[Fanfic] Absolute Angel Part 1

Cast: Kim Jongin aka Kai, Oh Sehun, dan Baek Yoora

Other cast: Other EXO member

Genre: Romance, School, friendship, fantasy

Author: Fachrunnisa aka YunTaeryeo & Yassinta aka chibisukechan

Disclaimer: FF ini benar2 kreasi duo dari kami berdua! >o<

Special FF buat admin vjoohaeseop! Saengil chukha ^^
Semoga FF twins tidak kembar ini berkenan di hatimu!

= = = = =

Angin bertiup membawa partikel-partikel debu. Sedikit kencang. Hingga suaranya dapat tertangkap telinga. Sementara itu hamparan mahakarya luas menaungi, sebuah perpaduan biru dan kelabu disertai awan putih berarak tenang. Suasana yang sedikit sepi dan sedih untuk sebuah kawasan tempat tinggal. Monoton dengan warna merah, hitam, dan cokelat. Langit hanya sebuah pengecualian.

Juga bukit damai tetap tenang dengan segala pesonanya. Tepat ditengahnya, tumbuh sebuah pohon kehidupan dengan beribu warna daunnya dan bunga kebahagiaan berwarna paduan merahmuda, kuning, juga biru. Serta sungai jernih yang mengalir mengelilinginya. Satu-satunya tempat yang memberikan nyawa bagi planet Exo dan segala isinya.

Sebuah tanah lapang dengan batu-batu besar yang berkumpul di beberapa sudut. Sekelompok pemuda duduk berkeliling tumpukan batu paling besar di pojok kanan.

“ Kalian tahu, tempat bernama bumi itu indah sekali” kata seorang pemuda. Suho.

“Maksudmu, tempat yang dikatakan berbahaya oleh orangtua kita itu?” Tanya Baekhyun.

Suho mengangguk, “Tapi pada kenyataannya, tempat itu jauh dari bayangan kita mengenai bumi selama ini”

“Aku dan Suho melihatnya langsung melalui cermin terawang di loteng perpustakaan. Setelah itu, aku benar-benar ingin pergi kesana” tambah Xiumin dengan mata berbinar.

Seketika bisikan terdengar dari setiap mulut. Otak mereka masing-masing telah dipenuhi rasa ingin tahu mengenai tempat bernama bumi itu. Yang konon dihuni oleh makhluk bernama manusia yang sangat mirip dengan mereka.

“Bagaimana kalau kita kesana?” celetuk Kris.

Serentak semuanya terdiam dan memandang pemuda berambut pirang itu.

“Andwae! Disana berbahaya. Banyak binatang bergigi tajam yang dapat menghabisi kita dalam sekejap” potong D.O.

Tao menggeleng, “Ckckck.. itu hanya bual-bualan orangtua dan guru kita agar kita tidak berkeliaran. Sekarang setelah kita dewasa, tidak ada lagi yang harus ditakuti”

“Tapi, kita akan melanggar aturan nomor 42 ayat 7. Kau setuju denganku kan, Luhan?” D.O berusaha meyakinkan teman-temannya yang lain.

Luhan mengibaskan tangannya, “ Aturan itu dibuat untuk dilanggar.”

“Tidak usah takut begitu, ayo pergi saja,” timpal Lay.

Suho berdiri dan menghampiri D.O lalu merangkulnya. Ia tersenyum bijak, “ Kalau kau tidak mau ikut, gwenchana. Jika terjadi sesuatu pada kami, kami tidak akan menyalahkanmu. Tenang saja.”

“Kajja. Kita harus bersiap untuk besok.”

Mereka pergi. Meninggalkan D.O termangu sendirian di tempatnya.

“Biarkan saja mereka.” D.O menoleh ke sumber suara. Tampak Sehun tengah duduk menopang dagu disampingnya.

“Kau setuju denganku?”

Sehun tersenyum , “Biarkan saja mereka pergi besok. Aku tidak bisa mencegah rasa penasaranku untuk mengunjungi bumi sekarang. Annyeong!”

Belum sempat D.O mengatakan sesuatu, temannya itu sudah menghilang.

Dengan kekuatan teleportasinya, Sehun dalam sekejap berada di loteng perpustakaan. Sebelumnya, ia sudah membaca banyak informasi mengenai jalan pergi ke bumi. Menurut kitab rahasia kuno, bumi dan planet exo adalah tempat yang sama hanya berada di bawah langit yang berbeda. Karena itu juga, penghuni planet exo memiliki kekuatan khusus yang tidak dimiliki penduduk bumi. Sebaliknya, bumi memiliki banyak hal-hal menakjubkan yang tidak ada di planet exo.

