[Fanfic] Rainbow Family Part 2: Happiness, Happy Birthday!

Cast:
Kim Family:

  • Kim Joongwoon aka Yesung – SJ,
  • Kim Junsu- 2PM,
  • Kim Jaeseop aka AJ – U-Kiss,
  • Kim Kibum aka Key – SHINee,
  • Yang Seungho – MBLAQ aka Kim’s cousin.

Lee Brother:

  • Lee Howon aka Hoya – INFINITE dan
  • Lee Jaejin – FT Island

Othe cast:

  • Shim Changmin – TVXQ
  • Jung Jinwoon – 2AM
  • Shin Hyunmi
  • Kim Myungsoo aka L – Infinite
  • Jo Youngmin – Boyfriend
  • Kang Minhyuk – CN Blue
  • Baro – B1A4

Genre: Family
Author: RyeoChan12

“Saengil chukkae, uri little princess!” Ucap mereka berlima bersamaan. Seungmi merasa ini semua mimpi. Bagaimana bisa ini terjadi?

Mereka semua berkumpul di ruang tengah. Seungmi masih belum bisa berhenti menangis.

“Ulljima~” Jaeseop mengusap punggung dongsaeng-nya.

“Hikss…. Bagaimana bisa Oppa di sini?”

#Flashback

“AJ, The directur call you!” Tiba-tiba terdengar seseorang berbicara dengan Jaeseop.

“Really? Okay, thanks for information!” Jaeseop berbalik melihat orang tadi. “Chagi, sampai sini dulu yah! Oppa ada urusan mendadak!” Jaeseop tersenyum pada Seungmi melalui webcam.

“Ne!” Jawab Seungmi terdengar tidak semangat.

“Jangan begitu dong! Mana senyuman Kim Seungmi yang paling manis?” Dongsaeng Jaeseop itu lalu tersenyum untuknya. “Nah begitu! FIGHTING!” Jaeseop mengepalkan satu tangannya ke udara. Seungmi tersenyum mendengar semangat Oppa-nya sekali lagi dan setelah melihat senyum dongsaengnya Jaeseop mematikan webcam lalu segera ke kantor administrasi. “Excuse me, sir! Are you call me?”

“Yes, I just want to tell you about your request to transfer back to Korea!”

“Oh yes, Sir! Why about that?”

“It’s okay! You can transfer to Seoul University for a year!”

“Oh thank you, Sir!”

“I know you miss your family so much! But don’t forget to back here…haha!”

“Of course, Sir!” Jaeseop menjabat tangan direkturnya itu lalu pamit dari ruangannya.

#FlashbackEND

“Oppa ikut pertukaran pelajar ke Korea untuk satu tahun…haha!”

“Mworago? Ini pertama kalinya aku mendengar ada orang pertukaran pelajar ke negeri sendiri!” Timpal Key.

“Yak Oppa, bukannya kau ada pemotretan hari ini?” Seungmi menghapus air matanya lalu mengomeli Key.

“Hehe, peace! Oppa membatalkannya demi dongsaeng oppa satu-satunya!” Key melingkarkan lengannya di pundak Seungmi, Seungmi mengelaknya.

“Huftt… aku tidak merindukan Oppa!” Seungmi langsung duduk di antara Yesung dan Junsu sambil memeletkan lidahnya kepada Key.

“Yak, nappeun dongsaeng! Aku tidak akan memberikanmu hadiah kalau begitu!” Kata Key.

“Hwaa… Oppaa~ Kibum Oppa jahat!” Seungmi memeluk Yesung dan gantian menatap Junsu.

“Haha…!” Yesung hanya tertawa. “Biar Oppa saja yang memberikanmu hadiah!” Yesung mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kantongnya.

“Hwaa~ gomawoyo!” Seungmi mengambil kotak itu lalu membukanya, itu sebuah kalung berliontinkan bintang, Seungmi memeluk Yesung lebih erat.

“Hanya itu?” Yesung menunjuk pipinya. Seungmi tersenyum dan mencium pipi oppa-nya itu.

