Seungmi sedikit terkejut dengannya. Ia menerima benda kotak itu.

“Gomawo. Cheongmal gomawo “

Sungyeol hanya cengar-cengir sembari menaikkan alisnya. Seungmi ikut tersenyum. Meski hatinya merasakan gemuruh yang besar. Ia semakin takut kehilangan. Jika saja Sungyeol tahu tentang masa lalunya, pemuda itu pasti tidak akan sebaik ini padanya.

“Oya, Dongwoo hyung bilang sore ini kalian ada acara, ya?” Tanya Sungyeol. Anak itu masih berdiri di depan meja Seungmi. Hoya yang duduk di sebelahnya hanya bungkam sembari diam-diam mendengarkan.

Seungmi mengangguk. Dalam hatinya ia berharap Sungyeol tidak meminta untuk ikut dalam perayaan kecil-kecilan mereka.

“Aku boleh ikut tidak?”

Deg! Hatinya kembali bergejolak. Sungguh, ia tidak ingin sedekat ini dengan Sungyeol. Seungmi semakin terbebani begitu kemarin tahu bahwa anak itu adalah teman satu dancer club-nya Dongwoo. Dan saat ini ingin sekali rasanya menolak permintaan Sungyeol. Namun pemuda itu sudah memberinya hadiah. Seungmi semakin merasa tidak enak.

“kalau aku dan Dongwoo Oppa tidak keberatan. Tapi coba kau bertanya dulu sama Kira” katanya. Dan ia berharap Kira keberatan.

“Baiklah. Ah, tapi aku tidak membebanimu kan?” Tanya Sungyeol sebelum berlalu ke tempat duduknya.

Aku sangat keberatan batin Seungmi. Namun gadis itu hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Gwenchana”

Setelah pemuda itu pergi dari hadapannya,Seungmi menghela napas berat. Gadis itu menggigit bibirnya. Ia memandang hadiah dari Sungyeol dengan nanar. Sementara itu Hoya sedari tadi meliriknya. Berusaha mencerna ekspresi gadis itu.

Seungmi lalu tersenyum dan memasukkan hadiah itu ke dalam tasnya. Ia harus menjadi Seungmi yang ceria dan kuat. Tidak ada yang boleh tahu mengenai sisi lemahnya. Gadis itu lalu menoleh ke arah kanannya. Ia menatap Hoya yang tengah pura-pura menekuri bukunya. Seungmi menarik napas sejenak.

“Howon ssi” panggilnya pelan. Hoya berbalik perlahan tanpa berani menatap mata Seungmi secara langsung. Hanya sedikit-sedikit meliriknya

“W.. wae?”

“Kau kenal Dongwoo Oppa kan? Kemarin dia bilang kalian memiliki dance club bernama Infinite. Aku baru tahu. Kebetulan sekali ya” katanya.

Hoya mengangguk-angguk sambil menenangkan degup jantungnya yang tidak beraturan.

“Ne. Aku..a aku juga tidak menyangka kalian sudah saling mengenal lama”

Seungmi tersenyum. Hoya menangkap ekspresi itu dan menyimpannya baik-baik dalam memorinya. Kemudian gadis itu kembali pada posisi duduknya semula.

“Seungmi ssi.. “ gantian Hoya yang memanggilnya. Seungmi berbalik lagi. Ia menaikkan kedua alisnya.

Hoya menjadi semakin gugup, “Ehm.. hari ini.. kau ulang tahun ya?” tanyanya.

“Eh?” Seungmi sedikit membulatkan matanya. Antara terkejut dan bingung dengan pertanyaan Hoya. Pemuda itu ikut bingung dengan perkataannya sendiri. Tanpa sadar ia menggaruk-garuk tengkuknya.

“Ne” jawab Seungmi kemudian sambil mengangguk.

Hoya menarik napas pelan, “sa..saengil. .chukka ham..nida”

Seungmi tertegun. Gadis itu mengerjap-kerjapkan matanya. Membuat Hoya merasa jantungnya benar-benar terlepas. Gadis itu membuatnya benar-benar tidak bisa untuk tidak gugup setiap harinya.

Seungmi tertawa kecil. Ia merasa Hoya pada sepenggal pagi ini benar-benar lucu. Dengan tertunduk, menyembunyikan mukanya yang bersemu, ia mengangguk.

“Gomawo” balasnya.

Hoya merasa hatinya berbunga-bunga. Ia tidak akan melupakan pagi ini.

Sementara itu, raut wajah Seungmi menjadi keruh. Rasa bahagia yang sempat terlintas itu menghilang seketika. Berubah menjadi segumpalan sakit dan perih yang menusuk. Ia tidak bisa mengingkari perasaannya terhadap pemuda di sampingnya itu. Juga tidak bisa menghindari ketakutan akan kehilangan itu ,sekali lagi, yang begitu besar.

Mencintai itu rasa yang perih.

Dan Hoya melirik Seungmi sekali lagi. Jelas menangkap ekspresi gadis itu yang tengah menunduk. Sepi, sedih, dan takut. Ia terkesiap. Seungmi terlihat berbeda. Tidak tampak seperti awan putih yang bebas dan ringan. Hoya saat itu juga mengerti, ada yang Seungmi sembunyikan. Mungkin dari semua orang.

Sesuatu yang menyakitkan. Entah itu apa.

*****

“Kita mau kemana?” Tanya Sungyeol dengan wajah sumringah.

“Molla. Ini rencana Kira” jawab Seungmi. Sementara itu, Kira hanya diam dengan ekspresi datarnya.

Sungyeol mengambil posisi berjalan di samping Kira, “Kita mau kemana?”

Kira hanya diam tanpa berniat sedikitpun menjawab. Sungyeol tidak menyerah. Ia menyenggol lengan Kira.

Seungmi hanya menahan tawanya melihat usaha Sungyeol demi mendengar Kira bicara. Namun seberapa keraspun usaha Sungyeol, Kira tetap bungkam.

“Hei, jawab aku! Kira ssi~ tell me.. tell me.. te.. te.. te.. te.. te.. te.. tell me~”

Kira seketika menghentikan langkanya. Masih dengan wajah tanpa ekspresinya, gadis itu berujar, “Bisakah kau hanya berjalan tanpa bicara satu huruf pun?”