Sehun berdiri di hadapan cermin terawang yang terdantung di dinding. Ia lalu berjongkok membuka dua buah papan kecil di tempatnya berdiri. Sekilas tidak terlihat apa-apa, sebab seluruh lantai ruangan itu terbuat dari kayu serupa. Namun bila jeli, akan tampak garis tipis membentuk persegi sepanjang dua jengkal tangan orang dewasa. Dengan menekan menggunakan kedua tangan diatasnya, terbukalah sebuah ruangan kecil tempat Kitab Rahasia Kuno diembunyikan. Sehun mengambilnya.Tangannya cepat membuka bab 71, mengenai cara menuju bumi.

Dengan teliti, dibacanya kalimat-kalimat pembuka batas antara planet exo dan bumi. Sehun lalu meletakkan kedua telapak tangannya pada kaca terawang. Ia menutup matanya, dan mengulangi kalimat-kalimat sesuai petunjuk Kitab Rahasia Kuno.

“Alam dan keteraturannya. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Segala planet bergerak mengelilingi matahari. Semua ada untuk kebaikan.”

Sehun merasa tubuhnya berputar-putar. Udara menekan, ia bahkan tak bisa membuka matanya. Angin bertiup kencang. Segalanya tampak gelap. Tiba-tiba ia terhempas.

*****

Meolli dolgo doraseo dasi sijakhaneun gose da wasseo

Oryutuseongijiman baewogamyeo ganghaejil su inneun na

Jeo taeyangcheoreom geodaehan hanaran geol aneun nal

O~ o~ modu hamkke ganeun uri miraero

Seorang pemuda dengan kulit agak kecoklatan bergerak lincah mengikuti musik yang mengalun dari MP4 player-nya. Suasana atap sekolah lenggang saat jam pulang seperti ini. Para siswa sibuk membersihkan kelas.

Klik!

Musik terhenti. Pemuda itu, Jongin, sontak membalikkan badannya dengan kesal. Ia sangat tidak suka ada yang mengganggunya di saat ia berlatih dance seperti ini.

“Yak Baek Yoora! Apa yang kau lakukan? Menggangguku saja.” ia berusaha merebut MP4player di genggaman Yoora.

“Biar saja! Siapa suruh kau kabur saat jam membersihkan kelas.” gadis berambut panjang itu tak mau kalah.

“Berikan” Tenaga laki-laki tentu menang. Yoora hanya menatap kesal saat teman sekelasnya itu kembali sibuk dengan dance-nya.

“Huh, kalau Nam sesongnim memarahimu aku tidak akan..”

Bruak!!!

Yoora dan Jongin seketika berpandangan. Tempat mereka berpijak bergetar. Sesuatu jatuh tak jauh dari mereka. Debu berterbangan menyelimuti. Masih tanpa saling bicara, mereka mendekat. Napas mereka tak beraturan disertai jatung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Pelan-pelan, mereka mendekati benda itu.

Debu perlahan mengilang. Pandangan mereka mulai jelas melihat apa yang terjatuh. Manusia.

“Jongin-ah, aku tidak salah lihat, kan?” Jongin yang masih termangu hanya menganga melihat pemandangan di hadapannya dan mengangguk menjawab pertanyaan Yoora. Sang yeoja mengusap matanya berkali-kali lalu tersadar yang dilihatnya memang benar. Manusia. Dia segera berlari ke arah benda yang jatuh tadi. Jongin masih berdiri mematung. “Jongin-ah, apa yang kau lakukan di sana? Palliwa, angkat dia!” Jongin tersadar dan langsung mengikuti kata Yoora, dia mengangkat benda itu, tepatnya seorang namja yang kelihatan seumuran dengannya.

“Sepertinya ada yang datang!” Terdengar suara derap langkah, bukan satu tapi banyak.

“Cepat sembunyikan dia! Kasihan kalau dia dilihat orang lain!” Yoora memandang nanar pada pemuda yang tengah tak sadarkan diri itu.

“Kenapa harus disembunyikan?”

“Palli!”

“Arasseo, sejak kapan juga aku jadi patuh padamu!” Gumam Jongin hampir tak terdengar. Jongin mengangkat tubuh yang lumayan besar itu, dibaringkannya benda hidup itu di samping tumpukan kotak bekas berisi buku-buku yang sudah usang.

“Ada apa tadi?” Hwang seosangnim datang. Yoora duduk di pinggir atap sekolah sambil berpura-pura membaca bukunya. Sedangkan Jongin kini telah melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti karena yeoja bernama Yoora itu. Telinganya disumbat dengan sepasang headset putih yang tersambung dengan MP4-nya.