“Wah curang!” Gumam Oppa-nya yang lain.

“Oppa juga ada hadiah!” Kata Junsu, Seungmi berbalik.

“Jeongmal, Oppa sudah ada di sini saja aku sudah sangat bahagia!” Seungmi memeluk Junsu. Junsu hanya mengacak rambut Hyunmi.

“Mianhae Oppa jarang sekali memperhatikanmu!”

“Gwenchanayo!” Seungmi tersenyum sangat bahagia. Junsu mengeluarkan sebuah i-pod dan memasangkannya ke telinga Seungmi. Seungmi mulai mendengarkan harmoni yang dimainkan di dalamnya. Itu suara Junsu. Seungmi mendengarnya dan tanpa sadar air matanya kembali terjatuh. “Ini untukku?”

“Tentu saja!” Junsu menghapus air mata dongsaengnya itu.

“Gomawoyo, ini indah sekali! ini ciptaan, Oppa?” Junsu mengangguk.

“Judulnya, Annyeong nae sarang!” Seungmi kembali memeluk Junsu dan menangis lagi dipelukan Junsu.

“Hey, kenapa kau jadi cengeng begini?” Key mengacak rambut Seungmi.

“Biar saja! Hikss…”

“Ini untukmu!” Key juga mengeluarkan sebuah kotak dari kantong jasnya. Hyunmi segera mengambilnya lalu membukanya. Sebuah jam tangan berwarna biru muda dan beberapa permata yang menghias jam itu.

“Indah sekali! Gomawoyo, Oppa! Saranghaeyo~” Seungmi berdiri dan memeluk Key.

“Nado!” Jawabnya singkat sambil tersenyum. “Oppa juga mau dicium!” Key menunjuk pipinya.

“Shireo!”

“Hey~” Baru saja Key ingin marah, Seungmi langsung menciumnya. Semuanya tertawa.

“Oppa juga ada hadiah loh!” Timpal Seungho.

“Wah aku hampir lupa! Oppa bilang ada pekerjaan di Pulau Jeju?”

“Aku membatalkan untuk dua hari ke depan…haha. Ini!”

“Jeongmal gomapta, Oppa~” Seungmi mengambil kotak itu lalu membukanya. “Hwaa~ Iphone?” Seungmi membulatkan matanya, Iphone putih benar-benar ada di hadapannya.

“Wah Hyung daebak! Haha…” Komentar Key.

“Gomawoyo, Oppa~” Seungmi memeluk Seungho.

“Ne!” Seungho tersenyum.

“Oppa membawakanmu banyak oleh-oleh dari New York!” Kata Jaeseop.

“Gomawoyo~” Seungmi merasa sangat bahagia hari ini. Di hari ulang tahunnya yang ke-18, dia mendapatkan hadiah yang begitu banyak dan kebahagian yang tidak dapat digantikan oleh materi. Kebersamaan dengan Oppa-oppa-nya.

“Ayo potong kuenya!” Kata Yesung. Seungmi mengambil pisau lalu memotong kue ulang tahunnya.

“Yang pertama untuk Oppa-ku yang paling tua! Haha.” Candanya. “Yang kedua untuk panda oppa~”

“Hey, kau masih menyebut Oppa panda?” Omel Seungho. Seungmi hanya tertawa.

“Ini untuk Junsu Oppa yang paling tampan~”

“Haha… gomawo, kau memang tidak pernah salah menilai orang!”

“Itu salah, yang paling tampan aku!” celetuk Key.

“Mworago? Aku yang paling tampan!” Jaeseop menjitak kepala Key.

“Yak Hyung, jangan sentuh rambutku!” Omel Key yang paling tidak suka rambutnya berantakan. Jaeseop hanya tertawa dan malah mengacak rambut Key. Seungmi dan semuanya juga tertawa.

“Ini untuk Jaeseop Oppa yang paling manis~”

“Gomawo!”

“Dan ini untuk Oppa-ku yang paling cerewet!”

