[Fanfic] Bittersweet – Oneshoot-

Cast :

  1. Super Junior Yesung
  2. Park Eunmin as Yesung’s fiancée
  3. Yesung’s Mother & Kim Jong Jin

 

 

“Molla” jawab gadis itu pelan pada seseorang yang menelponnya.

Terdengar helaan napas dari seberang, “wae yo? Ada masalah? Ada yang bisa kubantu?”

        “ani”jawabnya lagi.

“sebenarnya ada apa, Eunmin? Jujur saja”

        Eunmin mengusap wajahnya, “ani. Gwenchana. Oppa, aku ada urusan lain. Sudah ya, annyeong” ia segera menutup teleponnya sebelum mendengar jawaban.

Ia lalu menoleh ke arah dua orang yang tengah memperhatikannya sejak tadi.

“Begitu?” tanyanya.

“Daebak!! Waaa calon menantuku pintar sekali berakting!”

Eunmin memasang muka sedih, “ hwaa.. tapi kan aku tidak tega, eomonim” katanya.

Eomma Yesung langsung memeluk gadis itu. Ia hanya tersenyum, “Gwenchana yo. Sekali-kali uri Jongwoon harus sedikit di-bully” perempuan yang usianya melebihi setengah abad itu lalu beranjak menuju dapur. Meninggalkan Eunmin di ruang tamu. Gadis itu memandang ponselnya dengan penuh rasa bersalah.

Eunmin menatap Jongjin yang duduk di hadapannnya, “kalau Oppa benar-benar marah bagaimana?” tanyanya. Jongjin memasang wajah serius.

“Mungkin saja. Ya, mungkin Hyung akan benar-benar marah padamu”

“andwae.. jadi.. jadi aku harus bagaimana? Kan, ini cuma main-main”

Sedetik kemudian tawa Jongjin pecah, “astaga! Kau ini! Sudahlah, Hyung tidak akan marah padamu, percayalah. Misi kita pasti akan sukses” pemuda itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Eunmin.

Gadis itu menghela napas dan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Hari ini Eomma Yesung, calon mertuanya, memanggil  dirinya ke apartemen wanita itu. Ia menyambut ajakan itu dengan gembira sebab mereka memang sudah tidak lama bertemu. Sampai disana, ternyata Eomma Yesung mengajaknya bertemu untuk membicarakan rencana perayaan ulang tahun Yesung.

Rencananya mereka akan mengerjai Yesung mulai satu minggu sebelum tanggal ulang tahunnya hingga malam hari di tanggal 24. Awalnya Eunmin antusias terhadap ide Eomma Yesung dan Jongjin. Namun perasaannya berubah ketika tahu bahwa pemeran utama dalam rencana ini adalah dirinya. Skenarionya, ia akan bersikap cuek dan seolah marah kepada Yesung selama seminggu ini dan Eomma Yesung serta Jongjin berperan sebagai pemain pendukung yang berpura-pura menasihati mereka berdua.

Tentu saja bagi Eunmin ini berat. Apalagi harus memarahi dan bersikap menyebalkan kepada tunangannya.

Drrt.. drrt.. ponselnya kembali bergetar. Eunmin mengambilnya. Begitu melihat nama yang terpampang di layar, ia langsung menegakkan duduknya.

“Oppa, Yesung Oppa menelponku lagi!” ia menunjukkan ponselnya ke arah Jongjin yang sedang menonton televisi.

Pemuda itu menoleh sejenak, “biarkan saja” jawabnya singkat. Eunmin memasang wajah protes.

“Dia menelponmu?” Eomma Yesung keluar dari dapur membawa tiga gelas minuman. Eunmin mengangguk. Eomma Yesung meletakkan nampan berisi minuman itu dan mengambil ponsel Eunmin. Telunjuk kanannya bergerak menyentuh panel berwarna merah. Ia mematikan panggilan itu.

“Eomonim..”

Eomma Yesung tersenyum jahil, “Ini demi misi kita, chagi” ia mencubit pipi Eunmin. Gadis itu bertambah murung.

Mana bisa aku terus seperti ini selama satu minggu

*****

        Tuutt.. Tuutt.. Tuutt..

Teleponnya terputus. Lebih tepatnya, diputus.

Yesung memandang layar ponselnya dengan dahi berkerut. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Eunmin, tunangannya. Tiba-tiba saja gadis itu memutuskan teleponnya. Padahal ia tahu Eunmin sedang libur dan tidak ada kegiatan penting. Beberapa saat yang lalu saat mereka berbicara di telepon, gadis itu hanya menyahut dengan singkat dan lesu. Juga memutuskan telepon tanpa mendengar jawaban darinya. Ia memiliki firasat terjadi sesuatu pada diri gadis itu.

Yesung tahu betul sifat tunangannya. Eunmin selalu bersikap ceria saat mereka bersama dan pasti akan berbicara banyak hal saat ditelepon. Eunmin jarang marah. Dan kalaupun marah, tidak pernah tanpa alasan seperti ini.  Gadia itu akan berkata panjang lebar hingga kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa kecewanya. Juga tidak pernah memutuskan telepon tiba-tiba.

Kau sebenarnya kenapa batinnya.

Pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Ia menghembuskan napas berat. Perasannya tidak enak. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan menutup matanya, memikirkan penyebab perubahan drastic sikap Eunmin.

Jangan-jangan dia marah karena aku tidak meminum obat dari dokter waktu itu

Yesung lalu teringat bulan lau saat ia mengalami kecelakaan kecil di panggung comeback super junior dan menyebabkan pinggangnya sakit. Ia sengaja tidak memberi tahu Eunmin mengenai kejadian itu dan pergi ke dokter sendirian. Namun si evil maknae Cho Kyuhyun dengan terlalu baik hatinya memberi tahu Eunmin. Akibatnya gadis itu mendatangi dorm super junior dan mengiriminya pesan serta menelponnya di jam-jam minum obat yang dianjurkan dokter.