Sungyeol bungkam dan tersenyum kecut.

“Sekali lagi kudengar suaramu, aku tidak jadi membiarkanmu mengikuti kami”

Pemuda itu menggaruk kepalanya, “arasseo”

Seungmi cekikikan melihat mereka berdua.

“Kajja, seungmi ah” Kira menggandeng tangan Seungmi sambil tersenyum manis.

“Gadis aneh. Denganku dia dingin begitu, tidak sampai satu detik langsung tersenyum manis pada Seungmi” gumam Sungyeol sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lalu kembali berjalan di belakang kedua gadis itu.

Langkah mereka lalu berhenti di sebuah tempat yang tidak asing di mata Sungyeol.

“Kata eomma, makanan disini enak. Tempatnya bersih, aman, dan pelayanannya bagus. Soal harga, standar sih” kata Kira. Seungmi mengangguk-angguk. Mereka tiba di café yang selalu di lewatinya saat pulang sekolah. Café yang tepat berseberangan dengan halte bus tempatnya menunggu biasanya.

“kalian serius di sini?”

“Kalau keberatan, pulang saja” jawab Kira.

Sungyeol terkekeh, “Aniya.. Ani~ ya, di sini memang bagus” ia mengikuti kedua gadis itu menuju lantai atas café yang berupa area terbuka.

“Akan kuberitahu Dongwoo hyung kalau kita sudah sampai”

*****

“yeayyy!!”

Suara terompet ikut menyertai begitu Seungmi meniup lilin. Gadis itu tersenyum senang ke arah teman-temannya.

“gomawo sudah menyiapkannya untukku” kata Seungmi.

Dongwoo kembali meniup terompetnya,” Gwenchana. Kita kan berteman”

“Ini adalah ide Dongwoo Oppa dan aku yang mencari tempatnya” kata Kira.

“Iya, aku mengerti. Aku memang hanya ikut tanpa memberikan apa-apa” jawab Sungyeol sambil cengar-cengir. Kira meminum minumannya tanpa merespon sedikitpun. Ia tampaknya tidak begitu suka dengan Sungyeol yang banyak bicara.

“ Sudahlah, kau kan tadi memberiku hadiah. Gomawo” Seungmi menengahi kedua temannya.

Dongwoo lalu cepat-cepat mengekuarkan sesuatu dari tasnya, “ Ini dariku. Semoga berguna” katanya.

Seungmi menerima sebuah benda terbungkus kertas kado berwarna merah itu dengan wajah sumringah, “Gomawo Oppa.. Gomawo. Ah, Oppa baik sekali”

Dongwoo hanya tersenyum.

“Kau tidak?” Tanya Sungyeol pada Kira. Gadis itu menatap Sungyeol dengan datar.

“Kira sudah, tadi pagi” jawab Seungmi.

Sungyeol jadi kikuk. Terlebih, Kira terus menatapnya dengan ekspresi datar. Namun kedua matanya memancarkan aura dingin dan membunuh.

“Mianhae~ mianhae~  Jeongmal mianhae~ sorry sorry sorry sorry”

Seungmi tertawa, “Sudah.. sudah.. Perang dinginnya dihentikan dulu. Kuenya dibagi dan dibawa pulang ya. Kita pesan menu lain saja”

“Heee? Ditraktir? Rencananya tadi tidak begini. Kalau seperti ini malah merepotkanmu” protes Dongwoo.

“Aniya, gwenchana. Aku berencana mengajak kalian hari ini dan kebetulan kalian juga menyiapkan acara untukku”

“Bagianku ada?” Tanya Sungyeol lagi.

Seungmi tertawa lagi, “tenang saja”

*****

“Rumahmu jauh juga” kata Sungyeol.

“Iya, tapi karena sudah terbiasa jadi tidak terasa. Eh, maaf ya sudah membuatmu mengantarku pulang” jawab Seungmi. Ia dan Sungyeol tengah berjalan bersama menuju rumahnya setelah acara di café selesai. Dongwoo dan Kira tidak bisa menemaninya pulang karena ada urusan. Tinggallah mereka berdua bersama.

“Aniya. Aku yang menawarkan diri. Lagipula aku tidak ada kegiatan”

“Gomawo yo”

Sungyeol tersenyum, “Yak.. berhentilah mengatan gomawo. Sepanjang jalan kau terus mengatakannya”

Seungmi tertawa kecil.

“Itu rumahku” katanya kemudian sambil menunjuk rumah bercat putih “Sampai disini saja. Sudah dekat”

“Gwenchana. Sekalian saja sampai gerbang. Oppa mu sudah pulang?”

“Belum” Seungmi menggeleng. “Katanya hari ini agak larut”

Mereka lalu berhenti di depan pagar rumah Seungmi. Gadis itu membungkukkan badan sekali lagi dan mengucapkan terima kasih kepada Sungyeol.

“Gomawo sudah mengantarku. Maaf merepotkan”

Sungyeol tertawa, “Kau ini kenapa? Sudah kubilang kan, tidak apa. Lagipula kita kan teman”

Senyum Seungmi perlahan pudar. Hatinya kembali terasa perih. Ia sadar, Sungyeol dan dirinya sudah sedekat ini. Hal yang tidak pernah ia duga. Ia tidak ingin Sungyeol tahu masa lalunya. Ia ingin mereka terus seperti ini.

“Wae yo?” Tanya Sungyeol.

Seungmi gelagapan, “Aniya. A..aku masuk ya”

Sungyeol mengangguk, “Masuklah. duapuluh detik setelah kau menutup pintu, baru aku pulang”

“Berlebihan” Seungmi membuka pintu pagarnya. Sedetik kemudian, gerakannya terhenti. Ia menoleh perlahan sembari memanggil Sungyeol.

“Sungyeol ah”

Pemuda itu mengankat kedua alisnya, “Mwo? Ada yang tertinggal?”

Seungmi mematung sejenak. Ia menatap kedua mata Sungyeol. Kemudian dialihkannya pandangannya sambil memasang senyum termanisnya.

“Ani. Tidak apa-apa. Aku masuk” Seungmi melangkah cepat memasuki rumahnya dan menutup pintu. Sungyeol benar-benar berdiri di depan rumahnya dan menghitung hingga duapuluh detik di dalam hatinya.

