[Fanfic] Only Tears: “White Confession” Part 1

Cast :

– Kim Myungsoo a.k.a. L Infinite
– Shin Hyunmi (imagine)

OC:
– Kim Sungkyu a.k.a. Leader Infinite
– Kim Haena (imagine)
– Lee Sungjong a.k.a. Maknae Infinite
– Shin Jinhyo (imagine)
– Lee Howon a.k.a. Hoya Infinite
– Yang Seungmi (imagine)
– Nam Woohyun a.k.a. Woohyun Infinite
– Jang Dongwoo a.k.a. Dongwoo Infinite
– Lee Seongyeol a.k.a. Seongyeol Infinite

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: FF ini murni karya author sendiri beserta rangkaian kata yang terinspirasi dari lirik lagu…😀
Kim Myungsoo is mine! #digantung eLements >o<

Rate: 17+ tp yg dibawah 17 juga boleh baca klw mau jd anak bandel! wkwkwk :p

= = = = =

“Annyeong haseyo!” Hyunmi memasuki dorm bersama Sungjong dengan membawa beberapa kantong makanan.

“Omo~” Hyunmi menjatuhkan makanan yang ada di tangannya. Pemandangan di hadapannya membuatnya beku seketika.

“Hyunmi?” Namja itu menyadari kedatangan mereka berdua. Hyunmi pergi begitu saja, dia tidak sanggup melihat apa yang baru saja dilihatnya.

“Yak, hyung! Apa yang kau lakukan? Aishh, jinjja!” Sungjong menyimpan kantong makan, dia segera menyusul Hyunmi.

“Aishhh….!” Namja itu bingung, Kim Myungsoo. Ia mengacak rambunya frustasi.

“Nuguseyo?” Yeoja itu bingung.

“Ini semua karenamu!” Myungsoo memutuskan untuk mengejar Hyunmi.

“Hyunmi-ya?” Sungjong menahan tangan Hyunmi. Hyunmi berusaha raga tidak berbalik. Sungjong dengan paksa menarik tangannya dan langsung memeluknya.

“Oppa, biarkan aku pergi!”

“Hyunmi-ya, jebal ulljima!” Sungjong mengusap kepala yeoja itu.

“Oppa, jebalyo! Kau tidak boleh melihatku seperti ini!” Sungjong melepas pelukannya, Hyunmi pergi begitu saja. Di saat seperti ini, Hyunmi masih ingat janjinya untuk tidak menangis di hadapan namja lain. Sungjong, hatinya menangis. Yeoja yang dia sukai menangis, menangis karena namja yang selalu menyakitinya.

“Sungjong-ah, mana Hyunmi?” Myungsoo tiba-tiba datang dengan napas terengah-engah.

“Mollayo!” Dia meninggalkan Myungsoo lalu kembali ke dorm dengan wajah kesal, tidak mau menatap hyung-nya itu.

“Aigoo~” Myungsoo mengacak rambutnya sekali lagi, bingung apa yang harus dia lakukan. Yeoja itu baru saja kembali ke kehidupan member Infinite, Hyunmi selalu khawatir sejak hari dimana yeoja itu datang dan menyatakan perasaannya di hadapan Myungsoo.

Hyunmi duduk di sebuah bangku dalam kegelapan kota Seoul. Dinginnya angin malam kini merasuk ke dalam tubuhnya, namun perasaan sakitnya dapat mengalahkan ketakutan dan dinginya malam. Tanpa sadar langkah kakinya membawanya ke tempat sepi ini. Tempat sepi dalam kota Seoul yang ramai.

“Hey, nona manis? Kau menunggu, Oppa?” Seorang namja kira-kira berumur hampir 30 tahun mendekatinya. Hyunmi menghapus air matanya, kini ketakutan menyerangnya. Dia tahu, namja itu bukan namja baik, bisa tercium bau alkohol dari arahnya dan langkahnya yang gontai. “Kenapa kau menangis huh? Oppa di sini!” Dia memegang dagu Hyunmi. Tubuh Hyunmi bergetar, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Lepaskan!” Berontak Hyunmi.

