[Fanfic] Silent Monologue -Part 1-

5613967601_62d4b0573a_b

Jeng jeng…

Dear readers.. admin chibisukechan disini.

FYI, lepi admin tercinta,soulmate admin,hilang..

Hikseu… *sobs*

Dan beserta FF admin yang bejibun *tapi ga kelar2*

Karena itu admin memutuskan untuk menghabus post-an FF Silent Monologue sebelumnya dan mengganti dengan tema yang lebih fresh..

*bow*

Here we go~

 

Cast :

1.Infinite Hoya

2.Yang Seungmi (OC)

3.Infinite Sungyeol

4.MBLAQ Seungho as Seungmi’s older brother

another casts  in this part : SJ Heechul, Shinee Key, FT Island Jaejin, SNSD Yoona, Kara Hara, BEG Gain.

Dong An High School, salah satu sekolah menengah atas terbaik di Kota Seoul, tengah penuh dengan para siswa. Anak-anak itu, berdesakan di depan papan pengumuman sekolah. Apalagi kalau bukan melihat penempatan ruang kelas mereka.

“Kita terlambat. Kalau begini caranya, bagaimana kita bisa melihatnya?” keluh seorang gadis berambut panjang dengan poni menyamping yang menutupi dahinya. Ia baru saja tiba. Wajahnya berubah keruh demi melihat kerumunan para murid.

“ Ya sudah, kita menunggu hingga mereka sepi saja” timpal gadis di sebelahnya.

“ Tapi Kira, 15 menit lagi kita masuk. Bagaimana kalau kita terlambat? Ayolah, kita berdesakan juga” Ia menarik sahabatnya mendekati papan pengumuman. Mereka mencoba menembus kerumunan. Namun, tubuh kecil mereka tidak mampu bersaing terutama dengan barisan cowok-cowok.

“Kyaa.. Kira ya~ aduh..”

“kita menyerah saja, Seungmi” Mereka terdorong hingga ke barisan paling belakang.

Buk!

“Omona!” seru gadis bernama Seungmi itu. Ia merasa telah menabrak seseorang. Ia menolehkan kepalanya ke belakang.

“jwesonghamnida” ucap Seungmi spontan sambil membungkukkan badannya.

“Gwenchana.. gwenchana” jawabnya, seorang namja.

Seungmi mengangkat kepalanya. Di hadapannya, berdiri seorang namja bertubuh tinggi.

“sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak sengaja.. errr.. terdorong mereka” Seungmi melemparkan senyum kecilnya.

“Tidak apa.. “ Namja itu membungkuk, terlihat memungut sesuatu. “Yang Seungmi” katanya sembari mengulurkan tangannya.

Seungmi membulatkan matanya, “Bagaimana.. eh? Papan namaku?” ia mengambil papan namanya dari telapak tangan namja itu.

“Ah, untung tidak hilang” Ia dengan cepat memasangnya pada jas sekolahnya.

“Gomawo err.. “ Ia melihat sekilas papan nama namja itu. “Gomawo.. Lee Sungyeol sshi”

Namja itu tertawa, “Oya, kalian ingin melihat penempatan kelas itu? “

“Ne.. tapi sepertinya tidak bisa. Mungkin kami harus menunggu mereka pergi dulu”

“Biar aku yang melihatnya. Yang Seungmi dan kau?” ia menunjuk ke arah Kira.

“Jun Kira” jawab gadis itu singkat.

“Oke, aku akan mencari nama kalian. Tunggu saja di sini dan kau juga” ia beralih pada namja di sebelahnya. “Urusan semacam ini, butuh orang-orang tinggi sepertiku” Sungyeol meninggalkan mereka dan segera menyalip diantara kerumunan para siswa itu.

Seungmi melirik ke arah namja  yang berdiri di samping Sungyeol tadi. Melalui ekor matanya, ia mengamati pemuda itu. Seorang namja berambut hitam cepak mengenakan kacamata tebal dengan frame tipis. Tatapan matanya lurus ke depan, kedua tangannya tersimpan dalam saku celana panjangnya. Tas ransel berwarna hitam-merah serta sepatu kets putih melengkapi penampilannya pagi ini.

Tipe siswa teladan dan err..kutubuku batin Seungmi dalam hati.