“Waeyo?” Yoora mengalihkan pandangannya pada Hwang seosangnim dan beberapa siswa yang datang bersamanya. Jongin tidak peduli dan masih fokus pada gerakannya.

“Kalian tidak merasakannya?”

“Merasakan apa?” Yoora memasang tampang kebingungannya. Yoora mendekat ke Jongin lalu menarik headset yang terpasang di telinga Jongin.

“Wae? Aku bilang jangan menggangguku!” Bentaknya, Yoora menginjak kaki Jongin.

“Yak App…!” Jongin menatap kerumunan orang yang baru saja datang dengan kebingungan. “Hehe… Ada apa ini?” Jongin menggaruk kepalanya.

“Hey, kalian pacaran yah?” Celetuk salah seorang siswa, namanya Chanyeol.

“Mworago? Sialan kau Park Chanyeol, mana mungkin aku suka pada yeoja sepertinya!” ejek Jongin. Tatapan membunuh kini dilayangkan oleh Yoora pada namja di sampingnya itu.

“Sudahlah! Ayo semua kembali, mungkin tadi cuma gempa kecil saja!” Hwang seosangnim turun bersama rombongan yang tadi buru-buru datang untuk mencari sumber gempa.

“Aku rasa ada sesuatu yang janggal di sini!” Selain Jongin dan Yoora, Chanyeol masih belum yakin kalau tidak terjadi apa-apa. Dia mengelilingi Yoora dan Jongin sambil melihat ke sisi atap gedung dan berjalan menuju tumpukan kardus tempat Jongin dan Yoora menyembunyikan makhluk asing tadi. Yoora dan Jongin saling bertatapan.

“Hey, Park Chanyeol! Ada seorang yeoja yang mau berkenalan denganmu!” Jongin angkat bicara, baru saja Chanyeol hampir menemukan sosok namja yang terjatuh tadi.

“Jeongmal? Nugu? Apa sepupumu yang waktu itu?” Jongin berpikir sedikit.

“Ah ne!” Jawabnya bohong. “Hey, dia sepertinya sudah pulang jam segini! Kau akan terlambat jika tak menemuinya sekarang!” Tanpa basa-basi, Chanyeol menghilang begitu saja.

“Nuguya?” Yoora ikut penasaran.

“Mau tahu?” Yoora mengangguk. “Mau tau saja!” Ucapnya datar. Yoora sangat kesal, dia rasanya ingin sekali menjitak kepala namja itu. Jongin kini telah berdiri di dekat tumpukan kardus. “Trus, mau kita apakan anak ini?” Yoora menghampiri Jongin.

“Molla, tidak mungkin dia dibawa ke rumahku!” Yoora memandang Jongin.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Hmm… Kau tahu kan apa yang aku pikirkan?” Yoora tersenyum penuh harap.

“Shireo! Apa urusanku? Dia bukan siapa-siapa!”

“Ayolah, masa’ kau tidak kasihan padanya?”

Jongin terdiam. Ia memperhatikan manusia ajaib itu. Tidak ada luka parah, hanya beberapa lecet di punggung tangan dan keningnya. Ia sendiri masih belum yakin apakah ‘benda’ ini memang benar-benar manusia. Akalnya belum bisa memahami bagaimana ‘benda’ itu bisa jatuh di atap sekolah mereka.

“Dia benar-benar manusia ya” tahu-tahu Yoora sudah berjongkok di sampingnya dan mengelus pipi ‘benda’ aneh itu. Jongin melihat jelas mata gadis itu meancarkan rasa iba dan kelembutan. Entah kenapa hatinya merasa tidak enak.

Ia menepis tangan Yoora, “Jangan menyentuhnya!”

Yoora mengernyit bingung menatapnya. Jongin membuang pandangannya lurus. Selalu ada perasaan tak nyaman saat melihat Yoora bersama namja lain. Suatu perasaan yang sangat disadarinya dan ia tahu apa itu. Hanya saja ia tak mampu untuk mengungkapkannya dengan jujur.

“Kasihan sekali dia. Sebenarnya aku mau merawatnya, tetapi Appa dan Umma pasti tidak mengizinkan. Hhh.. seandainya saja ada seorang yang baik hati yang mau menampungnya” gumam Yoora lagi. Tangannya kembali terulur mengelus-elus kepala ‘benda’ itu.

Jongin berdecak kesal, “Arasseo!!” ia kembali menampik tangan Yoora. Lalu dengan frustasi pemuda itu mengacak-acak rambutnya.