“Mwoya? Shireo, kau sudah meninggalkanku dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu!” Hyunmi mencoba mengambil ponsel dari saku coatnya.

= = = = =

“Jiae? Kau di sini?” member Infinite lainnya memasuki dorm, Sungjong dan yeoja tadi, Jiae tengah duduk dalam diam di ruang tengah.

“Oppa~” Jiae berdiri dan memeluk satu persatu member Infinite.

“Kapan kau datang?” Tanya Sungkyu.

“Dari tadi, tapi Myungsoo Oppa meninggalkanku!” Yeoja itu memanyunkan bibirnya.

“Mana Myungsoo?” Tanya Woohyun pada Sungjong yang masih saja memasang tampang khawatir.

“Mencari Hyunmi!” Jawabnya singkat, Sungjong menopang dagunya dan menghembuskan napas panjang.

“Apa yang terjadi?” Sungjong mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Jiae.

“Apa kau membuat masalah?” Tanya Sungkyu.

“Wae? Kalian tidak sayang lagi padaku?” Jiae memanyunkan bibirnya. Sebuah ponsel berdering.

“Yeoboseyo?” Itu ponsel Woohyun.

“Kayo! Lepaskan aku!” Terdengar suara yeoja di seberang sana. Woohyun melihat layar ponselnya.

“Hyunmi?” Raut khawatir memenuhi wajahnya. “Sungjong-ah, Hyunmi ke arah mana?”

“Ke arah utara!” Tanpa basa basi, Woohyun segera berlari keluar dari dorm, member lain ikut khawatir dan mengikuti Woohyun.

“Hyunmi-ya~” Myungsoo berteriak memanggil nama yeoja yang dicarinya. Dia sudah berkeliling mencari keberadaaan yeoja itu.

Woohyun terus saja menghubungi ponsel Hyunmi, namun tak ada jawaban. Dia tahu sekarang Hyunmi dalam bahaya.

Myungsoo menyusuri gang-gang sepi yang dia pikir mungkin Hyunmi datangi. Dia kenal betul yeoja itu, Hyunmi tak dapat berpikir dengan baik ketika sedih. “Harusnya aku bisa membuat semua ini tidak terjadi! Arrgghhh~” Myungsoo terus merutuki dirinya sendiri. “Aku menyakitinya lagi!”

“Kau beraninya~” Terdengar teriakan seorang namja yang kedengaran marah. Myungsoo mencari sumber suara itu.

“Jwaseonghaeyo, aku tidak tahu siapa anda!”

“Hyunmi?” Tubuh yeoja itu gemetaran, pisau kini telah siap melukai lehernya, namja tadi bisa saja dalam waktu sedetik melayangkan nyawa yeoja tak bersalah itu. Myungsoo berlari karena yakin pemilik suara itu adalah tunangannya. Akhirnya Myungsoo menemukan Hyunmi yang benar-benar sudah sangat ketakutan. Baru saja Myungsoo kehilangan akalnya untuk segera berlari menghajar namja itu, otaknya kembali berfungsi. Dia berfikir, selangkah saja Myungsoo mendekat maka dia tidak bisa melihat yeoja yang sangat dicintainya itu. Perlahan dia mengambil salah satu balok yang berserakan tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia mendekat perlahan di belakang namja itu. Hyunmi menyadari kedatangan Myungsoo.

“Kenapa kau meninggalkanku, huh?” Bentak namja itu pada Hyunmi.

“Argghh~” Hyunmi semakin takut, air matanya semakin mengalir deras diikuti dengan keringat dingin yang mengalir dari dahinya. Tubuhnya  menegang. Dengan cepat Myungsoo memukul tangan namja itu dengan balok hingga pisau terhempas, lalu memukul leher namja itu sekali lagi. Kaki Hyunmi melemah, dia terjatuh ke tanah, semuanya terlalu melelahkan. Matanya hanya membulat masih memikirkan nyawanya yang hampir saja hilang.

“Hyunmi-ya~” Woohyun datang bersama member Infinite lainnya. Myungsoo terus saja memukul namja itu.

