[Fanfic] Let’s Cooking! -Part 1-

Cast :

  1. Super Junior Yesung
  2. Park Eunmin = as Yesung’s Fiancee (OC)
  3. Park Eunwoo = as Eunmin’s younger brother (OC)
  4. Kibum a.k.a SHINee Key = as Eunmin’s Cousin

FF ini adalah salah satu bagian dari serial ‘It Has To Be You’. Serial yang lain akan menyusul ^^

Author mau curcol dikit yak. Niatnya nih FF mau dibikin comedy kayak “Happy Spy”, semoga bener-bener comedy😀..
oya, biar lebih syahdu lagi
(lebey), baca FF nya sambil dengerin lagu SJ ‘Cooking cooking’ sama lagu OST I do I do yang dinyanyiin Yesung,

Oke, cekidot!

Seoul masih dengan musim semi di bulan april. Bunga mulai bermekaran dimana-mana. Menggantikan putihnya salju yang sebelumnya menghiasi pemandangan seluruh kota. Matahari bersinar hangat, berkolaborasi dengan hujan yang terkadang mengguyur di sepanjang tiga bulan kedepan.

Dongdaemon dan Myeongdong tetap dengan kesibukan khas yang tak pernah berakhir. Juga pada sebuah apartemen di bilangan Kota. Kamar 411.

“Mwo??”

Seorang gadis duapuluh tahunan berseru kaget. Sebuah Hp di telinga kirinya. Ia duduk di balkon kamarnya.

“Iya, eomma bilang sudah lama keluarga kita tidak bertemu. Jadi mereka merencanakan semua ini”

      Eunmin berjalan mondar-mandir. Seandainya pemuda yang berbicara di telepon itu melihatnya, akan sangat jelas terlihat bahwa gadis itu tengah kebingungan. Meski gadis itu hanya bergumam tenang, seolah segalanya akan baik-baik saja.

“Hmm.. ya sudah. Kita ikuti saja rencana mereka. Bukankah menyenangkan bisa berkumpul bersama haramonim?”

Ketenangan macam apa ini batinnya. Bertemu dengan haramonim dan keluarga besar tunangannya bukanlah hal sepele. Mereka , kecuali aboji, eomonim, dan Joongjin, pasti ingin melihat seberapa perfect-nya dirinya. Padahal ia JAUH dari sifat bernama sempurna itu.

Terdengar helaan napas dari seberang.

“Aku tahu. Aku baru saja mau mengatakan masalahnya. Haramonim berkata langsung padaku, ‘aku ingin merasakan masakan calon istrimu’ begitu”

      Diam.

Eunmin menepuk dahinya pelan. Ia menjauhkan telepon dari mulutnya. Kemudian menghela napas keras. Lalu kembali ia menempelkan telepon di telinganya.

“Gurae” katanya dengan tenang.

“Mari kita buat keinginan Haramonim jadi kenyataan!”

*****

      Yesung mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Mengapa juga Eomma dan Eomonim bisa mengusulkan ide merayakan ulang tahun ke 73 Haramoni dengan pertemuan keluarganya dan keluarga Eunmin. Dan disitulah masalahnya. Haramoni pasti akan berkomentar ini-itu tentang tunangannya dan membandingkannya dengan tipe wanita ideal menurut Haramoni. Sedangkan ia sendiri tahu, Eunmin bukan tipe wanita seperti yang dibayangkan Haramoni.

Yah, meski ia menerima segala yang ada pada diri gadis itu. Namun belum tentu dengan Haramoni. Bagaimana jika Haramoni tidak menyukai Eunmin, lalu… meminta mereka berpisah??

“ANDAWEE!!!” seru Yesung sambil menutupi wajahnya. Ddangkoma yang sedang tertidur di kandang, terkaget dan bangun. Lalu dengan langkah kakinya yang sangat pelan, kura-kura itu berjalan mendekati pintu rumahnya dan menatap wajah pemiliknya yang keruh. Ia mengerjap-kerjapkan matanya. Seakan tahu bahwa pemuda itu tengah memikirkan tunangannya.

“eottokahjyo? Eottokahjyo? Eottokahjyo?” bagi ddangkoma perkataan Yesung terdengar seperti mantra-mantra sihir Harry Potter.

Pemuda itu berjalan mondar-mandir di kamarnya. Matanya kemudian menatap ddangkoma yang juga tengah menatapnya. Ia mengeluarkan kura-kura itu lalu duduk di lantai kamarnya. Ia meletakkan ddangkoma di pangkuannya.

“ Kau tahu, aku sedang bingung” katanya. Ddangkoma mengerjap-kerjapkan matanya lagi dan memiringkan kepalanya ke kanan.

“kalau bukan karena satu hal, aku tidak akan sepusing ini. Eomma dan Eomonim merencanakan perayaan ulang tahun Haramonim yang ke 73. Lalu Haramoni berkata ingin merasakan masakan Eunmin. Nah, itulah masalahnya”

Ddangkoma mengerjap-kerjapkan matanya lagi. Kali ini diikuti mulutnya yang membuka dan menutup berulang-ulang. Mungkin mendengar kata makanan membuatnya lapar.