Dari beranda kamar atas yang berhadapan dengan jalan, Seungmi melambaikan tangannya.

“Aku sudah tiba di kamar dengan selamat. Pulanglah” teriaknya.

Sungyeol balas melambaikan tangan, “Istirahatlah. Jangan lupa buka kado dariku, ya”

“Ne”

Sungyeol melangkahkan kakinya beranja dari jalanan depan rumah Seungmi. Ia berjalan riang sembari bersiul. Sama sekali tak menyadari sepasang mata Seungmi tengah mengawasinya dengan berkaca-kaca. Gadis itu menarik napas panjang. Setetes air matanya jatuh. Ia lalu kembali masuk ke kamarnya.

Seungmi duduk di depan meja belajarnya. Ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya. Kado dari Sungyeol. Ia kembali menghela napas. Kemudian dengan hati-hati, dibukanya kertas kado yang membungkus. Tampak sebuah kotak dari kardus. Di dalamnya ada sesuatu. Seungmi mengambilnya. Sebuah miniature piano berwarna putih. Pada alas temoat miniature itu berpijak, terdapat sebuah tulisan.

Kita adalah sahabat selamanya. Dariku, Lee Sungyeol

      Air matanya mentes saat itu juga. Seungmi mendekap hadiah dari Sungyeol dan terisak pelan. Sungyeol membuatnya mampu tertawa bersama hatinya yang semakin terasa pedih. Semakin Sungyeol berbuat baik padanya, semakin ia merasa sakit. Ia tidak ingin dekat dengan siapapun lagi. Tidak ingin percaya pada siapapun lagi. Cukup Dongwoo dan Kira. Cukup ia merasakan kehilangan.

Jika kau tahu semuanya tentangku, apa kau masih bisa menyebut aku sahabatmu?

      Seandainya bisa, ia ingin menghapus segala memori dalam diri Sungyeol mengenai mereka. Atau memutar waktu kembali dan ia tidak akan membiarkan mereka sedekat ini. Seungmi sudah benar-benar menyayangi Sungyeol sebagai sahabatnya. Jika tiba-tiba mereka berpisah, jika tiba-tiba Sungyeol menjauh karena telah mengetahui semuanya, Seungmi tidak tahu akan sesakit apa hatinya nanti.

      Langit merah seutuhnya. Sementara Seungmi masih enggan beranjak. Dengan perih yang masih bersemayam. Ia menghapus air matanya sekali lagi. Duka itu belum benar-benar hilang.

Eoddohke neoreul ijeulkka

Bagaimana aku bisa melupakanmu

Ijeuryeogo aereul sseobolkka

Apakah aku harus mencoba untuk melupakanmu

 

Dashi doragal sun obseulkka

 

Tidak bisakah kita kembali seperti bagaimana biasanya

Eoddeohkedo apeugiman han yaegi

 

Kata-kata yang menyakitkan, tidak peduli bagaimana kau mendengarnya,

Geumanhajaneun geu yaegi

Kata-kata yang mengatakan, kita harus mengakhiri semuanya

 

Meomchul suman itdamyeon

Jika saja aku bisa menghentikannya

Jiul suman itdamyeon

Jika saja aku bisa menghapusnya

 

 

Dasi doragandamyeon

Jika saja kita bisa kembali Cheoeum mannan geu nallo

Pada hari dimana kita pertama kali bertemu–  DBSK “How Can I” – 

*****

A few Months later

Kelas dua SMA. Masa-masa paling menentukan, begitu kata orang kebanyakan. Akan ada banyak masalah Pertentangan, mungkin juga cinta pertama. Kata orang juga, puncak masa SMA ada disitu.

“Hoya ireona!” Seru Eommanya sambil menarik paksa selimut yang menutupi pemuda itu. Hoya menggerakkan badannya malas.

“Ini masih terlalu pagi, biarkan aku tidur sebentar lagi eomma” katanya dengan mata yang masih tertutup.

Eomma memutar bola matanya kesal, “masih terlalu  pagi katamu? Sekarang jam setengah tujuh.Bukankah kau bilang hari ini jadwal piketmu?”

Mendengar itu,Hoya langsung melompat dari tempat tidurnya. Kemudian berlari menuju kamar mandi hingga menimbulkan suara berdebam. Ia melakukan segalanya dengan tergesa. Pagi ini adalah jadwalnya piket. Ia harus datang lebih pagi. Terlebih, teman piketnya adalah Seungmi, kordinator kebersihan kelas. Gadis itu terkenal sangat tepat waktu. Ia bisa terkena marah besar jika terlambat.

Hoya menuruni tangga dengan cepat, “aku berangkat” katanya pada keluarganya yang tengah menikmati sarapan.

“Yak, sarapan dulu” seru Eommanya.

“Tidak usah, aku bisa terlambat. Aku pergi”

Ia menutup pintu begitu saja dan berlari menuju halte bus. Hoya melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 7. Ia pasti telat. Semalam ia tidur terlaru larut akibat bingung memikirkan apakah akan memberikan hadiah kepada Seungmi atau tidak. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun gadis itu. Saat yang paling ditunggunya. Ia tidak boleh kalah kali ini dari Lee Sungyeol.

Namun, setelah setahun lebih mereka bersama, rupanya belum bisa meredakan kegugupannya berhadapan dengan gadis itu. Juga, belum mampu membuatnya cukup berani menunjukkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tidak menyerahkan sebuah jam pasir yang telah disiapkannya sebagai hadiah.

Hoya takut, jika terus terang seperti itu justru akan membebani Seungmi. Lagipula, sepertinya Sungyeol juga memiliki perasaan yang sama. Ia tidak ingin mengkhianati sahabatnya. Juga, jam pasir itu, entah pantas diberikan atau tidak. Ia membelinya karena berpikir Seungmi pasti suka, sebab gadis itu menyenangi pelajaran sejarah.

Hoya tiba di bus dengan napas terengah-engah. Jam tujuh tepat. Dan perjalanan lima belas menit menuju sekolah, terasa begitu lama. Ia mengetik sebuah pesan untuk Seungmi.

To : Seungmi sshi

      Mianhae, aku terlambat. Sekarang aku sudah dalam perjalanan.