“Hey, semuanya bagus-bagus, kenapa hanya aku yang cerewet?” Omel Key.

“Terima saja! Haha.” Jaeseop kembali mengacak rambut dongsaengnya itu.

“Yak hyung hentikan!” Omel Key lagi.

“Dan ini untuk sahabatku yang paling manis~” Seungmi memberikan potongan Kue untuk Hyunmi yang sejak tadi hanya menonton kebersamaan mereka. Kuenya hampir jatuh saat Hyunmi memegangnya, dengan sigap Jaeseop membantunya.

“Gomawoyo, Oppa!” Ucap Hyunmi pada namja yang pernah disukainya itu.

“Ne!” Jaeseop tersenyum. Dulu mereka pernah punya perasaan yang sama, kepergian Jaeseop ke New York membuat mereka lebih memilih tidak menjalin hubungan.

“Ehmm…” Key berdeham. “Sepertinya masih ada perasaan di antara mereka…haha.” Canda Key. Namja di sebelah Hyunmi yang sejak tadi diam langsung membulatkan matanya mengerti dengan kata-kata Key.

“Hssttt… Oppaa~” Seungmi menyuruh Key diam sambil menatap Myungsoo. Hyunmi langsung gelisah dan sesekali menatap Myungsoo.

“Oh iya, nuguseyo?” Yesung menanyakan siapa Myungsoo.

“Jwaseonghaeyo aku belum memperkenalkan diri! Kim Myungsoo imnida!” Dia membungkukkan badannya memberi salam.

“Dia namjachingu-nya Hyunmi!” Bisik Seungmi.

“Oh, mianhaeyo!” Key menutup mulutnya tak percaya. Ada raut kekecewaan di wajah Jaeseop.

“Ya sudah~ bangapta ne!” Yesung tersenyum pada Myungsoo.

“Wah Hyunmi sudah lama tidak ke sini, aku baru tahu kalau dia sudah punya namchin…hehe!” Key menggaruk kepalanya.

“Kau harus menjaga Hyunmi dengan baik! Dia itu sudah seperti dongsaeng kami sendiri!” Pesan Yesung. Myungsoo hanya mengangguk.

“Ayo makan~” Ajak Seungmi agar suasana tidak semakin kaku. Malam itu semuanya tersenyum, semuanya bahagia terutama Seungmi.

= = = = =

Sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar seorang yeoja, dia langsung membuka matanya dan tersenyum. Malam yang tidak bisa dia lupakan, sesaat kemudian dia takut kalau itu semua hanya mimpi, senyumnya hilang. Dia langsung turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar. Dia menuruni tangga dengan langkah cepat. Dia berhenti saat sampai di anak tangga terakhir. Sudut matanya kembali menangis, tidak ada seorang pun di sana.

“Hwaa~ Kenapa tidak ada susu di sini?” Seseorang muncul dari balik pintu kulkas.

“Kibum Oppa?” Seungmi buru-buru menghapus air matanya.

“Wah dongsaeng oppa sudah bangun?” Yesung datang dari belakang dan mengacak rambut Seungmi.

“Oppa?”

“Kau kenapa? Kau menangis?”

“Aniyo, aku senang oppa di sini!” Seungmi tersenyum.

“Ada apa ini?” Junsu datang sambil menguap.

“Hyung, di sini sudah tidak ada susu! Bagaimana aku sarapan?” Teriak Key dari dapur.

“Dasar ahjumma, dia tidak berubah selalu mengomel! Haha…” Jaeseop datang dan sudah rapih.

“Junsu Oppa dan Jaeseop Oppa di sini, ini semua bukan mimpi!” Batin Seungmi, senyumnya kembali terukir.

“Sudah, cepat mandi lalu berangkat sekolah!” Perintah Yesung.

“Ne!”

“Hari ini biar Oppa yang mengantar!” Kata Jaeseop.

“Ani, biar aku saja!” Kata Junsu.