“Permisi..permisi..” Sungyeol berusaha keluar dari kerumunan itu. Ia tiba di hadapan mereka sembari merapikan rambut dan seragamnya.

“ Kita bertiga di kelas yang sama, ruangan A. Dan ah.. sayang sekali kelasmu berbeda” Sungyeol menatap Kira dengan wajah menyesal.

Kira melemparkan tersenyum tipis.

“gomawo Sungyeol sshi atas bantuannya” Seungmi dan Kira membungkukkan badan mereka.

Sungyeol jadi salah tingkah, “ ah, sudahlah.. ehmm… bye! Sampai jumpa di kelas” Ia segera merangkul namja yang datang bersamanya tadi dan meninggalkan kedua gadis itu.

Seungmi dan Kira saling menatap lalu mengangkat bahu.

****

         Seungmi dan Kira berjalan beriringan. Langkah mereka terhenti di depan kelas Seungmi. Kira menatapnya.

“Seungmi chan” kata gadis berdarah Jepang-Korea itu. Ia tidak sepenuhnya tenang meninggalkan Seungmi di kelas ini. Apalagi ada seorang namja bernama Lee Sungyeol itu. Yang menurut Kira harus diwaspadai. Insting ninja, begitu Seungmi menyebutnya,milik Kira mengendus sesuatu.

“Kalau ada yang menganggumu, aku akan siap membuatnya tidak berani datang ke sekolah selama 5 seminggu” katanya sembari menyunggingkan senyuman manisnya. Kata Seungmi, senyuman Kira mampu membuat namja bertekuk lutut dalam waktu 3 detik.

Seungmi tertawa “Ara ara.. jangan khawatir. Kau juga jaga diri disana ya” pesannya.

“ne” Kira mengedipkan sebelah matanya kemudian masuk ke kelasnya.

Seungmi tertawa kecil sebelum melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangan, mencari kursi kosong.

Tapi yang tersisa hanya bangku-bangku di tempat yang tidak strategis. Ada 4 kursi kosong dan itu berada di depan semua.

“Seungmi ah” seseorang memanggilnya. Sungyeol. Seungmi melambaikan tangannya dan tersenyum.

“Sini sini.. kau sudah kuambilkan tempat duduk. Ini untukmu” serunya.

“He?” Seungmi mengangkat kedua alisnya.

“Disini disini..” Sungyeol menunjuk sebuah kursi.

Kursi paling depan pada barisan ketiga. Tepat berhadapan dengan guru ketika menjelaskan di depan papan tulis. Posisi yang sangat dihindari oleh mayoritas siswa.

Seungmi melamun sejenak di tempatnya berdiri sebelum mengangguk dan menaruh tasnya disana.

“Ah, gomawo Sungyeol sshi” katanya tak lupa tersenyum.

Sungyeol hanya senyam-senyum.

gwenchana, kita kan teman”

Sungyeol duduk pada bangku kedua dalam barisan kedua dari pintu. Di depannya, duduk pemuda berkacamata itu.

Seungmi meliriknya sekali lagi. Pemuda itu terlalu diam. Jika dibandingkan dengan orang model Sungyeol.

“Hei, namamu siapa?” tanya Seungmi. Pemuda itu menoleh ke arahnya. Ia lalu tersenyum tipis.

“Lee Howon himnida. Bangapseumnida” ia menundukkan kepalanya.

“Ah, Howon sshi, Seungmi himnida

“dia ini jago tae kwon do. Juara nasional loh.. “ Celoteh Sungyeol lagi. Pemuda bernama Hoya itu melemparkan tatapan tajam pada Sungyeol. Dan Sungyeol mengartikan itu sebagai perintah untuk diam. Tapi ia tidak peduli.

“jadi kalau ada yang mengganggumu, laporkan saja pada kami”

Seungmi mengangkat kedua alisnya, “ Jinja? Ah… itu hebat” ucapnya.

“Tuh kan? Oya, kami jugaa..”

Ucapan Sungyeol terputus begitu Heechul Sam, wali kelas mereka, masuk. Siswa yang tadinya ramai jadi diam seketika.

Heechul Sam memulai pagi itu dengan perkenalan.

*****

         Bel tanda istirahat makan siang dimulai, berbunyi. Pelajaran hari ini tidak begitu berat. Namun tetap saja membuat perut kosong dengan cepat.