      Hingga bus berhenti di halte dekat sekolahnya, tidak ada balasan. Hoya yakin, gadis itu pasti marah besar padanya. Sebenarnya ia semalam sudah diingatkan melalui pesan, untuk tidur lebih cepat dan bangun pagi. Namun ia kesiangan justru karena memikirkan gadis itu.

Hoya memacu langkahnya berlari secepat mungkin. Pukul tujuh lewat lima belas. Ia akhirnya tiba di depan kelasnya. Keringat membasahi seragamnya. Ia berpapasan dengan Seungmi yang hendak keluar kelas.

“Mianhae aku..”

“Apa alasanmu?” potong gadis itu cepat.

“Aku.. bangun terlambat” jawab Hoya pelan.

“Kau sakit? Atau keluargamu ada yang sakit?”

Hoya menggeleng.

“Tujuh belas menit 41 detik” kata gadis itu sambil menatapnya.

“Mwo?” tanyanya heran.

Seungmi menghela napas, “ Kita bekerja bertujuh selama empat puluh lima menit dari pukul tujuh kurang lima belas hingga setengah delapan sebelum teman-teman datang. Kau tiba pukul tujuh lewat tujuh belas menit empat puluh satu detik. Korupsi waktu  tiga puluh dua menit empat puluh satu detik”

Hoya tanpa sadar melongo sambil membuka mulutnya.

“jeongmal mi..mianhae yo. Ini salahku. Mi..”

“Sudahlah. Taruh tasmu dan lakukan tugasmu”

Hoya mengangguk patuh dan menaruh tasnya di tempatnya.

“Mianhae aku terlambat, teman-teman. Ada yang bisa kubantu?” tanyanya pada teman-temannya yang lain.

“Semua sudah selesai. Tinggal mengepel saja. Tadi Seungmi baru saja turun untuk mengambil air” jawab salah satu dari mereka.

Ia berlari menuruni tangga menuju toilet. Seungmi tampak keluar dengan seember air di tangannya dari toilet wanita.

“Biar aku yang membawanya” katanya pada gadis itu. Seungmi mengangkat kedua alisnya dan menatap pemuda itu heran.

“A..aku.. belum melakukan apa-apa. Biar aku yang bawa saja” Hoya mengulurkan tangannya meraih pegangan ember. Seungmi menyerahkannya tanpa bicara. Mereka lalu berjalan bersama menuju kelas.

Seungmi sama sekali tidak berkata apa-apa. Membiarkan Hoya diam-diam meliriknya dangan hati yang sibuk menebak. Seungmi sama sekali tidak marah. Ia hanya tidak tahu harus bicara apa. Terlebih lagi, desiran di hatinya terlalu sulit untuk diredam.

Sementara itu, Hoya semakin merasa tidak enak. Ia berpikir gadis itu pasti marah padanya.

“Seungmi ssi.. mianhae” katanya lagi.

Seungmi menoleh, “ ah, sudahlah. Lupakan saja”

“Kau tidak..”

Kryuuuukk..

Ucapan Hoya terputus begitu saja saat mendengarnya. Baik ia dan Seungmi sama-sama berhenti berjalan dan saling menatap. Perut Seungmi berbunyi. Gadis itu memalingkan wajahnya yang memerah.

“Mianhae..” katanya dengan dengan malu-malu.

Hoya menggeleng, “Gwenchana. Kau belum sarapan?”

Seungmi mengangguk, “ Takut terlambat. Hehehe.. tapi sudah biasa. Perutku kebal”

Pemuda itu tersenyum. Baru saja mereka kembali berjalan saat bunyi yang sama kembali terdengar.

Kryuuukkk

Mereka kembali berpandangan. Kali ini Hoya menggaruk tengkuknya dan tersenyum salah tingkah ke arah gadis itu.

“Kau juga.. belum sarapan?” Tanya gadis itu. Hoya mengangguk.

Mereka berpandangan sejenak sebelum tawa keduanya meledak. Sekolah masih sepi sehingga suara perut mereka terdengar jelas.

“ah, chamkaman yo” kata Seungmi di sela-sela tawanya. Ia seperti menyadari sesuatu. Gadis itu menunjuk ke arah seragam Hoya. Pemuda itu menunduk dan memperhatikannya.

“Wae?” tanyanya heran. Seungmi masih belum bisa meredakan tawanya.

“kancingnya salah”

Hoya kembali memperhatikannya. Wajahnya berubah kaku saat menyadarinya. Kancing pertama masuk ke lubang kancing kedua, dan begitu seterusnya. Bajunya jadi tidak rata.

“kau sepertinya terburu-buru sekali” kata Seungmi.

Pemuda itu tersenyum salah  tingkah. Ia kembali menggaruk-garuk tengkuknya.

“Howon ssi lucu”

Deg! Jantung Hoya seakan berhenti berdetak. Ia tersenyum kaku. Mereka kembali berjalan dalam diam. Dan beginilah, pagi ini berlalu dengan merah jambu. Tanpa satu pun sadar perasaan masing-masing.

nan.. oh oh nan.. niga johda

Aku.. aku menyukaimu neoneun naege modeunge cheoeumi dwae

 

Kau adalah segalanya bagiku

mwoga eottae.. naega tto geureohji mwo

Siapa yang peduli? Aku hanya seperti itu saja –Infinite “I Like You”- 

*****

Hoya berjalan keluar toilet laki-laki menuju cafetaria. Urusan baju sudah beres. Namun ia masih memikirkan bagaimana mungkin ia bisa seceroboh itu. Entah apa yang ada di pikiran Seungmi saat melihatnya tadi. Hoya mengacak rambutnya.

Tiba di cafetaria, ia membeli sebuah roti dan susu kotak. Ia tidak bisa menahan laparnya. Apalagi pelajaran pertama adalah sejarah, bisa-bisa sepanjang pelajaran ia tidak konsentrasi sama sekali.

Hoya baru hendak beranjak ketika sebuah pikiran melintas. Ia ingat Seungmi juga dalam keadaan lapar. Ia lalu tergerak untuk membeli roti dan susu untuk gadis itu. Kemudian, sebuah pikiran kembali melintas. Ia lupa memberi ucapan selamat kepada Seungmi. Ia menepuk dahinya. Sembari berlari, ia menuju kelasnya. Tiba disana, Sungyeol, sahabatnya baru saja datang. Dan Hoya berdiri terpaku tak jauh dari tempat duduknya, melihat apa yang Sungyeol lakukan pada gadis yang disukainya itu.