“Yak, Kim Junsu! Aku merindukan dongsaengku sudah lama aku tidak berduaan dengannya!” Omel Jaeseop. Seungmi dan Yesung hanya tertawa.

“Arasseo!” Junsu mengalah. Seungmi segera berlari ke kamarnya dan bersiap ke sekolah.

“Aku siap!” Seungmi turun lembali lengkap dengan seragam dan ransel biru mudanya.

“Kim Seungmi, berapa kali Oppa bilang setidaknya pake make up tipis ke sekolah!” Omel Key sambil menyiapka makanan.

“Shireoyo!” Seungmi memeletkan lidahnya.

“Aisshh… jinjja!” Key terlihat kesal. “Dan ranselmu itu sudah tidak jaman chagi! Besok Oppa belikan yang baru!”

“Waeyo? Ini masih bagus!” Seungmi duduk dan mengambil roti tawar lalu mengoleskan coklat pada permukaannya. “Ini tas favoritku!”

“Oppa akan membelikan yang lebih bagus dari itu!” Kata Key yang tidak menerima bantahan dengan mengacungkan jari telunjuknya.

“Dasar king of fashion!” Jaeseop ikut duduk untuk sarapan.

“Ah Hyung, mana pesananku?” Tanya Key dengan mulut penuh.

“Pesanan apa?”

“Omo~ jangan bilang hyung lupa? Jaket yang aku bilang pada hyung waktu menelponmu dulu di New york!”

“Haha… ne aku ingat! Ada di koperku!”

“Asiik, gomawo!”

“Kau tidak ada kuliah hari ini?” Tanya Jaeseop.

“Ada tapi siang!” Jawabnya.

“Seungmi cepat bersiap kau bisa terlambat!” Kata Jaeseop.

“Ne!” Seungmi menyelesaikan makannya begitupun Jaeseop, lalu berangkat ke sekolah.

“Belajar yang baik yah!” Jaeseop mencium kening Seungmi sebelum Seungmi turun dari mobil.

“Ne, aku kan pandai seperti Oppa!”

“Haha… Oppa percaya kau pasti mengikuti Oppa asal jangan seperti Kibum yang hanya dipenuhi fashion…haha.”

“Ne~ Aku tidak tertarik dunia fashion! Tapi Aku bangga punya Kibum Oppa~” Seungmi tersenyum puas.

“Ya sudah masuk sana! Kau bisa terlambat! Mianhae Oppa tidak bisa menjemputmu karena harus mengurus banyak hal untuk kepindahan Oppa!”

“Gwenchanayo, aku bisa pulang sendiri biasanya juga begitu!”

“Oppa akan meminta Junsu hyung menjemputmu!”

“Tidak perlu!” Seungmi tersenyum lalu turun dari mobil, dia sudah cukup bahagia hari ini bukan hanya cukup tapi sangat bahagia.

“Seungmi-sshi!” Seorang namja yang sejak tadi menunggunya langsung menghampiri Seungmi seakan-akan  baru saja datang.

“O’, Jaejin-sshi annyeong haseyo!” Sapa Seungmi.

“Annyeong haseyo, saengil chukhaeyo!” Jaejin mengulurkan tangannya. Seungmi tersenyum lalu menyambut tangan Jaejin.

“Gomawoyo!”

“Ini untukmu!” Jaejin menyodorkan sebuah kotak yang sudah dibungkus rapih.

“Aigoo, kau sampai menyiapkan hadiah untukku?”

“Hehe…” Jaejin menggaruk kepalanya malu.

“Ya karena sudah terlanjur, gomawoyo!” Canda Seungmi, Jaejin bernapas lega. Mereka berdua berjalan memasuki kelas bersama.

“Hyunmi, annyeong!” Sapa Seungi pada teman yang duduk di samping kanannya.

“Annyeong!” Balas Hyunmi mencoba terseyum.

“Wae? Gwenchana?” Seungmi mendekat ke meja Hyunmi. Hyunmi hanya tersenyum simpul.