“Apa yang mau kau lakukan padanya huh?” Dia meninju tepat pipi namja itu. “Kau mau mencoba menyakiti dia?”  Dia tidak terlihat seperti Myungsoo, dalam sekejap amarah menguasainya. Woohyun mendekap yeoja yang membatu itu.

“Hyunmi-ya, gwenchana! Kami di sini!” Ucapnya. Raut khawatir masih belum hilang di wajah mereka.  Member lain berusaha menghentikan Myungsoo dan mendorong namja itu jauh-jauh. Namja itu kini tak sadarkan diri.

“Myungsoo-ya, sudah! Dia sudah tidak berdaya!” Dongwoo menahan tindakan Myungsoo.

“Oppa~” Hyunmi tersadar. Dia langsung memeluk namja di sampingnya, dan tak sadarkan diri.

“Hyunmi-ya, ireona! Hyunmi-ya!” Woohyun kembali panik, Myungsoo berbalik dan melihat kini Hyunmi tak sadarkan diri dalam dekapan Woohyun. Myungsoo segera mendekat diikuti member lain.

“Hyunmi-ya, ireona! Mianhae aku tidak bisa menjagamu! Ireona!” Air matanya kini jatuh, dia sudah tidak tahan melihat tunangannya tersiksa.

= = = = =

“Tenanglah! Dia pasti baik-baik saja!” Seongyeol mengusap pundak Myungsoo yang duduk terdiam menatap yeoja yang tak sadarkan diri itu. Darah yang mengalir dari ujung bibir kanannya masih basah. Myungsoo membersihkan luka-luka di wajah Hyunm dengan sangat hati-hati, sambil terus menggenggam tangan yeoja itu. Dia bisa merasakan tubuh Hyunmi sangat dingin.

“Untung saja Hyoan (manajer) hyung tidak di sini!” Ujar Dongwoo.

“Mana Jiae?” tanya Sungkyu.

“Aku sudah menyuruhnya pulang tadi!”  Kata Sungjong.

“Anak itu membuat masalah saja!”

“Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dia, ini juga salah orang yang tidak bisa tegas padanya!” Sungjong menatap lurus lalu berdiri meninggalkan ruangan itu. Kata-kata Sungjong membuatnya lebih merasa bersalah.

“Sungjong-ah, kau ini…” Sungjong tidak peduli, dia hanya keluar dari sana.

“Sepertinya dia sudah cukup lama di luar!” Woohyun menaikkan selimut agar Hyunmi tidak kedinginan.

“Kenapa semuanya seperti ini?” Sungkyu mengacak rambutnya.

“Padahal Hyunmi rencananya mau makan malam bersama kita!” Lanjut Dongwoo.

“Kau pasti tidak tahu? Hyunmi harus kembali ke Taiwan besok!” Woohyun menatap lurus ke wajah Hyunmi. Myungsoo terdiam, dia bahkan tidak tahu hal itu karena terlalu sibuk. Myungsoo terus saja menggenggam tangan Hyunmi sambil sesekali menciumnya, masih raut khawatir yang terlukis di wajahnya.

Di kamar itu hanya ada Myungsoo, Woohyun yang sedang tertidur di sisi ruangan, dan Hyunmi yang masih terbaring di tempat tidur Sungkyu. Perlahan Hyunmi membuka matanya.

“Kau sudah sadar?” Myungsoo yang menyadari Hyunmi membuka matanya. Hyunmi mencoba mendapatkan kesadarannya kembali, memar di wajahnya dan luka gores di lengannya masih terasa begitu sakit.

“Argghhh…” Ringisnya.

“Gwenchana? Mana yang sakit?” Myungsoo kembali khawatir. Woohyun terbangun dan ikut melihat keadaan Hyunmi. Hyunmi mencoba melepaskan tangannya dari Myungsoo. Myungsoo sadar Hyunmi masih marah padanya, dia sama sekali tidak mau memandang Myungsoo.

“Hyunmi, gwenchana?” Woohyun mendekat. Hyunmi hanya mengangguk.

“Oppa, aku mau pulang!” ucap Hyunmi dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi kau masih sakit! Istirahat dulu yah!” pinta Woohyun.

“Hyunmi-ya, kau kenapa?” tanya Myungsoo yang merasa sejak tadi diabaikan.