“ Ya sudah, biar dia di apartemenku untuk sementara”

Yoora tersenyum mendengarnya.

“Hwaa… Jongin, kau baik sekali” serunya senang sambil menatap Jongin. Masih dengan senyumnya.

“Tahan dulu senyummu. Kau pikir bagaimana kita akan membawanya?”

Senyum Yoora mendadak hilang. Ia memutar bola matanya. Berpikir.

“Bagaimana kalau kau mengangkatnya turun? Kau kan kuat,” jawabnya polos. Jongin memasang ekspresi menolak.

“Kau pikir aku kuli bangunan? Selain itu coba pikirkan, semua siswa pasti akan curiga melihat kita membawa dia keluar gedung sekolah ini. Gunakanlah otakmu sedikit sebelum bicara.”

Yoora mendengus kesal. Ia lalu membalikkan badannya.

“Ya sudah, kalau begitu kau pikirkan sendiri” ia melangkah meninggalkan Jongin. Pemuda itu mengejarnya dan menghadangnya.

“Dengar ya, kau ada bersamaku saat ini terjadi. Karena itu, ini masalahmu juga.”

Gadis itu menghentakkan kakinya. Mau tidak mau ia kembali memutar otaknya. Tak lama kemudian ia berlari menuju pintu.

“Tunggu aku 5 menit. Aku akan kembali”

Jongin tidak sempat mencegahnya. Yoora sudah menghilang di balik pintu. Pemuda itu melangkah gontai menuju tumpukan kardus. Ia mengamati ‘benda’ aneh yang masih belum sadarkan diri itu. Sekilas tidak berbeda dengan orang korea kebanyakan. Sementara menunggu Yoora kembali, ia sibuk memikirkan bagaimana caranya ‘benda’ itu jatuh dari langit. Ia mengulurkan tangannya meraba leher ‘benda’ itu. Terasa denyut nadi yang menandakannya masih hidup.

“Ini dia solusinya!”

Yoora sudah berdiri di depan pintu kemudian berlari ke arahnya setelah menutup dan memastikan pintu itu terkunci. Gadis itu membawa sebuah kantong plastic. Dengan cekatan, dikeluarkannya isinya. Sepasang seragam sekolah mereka.

“Dimana kau mendapatkannya?” Tanya Jongin.

Yoora mengatur napasnya, “Di ruang kesehatan. Disana ada baju cadangan. Sudah, cepat pakaikan itu padanya”

“Kenapa harus aku?” Tanya Jongin lagi.

Muka Yoora memerah. Antara malu dan kesal, “Kau menyuruhku?! Dia itu namja!!”

“Iya.. iya..”

Jongin memakaikan seragam pada ‘benda’ itu. Yoora tampak memencet sebuah nomor pada hp-nya dan berbicara sejenak.

“Dengar ya, begini skenarionya. Pemuda ini ceritanya adalah siswa kelas 1 dan kita menemukannya pingsan di atap. Aku mengetahui rumahnya dan aku memintamu membantuku mengantarkannya. Oya, aku juga sudah memanggil taksi. 10 menit lagi akan datang. Kau angkat dia hingga gerbang belakang sebab dari sini jalannya lebih dekat dan aku akan membawakan barang-barangmu. Lalu kita menuju apartemenmu. Mengerti?”

Jongin terdiam sejenak. Otaknya mencerna penjelasan panjang lebar Yoora. Kemudian kepala pemuda itu mengangguk. Ia lalu mengumpulkan tenaganya untuk menaikkan ‘benda’ itu ke punggunggnya. Yoora ikut membantunya hingga keringatnya bercucuran. Mereka lalu turun dari atap.

Perjalanan menuruni tangga benar-benar terasa melelahkan. Beban di punggungnya terasa semakin berat. Jongin tak henti-hentinya mengomel atas rencana Yoora ini. Namun ia tak berani menolak sebab tidak memiliki ide lain.

“Dia siapa?” Tanya Chanyeol yang berpapasan dengan mereka ketika di lantai dua.

“Ah dia siswa kelas 1, tetanggaku. Aku menemukannya pingsan, sepertinya dia demam. Aku meminta Jongin membantuku mengantarkannya ke rumah,” jawab Yoora. Chanyeol mengangguk-angguk.

“Permisi ya. Annyeong!” kata Yoora sebelum mereka berlalu.

“Ah, tunggu!” kata Chanyeol lagi. Mereka berdua menghentikan langkahnya dan saling berpandangan. Takut jika Chanyeol curiga dengan mereka.