Aniya. Kalaupun marah, Eunmin tidak pernah memutuskan telepon tiba-tiba. Ahh.. apa ya? Ah, mungkin gadis itu dimarahi Eomma?

Ia merenung lagi. Namun rasanya sangat mustahil. Keakuratannya hanya 1 persen, mengingat eomma sangat menyayangi Eunmin seperti anaknya sendiri. Yesung berpikir lagi. Ia tiba-tiba seperti tersadar sesuatu.

Apa dia marah karena aku meng-upload selca bersama Seohyun dan Yoona? Ah, tapi kan itu sudah lama. Lagi pula dia baik-baik saja setelah itu.

        Yesung mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia benar-benar tidak mengerti.

Plaak!! Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di bahunya. Ia menoleh.

“Aigoo… sebentar lagi kau akan tampil bukannya duduk tenang malah memberantakkan rambutmu! Huuhh.. aku kan sudah sepenuh hati menata rambut merahmu ini” omel seorang hairstylist mereka. Yesung hanya diam dan membiarkan wanita itu memperbaiki rambutnya lagi. Teman-temannya yang berada di ruangan itu tertawa cekikikan. Kyuhyun datang menghampirinya.

“Chogiyo.. sajangnim, anda sedang ada masalah dengan kekasih anda, bukankah begitu?” Tanya Kyuhyun sambil berbisik. Yesung enggan menatap maknae mereka itu. Ia hanya bungkam.

“ jwesonghamnida jika saya menganggu suasana hati anda yang kelabu, tetapi ingatlah sebentar lagi kita akan tampil. Kalau perform Music Bank malam ini buruk, kau tahu sendiri kan” Kyuhyun bergegas menghindar sebelum Yesung meledak.

Yesung memijit dahinya. Tiba-tiba ia merasa pening. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Apapun yang terjadi padanya, ia tetap harus menampilkan yang terbaik paada comeback mereka malam ini.

Aigoo.. Haebaragi-ku kau kenapa?

“Ayo, segera bersiap” manager mereka mengingatkan. Semua member berkumpul membentuk lingkaran.

“Uri neun super juni-or!”

*****

        Yesung masuk ke dalam mobil. Ia dan member yang lain akan segera pulang ke dorm. Pemuda itu sengaja mengambil tempat di sebelah Ryeowook.

“Ryeowook ah, aku ingin bertanya sesuatu. Tapi ini rahasia” bisiknya. Sambil begitu, matanya dengan awas mengamati tindak-tanduk dongsaengnya yang lain terutama Kyuhyun.

“Hmm.. wae?” Tanya Ryeowook.

Yesung memperbaiki posisi duduknya, “Hyunchan pernah tidak, memutuskan telepon tiba-tiba? Atau pernah tidak, kau telepon tidak diangkat dan malah di matikan?”

Ryeowook spontan menatapnya kaget. Yesung jadi ikut kaget.

“Itu masalah pribadiku, hyung” jawabnya.

“Ara.. ara.. aku.. maksudku, ini penting. Jebal, jawablah” pintanya. Ryeowook menghela napas.

“Pernah” jawabnya singkat.

Yesung membulatkan matanya, “Jinja? Kenapa? “

Ryeowook tampak berpikir, “Waktu itu dia marah saat tahu aku akan menampilkan sexy dance untuk super show kemarin”

Yesung mengangguk-angguk. Berarti memang besar kemungkinan Eunmin marah padanya. Namun ia tidak mengerti, gadis itu marah karena apa.

Ryeowook kembali menatapnya, “Hyung, apa Eunmin marah padamu?”

“entahlah” ia menghela napas. “ Tadi kutelpon, dia tiba-tiba menutupnya. Kutelpon lagi, dimatikan” jawabnya. Ryeowook setengah mati menahan tawanya.  Baru kali ini ia melihat hyung-nya itu frustasi.

“Mwo ya? My daughter marah? Hmmm… sepertinya setelah ini ada yang tidak makan malam” gumam Kyuhyun.

Yesung membeku. Ia melirik ke arah Ryeowook yang hanya mengangkat bahunya.

“Cho Kyuhyun” desisnya.

Kyuhyun kembali menyandarikan badannya ke kursi kemudian mulai bernyanyi, “Dalkomhan ne geu mal nal jugineun ne geu mal Gamanhi kkaemulmyeon sseudisseun geu mal geumanhae”

Yesung menghembuskan napas putus asa tingkat akut. Jika ia tidak sabar, maknae bernama Cho Kyuhyun itu mungkin sudah di lemparkannya ke sungai Han.

******

        Eunmin duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang ponselnya. Gadis itu menatap kosong ke depan. Terlalu banyak perasaan yang bercampur aduk dalam dirinya. Rasa bersalah, takut, cemas, sedih, penasaran, ah! Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia terlalu gampang merasa kasihan dan merasa bersalah.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama Yesung terpampang, sebuah panggilan masuk.

Eottohke batinnya. Ia bingung. Eunmin kemudian berbaring dan menutupi kepalanya dengan bantal. Berharap tidak mendengar getaran ponsel putihnya itu.

Oppa mianhae

        Kemudian panggilan itu terputus. Eunmin membuka perlahan bantal yang menutupi kepalanya. Ia melihat layar ponselnya. Kemudian bernapas lega. Namun tak lama berselang, pintu kamarnya di ketuk.

“Noona? Sudah tidur?” suara Eunwoo terdengar dari luar.

“Belum. Wae?” sahutnya.

“Yesung hyung menelponku. Mau berbicara dengan noona. Cepat buka pintunya”

Omo! What the?! Eunmin menutupi wajahnya. Yesung sepertinya benar-benar ingin mendengar penjelasannya. Gadis itu seketika terkena sindrom bingung stadium akhir. Ia berjalan mondar mandir mengelilingi kamarnya. Sementara itu, Eunwoo kembai menggedor-gedor pintunya.

“Yak noona!! Palli” seru Eunwoo lagi.

Eottokahjyo? Eottokahjyo? Eottokahjyo? Eottokahjyo? Eottokahjyo? Eunmin mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

“Yak Noona! Jebal!!!”