“ini” kata Sungyeol sambil menyodorkan sebuah kotak terbungkus kertas kado berwarna ungu serta sebuah kantong plastik putih kepada Seungmi. Gadis itu menerimanya sambil tersenyum. Ia membukanya. Sebuah roti dan sekotak susu cokelat.

“Eh? Hadiah untukku? Gomawo yo”

Sungyeol berjalan ke bangkunya, “Kau juga belum sarapan, kan?”

Seungmi tertawa, “waaaa.. pengelihatanmu selalu bagus ya?”

“Kau selalu begitu di hari piketmu”

Seungmi tersenyum sekali lagi. Ia lalu membuka bungkusan roti itu dan mulai memakannya. Sama sekali tidak menyadari Hoya tengah memperhatikannya. Bahkan ketika pemuda itu duduk di sebelahnya. Juga ketika Hoya menghembuskan napas berat. Gadis itu sibuk dengan pikirannya. Ini sudah setahun. Mungkin perkiraannya salah. Mungkin Sungyeol memang bisa dipercaya. Ia tersenyum lega.

Dan di tempatnya, Hoya kembali menyesali dirinya. Lagi-lagi kalah cepat dari Sungyeol        Bukankah kau bilang ingin membuatnya bahagia. Bukankah tidak penting apakah dia melihatmu atau tidak, selama kau selalu bisa berbuat baik padanya. Ketulusan itu, cukuplah kau dan hatimu yang tahu. Jangan pedulikan bagaimana orang menilaimu.

      Hoya melirik Seungmi sekali lagi. Ia menarik napas. Kemudian dikumpulkannya segenap keberanian untuk menyampaikan sebuah kalimat. Dengan degup jantung yang semakin keras, ia memutar duduknya menghadap gadis itu.

“Seungmi ssi” panggilnya. Seungmi menoleh. Hoya menatap gadis itu tepat di matanya.       “Maaf terlambat” katanya. Datar.

Seungmi menatap pemuda itu penuh tanya. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam dan saling menatap. Tanpa saling tahu, masing-masing mereka menyimpan perasaan yang sama. Kegugupan yang sama

Hoya menarik napas, “Saengil chukka hamnida”

Seungmi sedikit terkejut. Waktu seakan melambat. Kemudian gadis itu mengangguk dan perlahan tersenyum.

“Gomawo”

Hoya balas tersenuyum. Masing-masing lalu kembali pada posisi duduknya. Seungmi melemparkan pandangan keluar jendela. Mengulum senyumnya dan diam-diam melirik Hoya. Sementara itu, perasaannya bergejolak. Hingga ia tidak bisa memilih untuk merasa bahagia atau justru sedih. Ia merasa ingin menangis saat itu juga. Semakin banyak orang yang baik kepadanya, maka akan semakin terasa menyakitkan saat mereka meninggalkannya.

Dan seperti yang di harapkan Hoya, ia memang melihat Seungmi tersenyum hingga matanya terlihat bagai sebuah garis. Membuat Hoya tidak ingin mengedipkan matanya barang sepersekian detikpun demi merekam ekspresi itu. Tanpa sedikitpun ia sadar. Pagi ini, ia telah memberi Seungmi bahagia juga perih yang begitu besar.

*****

Hoya menyandarkan badannya di salah satu sisi dinding pembatas atap gedung olahraga. Sejak naik kelas ini, ia suka sekali menghabiskan waktu-waktu luangnya di sana. Tidak ada orang. Dulu tempat ini menjadi basecamp gank siswa kelas 3 yang paling ditakuti di sekolahnya. Sekarang setelah mereka lulus, tidak ada yang suka mendatanginya.

Hoya suka sekali tempat itu. Disini, ia bisa melihat langit dan awan dengan begitu jelas. Angin juga bertiup sejuk sekali. Ditambah lagi, di sekitar gedung olahraga tumbuh beberapa pohon besar sehingga bayangannya cukup meneduhkan dari terik matahari. Dan di tempat ini juga, Hoya bisa mendapatkan banyak inspirasi.

Seperti itulah pagi ini, ia kembali duduk dengan notebook di hadapannya. Tampak mencermati sesuatu.

Suara pintu yang terbuka membuatnya mengangkat wajahnya dari hadapan layar.

“Howon ssi” panggilnya, Seungmi. Hoya menatap gadis itu dengan penuh tanya. Heran bagaimana Seungmi bisa menemukannya di sini.

“Sungyeol bilang kau ada di sini” kata gadis itu sambil berdiri menyandar di dinding, beberapa langkah di sampingnya.

Hoya mengangguk-angguk. Sungyeol. Lagi-lagi.

“Jungwook Sunbaenim berkata kepadaku, latihan sore nanti kau yang melatih. Dia ada urusan mendadak” kata Seungmi lagi.

Pemuda itu tersenyum “ne, arasseo. Gomawo”

“Ne” balasnya. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada notebook di hadapan pemuda itu.

“Kau sedang apa? Membuat puisi?” Tanya gadis itu. Hoya menoleh sejenak. Lalu dengan cepat, menutup notebook-nya.

“Bukan apa-apa” jawabnya sambil menggeleng. Seungmi melemparkan pandangan penasaran.

“Heee.. rahasia? Aku tahu, itu surat cinta kan?” tebaknya. Hoya menggeleng kuat-kuat.

“yadong?” tebak Seungmi lagi. Hoya kembali menggeleng. Ia menggaruk-garuk tengkuknya, Semakin tidak dijawab, maka Seungmi akan semakin bertanya.

Pemuda itu menghela napas, “lirik lagu”

Seungmi menaikkan kedua alisnya. Gadis itu tampak antusias. Ia tersenyum kagum dan bertepuk tangan.

“Kau membuat lirik lagu? waaa.. daebak! Daebak!”

Hoya menundukkan wajahnya.

“Boleh aku lihat?” tanyanya. Hoya tampak ragu. Namun demi melihat binar di kedua bola mata gadis itu, ia memberikan notebook-nya. Seungmi mulai membacanya.