“Woohyun Oppa, jebalyo aku tidak mau melihatnya!”  Air matanya jatuh lagi.

“Hyunmi-ya!” Panggil Myungsoo.

“Myungsoo-ya, biarkan dia tenang dulu!” Woohyun mengusap pundak Myungsoo agar mengerti.

Bell dorm berbunyi, Sungjong membukakan pintu.

“Annyeong haseyo, nuguseyo?” tanya Sungjong.

“Haena imnida, aku sahabatnya Hyunmi!”

“Oh, Haena-sshi? Silahkan masuk!” Haena mengikuti Sungjong masuk.

“Akhirnya kau datang!” Sungkyu keluar dari dapur mendengar Haena datang.

“Mana Hyunmi, Oppa?” tanya Haena khawatir.

“Dia di kamarku! Kajja!” Sungkyu menyadari perkataannya. “Kau jangan salah paham! Di kamar Myungsoo tidak ada tempat tidur jadi kami membawanya ke kamarku!” Haena tersenyum.

“Aniyo, aku percaya pada Oppa!”

“Gomawo!” Sungkyu merasa tenang, dia mengajak Haena menemui Hyunmi, di saat Haena masuk mereka berpapasan dengan Myungsoo yang akan keluar.

“Apa yang terjadi?” tanya Haena pada Myungsoo, Myungsoo hanya mengacak rambutnya dan keluar. Haena merasa ada yang aneh, dia langsung menemui Hyunmi dan Woohyun. “Hyunmi-ya, gwenchana?” tanya Haena yang panik melihat keadaan Hyunmi.

“Haena-ya, aku mau pulang!” Hyunmi menangis.

“Tapi kau masih sakit!”

“Jebal Haena-ya, aku mau pergi dari sini!” Hyunmi berusaha bangun.

“Hyunmi, jangan seperti ini! Kau masih sakit,” omel Sungkyu.

“Mianhaeyo Oppa!”

“Biar aku membawanya pulang, Oppa!” kata Haena.

“Tapi dia masih sakit, Na-ya!” kata Sungkyu.

“Aniyo, nan gwenchanayo!” kata Hyunmi yang tidak sesuai dengan yang dia rasakan. Luka di tubuhnya tidak seberapa dengan luka di hatinya.

“Arasseo, aku akan mengantar kalian!” kata Sungkyu lalu mengambil jaket yang tergantung di sisi kamar. “Kajja!” Haena dan Woohyun membantu Hyunmi keluar dari kamar. Myungsoo berdiri di dekat pintu kamar.

“Biar aku saja!” ucapnya sambil meminta Woohyun menyingkir. Hyunmi menahan tangan Woohyun agar tidak melepasnya.

“Hyunmi-ya, mianhae!” ucapnya tulus. Hyunmi masih tidak mau menatap namja itu. Sungkyu menarik Myungsoo masuk ke kamarnya.

“Hanya tetap di sini, dan setelah kembali aku harus mendengar penjelasanmu!” kata Sungkyu penuh penekanan, dia lalu meninggalkan Myungsoo dan mengantar Hyunmi dan Haena kembali ke apartemennya naik taxi.

Haena mengantar Hyunmi masuk ke kamarnya dan menyuruhnya beristirahat. Sungkyu duduk di ruang depan. Setelah memastikan Hyunmi sudah tenang, dia mengambilkan minum untuk Sungkyu dan menemuinya.

“Gomawo!” ucap Sungkyu saat Haena memberikannya minuman.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Haena duduk di samping Sungkyu.

“Sungjong bilang, dia dan Hyunmi melihat Myungsoo dan Jiae berciuman!”

“Mwo?” Haena membulatkan mulutnya, dia ingin sekali marah. “Ah jinjja nappeun namja! Lalu kenapa Hyunmi terluka seperti itu?” Sungkyu menarik napasnya panjang.

“Dia sedih dan pergi ke sebuah tempat. Dia bertemu dengan seorang pemabuk dan kemudian melukai Hyunmi!” Haena tahu Sungkyu sangat khawatir pada Hyunmi, dia menatap Sungkyu saat Sungkyu berbicara. Sungkyu berbalik dan menyadari Haena menatapnya dalam. “Wae?”