Gadis itu akhirnya melangkah dengan sangat pelan menuju pintu. Baru saja akan diputarnya kenop pintu saat suara Eunwoo kembali terdengar.

“Ah ne.. yoboseo, hyungnim? “

Hening.

“Morogesseo”

Hening lagi.

“Ne.. arasseo. Jwesonghamnida hyungnim”

Hening (lagi) lagi.

“Annyeong”

Eunmin memasang telinganya baik-baik di balik pintu.

“Noona childish!”

Eunmin dengan cepat membuka pintunya. Eunwoo sudah beberapa langkah menjauhi kamarnya. Ia segera menarik tangan adiknya itu.

“Oppa bilang apa di telepon?”

Eunwoo menatap Noonanya malas,”Tanya sendiri”

“aigoo.. jebal” Eunmin memasang tampang memelas termenyedihkan yang ia punya.

“Molla..molla… siapa suruh childish begitu? Kalau ada masalah dengan hyung, jangan libatkan aku”

Eunmin menggeleng kuat-kuat, “Aniya. Ini bukan seperti yang kau kira”

Eunwoo mengangkat sebelah alisnya.

“Aku, eomonim, dan Jongjin Oppa berniat memberi kejutan di hari ulang tahun Yesung Oppa. Dan ini adalah bagian rencana kami” jelas Eunmin.

Eunwoo tertawa mengejek, “Noona yang mengatur semuanya?”

Eunmin menggeleng, “ Eomonim”

Mendengarnya, pemuda itu hanya menatap datar, “Kalau begitu, pikirkan saja sendiri”

Blam! Eunwoo menutup pintu kamarnya tanpa Eunmin sempat mencegah. Tinggal gadis itu melongo. Kemudian dengan langkah lunglai, ia kembali ke kamarnya. Ia menghembuskan napas super berat. Yesung pasti merasa sedih sekali dengan sikapnya. Ia jadi takut sendiri.

Bagaimana jika oppa benar-benar marah padaku? Lalu mengakhiri hubungan kami? Andwaeeee!!!!!

        Eunmin heboh sendiri. Ia membanting badannya ke atas kasur dan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal.

Drrtt drrt drrt..

1 new message

        Gadis itu serasa membeku. Seakan baru bertemu dengan hantu. Ia menghampiri ponselnya dan memencet panel untuk membuka pesan dengan telunjuk kanannya yang bergetar. Ia menutup matanya dan menghitung dalam hati sebelum membukanya kembali.

Hana.. dul.. set..

Ia membuka matanya cepat. Melihat isi pesan itu, Eunmin langsung menutup kembali wajahnya dengan bantal.

“Eommmaaaaaaaaa!!!!”

Kemudian ia kembali melihat ponselnya, memastikan matanya tidak salah.

From : My O2

       

        “ahh.. kalau begini caranya aku bisa stress”

*****

        H-6 Ulang Tahun Yesung. Eunmin dan Jongjin berkumpul menghadap komandan mereka di markas rahasia, apartemen Eomma Yesung. Keduanya melaporkan hasil penugasan mereka masing-masing.

“Hee… jadi putra sulungku itu menelpon adikmu? Ahh.. dia sudah terkena jebakan. Lalu? Lalu?’ Eomma Yesung bersemangat sekali mendengar laporan Eunmin.

“ Oppa mengirimiku pesan ini” gadis itu menunjukkan isi pesal dari Yesung.

Jongjin dan Eomma Yesung mengamati gambar itu dengan teliti. Kemudian senyum keduanya terkembang dan melemparkan pandangan menggoda ke arah Eunmin.

“Aigoo.. Hyung bisa juga ya? Kalau begini caranya, kau akan cepat menjadi nyonya Kim Jongwoon”

Muka Eunmin memerah karenanya.

“Anakkuu.. ah, dia romantis sekali. Jadi ingat ketika Eomma pacaran dengan Appa dulu. Waktu itu dia mengirimi Eomma surat cinta dan menyelipkannya ke laci meja kelas Eomma. Lalu, setelah itu..”

Penyakit nostalgia khas orangtua milik Eomma Yesung kambuh lagi. Jongjin cepat-cepat memotongnya sebelum Eomma-nya berbicara dua jam non stop.

“Lalu, ada apa lagi?” tanyanya pada Eunmin.

Gadis itu menggeleng, “Laporan Park Eunmin selesai”

Jongjin dan Eomma Yesung mengangguk-angguk. Kemudian mereka bertiga merapatkan barisan dan mulai menyusun plan b, rencana lanjutan mereka.

“jadi, tunggu hingga H-4, lalu kau maafkan dia. Ceritanya begitu. Nah.. sekarang kan dia sedang sibuk-sibuknya, setelah itu giliran Eomma dan Jongjin. Kami tidak akan menghubunginya dulu dan kalau dia menghubungi kami, akan segera diputuskan. Biarkan dia merasa telah menelantarkan keluarganya. Aracchi?”

“Arasseo!”

****

        Ini hari-hari paling kelabu bagi Yesung. Namja yang kata eommanya berwajah tampan itu, tampak kusut. Ia kurang tidur dan sedang banyak pikiran sehingga matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit. Meskipun langit di luar berwarna biru cerah, baginya tetap terlihat seperti mendung tebal yang menggulung-gulung. Mendung yang menyedihkan. Sama seperti dirinya.

Bahkan dimata ddangkoma dkk, ia terlihat menyedihkan. Para hewan itu turut kehilangan nafsu makan mereka melihat sang tuan sedih. Mereka tidak mengerti benda, atau sesuatu, bernama cinta itu seperti apa sehingga tuan mereka seakan kehilangan nyawanya hanya karena tunangannya marah padanya. Apakah yang namanya cinta itu lebih penting daripada bermain berguling-guling di atas pasir, atau lebih penting dibanding menghangatkan diri di balik cangkang, entah. Mereka tidak mengerti. Manusia memang makhluk yang sangat rumit, begitu pikir mereka.