“Gwenchana!” Hyunmi membenamkan wajahnya kembali dalam lipatan tangan. Seungmi merasa ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu, tapi ia memutuskan untuk membuat Hyunmi tenang karena dia tahu suatu saat Hyunmi akan menceritakannya.

= = = = =

Bell berdering tanda jam pelajaran selesai.

“Seungmi-ya, aku duluan yah!” Pamit Hyunmi dengan agak lesuh, hari ini sahabatnya itu tidak terlihat bersemangat.

“Kau pulang sendiri? Apa Myungsoo-sshi menjemputmu?”

“Hmm… mungkin sendiri!” Jawabnya sambil tersenyum. “Oh ya, saengil chukha sekali lagi!”

“Gomawo sudah datang tadi malam!” Hyunmi pun pergi, Seungmi masih membereskan bukunya lalu tiba-tiba ponselnya bergetar.

From: Hoya Oppa

Ingat janjimu denganku! kekeke
Aku menunggumu di halte…

Seungmi langsung sadar, semalam orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Dia sudah meminta Seungmi untuk menemuinya hari ini. Seungmi tersenyum lalu segera memakai tasnya dan menuju ke halte dekat sekolahnya.

“Akhirnya kau datang!” Hoya tersenyum sangat senang saat Seungmi datang.

“Oppa sudah menunggu lama? Mianhaeyo, aku hampir lupa untuk menemuimu hari ini!”

“Gwenchana, yang penting sekarang kau di sini! Kajja!” Hoya mengajak Seungmi menaiki bus.

“Kita mau kemana?”

“Aku akan membawamu ke suatu tempat!” Seungmi hanya tersenyum menunggu hal baru apa lagi yang akan dibawa namja di sampinya itu. Mereka berdua turun di sebuah halte dan berjalan menuju sebuah tempat.

“Panti asuhan?” Tanya Seungmi. Hoya mengangguk dan mengajak Seungmi memasuki taman panti suhan itu.

“Duduklah di sana!” Seungmi mengikuti kata-kata Hoya, dia duduk  di sebuah bangku panjang di halaman panti asuhan yang dipenuhi permainan anak-anak itu. Beberapa saat kemudian beberapa anak mendekatinya.

“Noona, kajjayo!” Ucap mereka bersamaan, empat orang anak laki-laki itu menarik Seungmi memasuki sebuah ruangan.

“Kalian ini lucu!” Gumam Seungmi sambil mengikuti anak-anak kecil ini. Anak-anak kecil itu tersenyum sangat manis. Mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai di sebuah gedung aula panti asuhan ini.

Saengil chukha hamnida, saengil chukha hamnida!
Saranghaeyo Kim Seungmi! Saengil chukhae hamnida!

Sekumpulan anak kecil berbaris di panggung dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Seungmi, Hoya tiba-tiba datang dengan membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya. Kegelapan gedung itu membuat suasana menjadi sangat indah, hanya ada cahaya lilin yang dipegang anak-anak itu dan cahaya lilin dari kue ulang tahun. Kebahagian Seungmi semakin lengkap hari ini, matanya kembali meneteskan butirannya.

“Saengil chukha, Seungmi-ya!” Ucap Hoya. “Sekarang buat permintaan dan tiup lilinnya!” Pinta Hoya. Seungmi menutup matanya dan berdo’a, lalu meniup lilinnya. Hoya meletakkan kue di meja lalu naik ke atas panggung. Alunan piano mulai terdengar, seorang gadis kecil duduk di depan piano.

aju orae jeon neoreul boatdeon
Geu neukkimeul gieokhe nan

I remember that feeling from a long time ago
When I looked at you

neoreul alatdeon nareul alatdeon
Geu shijeoli saenggakna

I remembered that time when I knew you
And you knew me

neoreul dalmgo shipdeon eouligo shipdeon
Ganjeolhaesdeon shiganeul
Nan dashi saenggakhae