Seungmi dan Kira berjalan bersisian menuju kantin. Mereka membawa bekal masing-masing. Seperti perangko yang tidak bisa lepas dari amplopnya, seperti itulah mereka. Kemanapun selalu bersama. Apalagi bahasa korea Kira belum terlalu baik. Jadi Seungmi akan selalu menemaninya.

Tapi kantin lagi-lagi penuh. Dan mereka berdua seperti kurcaci diantara lautan manusia itu. Kira dan seungmi hanya berdiri mematung di pintu kantin dan melihat ke dalam. Sepertinya tidak ada tempat untuk duduk.

“wah penuh ya?”

Sepertinya ada orang lain yang tidak dapat tempat juga.

Seungmi dan Kira menoleh. Sungyeol dan Hoya berdiri di belakang mereka.

“Ah ne, sepertinya tidak ada tempat kosong” kata Seungmi. “Kita kembali ke kelas saja yuk, Kira”

Kira mengangguk. Mereka sudah hampir berlalu. Sungyeol dengan cepat menahan kedua gadis itu.

“Aku tahu tempat bagus untuk makan siang. Bagaimana kalau kita makan disana?” ajaknya dengan senyum lebar.

Kira dan Seungmi berpandangan. Melalui mata, mereka berbicara. Kira mengerlingkan matanya dengan ceria. Itu artinya ia tidak masalah dengan ajakan makan siang bersama itu. Dan kalau Kira setuju, Seungmi juga setuju.

“Baiklah, kajja”

Mereka berjalan bersama. Kira, Seungmi, dan Sungyeol berjalan bersisian sebaris sedangkan Hoya berjalan sendiri di belakang mereka bertiga. Sepertinya koridor sekolah tidak cukup luas untuk siswa yang datang dari arah sebaliknya jika mereka berjalan berempat dalam satu baris.

Dan sepertinya Sungyeol sedikit tertarik dengan kedua gadis itu, atau salah satu diantaranya.

“Tadi pagi aku sudah survei keliling sekolah” kata Sungyeol saat mereka berjalan di depan ruang olahraga. Mereka sudah berada di luar gedung utama sekolah.

“Tempatnya tidak jauh dari ruang olahraga. Tempatnya teduh dan jarang ada orang yang ke sana” katanya lagi.

Sungyeol memang nomor satu dalam merencanakan strategi. Termasuk strategi untuk menghabiskan makan siang dengan menyenangkan.

“Tadaa” serunya.

Ketiga temannya yang lain menghantikan langkah mereka.

Sungyeol ternyata membawa mereka ke halaman belakang gedung sekolah mereka. Disana, terdapat jalan setapak tempat mereka jalan sedari tadi. Disamping jalan setapak itu, rerumputan tumbuh dengan subur dan rapi. Jenis rumput yang tumbuh adalah rumput jepang yang sangat tebal sehingga akan terasa empuk saat duduk di atasnya. Selain itu, karena tebalnya, tanah tidak akan menempel di pakaian.

Tempat itu sangat sejuk, sebab ada dua buah pohon yang tumbuh di sana. Tempat itu mendapatkan sinar matahari yang cukup. Tidak gelap. Tapi jarang ada siswa yang mau ke sana. Sebab tempat itu agak terpencil dan jauh dari ‘peradaban’.

“bagus kan?” Sungyeol menunggu reaksi mereka.

Seungmi tersenyum, “Iya, sejuk”

Mereka duduk di atas rumput, di bawah sebuah pohon. Seandainya tidak ada dua gadis itu, Sungyeol pun akan menghabiskan makan siangnya di kelas. Mana mungkin ia ke tempat seperti ini hanya berdua dengan Hoya.

“Kalian mau ikut klub apa?” tanya Sungyeol, memecah keheningan.

“aku? Hmm.. taek won do mungkin” jawab Seungmi santai sambil terus mengunyah makanannya.

“eh? Kau..juga bisa?” Sungyeol tampak tidak percaya.

Seungmi hanya melemparkan cengirannya.

“Sabuk apa?” akhirnya Hoya angkat bicara.

“merah strip dua. Kau?”

“aku? Tidak jauh darimu”

Seungmi menggembungkan pipinya, “Iya, apa?”