Padahal ulang tahunnya sudah dekat. Belum lagi jadwal SMTOWN mereka. Lalu jadwal comeback SPY. Ah, kalau begini caranya ia bisa cepat beruban. Mungkin juga bisa cepat pikun. Ini adalah hari kedua Eunmin tidak menghubunginya sama sekali. Ia sudah menyerah menghubungi gadis itu. Mungkin Eunmin perlu mendinginkan kepalanya dulu. Yesung hanya mengirim pesan-pesan yang juga sama sekali tidak dibalas. Terkadang di selipkannya gambar-gambar romantis agar tunangannya  itu senang.

Sembari itu ia menghitung hari. Biasanya Eunmin tidak pernah marah lebih dari tiga hari. Kata gadis itu, marah lebih dari tiga hari dapat membuat kulit cepat keriput.

Ini hari kedua, semoga besok dia sudah membaik

Ia mengirim satu pesan lagi

To : My O2

            Oppa akan terus

       

******

        H-5 ulang tahun Yesung.

Sesuai rencana, Eunmin ‘memaafkan’ Yesung hari ini. Ia mengangkat telepon pemuda  itu. Dari suara di seberang, ia bisa menangkap tunangannya itu sangat senang. Eunmin jadi merasa terenyuh. Ia benar-benar merasa bersalah. Sekaligus heran. Yesung 6 tahun lebih tuar darinya, tapi sama sekali tidak menyadari bahwa sikapnya ini adalah pura-pura.

“Yoboseo?” jawabnya.

“eunmin ah? Ini kau kan?”

        “Ne”

“Aigoo…  akhirnya kau mengangkat teleponku. Aku benar-benar bingung dan sudah hampir setengah gila. Kalau terlalu lama begitu, aku bisa jadi klienmu”

        “Hmm…” ia hanya bergumam.

“Ada masalah? Kau marah denganku?”

        “Aku tidak ingin membicarakannya Oppa” jawabnya singkat.

“Arasseo.. ah, kalau begitu setelah SMTOWN, kita jalan-jalan ya? Sudah lama sekali kan?”

        “Kapan? Hari minggu ulang tahun Oppa. Jangan bilang Oppa lupa”

“Oh iya ya… ah… kalau begitu, merayakannya berdua saja. Bagaimana?”

        “Terserah Oppa”

“Ok, nanti akan kuhubungi lagi. Aku harus segera bersiap untuk comeback. Jaga dirimu baik-baik haebaragi-ku. Annyeong”

        Klik! Telepon mereka terputus. Tanpa sadar, Eunmin meneteskan air matanya. Ia sangat mudah terharu. Padahal ia tidak serius mendiamkan Yesung, tapi pemuda itu sebegitu khawatirnya. Ia terisak pelan. Ia khawatir Yesung akan marah jika tahu yang sebenarnya terjadi.

“Sudah, tidak usah menangis”

Eunmin mendongakkan kepalanya. Tahu-tahu Jongjin muncul di hadapannya.di sebelah calon adik iparnya itu, Eomma Yesung tengah memperhatikannya sambil tersenyum. Wajah Eunmin kontan memerah. Ia meneguk minuman yang tersedia di meja di hadapannya dengan kaku.

“Anak sulungku itu tidak akan marah padamu. Percaya saja. Dia sudah banyak membaca buku-buku psikologimu sehingga menjadi sangat bijak. Tenang saja”

Eunmin mengangguk sambil kembali menyusut air matanya.

“Ah, daripada itu ada satu hal lagi yang harus kau lakukan chagi” kata Eomma Yesung lagi.

“apa itu eomonim?”

“begini, kan menurut rencana kita kau akan menangis di hari ulang tahu Jongwoon. Nah, kau harus berlatih. Tidak mungkin kan, kau bisa menangis dengan sendirinya?”

Gadis itu mengangguk, “Caranya?”

“Tenang saja” kali ini JOngjin yang bersuara. “Aku sudah menyiapkan ini!” ia mengeluarkan beberapa keping DVD dari kantong jaketnya.

“ Ini adalah beberapa drama bertema kesedihan, tragedy, dan air mata. Aku yakin, kalau kau melihatnya kau akan menangis”

“Ayo mulai berlatih sekarang”

Jongjin lalu memasang satu keping DVD drama ’49 Days’. Ketiganya memperbaiki posisi duduk masing-masing dan mengerahkan konsentrasi penuh menatap layar televisi. Belum lama episode satu terputar, Eunmin sudah menitikkan air mata.

Melihatnya, Jongjin mengerutkan dahiny, “Yak! Drmanya belum mulai, kenapa sudah menangis?”

“Aku sudah pernah menontonnya. Sekarang aku mengingat adengannya kembali dan ikut sedih. Hwaaa”

Eomma Yesung tersenyum, “Bagus! Bagus sekali suara tangismu! Ah… kalau begitu tidak perlu latihan!”

“Dia kan memang terlalu mudah terharu” gumam Jongjin.

*****

        H-2 Ulang tahun Yesung.

Masalah Eunmin selesai, kini giliran masalah dengan Eomma-nya. Sudah dua hari Yesung menghubungi Eomma-nya, tidak pernah diangkat. Ia memang sudah lama tidak berkunjung ke apartemen orang tuanya, juga sudah tiga hari tidak menghubungi mereka akibat jadwalnya yang padat. Tetapi apa gara-gara itu Eomma-nya ikut ngambek.

Jangan-jangan Eomma sedang bermusuhan dengan Appa? Ah.. seperti anak muda saja

        Padahal saat ini sedang SMTOWN. Rekan-rekan SM Family-nya yang lain mendapat dukungan dari keluarga mereka. Beberapa juga ada yang membawa orangtua atau saudaranya. Yesung iri. Terlebih lagi, selama ini ia sangat dekat dengan Eomma-nya. Ia merasa menjadi anak yang durhaka. Mungkin Eomma sedang marah padanya.

Wanita itu, tidak yang masih muda atau yang sudah tua, semuanya sensitif. Begitu pikirnya.