I think about those desperate times
When I wanted to be like you,
To hang out with you

da jinagan hannat chueok bboningeol
But it’s merely a memory that passed

And, Can you smile? niga weonhajana
Niga barajanha
Nae mam maneuroneun
Neol jabeul suga obtneungabwa

And, can you smile? You want this,
You hope for this, I can’t seem to have you
With only my heart

 

And, Can you smile?
nega galajanha
Nan gwenchanhdajeonha
Majimak neoege
Nan igeot bakken mot junabwa

And, can you smile? I said to go,
I said that I’m okay
Seems like I can’t give you anything
But this to you in the end

imi orae jeon naega badatdeon
Ni mameumeul gieokhae nan

 I remember a long time ago
When I received your heart

naegen neomchideon niga gomabdeon
Geu shijeoli saenggakna

I think of those times when you were
So loving towards to me, and I was thankful

gajang saranghal ddae gajang haengbokhal ddae
Ibyeoleul majuhaesseo
Naegen cham neomchyeoseo

We came across a farewell,
When we were the most in love
And when we were the happiest
I couldn’t hold you back because you were

mianhaeseo jabadul sun eobtneungeol
So loving towards me, because I was sorry

And, Can you smile?
niga weonhajana
Niga barajanha
Nae mam maneuroneun
Neol jabeul suga obtneungabwa

And, can you smile? You want this,
You hope for this, I can’t seem to have you
With only my heart

And, Can you smile?
nega galajanha
Nan gwenchanhdajeonha
Majimak neoege
Nan igeot bakken mot junabwa

And, can you smile? I said to go,
I said that I’m okay
Seems like I can’t give you anything
But this to you in the end

geuredo geuredo gyeolguk geuredo nan…
Hajiman amado gyeolguk geuredo nan…
Geuredo geuredo gyeolguk geuredo nan…
Hajiman gyeolguk geuredo nan…

And still, still, in the end, still I…
But probably in the end… I still…
And still, still, in the end, still I…
But in the end, I still…

geure binbeonhaejin
Ni geu mal dabdabhaesseo byeonhaejin
Ne maltuwa hengdongee
Halmal obtge mandeundago
Hwaman nage dodgundago
Ttoadaemyeo gyeokhaejin
Bam haneule

But I was suffocating from your frequent words
You tell me with rage
That my way of talking and my actions
Made you lose your words
And they made your anger rise
On this violent night

Byeoli balghyeojwissji
Dali bichyeojwissji
Hanshi gal gil gatji
Byeoldeulgwa bami onda
Dareun byeole gareojil bbun
The moon always stay there
I’ll always be here for you want you

The starts lit up the sky and the moon shone
And you went steadily down your path
The night and moon are coming,
They’re just covered up by stars
The moon will always stay there
I’ll always be here for you, want you

Infinite – Can You Smile?

“Kim Seungmi, saranghaeyo!” Teriak semua anak bersamaan saat lagu selesai.

“Hmm… Kim Seungmi, naega… saranghae!” Ucap Hoya mantap. “Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi, aku akan menjadi matahari untukmu dan akan membuatmu bersinar dan terlihat indah seperti bulan. Aku memang tidak bisa menjamin kebahagiaanmu, aku hanya bisa berusaha ada di sampingmu tiap kau membutuhkan seseorang. Menjadi langitmu, mejadi penjagamu. Apa aku bisa memenuhi harapanku itu? Maksudku…” Hoya menggaruk tengkuknya malu sambil tertawa kecil. “Maukah kau jadi kekasihku?”

Seungmi termangu dengan kalimat yang diucapkan Hoya. Dia tahu perasaannya sama seperti Hoya, dia selalu khawatir tentang namja yang baru saja mengisi hari-harinya itu. Keberadaan Hoya membuat hidupnya lebih menyenangkan, bagaikan matahari yang muncul tanpa terlihat namun membuat bulan terlihat indah, dan bagaikan langit yang menjadi background awan yang hanya menjadi udara hampa tanpa background itu. Seungmi masih membisu, dia tidak bisa membendung air matanya. Cinta yang diterimanya hari ini sangat berlebih, kebahagiannya memuncak. Dia berbalik dan tidak menatap Hoya yang masih di atas panggung. Dia mengangkat kepalanya berharap air matanya itu bisa kembali masuk, namun percuma saja.