“Aniyo, aku tahu Oppa sayang pada Hyunmi!” Sungkyu mendekat dan menggenggam tangan Haena.

“Menurutmu bagaimana perasaanku sekarang?”

“Mollayo!” Sungkyu mengangkat tangan Haena dan menciumnya.

“Oppa juga tidak tahu, hanya saja perasaan yang sedikit berbeda ketika berada di samping Hyunmi dulu dan sekarang!” Kata Sungkyu. “Apa kau masih bersabar menungguku?”

“Aku senang melihat betapa sayangnya Oppa pada Hyunmi, aku hanya perlu menggantikan posisi Hyunmi dan suatu saat bisa benar-benar ada dalam hati Oppa!” Haena tersenyum. Sungkyu ikut tersenyum mendengar hal itu. Dia langsung memeluk Haena.

“Aku beruntung mendapatkan cinta darimu!” kata Sungkyu. Setelah itu Sungkyu berpamitan pulang.

“Oppa…?” Sungkyu kembali saat baru saja akan pergi.

“Wae?”

“Jangan terlalu keras pada Myungsoo!” Pesan Haena. Sungkyu hanya tersenyum, Haena khawatir karena Sungkyu adalah type namja yang gampang emosi walaupun setidaknya masih bisa dengan cepat mengendalikan emosinya.

= = = = =

Sungkyu kembali, para member sudah berkumpul di ruang tengah menunggu kepulangannya, Myungsoo satu-satunya yang tertunduk di sudut ruangan.

“Sekarang jelaskan apa yang terjadi!” Pinta Sungkyu saat sudah ikut duduk di lantai ruang tengah bersama member lain.

“Aku dan Hyunmi tadi kan berlomba siapa yang cepat sampai ke dorm, makanya kami berlari ke dorm mendahului hyung! Dan saat kami masuk, aku melihat Myungsoo dan Jiae berciuman!” Semua orang di ruangan itu menganga, Myungsoo langsung mengangangkat kepalanya.

“Mworago? kissu aniya, tadi Jiae hanya mencium pipiku!”

“Mwo? Tapi aku dan Hyunmi melihatnya kalian itu kissu!” Sungjong kaget mendengar pernyataan Myungsoo.

“Jadi karena itu dia begitu marah padaku? Aisshhh… Jinjja!” Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Jadi semuanya salah paham? tapi bagaimanapun Hyunmi pasti sakit hati melihat Myungsoo yang dicium yeoja lain apalagi dia melihatnya seakan-akan mereka berciuman. Hyunmi juga tahu Jiae menyukai Myungsoo!” Myungsoo berdiri dan berniat ke apartemen Hyunmi.

“Kau mau kemana?” Tanya Sungkyu namun tidak ada jawaban. “Kembali duduk! Kalaupun kau ke sana, Hyunmi sedang istirahat! Biarkan dia tenang dulu!” Bentak Sungkyu.

“Sebenarnya ini semua tidak akan terjadi kalau Myungsoo hyung bisa tegas pada Jiae, dia tidak bilang ya dan tidak bilang tidak saat Jiae menyatakan perasaannya!” komentar Sungjong, maknae ini jadi lebih sensitif, dia meninggalkan hyung-hyung nya dan masuk ke kamar.

“Ada apa dengan anak itu?” Gumam Dongwoo. Seongyeol satu-satunya yang tahu perasaan Sungjong bisa mengerti.

= = = = =

“Apa kau mau pergi dalam keadaan seperti ini?” Tanya Haena sambil menenteng koper Hyunmi membantunya bersiap ke bandara.

“Aku sudah baikan, tiket pesawatnya hari ini dan tidak mungkin aku batalkan!” Sebenarnya Hyunmi masih trauma dengan kejadian semalam, tapi dia benar-benar harus ke Taiwan untuk satu bulan, dia mau membantu  kakak sepupunya yang akan melangsungkan pernikahan, di sana ada acara keluarga besar Shin.

“Arasseo, tapi kau harus hati-hati di sana! Pasti ada yang menjemputmu di sana kan?”