Dan sebentar lagi ia berulang tahun. Bittersweet. Hari yang manis dan menyedihkan sekaligus. Ulang tahun paling kelabu yang pernah ia punya. Meski ia bukan lagi anak kecil ingusan yang setiap ulang tahun harus diberi kado, tetapi ia merasa harus merayakan hari itu bersama orang-orang terkasihnya. Orangtuanya, Jongjin, SM Family, dan tunangannya.

Di tengah ke-kelabuan hatinya, di tengah perjuangannya menampilkan yang terbaik saat konser meski dengan perasaan yang suram, Eomma-nya, Jongjin, dan Eunmin tengah mempersiapkan sebuah pesta kecil. Sang Appa tercinta tidak bisa ikut serta sebab ada urusan pekerjaan. Tetapi tetap memberi aliran dana yang cukup untuk rencana mereka.

Tepat di hari H, tiga sekawan itu akan menghias kamar Jongjin dengan pita dan balon. Juga membeli sebuah kue tart kecil rasa cokelat dengan lilin angka ‘29’ di atasnya. Tak lupa juga terompet dan hadiah dari masing-masing.

Menurut Eomma Yesung menggunakan feeling yang kuat dari seorang ibu yang sangat menyayangi putra sulungnya, Yesung akan pulang ke apartemennya. Mama boy-itu tidak akan bertahan lama tanpa kontak dari Eomma-nya. Berdasarkan hal itulah, Eunmin sengaja menginap di hari sabtu untuk membicarakan the final mission mereka.

“jadi” Eomma Yesung membuka pembicaraan mereka bertiga. Suasana sudah tengah malam             . Mereka duduk melingkar di ruang tamu dengan memadamkan listrik dan mematikan lampu. Takut ada yang mendengar.

“Eunmi calon menantuku yang manis, kau menelpon Jongwoon dan berbicaralah dengan suara se-menyayat hati dan se-sedih-sedihnya. Biarkan anak sulungku itu memiliki firasat yang buruk. Lalu kami akan bersembunyi di kamar Jongjin yang akan kita hias nantinya. Dan ketika dia masuk.. surprise!”

Eunmin dan Jongjin berpandangan. Kemudian mengangguk-angguk tanda mengerti.

“baiklah, ini adalah serangan terakhir kita”

“Fighting!!”

*****

        Hari H. Kamar Jongjin sudah di hias. Kue sudah siap. Juga terompet dan kado. Ketiga sekawan itu berkumpul di ruang tamu apartemen Eomma Yesung. Malam sudah tiba. Yesung sudah mendarat di Seoul. Sebentar lagi pasti akan tiba di tempat mereka berada sekarang.

Eunmin tengah bersiap menjalankan tugasnya. Gadis itu menggenggem gagang telepon dengan kuat. Ia menatap eomma Yesung dan Jongjin sebelum menekan nomor ponsel Yesung. Kedua orang di sebelahnya itu mengepalkan tangan sembari berucap, “Fighting!”

Gadis itu menganggung, “Fighting!”

Air matanya sedari tadi sudah membasahi pipinya akibat Jongjin meletakkan semangkuk penuh irisan bawang Bombay di depan hidungnya.

Ia menekan tombol pada telepon dengan hati-hati. Tak lama, nada sambung terdengar. Bersahut-sahutan dengan degup jantungnya yang tak karuan. Ia menanti dengan cemas. Pun dengan eomma Yesung dan Jongjin.

“Yoboseo”terdengar suara Yesung di seberang.

Jantung Eunmin terasa ingin terlepas, “yy..yo..bbboo..seo?” suaranya menjadi bergetar karenanya.

“Ne. Eunmin ah?” dengan cepat Yesung dapat menebak itu dirinya. Eunmin menarik napas sejenak. Air matanya semakin deras. Kedua bola matanya pun terasa semakin panas.

“Oppa…” suaranya menjadi serak. Ia terdengar terisak. Eomma Yesung mengacungkan dua jempolnya.

“Wae? Apa yang terjadi?”

        “Hiks!” Eunmin mulai menyusut hidungnya. “Oppa.. cepat pulang ke apartemen eomonim sekarang”

“Haa? Wae? Ada sesuatu dengan Eomma?”

        Suara tangis Eunmin mulai pecah. Latihan menangis ala Eomma Yesung dengan cara menonton sad drama hampir 24 jam non stop, ternyata cukup ampuh. Di tambah lagi, calon ibu mertuanya itu tengah memutar scene paling menyedihkan dalam drama ’49 Days’ dan di hadapkan ke arahnya, meski tanpa suara. Hal itu mampu membuat Eunmin menangis sejadi-jadinya.

“a..ara..ara..aku kesana sekarang! Tenang saja”

        “Ne.. palli”

Klik! Telepon terputus. Eunmin mengelap air matanya dan menyusut hidungnya sekali lagi. Ia menatap Eomma Yesung dan Jongjin.

“Daebak!!!” seru mereka berdua bersamaan. Eomma Yesung berlari memeluk Eunmin.

“Kita sukses chagi”

Eunmin tertawa. Strategi yang sudah mereka susun jauh-jauh hari tampaknya tidak percuma.

“Nah, sekarang kau tunggu di ruang tamu. Eomma dan aku di kamarku” perintah Jongjin. Eomma Yesung dan Eunmin mengangguk. Mereka segera memasang status siaga satu di tempat masing-masing. Sementara menunggu, Eunmin memakai earphone yang disambungkan ke ponselnya dan memutar musik-musik termenyayat hati yang ia punya dengan volume paling keras. Ia harus bisa menghadirkan nuansa sedih ke dalam dirinya hingga Yesung pulang.

Eunmin mulai merasa hatinya pilu. Anak itu memang mudah terharu. Namun ia belum bisa menangis lagi. Efek ’49 Days’ tadi sudah hilang. Akhirnya, meski sangat tidak suka, ia membayangkan jika Yesung mengakhiri hubungan mereka. Dan ia pun sukses meneteskan air mata. Ditambah lagi, lagu yang kini tengah terputar adalah “I’m Behind You” Yang dinyanyikan Yesung feat Jang Hye Jin.