Hoya memasukkan makanan lagi ke mulutnya, “pokoknya tidak jauh”

“Iya, aku tanya sabuk apa?” Seungmi tetap bersikeras. Anak itu, sekali penasaran, akan selamanya penasaran hingga menemukan jawaban yang dicarinya.

Hoya menatap gadis itu dan menghela napas, “Dan Tiga”

“omo!” Seungmi spontan meletakkan sumpitnya dan bertepuk tangan. “daebak daebak! Aigoo, kau benar-benar seorang atlet”

Hoya berada tiga tingkat di atas Seungmi. Gadis itu merasa benar-benar takjub.

Hoya tersenyum kecil.

“ Aku terkejut ternyata anak kecil sepertimu bisa beladiri” kata Sungyeol.

Seungmi tertawa “awalnya aku hanya mengikuti oppa-ku. Tapi lama-lama jadi tertarik”

“Wah, pasti oppamu levelnya lebih tinggi lagi ya? Ah, mungkin Hoya pernah bertemu dengannya saat kejuaraan nasiolnal”

Hoya melirik ke arah Seungmi.

“Ahahaha.. mana mungkin dia mengenalnya. Atlet itu kan banyak sekali. Lagipula kalau soal beladiri, Kira lebih ahli. Iya kan, Kira?”

Seungmi cepat-cepat memotong sebelum Hoya atau Sungyeol bertanya lebih jauh. Ia tidak ingin temannya tahu lebih banyak tentang keluarganya. Seungmi ingin mereka berteman bukan karena identitas keluarganya, tapi karena pribadi dirinya sendiri.

Kalau ia mengatakan siapa oppanya, hampir semua siswa sekolahnya pasti tahu. Siapa yang tidak mengenal Yang Seungho, peraih medali emas dalam kejuaraan nasional taekwondo 7 tahun berturut-turut. Bahkan berhasil merebut medali perak dalam kejuaraan internasional mewakili Korea Selatan.  Apalagi Seungho adalah alumni Dongan. Anggota klub taekwondo pasti mengenal oppanya.

Seungmi tidak ingin masa-masa SMP nya yang pahit terulang lagi. Dulu semua siswa sekolahnya baik padanya. Seungmi yang polos menganggap mereka memang benar-benar tulus. Tapi ternyata, mereka bersikap baik karena Seungmi adalah adik Seungho. Karena Seungmi adalah adik seorang atlet terkenal di Korea selatan.

“Hoo..Kira juga bisa beladiri?” Beruntung Sungyeol bisa teralihkan.

Kira yang mengerti mengenai apa yang dipikirkan Seungmi, mengangguk.

“Aikido, Kendo, dan Kyudo”

“TIGA?!?!?!”

Hoya dan Sungyeol spontan melempar pandangan. Mereka tidak percaya gadis yang selalu tersenyum manis dan bersikap lembut seperti Kira itu bisa menguasai tiga jenis beladiri sekaligus.

“Kyudo? Kyudo itu apa?”

“Olahraga memanah tradisional Jepang” jelas Kira.

“Kau orang jepang?” Sungyeol dan Hoya tampak terkejut.

Seungmi tertawa melihat reaksi kedua teman barunya itu, “Kalian tidak curiga dengan namanya?”

“Tentu saja. Namanya bukan nama yang lazim di Korea”

“Wajahnya juga tidak seperti orang Korea” tambah Hoya.

Acara makan siang hari ini berlanjut dengan perkenalan. Dan hari itu juga, Seungmi merasa kedua teman barunya itu menyenangkan dan sepertinya baik. Sungyeol yang cerewet dan penuh akal, serta Hoya yang pendiam.

*****

         Ini pelajaran terakhir untuk hari ini.

Dan bagi Hoya adalah yang paling menyebalkan seumur hidupnya. Sejarah.

Guru mereka, Son Gain, wanita dengan tubuh mungil dan rambut pendek sebahunya yang berwarna cokelat kopi. Sepanjang langkahnya dari pintu kelas hingga ia duduk dan meletakkan tasnya di atas meja, senyumnya selalu terkembang lebar. Tampaknya cukup menyenangkan.

Dan dia menjadi satu-satunya guru yang paling rajin yang mengajar full disaat guru-guru lain hanya mengisi selama setengah jam pelajaran saja dan sisanya diisi perkenalan.