“Ne, nae dongsaeng akan menjemputku!” Haena mengantar Hyunmi ke bandara lalu kembali ke apartemen.

Setelah kembali, Haena membereskan barang-barangnya dan memutuskan akan kembali ke rumah sampai Hyunmi kembali.

“Hyunmi-ya!” Tiba-tiba Myungsoo datang.

“Myungsoo? Hyunmi sudah berangkat sejak tadi!” Myungsoo menyesali semua perbuatannya, jadwalnya yang padat membuatnya tidak bisa menemui Hyunmi sesegera mungkin.

= = = = =

“Eonnie~” Panggil seorang yeoja saat Hyunmi sudah di airport Taiwan.

“Jinhyo-ya~”  Hyunmi berjalan lebih cepat menemui dongsaengnya itu. Dia datang bersama seorang namja. “Soohyun Oppa, annyeong!” sapa Hyunmi.

“Annyeong, lama tidak berjumpa!”

“Ne, dan Oppa malah jarang sekali menghubungiku tau-taunya sudah mau menikah! haha…”

“Haha… mianhae, aku juga tidak menyangka akan menikah secepat ini! Ngomong-ngomong mana tunanganmu?” tanyanya.

Hyunmi tersenyum berusaha menutupi tidak ada yang terjadi. “Dia sibuk!” Jawab Hyunmi singkat.

“Mianhae kami tidak sempat datang saat pertunanganmu, dan Oppa juga tidak menyangka dongsaengku yang manja ini cepat sekali tunangannya!”

“Eonnie kenapa mau tunangan sama namja itu? Dia itu seperti apa?” Tanya Jinhyo.

“Yang pasti tidak akan cocok denganmu!” Hyunmi tersenyum dan berjalan memasuki mobil. Mereka bertiga menuju ke rumah keluarga Shin.

“Eomma~” Hyunmi memeluk eommanya saat baru saja datang.

“Ah Chagi, akhirnya kau datang juga! Eomma merindukanmu!”

“Nadoyo eomma!” Hyunmi mencium pipi eomma-nya.

“Wah Hyunmi, lama tak bertemu!” Hyunmi gantian memeluk yeoja separuh baya di samping eomma-nya.

“Aku sangat merindukan ahjumma!” Hyunmi tersenyum.

“Kau sudah besar sekarang! Mianhae ahjumma tidak sempat datang ke pertunanganmu!”

“Gwenchanayo, ahjumma! Itu juga kan dadakan!” Hyunmi berniat bisa menenangkan diri di sini dan tidak mengingat masalahnya, malahan semua orang mengingatkannya tentang Myungsoo.

“Omo chagiya, bibirmu kenapa memar begini?” Eomma Hyunmi tiba-tiba memperhatikan luka di ujung bibir Hyunmi.

“Gwenchanayo, eomma! Beberapa hari yang lalu aku latihan teater tapi tanpa sengaja terjatuh di tangga dan terbentur seperti ini…hehe.” Hyunmi jelas berbohong.

“Tapi sudah tidak sakit, kan?”

“Aniyo, jeongmal aniyo!” Hyunmi meyakinkan eomma-nya.

“Arasseo, bagaimana keadaan Myungsoo?”

“Hmmm… aku rasa dia baik-baik saja!” Eomma Hyunmi percaya dan tidak bertanya lagi.

“Ya sudah, sekarang kau istirahat saja dulu! Kau pasti lelah perjalanan jauh!” Hyunmi mengangguk, dia mengikuti Jinhyo menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya. Eomma-nya sudah seminggu yang lalu di sini, dan Hyunmi diminta untuk datang juga karena ini acara keluarga besar Shin. Cucu tertua keluarga Shin, Shin Soohyun akan menikah.

Meong~ Seekor kucing mendekati Hyunmi.

“Kyaa~ Meongie~ Haha, aku baru sadar nama kalian hampir sama! Tapi kau tidak boleh jadi sepertinya!” Hyunmi mengusap punggung kucing itu. Kucing itu hanya menatap pemiliknya yang sangat merindukannya. “Wah aku sudah hampir tiga tahun meninggalkanmu yah?”