“Judulnya cyring? eolmana deo ureoya uri chueogi bitmure gieok beonjinayo ? yeoksi andoenabwayo geudae olkkabwa nan changmuneul datji motae neoreul geuryeo. I crying I crying I crying … “

Gadis itu tampak mengangguk-angguk.

“Artinya bagus. Ini sudah jadi?”

Hoya mengangguk, “liriknya sudah selesai. Tapi musiknya belum. Aku kesulitan mencari kunci nadanya”

Seungmi menoleh, “Boleh aku membantumu? A..aku.. bisa bermain piano. Kalau kau tidak keberatan, aku bisa mencarikan nadanya”

Hoya tampak sedikir terkejut. Ia menoleh pada gadis itu. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Seungmi lalu dengan cepat menundukkan wajahnya yang bersemu.

“Mianhae aku lancang”

“Gwenchana” potong Hoya cepat. “Kalau kau tidak keberatan, aku.. minta tolong.. buat nadanya.. ”

Seungmi mengangguk senang, “Jinja? Kalau begitu, aku minta softcopy liriknya ya.  Oya, lagunya seperti apa?”

“Hmm.. sedikit slow dan diselingi rap

“waaa.. kau bisa rap? Daebak! Idemu bagus” komentarnya sambil mencermati lirik itu lagi. “bagian rap-nya yang hurufnya tebal ini?”

Hoya mengangguk.

“Aku ingin dengar sedikit” pintanya.

“Suaraku jelek”

Seungmi cemberut, “Aku harus mendengarnya sedikit untuk bisa mencari nadanya”

Hoya terlihat ragu.

“Aigoo palli”

Seungmi tersenyum. Gadis itu memperhatikan Hoya baik-baik. Melihatnya, Hoya akhirnya menghilangkan segala rasa malunya. Ia menarik napas, bersiap menyanyikan sedikit liriknya.

“eolma..”

Teet… Teet… Teet..

Bel berbunyi. Mereka berpandangan. Sedetik kemudian, Seungmi menghembuskan napas kecewa. Wajahnya berubah keruh.

“sudah bel” kata Hoya. Seungmi menatapnya masih dengan wajah cemberut.

“La…lain kali kan bisa..” hiburnya. Seungmi mengangguk dan menyerahkan notebook Hoya kembali. Ia lalu berdiri.

“Gomawo. Kajja”

Hoya mendahului gadis itu dan berjalan di depannya.  Ia hanya bungkam. Baru saja mereka begitu dekat. Dan baru saja ia dengan mudahnya memperlihatkan lirik lagu hasil karyanya. Selama ini bahkan sahabat-sahabatnya tidak mengetahuinya. Ia tidak tahu, apa yang mendorongnya bersikap seperti itu. Sesuatu yang sama, yang membuatnya tertarik pada gadis itu selama hampir setahun ini.

Sementara itu Seungmi memperhatikan sosok yang melangkah di depannya. Ia juga bungkam. Dengan hatinya yang tak henti bercakap.

Wae yo? Mengapa aku sama sekali tidak merasakan ketakutan saat berada dekatmu?

*****

Hidup seperti sebuah medan magnet. Begitulah bagi Seungmi, Hoya seakan menariknya dalam medan magnet milik pemuda itu. Seperti pagi ini, langkah kakinya membawa dirinya menuju lantai atas gedung olahraga. Tempat dimana ia menemukan Hoya kemarin. Entah, tubunya seakan bergerak diluar kendalinya. Tidak mempedulikan hatinya yang memberontak.

“Sudah kuduga kau disini”

Hoya mengangkat kepalanya dari layar notebook-nya. Tampak Seungmi melangkah mendekat. Ia sedikit tertegun sebelum melempar senyum ke arah gadis itu. Seperti kemarin, Seungmi kembali menemukannya di sini. Dan gadis itu duduk beberapa langkah di samping kirinya. Dengan senyum yang sama. Binar mata yang sama.

“Aku minta softcopy lirikmu” gadis itu menyerahkan flashdisk-nya.

“Ne” Hoya mengambilnya.

Seungmi memperhatikan Hoya saat pemuda itu memasukakn file ke dalam flashdisk-nya. Ia sebenarnya ragu untuk kembali menemui Hoya di tempat ini. Namun ia sudah terlanjur menawarkan bantuannya dan pemuda itu juga meminta tolong padanya. Lebih dari ia merasa senang bisa sedekat ini dengan pemuda itu. Membiarkan jantungnya berdegup lebih kencang, membiarkan hatinya terasa sesak akan harapan kosong yang melayang-layang di depannya. Namun dengan begitu juga, ia merasakan sesuatu yang menenangkan.

“Sudah”

Seungmi tersedar dari lamunannya dan menerima flashdisk yang disodorkan Hoya.

“Oya, nyanyikan lagunya sedikit. Kemarin kau janji padaku” katanya.

Hoya mendadak gugup. Ia memperbaiki posisi duduknya berkali-kali sembari melirik jam tangannya. Sayangnya masih tersisa lima belas menit sebelum bel berbunyi. Ia menghembuskan napas pelan.

“Palli” kata Seungmi lagi sambil tersenyum. Melihat senyum itu, membuat Hoya tidak bisa untuk tidak mengabulkan permintaan gadis itu.

“baiklah” katanya dengan senyum kikuk. Seungmi bertepuk tangan girang.

Hoya menoleh lagi sejenak ke arah Seungmi, “siapkan penyumbat telinga ya”

Seungmi tertawa.

“eolmana deo ureoya uri chueogi bitmure gieok beonjinayo ? yeoksi andoenabwayo geudae olkkabwa nan changmuneul datji motae neoreul geuryeo. I crying I crying I crying geudae wonhandamyeon I’ll fly, I’ll fly, I’ll fly, I’ll fly”

Seungmi spontan bertepuk tangan.

“woaaa.. daebak! Lagunya bagus. Ah, sekarang bagian rap-nya”

Hoya berdehem, “paransaebyeok ni kkumeseona kkaeeo natjiman swipgena nuntteuji motane haengbokhage utgoinneun kkumsokgwaneun dareuge meorisok jiugae..”