Detik demi detik berlalu. Eunmin menunggu di ruang tamu yang gelap. Jantungnya terus berdetak semakin kencang. Waktu terasa cepat. Pintu apartemen Eomma Yesung terbuka. Itu pasti tunangannya. Eunmin dengan cepat melepas earphone-nya. Ia mulai terisak.

*****

        “Eunmin ah?” Yesung menghampiri ruang tamu. Ia menyalakan lampu. Seketika tampak olehnya, Eunmin tengah terisak di sofa. Dengan cepat, ia menghampiri tunangannya itu dan merangkulnya.

“Ada apa?” tanyanya pelan. Ia mengusap kepala Eunmin, mencoba menenangkannya.

Tangis Eunmin semakin deras, “Eomonim..” jawabnya dengan suara bergetar sambil menunjuk ke kamar Jongjin. Tanpa basa-basi, Yesung melesat.

Ia memutar kenop pintu pelan. Kecemasan mulai menguasai dirinya. Ia memiliki firasat ada sesuatu dengan Eommanya. Tanpa sadar, Eunmin tengah meliriknya di balik sela-sela jari tangannya yang menutupi mukanya.

Yesung membuka pintu. Ruangan tampak gelap. Ia meraba-raba dinding dan menyalakan lampu.

Treeeettt!!!!!!!!!!
“Saengil chukka hamnida!!” suara terompet seketika terdengar. Yesung melongo. Kamar Jongjin itu sudah dipenuhi hiasan pita dan balon.  Sementara Eommanya dan adiknya meniup terompet.

“Ige..”

“saengil chukka hamnida Oppa” belum hilang keterkejutannya, Eunmin datang dari belakangnya dengan membawa sebuah cake cokelat kecil dengan lilin angka ‘29’ diatasanya.

“Make a wish!”

Masih dengan wajah terkejut, Yesung memejamkan matanya dan meniup lilin.

“yeay!!!”

Treettt!!!!!!

“Ayo potong kuenya, hyung” kata Jongjin. Eunmin meletakkan kue kecil itu di atas meja. Yesung tersenyum. Eommanya menyerahkan pisau kepadanya.

“Aigoo, eomma lupa belum menyiapkan piring”

Yesung segera bangkit, “aniya, biar aku saja” Ia beranjak dan menarik tangan Eunmin. Gadis itu melongo dan menatap tunangannya. Yesung menolehkan kepalanya, memberi perintah untuk mengikutinya. Eomma Yesung dan Jongjin tidak melihat mereka. Sibuk memperbaiki terompet mereka yang tidak berbunyi.

Eunmin mengikuti Yesung ke dapur. Tak sepatah katapun keluar dari mulut tunangannya itu. Ia mulai merasa ada yang aneh.

“Wae yo Oppa?” tanyanya.

Yesung hanya bungkam.

Eunmin menggigit bibirnya. Cemas. Tiba di dapur, Yesung melepaskan genggaman tangannya dan berbalik hingga mereka berhadapan. Ia menatap Eunmin dalam. Gadis itu mundur selangkah melihat sinar mata Yesung.

“ww..wae?”

Yesung mengusap wajahnya keras. Ia menghembuskan napas berat.

“Ini rencana siapa?” tanyanya.

Eunmin menunjuk dirinya, “aku, eomonim, dan Jongjing Oppa” jawab anak itu pelan.

Yesung memegang kedua bahu gadis di hadapannya itu, “Dengar ya, aku mengerti kau mau memberiku kejutan” katanya setengah berbisik.

“Tapi lain kali lihat juga situasinya. Aku sedang ada pekerjaan dan kau menelponku tiba-tiba. Pekerjaan itu jadi dibatalkan dan mengorbankan member yang lain. Itu kan merugikan” ia memelankan suaranya sebisa mungkin. Takut terdengar Eommanya dan Jongjin.

Eunmin hanya tertunduk meremas-remas jarinya, tidak berani menatap mata Yesung. Ia hanya ingin menyenangkan hati tunangannya. Namun yang terjadi malah diluar dugaan. Ia jadi merasa tak enak sudah membuat Yesung marah di hari ulang tahunnya.

“Mianhae. Aku hanya ingin memberi kejutan. Aku tidak tahu jadinya akan seperti ini”

“makanya lihat dulu situasinya”

Eunmin mengangguk dan berusaha tersenyum.

Yesung melepaskan tangannya. Ia menghembuskan napas sekali lagi.

“Sudahlah” Yesung mengambil piring dan berjalan kembali ke ruang tamu, membiarkan Eunmin mematung sendirian. Gadis itu berlalu dan memasuki kamar mandi. Kata-kata Yesung barusan memang tanpa nada emosi. Namun entah kenapa hatinya begitu terluka saat mendengarnya. Ia tak kuasa menahan air matanya. Ia terisak dalam diam sembari bersandar di pintu kamar mandi yang tertutup.

Bulir-bulir bening itu mengucur deras membasahi pipinya. Eunmin menekan dadanya. Ada rasa sakit terasa disana. Sesak. Bahunya terguncang pelan. Ia tidak pernah sesakit itu selama bersama Yesung. Ia tidak pernah menangis tersedu seperti ini. Bahkan ketika Yesung dikabarkan masih memiliki hubungan dengan mantan pacarnya, ia tidak serapuh ini. Namun kali ini…

Seharusnya Yesung bisa dengan bijak memahaminya seperti biasa. Semestinya pemuda itu tahu maksud dirinya melakukan semua ini. Padahal ia sudah begitu pengertiannya terhadap tunangannya itu. Ketika Yesung tidak pernah bisa mengenalkannya kepada umum, ketika Yesung sibuk dan jarang menghubunginya, ketika berbagai gossip menerpa pemuda itu, Eunmin selalu bisa memahaminya. Selalu bisa mengerti. Namun kenapa hanya hal seperti ini Yesung tak mau mengerti.