“Eonnie, bagaimana tunangan eonnie itu?” Tanya Jinho. Hyunmi duduk di tepi tempat tidur.

“Jinhyo-ya, aku mohon jangan membicarakan dia untuk saat ini!” Hyunmi terlihat sedih.

“Kalian pasti ada masalah! Ah… aku tidak akan memaafkannya kalau dia menyakiti eonnie, aku akan memberinya pelajaran saat di Korea nanti!” Jinhyo mengusap pundak Hyunmi untuk menenangkannya. “Istirahatlah, eonnie!”

“Ne, gomawo! Kau jangan beritahu eomma yah aku ada masalah dengan Myungsoo!”

“Tentu saja!” Jinhyo tersenyum meyakinkan.

= = = = =

“Arrgghh… Shin Hyunmi kenapa kau pergi seperti ini? Kenapa kau bahkan tidak memberitahuku kau akan pergi?” Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Oppa~” Seorang yeoja datang mendekati Myungsoo, dia baru saja datang dengan Woohyun. Myungsoo langsung berdiri dan memasuki kamarnya tanpa bicara sedikitpun.

“Jangan ganggu dia, Jiae!” Kata Woohyun.

“Sebenarnya ada apa sih? Yeoja kemarin itu siapa? Bukannya dia asisten coordi?” Tanya Jiae.

“Molla!” Jawab Woohyun sekenanya.

“Apa aku harus menunggu seperti ini selama sebulan?” Batin Myungsoo. “Aku sudah membuatnya celaka! Shin Hyunmi, kau membuatku gila!” Myungsoo mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

“Wae? Kau belum bertemu Hyunmi?” Dongwoo memasuki kamar mereka. Myungsoo hanya meliriknya tajam. “Aku tebak tidak!” Dongwoo mengambil laptopnya lalu keluar sebelum Myungsoo mengamuk. Myungsoo mengambil ponselnya mencoba menghubungi Hyunmi.

“Hyunmi-ya, angkat telponnya! Jebal!” Gumamnya sambil menghubungi nomor Hyunmi berulang-ulang namun tidak ada jawaban.

“Kajja, waktunya latihan!” Teriak Sungkyu dari luar. Myungsoo langsung bangkit dan pergi bersama member lain dengan mood yang buruk. Dia sangat tidak tenang.

“Hyung, bisa pinjamkan aku ponselmu?” Tanya Myungsoo pada Woohyun.

“Mana ponselmu?”

“Baterainya habis!” Jawabnya bohong.

“Arasseo, ini!” Woohyun menyerahkan ponselnya, Myungsoo mencari nomor Hyunmi lalu menghubunginya.

“Yeoboseyo, Oppa!” Jawab seseorang di seberang sana. Myungsoo membulatkan matanya. “Oppa, ada apa?” Myungsoo masih diam.

“Ige mwo?” Myungsoo mulai bicara. “Kau tidak mau mengangkat telponku dan malah meng…” Belum selesai Myungsoo bicara telpon sudah terputus. “Yakk Shin Hyunmi!” Myungsoo semakin kesal dan mencoba menghubungi ponsel Hyunmi lagi namun ponselnya kini sudah tidak aktif. Myungsoo mengembalikan ponsel Woohyun tanpa bicara sedikitpun.

Member Infinite sibuk mengurus single baru mereka yang berjudul ‘White Confession’. Mereka menjalani aktivitas di Jepang sekaligus syuting MV special winter mereka. Myungsoo masih dipenuhi pikiran tentang Hyunmi namun dia masih bisa terlihat profesional di depan kamera.

“Kau masih memikirkannya? Ini sudah seminggu, Myungsoo-ya!” Seongyeol partner Myungsoo di MV ini menghampirinya.

“Aku merasa sangat bersalah tidak bisa menjaganya dengan baik!” Seongyeol menepuk punggungnya.

“Dia pasti kembali!”

“Satu bulan, aku benci mengakuinya tapi aku tidak bisa memastikan aku akan tenang tanpa melihatnya selama itu!” Seongyeol menganga mendengar pernyataan Myungsoo. “Wae? Ada yang salah?”