Seungmi terdiam selama Hoya menyanyikan lirik buatannya. Gadis itu hampir tidak percaya. Seorang dengan kacamata tebal dan rambut cepak, kutu buku, pendiam, dan tampak membosankan itu ternyata memiliki sisi yang sangat berbeda. Ia harus mengakui, kekagumannya bertambah. Dan ia harus mengakui, bahwa yang ia rasakan itu, adalah sebuah angan-angan kosong. Mustahil, jika pemuda itu memiliki perasaan yang sama.

Namun bagi Seungmi saat ini, bisa mencintai pun adalah suatu yang membahagiakan. Mencintai tanpa rasa takut dibenci. Mencintai dengan tenang. Orang bilang, cinta itu harus dua arah agar bisa disebut cinta. Tapi baginya cukup begini saja, dengan rasa cinta itu saja. Cukup dengan cinta darinya saja.

Hoksi dareun sarange honjaga anil kkabwa

Mungkin bagi orang lain, cinta bukan sesuatu yang dapat kau lakukan sendiri

      Waenji duryeoum apseo malhal suga eobseo sumgyeowatjiman

      Tetapi di hadapan rasa takut, aku tidak tahu mengapa aku tidak dapat bicara, aku hanya bisa bersembunyi – Yesung feat Jang Hyejin, “I’m Behind You” –

Berada di samping pemuda itu, membuatnya melupakan rasa takutnya. Seungmi bisa menjadi dirinya tanpa berpura-pura. Menunjukkan sikapnya tanpa cemas akan dibenci, tanpa khawatir akan ditinggalkan. Hoya selalu bisa membuatnya merasa tenang. Dan Seungmi benar-benar merindukan perasaan itu. Setelah selama dua tahun lebih ia tersiksa dengan perasaan takut saat berada dekat dengan orang lain.

Takut sendiri. Kesepian. Ditinggalkan. Menjalin hubungan dekat hanya akan berujung menyakitkan. Seungmi lupa kapan terakhir ia bisa mengobrol dengan begitu lepas. Tanpa bayang-bayang menakutkan yang menghantuinya. Ia benar-benar merasa nyaman. Tanpa sadar air matanya menetes.

Seungmi cepat menghapusnya sebelum Hoya melihatnya. Namun terlambat, pemuda itu menghentikan rap-nya dan tercengang menatapnya.

“Gwenchana?”

Seungmi mengangguk sambil tersenyum, “Gwenchana. Aku hanya terharu mendengar liriknya” jawabnya berbohong. Hoya mengangguk.

“Oya, aku sudah merekamnya. Besok kuberikan nadanya”

Pemuda itu tampak terkejut, “ Kau merekamnya?”

Seungmi tertawa, “kalau tidak, bagaimana caranya aku menemukan nada yang tepat?”

Hoya mengangguk-angguk, “Profesional memang beda, ya”

“Aniya” gadis itu tersipu

*****

Seungmi melempar tasnya di sofa ruang keluarga begitu tiba di rumah. Ia sendiri segera duduk di depan piano putih, di sudut ruangan itu. Dikeluarkannya ponsel dan earphone. Ia mulai mendengarkan sepenggal lirik lagu ciptaan Hoya. Lalu jemarinya bergerak memencet tuts piano satu demi satu. Mengulang-ulangnya lagi. Mencatatnya di selembar kertas.

“Eolmana deo ureoya uri chueogi bitmure gieok beonjinayo ? yeoksi andoenabwayo geudae olkkabwa nan changmuneul datji motae neoreul geuryeo” ia sudah bisa menangkap bagaimana lagu itu. Namun Seungmi merasa belum cocok dengan instrument yang dibuatnya.

Bagi gadis itu, bukan perkara yang sulit. Meski tidak mudah juga. Ia mencoba menghayati lagu itu dan terus mencoba. Hingga senja menjelang, dengan seragam yang masih melekat, Seungmi tetap duduk di depan pianonya. Terus memencet tuts-tuts hitam putih itu sembari bernyanyi.

Drrt..drrt..drrt

      Ponsel di sakunya bergetar. Gadis itu menghentikan kegiatannya sejenak. Ada sebuah pesan masuk .

From : Lee Howon ssi

Aku minta maaf sudah merepotkanmu. Jangan dipaksakan,itu bukan hal yang penting dan mendesak.

      Ia tersenyum. Kemudian tampak berpikir sejenak. Lalu jemarinya mengetikkan beberapa kata.

To : Lee Howon ssi

      Gwenchana ^^

      Hari ini waktuku lowong. Tenang saja.. Lagipula kan aku yang menawarkan diri.

      Seungmi menaruh kembali ponselnya dan melanjutkan kegiatannya.

*****

“Ini” Seungmi menyerahkan flashdisk-nya kepada Hoya keesokan harinya. Mereka kembali bertemu di atap gedung olahraga sebelum bel pelajaran pertama berbunyi.

Hoya takjub, “Sudah selesai semua?”

Seungmi menggeleng, “Sampai rap yang kau nyanyikan kemarin. Aku baru mendapatkan nada dari piano, lebih bagus kalau ditambah nada dari drum” jelasnya.

Pemuda itu membuka setengah mulutnya mendengar penjelasan Seungmi.

“wooo.. kau.. hebat”

Wajah Seungmi bersemu seketika. Gadis itu jadi kikuk.

“Pp..palli! a..aku ingin dengar komentarmu.. ayo..dengarkan” katanya mengalihkan. Hoya mengangguk dan bergegas memutar rekaman lagu mereka.

Alunan musik intro mulai terdengar. Hoya tampak serius. Sementara itu, Seungmi berharap-harap cemas di sampingnya. Ia menutup matanya, menahan malu saat suaranya nyanyiannya mulai terdengar.

Lagu itu selesai.

Hoya tercengang tanpa bisa berkata apa-apa. Ia menatap Seungmi tak percaya. Ditatap seperti itu, membuat Seungmi salah tingkah.

“Bb..bagaimana menurutmu?”

“daebak.. Jeongmal..”

“ Jangan bohong”

Hoya menggeleng, “aniya. Kau bahkan menyanyikan rap dengan baik”

“Aku.. aku hanya menirukan caramu bernyanyi”

Hoya menganguk.