“Aku tidak akan memaksamu, mungkin ini terlalu cepat. Tapi entah kenapa, sejak pertama kali aku melihatmu aku hanya ingin menjagamu, menjadi orang pertama yang mendengar ceritamu. Tidak apa-apa kalau kau tidak punya perasaan yang sama, aku sudah senang bisa mengenalmu!” Lanjutnya. Hoya turun  panggung dengan raut sedikit kecewa namun masih ada senyum tersisa di wajahnya. “Kajja, kita pulang!” Ajak Hoya.

“Chamkamanyo!” Seungmi menahan lengan Hoya. “Nado saranghaeyo, Oppa!” Seungmi tersenyum dalam tangisnya.

“Argghhh… Gomawo Seungmi-ya!” Hoya terlihat sangat senang, Seungmi hanya tertawa melihat ekspresi namja di hadapannya. Hoya yang merasa diperhatikan hanya bisa menggaruk kepalanya malu.

“Gamsahamnida, yeorobeun!” Teriak Hoya pada anak-anak kecil itu. Anak-anak itu hanya bertepuk tangan.

= = = = =

Hoya dan Seungmi naik bus dan turun di halte yang tidak jauh dari sekolah Seungmi. Mereka berdiri tidak terlalu jauh namun sejak tadi hanya ada kesunyian di antara mereka. Hoya bersandar di tiang halte, dan ujung sepatu kanannya terus saja digerakkan di tanah. Senyum  belum hilang dari wajah namja itu. Dia sesekali melirik ke arah yeoja di sampingnya hingga tangannya perlahan manggapai tangan Seungmi lalu menggenggamnya. Seungmi tersenyum tanpa menoleh ke arah namja itu.

“Gomawoyo, Oppa!”

“Hmm…” Hoya berbalik menatap yeoja yang masih malu menatapnya itu.

“Gomawoyo untuk semua kebahagiaan yang kau berikan hari ini!” Hoya hanya menggaruk tengkuknya sekali lagi, namja itu terlalu bahagia dan kehilangan kata-katanya. Dia bahkan tidak tahu bagaimana memandang yeoja yang sekarang sudah jadi yeojachingunya. Seungmi hanya tersenyum. Mereka berdua kembali dalam diam. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di hadapan mereka berdua, seorang namja dengan helm hitamnya turun dari motor lalu membuka helmnya.

“Kim Seungmi, ayo pulang!” Namja itu menarik paksa tangan Seungmi hingga genggaman tangannya dengan Hoya terlepas.

“Tapi Oppa…?” Namja itu menatap sinis pada Hoya, Hoya hanya bisa diam. Seungmi ditarik menjauh darinya. “Junsu Oppa, kenapa kau seperti ini?” Tanya Seungmi.

“Naik cepat!” Bentak Junsu.

“Mianhaeyo Oppa, aku harus pergi!” Ucap Seungmi pada Hoya, Hoya hanya mengangguk dan menatap kepergian Seungmi.

 

To be continued…

Wah kok jdi author yg penasaran yah gimana kelanjutannya? wkwkwk xDoh ya, perumpamaan Langit dan awan itu milik Yasinnta Nareswari Zahra Fauzi dalam fanfic yang judulnya “Silent Monologue”

Di baca yah fanficnya keren loh!😄 #promo

https://woybarnasianpop.wordpress.com/2012/07/17/fanfic-silent-monologue-part-2/

Don’t be silent reader please ^^

 

 

2 thoughts on “[Fanfic] Rainbow Family Part 2: Happiness, Happy Birthday!

  1. yayayaya.. Lanjutannya ..
    D tunggu ne..:)

    Oppanya seungmi terlalu banyak..
    Membuatku pusing..
    Tp tak apa, critanya jga kerenn..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s