“Kau bisa seperti itu?” Seongyeol masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Myungsoo barusan. Myungsoo menelengkan kepalanya lalu berdiri meninggalkan Seongyeol yang masih termangu.

Myungsoo mengambil headsetnya lalu mendengarkan lagu mereka sekali lagi.

golmokgireul dora deurogamyon hoksirado geu ega natana
dasi tto nollekilji mollayo
I can fly & fly again

When you make a turn in the alley and enter
That kid might come out and surprise you
I can fly and fly again

kkaman bame hayake bitnadon
hwin nun soge yunanhi bitnadon
ojjomyon nan ojjomyon nan ajikdo nol

Who was glowing white in the dark night
And sparkled in the white snow
Maybe I, maybe I still

saranghe heutnallineun baremeul ye
mot jonhejin gobegeul ye
hayan nun-gwa hamkke chajagaso

Love you, The fluttering wishes, yeah
The confession that I never made, yeah

mar-halge ye
ni nun bogo mar-halge ye
nege nameun sarangeul ye
ijerado nege gonnego sipo

I will visit you with the white snow and tell you, yeah
I will tell you while looking at your eyes, yeah
The love that remains in me, yeah
I wanna give it to you now

ajik jaritji ajik jaritji teukbyolhadon noin-gol.. woo woo

You’re still doing well, right? You were so special, woo woo

nun nerineun nowa na saie
noreul memdon baljagungman gadeukhe
nado molle noreul bonen geu gyoulbami nomunado huhwedwe

While snowing, in between you and me
Is full of steps that wandered around you
I regret the winter night so much When I let you go without even noticing

nan wonhe nowaye sarang yoksa ne ilseng chwedeye

gwansimsa
weroun sarang-e hegyolsa giokhe i love you dot

I want it, the love history with you
The biggest concern in my life
The solver of the lonely love I remember, I love you dot

ne mamsogeul hayake bakhidon
ne mam sogeul ttaseuhi nogidon
ajikdo nan ajikdo nan yojonhi nol

Who glowed my heart in white
Who melted my heart warmly
I still, I still, I still

mianhe
mot boyojun nemameul ye
mot deullyojun dedabeul ye
hayan nun-gwa hamkke chajagaso

I’m sorry
The heart that I didn’t get to show you, yeah
The answer that you didn’t get to hear, yeah

mar-halkke ye
ni nunbogo mar-halkke ye
nege jwotdon sarangeul ye
ijen nega nege dajugo sipo

I will visit you with the white snow and tell you, yeah
i will tell you while looking at your eyes, yeah
The love that you gave me, yeah
I wanna give it all to you now

ajik jaritji ajik jaritji teukbyolhadon noin-gol.. woo woo

You’re still doing well, right? You were so special, woo woo

kkwe ssalssar-han nalssie ni senggangna
kkongkkong orotdon ne son jabajun nal
nogasso momanin mami jom mani
joasso ni nunsok utneun ne moseubi
uri duri hamkkemyon harusari
insengchorom sigani ppalli jinaga
imi kkeutnan nowa na
dasi oneun nunchorom doraol sun omna

When it’s pretty cold out, I think of you
The day you held my hand that was frozen
Not my body but my heart melted
It became better
Seeing myself smiling through you eyes
When we’re together, the time flies by so fast like the ephemeral life
You and I are already over
But could it come back like the falling snow?

gyouri pioneneun areumdaun nunkkot
yunanhi chuwie yakhetdon
nunmuri jiwoneneun apeum ttawin itgo
yojonhi geunune jungdokdwe
yonggineso nejillotdon sori omneun gobekgwa
jo mollie jabeul su opdon geunyoga
majimak sangsangan-e ne chosanghwa
ijen hyonsillo geudel deryowa

The beautiful snowflower that blooms in the winter
You were especially weak with coldness
Forget about the pain that the tears erased
I’m still obsessed with those eyes
The silent confession that I bravely shouted
And the far away she, whom I couldn’t hold onto
The last portrait in my imagination
Now has become reality and brings her back

INFINITE – White Confession

“Mianhae!” Ucap Myungsoo setelah lagu itu berakhir.

 

To be continued…

5 thoughts on “[Fanfic] Only Tears: “White Confession” Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s