“ Dongwoo Hyung pernah bercerita kau sering mengikuti kompetisi menyanyi dan piano”

Mata Seungmi membesar. Gadis itu menoleh cepat, “Jinja? Aiiihh… Dongwoo Oppa.. “

“Gwenchana, itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan” Hoya tersenyum.

“Kau seharusnya masuk sekolah seni” katanya lagi.

Seungmi tertawa kecil. Ia menyandarkan badannya ke dinding dan menerawang ke arah langit.

“Itu bukan cita-citaku. Hanya sekedar hobi” jawabnya.

Hoya diam. Ia ikut bersandar dan menatap langit.

“Aku ingin jadi pembaca berita televisi” kata Seungmi.

Hoya mengangguk-angguk sembari diam-diam melirik gadis di sampingnya itu. Mereka terjebak dalam keheningan untuk sesaat.  Sebelum Seungmi akhirnya berbalik ke arah Hoya. Dan pemuda itu juga ikut berbalik. Mereka bertatapan dalam diam.

“Aku.. bicara terlalu banyak ya? Mianhae” kata Seungmi. Ia memang bisa berubah menjadi sangat cerewet saat merasa nyaman dengan seseorang.

“Gwenchana. Menceritakan mimpi kita kepada orang lain, akan memotivasi diri sendiri untuk mencapainya”

Seunmi tersenyum, “Unn.. Kau benar. Oppa juga bilang begitu. Ah, kalau begitu sekarang giliranmu. Kau juga harus menceritakan mimpimu”

“Aku?” Hoya spontan menoleh. Seungmi mengangguk. Hoya menggaruk tengkuknya. Tak sadar bahwa Seungmi selalu memperhatikan gesture-nya yang satu itu.

“Kau ingin jadi composer? Atau.. member male group?”

Hoya menggeleng.

“Aku ingin masuk jurusan teknologi komunikasi dan informasi. Aku ingin bekerja di lembaga intel negara” katanya.

Seungmi mengerjap-kerjapkan matanya. Ia menatap Hoya dengan tangan terkatup di depan dada.

“Fighting!” katanya kemudian. Hoya tersenyum.

“Kau juga”

Mereka lalu kembali diam menatap langit dengan pikiran masing-masing.

*****

Musim gugur menampakkan hari pertamanya. Hingga saat itu, Seungmi tidak sadar takdir menempatkannya semakin dekat dengan pemuda bernama Lee Howon. Mereka bertemu setiap pagi di atap gedung olahraga. Hanya berdua. Menikmati momen merah jambu itu. Meredam desiran dalam hati yang semakin keras. Bersama awan dan langit di atas mereka.

Pagi ini tepat tiga bulan berlalu sejak mereka menyusun lagu bersama. Seungmi berlari menuju tampat favorit mereka begitu ia meletakkan tasnya di kelas. Hoya sudah datang. Pemuda itu pasti di sana.

“Howon ssi” panggilnya dengan riang saat matanya menangkap sosok pemuda itu di atap gedung olahraga.

“Sudah selesai!” serunya sambil mengembangkan kedua tangannya. Matanya berbinar. Senyumnya terukir. Hoya menatap gadis itu tak percaya.

Seungmi mengeluarkan ponsel dan earphone-nya. Ia menyodorkannya ke arah pemuda itu. Hoya mendengarkan dengan seksama. Sesekali melirik gadis di hadapannya. Ia masih belum percaya lagunya selesai. Lagu pertamanya.

Hoya tercengang. Ia sampai tidak sanggup berkata apa-apa. Ia menatap Seungmi dengan takjub.

“Kau.. menyelesaikannya?”

Seungmi mengangguk senang. “Mianhae, lama seka..”

“Gomawo” potong Hoya. Ia terlalu bahagia. Sudah lama sekali Hoya ingin menciptakan lagu. Tapi ia tidak terlalu lancar bermain alat musik. Dan sekarang keinginannya tercapai.

“Jeongmal.. gomawo yo. Gomawo” ulangnya lagi.

Seungmi mematung. Gadis itu mengedip-kedipkan kedua matanya. Ia mengangguk kaku, “C.. cheonman..ne yo. Hehehe”

“Boleh ku kirim lagunya ke ponselku?” tanyanya.

Seungmi mengangguk, “Tentu saja. Lagu itu milikmu”

“Tapi kau yang jadi composer-nya”

Seungmi tertawa, “Gwenchana. Ah iya, lagunya kan masih memakai vokalku. Sebaikanya kau merekam ulang suaramu dan duet dengan seseorang. Kau bilang selain rap, lagu itu dinyanyikan oleh perempuan, kan? Mungkin kau bisa mengajak noona-mu”

Hoya tampak berpikir. Ia menyerahkan kembali ponsel Seungmi, “Hmmm.. akan kucoba”

Gadis itu tersenyum lagi, “Oya, aku harus mengembalikan buku ke perpustakaan. Aku pergi ya” ia beranjak dan melangkah menuju pintu keluar. Hoya memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh.

“Seungmi ssi” panggil Hoya. Gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik.Ia menaikkan kedua alisnya.

“Kalau.. aku merekamnya denganmu saja.. bagaimana?” tanyanya. Seungmi terkejut. Ia lalu tampak berpikir.

“Gurae” jawabnya kemudian seraya tersenyum. “Kalau kau butuh aku lagi, beritahu saja”

Hoya balas tersenyum, “Gomawo”

5 thoughts on “[Fanfic] Silent Monologue – Part 4 –

  1. aku bru nemu ff ini hri ini..
    ngebut,dri part awal smpe part 4 ini.dan aku b’fikir,lbih baik mmberikan komenku di part ini aja drpda jd silent reader..^^ #plakk
    FF nya bkin pnsaran bgt,trauma apa sih yg dialami seungmi?
    aku greget bgt deh ma Hoya…kok susah bgt bwt ngomong..
    Kyyaaa…aku ngakak bgt ngebaca part sungyeol nyanyi tell me…klo dibayangin psti lucu bgt ^v^
    eh,ada lgu How can I nya DBSK jg..aku lg seneng2nya loh dnegerin lagu itu #GkNanya😀
    part slanjutnya kasih tau donk seungmi trauma krna apa,bkin emossi nya lebih membludakk lg yh thor.. ^^
    Mian kpanjangan😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s