Mungkin aku memang harus selalu bisa mengerti seperti biasanya

        Ia menghapus air matanya dan membasuh mukanya dengan air. Tak peduli make up nya akan luntur. Lalu diusapnya wajahnya dengan sapu tangan hingga kering. Ia bercermin dan memastikan di mukanya tidak tampak bekas-bekas tangisan. Eunmin lalu keluar.

Gadis itu menghampiri rak piring dan mengambil sebuah gelas. Diisinya hingga penuh dan diteguknya perlahan. Ia mencoba menekan rasa sakit itu dalam-dalam. Ia tidak boleh menangis di depan yang lain. Namun, kali ini entah kenapa matanya sulit diajak kompromi. Air matanya tetap keluar satu persatu. Eunmin menghapusnya dengan telapak tangannya.

Sudahlah.. berhenti menangis

        Ia mengusap wajahnya sekali lagi dengan tangannya.

“Eunmin, tolong ambilkan kotak makanan warna orange. Bawa isinya saja ke ruang tamu” suara Yesung yang muncul di pintu dapur mengagetkannya. Ia menoleh sekilas.

“Ne”jawabnya singkat.

Ia menghampiri kitchen set dan mencari benda yang dimaksudkan. Setelah menemukannya, ia membuka kotak makanan orange itu. Isinya sebuah paper bag kecil dengan secarik kertas tertempel di atasnya. Ia mengerutkan dahinya. Bingung. Kemudian dikembalikannya benda itu. Ia lalu mencari lagi. Namun ia tidak menemukan kotak makanan berwarna orange yang lain. Eunmin lalu mengambil kembali benda yang tadi dikembalikannya. Dibukanya, dan diambilnya paperbag yang ada didalamnya. Ia membuka kertas yang menempel pada paperbag itu. Ia membaca tulisan yang tertera disana

Ahahaha

        Kau pasti habis menangis kan? Bahkan saat ini pun aku berani bertaruh air matamu masih menetes. Akhirnya aku berhasil mengerjaimu. Maaf ya, aku sudah tahu jika kau, eomma, dan Jongjin berencana mengerjaiku hari ini. Tapi kalau cuma aku yang mendapat kejutan di hari ulang tahunku, maka hal berkesan itu hanya akan dirasakan olehku. Aku ingin kau juga mendapatkan hal yang berkesan di hari spesialku ini, makanya aku balas mengerjaimu. Bagaimana? Aktingku bagus kan? Kekekeke ^^v

        Eunmin berbalik cepat. Ia mendapati Yesung berdiri tak jauh di belakangnya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan tersenyum jahil. Gadis itu kembali meneteskan air mata. Ia kembali berbalik, membelakangi tunangannya.

“Kau menangis kan?” Yesung menghampirinya dan mencoba melihat wajah Eunmin yang tertutupi kedua tangan gadis itu.

Eunmin menghindar dengan tangan yang masih menutupi wajah.

“ Coba, aku ingin lihat wajah menangismu. Pelihatkan padaku” Yesung berusaha membuka tangan Eunmin.

“Shireo”Gadis itu kembali menghindar.

Yesung tak bisa menahan tawanya. Mendengar itu, Eunmin memukul bahunya.

“Oppa jahat”

“ahaha.. mianhae.. aku ingin kau juga merasa spesial di hari ini. Tapi tak kusangka kau benar-benar menangis”

Eunmin membuka tangannya. Ia mengelap wajahnya. “Habis kukira Oppa benar-benar marah padaku. Uuuhh.. mukaku jadi belepotan air mata”

Yesung mendekat dan mengelap air mata di wajah tunangannya dengan jari-jarinya. Ia tersenyum sembari menatap wajah gadis itu. Kemudian diambilnya selembar tissue basah dari kantong celananya. Ia mengelap wajah Eunmin pelan.

“Mana mungkin kan, aku marah padamu karena hal seperti ini? Memangnya selama ini pernah?”

“Karena tidak pernah itu, makanya aku…” protesnya.

“kau ini” Yesung mengacak-acak rambut panjang Eunmin. Kemudian dicubitnya pipi gadis itu dengan gemas. Eunmin memasang tampang cemberut.

“Senyum dong. Tanpa make up pun kau cantik” katanya lagi. Eunmin masih cemberut. Ia membuang mukanya.

Yesung tertawa lagi, “ Kalau tidak mau tersenyum, terpaksa aku..” Pemuda itu menggelitik pinggang Eunmin. Mau tidak mau gadis itu tertawa geli.

Eunmin tersenyum. Yesung menggandeng tangannya dan berjalan bersama menuju ruang tamu.

“Hadiahnya nanti kita buka bersama ya”

Eunmin mengangguk dan tersenyum lagi.

****

        “Ehm! Ini saatnya special time kalian berdua. Kami undur diri dulu ya” Eomma Yesung dan Jongjin mendorong mereka berdua keluar ruangan dan menutup pintu kamar Jongjin. Yesung memandang  Eomma dan adiknya itu dengan bingung. Apalagi saat Eommanya mengedipkan sebelah mata ke arah Eunmin.

“Apa kau mempersiapkan sesuatu lagi?” tanyanya. Eunmin mengangguk.

“Tunggu sebentar” ia berjalan mengambil gitar Jongjin yang ada di dekat televisi. Kemudian ia duduk di hadapan yesung.

“Selama ini aku sering melihat Oppa bernyanyi. Nah, sekarang aku yang akan bernyanyi untuk Oppa. Selamat menyaksikan” katanya.