Guru mungil mereka itu menuliskan kata ‘Sejarah’ dan namanya ‘Son Gain’ dengan huruf besar di tengah-tengah papan tulis.

“Perkenalkan, mulai hari ini dan selama tiga tahun ini, kalian akan bersama-sama dengan saya, Son Gain, dalam pelajaran sejarah. Bangapseumnida”

Ia melambaikan tangan kanannya.

“bangapsemnida” teriak siswa-siswa di kelas itu.

Hoya menghela napas. Baru perkenalan saja ia sudah mengantuk, bagaimana ia akan menghabiskan dua jam ini?

Mereka mulai membahas buku sejarah yang masih baru. Sebagian siswa baru membuka sampul plastik yang menyegel buku itu. Hoya sama sekali tidak berminat. Huruf-huruf itu terlihat menari-nari, membuatnya semakin mengantuk. Iseng, ia melirik ke arah teman-teman yang duduk sederetannya.

Ada Kibum di deretan paling ujung yang mulai terangguk-angguk, setengah tertidur. Atau Jaejin yang duduk di ujung kiri, tengah menyandarkan kepalanya dan menguap entah untuk yang keberapa. Juga Yoona, siswi cantik yang duduk di samping kanan Jaejin, yang diam-diam mengulum permen juga demi menahan kantuk. Jika siswa deretan paling depan saja seperti ini, maka jangan tanya lagi yang duduk di belakang mereka.

Satu-satunya yang masih memperhatikan dengan energi full adalah orang yang duduk di sebelah kirinya, penghuni bangku paling depan di deretan tengah yang langsung menhadap ke arah guru saat menjelaskan di papan tulis, Yang Seungmi.

Gadis berambut panjang itu masih sangat antusias. Tangannya sibuk mencatat penjelasan panjang lebar Gain Sam. Hoya menggelengkan kepalanya. Ia kembali menguap.

Bukkk!

Hoya tersentak. Tahu-tahu Gain sam sudah berdiri di depannya dengan tangan kanan menggebrak mejanya. Hoya menatap kedua mata sipit Gain Sam yang dihiasi eyeliner tebal.

“ kenapa kau menguap?” tanya Gain Sam dengan tatapan menghujam hingga ke ulu hati Hoya. Seketika anak itu merasakan ngilu hingga ke tulang-tulang.

Kibum dan Jaejin spontan memperbaiki duduk mereka dan mengerjap-kerjapkan matanya. Berusaha terlihat segar.

“Aku..”

“Kau mengantuk? Kau tidak suka dengan pelajaran sejarah?”

Hoya merinding.

“Ani..aku hanya..”

“Tidak bisakah kau mencontoh teman cantik yang duduk di sebelah kirimu ini? Siapa namamu?” Gain Sam menoleh ke arah Seungmi dan bertanya sambil tersenyum manis.

“Yang Seungmi” jawab Seungmi pelan. Gain Sam kembali menoleh ke arah Hoya.

“Kau, Lee Howon, cobalah mencontoh Seungmi. Lain kali Sam tidak ingin melihatmu menguap. Aracchi?”

Hoya mengangguk kaku. Ia menoleh ke arah Seungmi. Yang ditatap hanya tersenyum kaku. Gain Sam kembali ke papan tulis. Jaejin, Kibum, Yoona, dan sebagian siswa lainnya juga mengantuk, tapi kenapa Sam hanya menegurnya? Oh, ini pasti akibat posisi duduknya yang salah. Terang saja, ia duduk di deretan depan dan sedikit menuju tengah. Dan ini semua adalah ulah Sungyeol. Awalnya ia sudah menempatkan diri di bangku yang dditempati Sungyeol sekarang. Jadi, tubuh tinggi Sungyeol bisa menutupinya dari pandangan guru kalau-kalau ia jatuh tertidur.

Tapi Sungyeol memaksanya untuk duel batu gunting kertas, yang kalah yang harus duduk di depan. Dan beginilah ia berakhir, kalah, duduk di depan, mengantuk, dan ditegur oleh Gain Sam. Hoya tidak tahu bagaiamana ia harus melewatkan dua jam sejarah di akhir hari senin selama satu semester ini.