“Jongin ah, aku sudah bertemu dengan sepupumu. Dia tadi sudah hampir pulang, tapi aku berhasil mengajaknya untuk keluar di hari minggu. Gomawo sudah memberi tahuku tadi!”

Jongin dan Yoora menghembuskan napas lega.

“Ne.. cheonman.” jawab Jongin.

*****

Jongin merebahkan ‘benda’ itu pada tempat tidurnya. Ia meregangkan badannya yang terasa pegal. Ia teringat sesuatu, yeoja yang sejak tadi bersamanya. Dia kembali keluar untuk mencari sosok yeoja itu.

“Apa yang kau lakukan di sana?” Jongin menatap Yoora yang masih terdiam di depan pintu apartemen.

“Mwo apa maksudmu? Ini apartemen namja!” Wajah Yoora memerah.

“Apa aku terlihat akan melakukan sesuatu padamu?” Jongin masih mencoba merenggangkan otot-ototnya. “Kajja, aku tidak mungkin mengurusnya sendiri!” Jongin kembali masuk dengan raut wajah kesal. Dengan agak takut, Yoora mengikuti langkah Jongin masuk. “Yeoja aneh!” Gumam Jongin.

“Mwo?” Yoora mempercepat langkahnya.

“Ani!” Jongin menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang di sisi utara apartemennya. “Hey, kau saja liat keadaannya! Aku lelah sekali!” Dia menyandarkan kepalanya di punggung sofa.

“Dia dimana?” Raut wajah Yoora kesal. Jongin mengangkat telunjuk ke arah kamarnya. Yoora berjalan kesal ke arah ruangan yang ditunjuk Jongin.

“Kau ini sebenarnya siapa?” Gumam Yoora sambil menelusuri wajah namja yang tak sadarkan diri itu dengan telunjuknya. “Kyeopta!” Dia tersenyum dengan kata-katanya sendiri. “Dia tampan dan manis dalam waktu bersamaan. Apa kau ini malaikat?” Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak, jari-jari tangan kiri namja itu. “Omo~ dia bergerak! Dia masih hidup!” Perlahan makhluk di hadapannya itu mengerjabkan matanya lalu memegangi kepalanya. “Kau sudah sadar?” Senyum manis kini terukir di bibir Yoora. Namja itu membuka matanya, wajah pertama yang dilihatnya. Baek Yoora. Lidahnya keluh, lehernya terasa sangat kering. “Minum  dulu!” Yoora seakan tahu, namja itu membutuhkan air. Dia membantu namja tersebut bangkit agar bisa minum, tangan kanannya mendekatkan kelas ke mulut namja itu. Dia meminumnya. “Gwenchanayo?” Namja itu menatap lekat yeoja di hadapannya yang masih tersenyum lembut. Kesadarannya belum penuh, dia hanya bisa menganggukkan kepala.

“Yoora!” Gumamnya hampir tak terdengar.

“Chogiyo? Kau kenal aku?” Yoora ternyata mendengar apa yang diucapkan namja itu.

“Argghhh….!” Dia memegangi dadanya yang sakit.

“Gwenchanayo?” Yoora panik. “Jongin-ah!” Panggil Yoora. Namja yang dipanggilnya itu sejak tadi memang sudah berdiri menyaksikan apa yang dilakukan Yoora, memendam perasaannya. Dia langsung masuk sedetik setelah Yoora memanggilnya.

“Wae?”

“Molla, sepertinya dadanya sakit!” Yoora meneteskan air matanya, entah kenapa hatinya sakit melihat namja yang bahkan belum dia tahu namanya itu kesakitan.

“Ulljima!” seru namja asing itu. Dia mengulurkan tangannya kirinya yang tidak memegang dadanya ke pipi Yoora yang basah. Jongin terdiam. Hatinya lagi-lagi merasakan hal yang sama. Sakit.

Keadaan namja itu mulai membaik saat berbaring cukup lama, sebenarnya namja itu senang melihat yeoja yang terus saja ada di sampingnya.

“Sebenarnya kau ini siapa?” Tanya Jongin yang sudah tidak tahan melihat namja itu menatap Yoora terus. Namja asing itu mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

“Gamsahamnida sudah menolongku, Sehun imnida!” Namanya Sehun. Dia tahu jelas dia dimana, dia tahu jelas apa yang terjadi padanya, dia tahu orang-orang yang ada di dekatnya sekarang itu siapa, yang dia tidak tahu hanya satu. Bagaimana cara untuk kembali?

 

To be continued….

 

4 thoughts on “[Fanfic] Absolute Angel Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s