Yesung tertawa dan bertepuk tangan. Eunmin berdehem. Ia lalu mulai memetik gitarnya. Musik terdengar pelan. Yesung menyimak.

oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda

i gil kkeuteseo seoseongineun na

dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba

naneun tto i gireul mutneunda “ Eunmin mulai bernyanyi lagu it has to be you. Selama ini ia hanya mendengarnya dari Yesung. Ia ingin membalasnya, memberi tahu bahwa lirik lagu itu menggambarkan perasaannya. Meski ia tahu, suaranya tak akan sebagus Yesung.

niga animyeon andwae

neo eobsin nan andwae

na ireoke haru handareul tto illyeoneul

na apado joha….” Eunmin berhenti pada sebagian reff lagu. “Aaa.. aku lupa kuncinya. Tunggu sebentar” ia mengingat-ingat. Yesung tertawa lagi. Tingkah polos Eunmin memang selalu menarik di matanya. Ia tak kuasa menahan tawanya. Eunmin yang melihatnya bersemu merah. Malu.

“jangan tertawa Oppa, aku jadi tidak bisa mengingatnya!”

Yesung menahan tawanya, “Aku tidak tertawa kok. Ayo lanjutkan”

Eunmin menggaruk-garuk kepalanya. Ia tampak berpikir, “Ah, Aku sudah ingat.. mulai lagi dari awal reff tadi ya. Ehm” ia memperbaiki posisi duduknya. Kemudian jarinya bergerak memetik senar-senar gitar. Ia mulai bernyanyi kembali.

niga animyeon andwae

neo eobsin nan andwae

na ireoke haru handareul tto illyeoneul

na apado joha

nae mam dachyeodo joha nan

geurae nan neo hanaman saranghanikka

Ia mengakhiri perform-nya. Yesung spontan berdiri dan bertepuk tangan. Eunmin tersenyum malu, Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian dikembalikannya gitar itu ke tempat semula. Yesung masih bertepuk tangan. Eunmin melihatnya dari samping televisi dengan mukanya yang bersemu.

“Maaf Oppa, suaraku jelek. Lagunya jadi rusak”

Yesung menatapnya lembut dan mengisyaratkan gadis itu agar duduk di sampingnya. Eunmin berjalan pelan ke arahnya. Mereka duduk berdampingan. Yesung menatap Eunmin tepat di manik matanya. Membuat gadis itu tertunduk tersipu.

Nada lagu, control suara, dan pernapasan semuanya memang masih berantakan. Namun Yesung tahu Eunmin sudah berusaha sangat keras demi menyanyikan sepenggal lagu itu di hari ulang tahunnya. Meski secara kualitas tidak bisa menyamai para penyanyi yang selama ini ia kenal, ia tahu gadis itu menyanyikannya dengan tulus.

“Diluar sana ada banyak penyanyi yang juga bisa menyanyikan lagu itu. Tapi aku yakin, yang bisa menyanyikannya dengan tulus untukku hanyalah kau. Gomawo”

Eunmin menggaruk-garuk kepalanya. Mukanya sudah berubah sangat merah. Ia hanya bisa menunduk.

“ Siapa yang mengajarimu?” tanya Yesung kemudian.

Eunmin mengangkat wajahnya, “Jongjin Oppa”

Yesung lalu mengambil kedua tangan tunangannya itu. Ia meraba ujung-ujung jarinya.

“Kau berlatih berapa lama? Ujung jarimu sampai jadi kasar begini”

“Hmm.. mungkin sebulan” jawab Eunmin.

“Mwo? Sebulan? Hanya untuk satu lagu ini?” Yesung kaget mendengarnya.

“Bukan satu lagu, kan hanya sepenggal. Aku kan memang, buta nada. Hehehe.. mungkin Jongjin Oppa sudah hampir frustasi mengahadapiku yang tidak kunjung bisa”

“ A.. aniyo. Maksudku, kau berlatih selama itu… demi menyanyikannya untukku?”

Eunmin menunduk lagi dengan muka bersemu merah. Ia mengangguk pelan. Yesung menatapnya lembut sambil tersenyum. Dielusnya kepala gadis itu. Rasa sayangnya semakin besar. Ia merasa beruntung bisa bersamanya.

“Gomawo” katanya sekali lagi

“Oppa berterima kasih terus” kata Eunmin. Yesung hanya tertawa.

“Oya, ini buat oppa” Eunmin memberikan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado berwarna merah. Warna kesukaan Yesung.

“Buatku?
Eunmin mengangguk

“Saranghae” kata Yesung lagi. Mendengarnya, gadis itu hanya tersipu.

“Ayo kita buka kadonya bersama” ajaknya.

*****

        Malam semakin larut. Eunmin dan Yesung masih setia duduk di ruang tamu berdua. Hari ini begitu membuat keduanya bahagia.

“Oppa” panggil Eunmin.

“Hmmm?” sahut Yesung.

“Tahun ini tema ulang tahunnya apa?”

Yesung tampak berpikir sejenak, “Bittersweet mungkin. Bitter pada awalnya, tetapi Sweet pada akhirnya” ia menoleh ke arah tunangannya. Mata mereka bertemu.

“Saranghae” katanya.

Gadis itu tersenyum, “Nado saranghaeyo Oppa”

Sementara kedua manusia yang tengah saling tersipu itu bersama, dari lubang kunci pintu kamar Jongjin, dua pasang mata tengah mengamati mereka.

“Apa yang terjadi?” bisik Eomma Yesung.

“Ah.. tidak seru Eomma. Cuma bertatapan dan mengucapkan saranghae” jawab Jongjin sambil terus menajamkan pandangannya melalui teropong super akurat miliknya.

Eomma Yesung menghembuskan napas kecewa, “Lalu, hadiahnya apa?”

Jongjin menurunkan teropongnya. Ia mengangkat kedua bahunya, “molla. Tidak kelihatan”

*****

Maafkan atashi kalo ini sangat gaje #bow
gomawo for reading😀

6 thoughts on “[Fanfic] Bittersweet – Oneshoot-

  1. LIKE THIIIIIISSS… ^.^b
    FF nya keren bangeeeeett…
    =D
    EunMin sifatnya lucu banget, gampang tersentuh .
    Ending nya d bikin panjang lagi kayaknya seru tu thor,
    hehe…
    #nawar,😄
    evil nya Kyuhyun nyelip juga d sini, suka sekaliiiiii… #tiba” kangen Kyu, =3
    Akhir kata,
    Saengil Chukkae buat Yesung, ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s