*****

         Suara bel terakhir untuk sekolah hari ini, berbunyi. Hari pertama sekolah cukup membuat neuron-neuron berteriak minta tolong. Seluruh siswa, terutama siswa baru kelas 1A, pulang dengan sangat bahagia hari itu.

“Seungmi ya, rumahmu dimana?” Tanya Sungyeol.

Seungmi yang tengah membereskan buku-bukunya, menjawab tanpa menoleh, “Ah, di sana” jawabnya sekenanya. Ia memang susah melakukan dua hal sekaligus.

Sungyeol tertawa, “Disana mana? Kau sibuk tidak? Bagaimana kalau kita pulang bersama?” ajaknya.

Seungmi yang sudah selesai merapikan mejanya, menoleh ke arah Sungyeol.

Hei, ini baru hari pertama mereka bertemu. Tapi anak itu sudah mengajaknya pulang bersama.

Seungmi mengedip-kedipkan matanya beberapa kali. Tanda ia sedang berpikir.

“Ah, mmm rumahku, berlawanan arah. Aku pulang dengan Kira saja. Sampai berjumpa besok, annyeong”

Seungmi menundukkan kepalanya dengan cepat lalu bergegas keluar. Dalam sekejap, ia sudah berlalu meninggalkan kelas dengan menarik Kira.

“Dia kan belum tahu rumahku. Kenapa bisa bilang berlawanan arah?” gumam Sungyeol. Ia tampak sedikit kecewa.

“Artinya dia menolakmu dengan halus” kata Hoya.

Sungyeol menjajari langkah Hoya. Pemuda itu hanya diam. Sungyeol memang seperti itu, kalau sudah tertarik dengan seseorang, ia akan dengan jelas menunjukkannya. Ia hanya ingin berteman lebih dekat dengan kedua gadis itu. Dimatanya mereka unik dan menarik.

Hoya mengerti. Diam-diam, ia memperhatikan dua gadis imut, yang berjalan beberapa langkah di depannya, yang menjadi teman barunya hari itu. Gadis dengan tas ransel  besar berwarna biru muda yang terlihat penuh, Seungmi, serta gadis Jepang yang terlihat lemah-lembut dengan kipas dari kayu hitam yang selalu terselip rapi di saku bajunya, Kira.

“lagipula hari ini kita ada jadwal latihan. Kompetisinya kan dua minggu lagi”

“ah, iya, kau benar” Sungyeol menyahut dengan setengah hati.

Mereka berjalan menuju halte bus, sepuluh menit dari sekolah mereka. Lalu dengan bus, selama 30 menit, mereka akan tiba di sebuah studio tempat mereka biasa berlatih dance.

Sungyeol dan Hoya tergabung dalam sebuah dance group bernama Inspirit. Anggotanya ada tujuh orang. Mereka sering berpartisipasi dalam event dance cover atau dance competition. Dan minggu depan, mereka akan mengikuti dance cover yang diadakan oleh salah satu stasiun TV ternama di Korea Selatan.

“Ya, sudah sampai” Hoya mengingatkan sungyeol yang tengah melamun.

Sungyeol lagi-lagi hanya diam mengikuti langkah Hoya.

“Wae yo? Sudahlah, jangan dipikirkan”

Sungyeol menggeleng, “Aniya.. aku memikirkan, bagaimana kalu mereka kita ajak untuk menonton penampilan kita?”

Hoya tampak berpikir, “ah..bagaimana yang terbaik menurutmu saja”

Sebenarnya Hoya tidak yakin kedua gadis itu akan menerima, tapi melihat sungyeol yang begitu antusis, ia tidak tega. Apapun yang terbaik menurut Sungyeol, Hoya hanya bisa mendukungnya.

*****

         Seminggu pertama terlewati dengan aman dan tentram.

Hari ini selasa, artinya tidak ada pelajaran sejarah dan Gain Sam yang menyeramkan. Hoya melenggang dengan riang. Tak ada yang perlu di khawatirkan dan di takutkan. Ia berjalan santai. Hari ini ia berangkat sendiri tanpa Sungyeol, sebab pagi ini adalah piketnya. Di kelas mereka, setiap hari ada 5 hingga 6 orang bertugas untuk piket. Dari 5 atau 6 orang itu, dibagi lagi, sebagian piket di pagi hari, sebagian saat  pulang sekolah.

Tiba-tiba seseorang berlari melewatinya dari arah belakang.

Hoya terkejut. Ia berhenti sejenak, menatap ke arah orang yang kini berlari jauh di depannya itu.

Gadis berambut panjang dengan ransel besar berwarna biru tua yang terlihat penuh.

Ah, itu Seungmi. Kali ini sendiri, tanpa ditemani Kira. Dan gadis itu tampak terburu-buru. Tapi Hoya tak ambil pusing, toh Seungmi memang sedikit aneh.

Hoya melirik jam tangannya. Jam tujuh kurang lima menit. Piket mereka dimulai jam tujuh, telat sebentar tak apa menurutnya. Ia lalu memutuskan untuk tidak langsung ke kelas. Ia memilih melihat ruangan tempat latihan taek won do.

Meski sekolah masih sepi, tapi ruang latihan itu sudah ramai. Beberapa siswa tampak berlatih ringan. Beberapa lain asyik mengobrol. Hoya menyapa beberapa senior yang ia temui di sana. Anak itu sangat ingin secepatnya bergabung dengan mereka. Namun ia harus bersabar, sebab latihan perdana untuk siswa kelas 1, baru akan dilaksanakan minggu depan.

Puas melihat-lihat, Hoya berjalan menuju kelasnya. Cukup dengan melihat-lihat saja, hatinya sudah bersemangat. Sepertinya hari ini akan berjalan menyenangkan, pikirnya. Ia tiba di kelas. Ia membuka pintu kelas dengan wajah penuh senyum.

“Lee Howon sshi!”

Satu seruan keras, yang jika ditulis dalam komik akan diberi 5 tanda seru dibelakangnya, sudah menyambutnya sebelum ia menginjakkan langkah pertamanya di kelas.

Seseorang yang memanggilnya dengan formal, jelas bukan Gain Sam. Tapi Hoya merasakan ada aura kebencian yang membuatnya merinding. Perlahan, Ia menolehkan kepalanya ke arah kanan.

Seungmi berdiri beberapa langkah dari tempatnya berdiri.

“Lima belas menit empat puluh tiga detik! Kau terlambat!”

Hoya melirik jam tangannya. Tepat. Ia lalu memperhatikan gadis itu lagi. Seungmi berdiri dengan tangan kanan menenteng ember berisi air dan tangan kiri menggenggam pel.

Rupanya gadis itu juga piket hari ini.

“Ah, tadi aku..” Hoya mencoba memberi alasan.

“Kau sakit?” Seungmi berjalan mendekat.

Hoya menggeleng.

“Apa di jalan tadi tiba-tiba ada gempa bumi sehingga kau tidak bisa datang tepat waktu?”

Hoya kembali menggeleng.

Hei, ini hanya lima belas menit batinnya.

“Hanya lima belas menit? Ya, selama apapun itu yang namanya terlambat tetap saja terlambat. Waktu adalah hal yang berharga. Harusnya kau tahu itu”

Hoya menelan ludah. Sepertinya gadis kecil di hadapannya itu bisa membaca isi hatinya. Seungmi mendongak menatapnya tajam. Kini jarak mereka semakin dekat. Hoya menghela napas pelan.

“Mianhae”

Seungmi tidak menjawab. Ia menyerahkan ember dan pel yang dibawanya kepada Hoya.

“Pel. Itu tugasmu”

Hoya mengangguk. Ia menenteng dua alat kebersihan itu. Ia meletakkan tas di mejanya dan mulai mengepel.

“Semangat ya, aku dan Seungmi sudah menyapu tadi” Hara melewatinya dan memberi semangat.

Hoya pasrah. Ia mengangguk pelan.

Sembari mengepel, otaknya mulai menyusun daftar orang-orang yang perlu diwaspadai di sekolah ini.

Yang pertama adalah Son Gain Sam.

Dan yang kedua adalah Yang Seungmi.

To be continued

3 thoughts on “[Fanfic] Silent Monologue -Part 1-

  1. admin..
    Nie bsa d blang lnjutan dri saranghaeyo oppa ya..
    Law d saranhaeyo oppa,hoya ma sengmi kn belum sampai pacran..law dsini satukan mereka ea..jebaaaal..
    Bwt karakter hoya…aq suka banget admin buat hoya jady orang yg msterius..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s