“Ini hanya antara aku dan kau ya..” kata Yesung lagi. “ Eunmin itu sebenarnya..”

*****

      “Aku kan tidak bisa memasak!!! “ seru Eunmin. Eunwoo, adiknya, hanya melahap roti bakar dengan cuek.

“Kalau begitu jujur saja” katanya singkat.

Eunmin mengambil duduk di hadapan adiknya.

“Itu tidak mungkin. Bagaimana kalau aku jujur lalu haramonim tidak menyetujui hubunganku dengan Yesung Oppa dan memisahkan kami? ” gadis itu menopang dagunya dan memasang raut wajah bingung.

Eunwoo meminum seteguk susu cokelat di gelasnya.

“ya sudah, kalau begitu pisah saja” ia mengelap mulutnya dengan telapak tangan.

“ Mana bisa begitu? Park Eunwoo, kami sudah tunangan! Tunangan!” Eunmin berkata sambil mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. “lagipula aku kan.. ci… cinta padanya”

Eunwoo memasukkan potongan roti terakhirnya dan meneguk susunya hingga tandas. Ia menatap wajah noona-nya datar.

“kalau begitu, itu urusan noona. Bukan urusanku”

Eunmin semakin cemberut. Sementara itu adiknya melenggang menuju dapur sambil tersenyum jahil. Untuk urusan menjadi evil magnae, ia pantas disandingkan dengan Kyuhyun.

      Eunmin merebahkan kepalanya di atas meja makan yang terbuat dari kaca. Ia memandangi layar Hp-nya dengan raut wajah berkerut, tampak sedang berpikir serius. Foto Yesung dengan setelan jas hitam yang dijadikannya wallpaper terihat seperti menatapnya. Eunmin menatap foto itu.

“Oppa, apa yang harus ku lakukan ya?” Gumamnya. Ia lalu menghela napas, “ Heera sedang tidak ada. Aku kan tidak mungkin pulang ke Busan hanya untuk belajar masak dengan Eomma”

Hening. Suara detak jarum jam di dinding terdengar jelas. Eunmin masih menatap wallpaper  hp-nya sembari menggembungkan pipinya. Tanda ia sedang berpikir.

“Menurut Oppa aku harus bagaimana?” gumamnya lagi.

Hp-nya kembali berbunyi. Nyaring sekali. Gadis itu terkejut hingga hampir menjatuhkan benda hitam itu dari tangannya.

“Ne oppa?” katanya dengan nada seceria mungkin. Eunwoo yang mendengarnya hanya mencibir. Padahal baru saja Noona-nya itu uring-uringan tapi begitu mendengar suara Yesung, langsung berubah ceria.

Terdengar Yesung menghembuskan napas keras.

“ aku bingung. Apa yang harus kita lakukan? “

Eunmin menggaruk-garuk kepalanya. Rambut hitam panjangnya menjadi sedikit berantakan.

“Tenang saja Oppa, aku akan berlatih”

“Latihan? Mau berapa tahun? “ Eunwoo menyahut diiringi tawa. Eunmin mendelik.

“Itu Eunwoo? Kapan dia datang?”

      “Kemarin. Dia bilang mau jalan-jalan di Seuol sebagai perayaan kelulusannya di tes masuk perguruan tinggi”

“Hahaha.. dia tidak berubah ya, tetap suka menjahilimu. Hmm.. bagaimana kalau hari ini aku ke tempatmu? Kita memasak bersama”

      Eunmin tampak berpikir. Memastikan tidak ada acara penting yang ada hari ini.

“Boleh. Datang saja, Oppa!”

Begitu telepon terputus, Eunmin menatap tajam pada adiknya yang tengah menonton televisi.

“Eunwoo, segera bereskan dirimu. Oppa mau datang”

Eunwoo tak menoleh sedikitpun. Tangannya asik memasukkan potongan-potongan kripik kentang ke dalam mulutnya. Sepertinya nafsu makan anak itu cukup besar. Melihat itu, Eunmin gemas dan merebut kripik dari tangan adiknya.

“Palli” katanya

“Noona.. hyung perlunya denganmu kan? Kenapa aku harus ikut rapi?”

“Dia calon kakak iparmu”

Eunwoo merebut kembali kripiknya, “Shireo! Lebih baik noona yang mandi. Bagaimana kalau hyung sampai disini saat noona belum mandi? Mungkin dia akan segera mengakhiri hubungan kalian”

Eunmin terdiam dan tampak berpikir. Sedetik.. dua detik.. tiga detik..

“Benar juga”

Ia lalu bergegas ke kamar mandi.

Eunwoo tertawa licik.

*****

      Ting.. tong..

Bel berbunyi nyaring

Eunmin buru-buru mengikat rambutnya dan membuka pintu. Senyumnya terkembang lebar. Entah kenapa ia yakin sekali itu adalah Yesung meski tanpa melihat interphone terlebih dahulu.

“Oppa cepat seka..” raut wajahnya berubah menjadi terkejut begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

“Kibum ah?”

Namja itu, Kim Kibum, tersenyum dan mengangkat satu tangannya, “ Annyeong noona!”

“Waa, lama sekali aku tidak melihatmu. Ayo masuk, ada Eunwoo di dalam”

Key melangkah di belakang kakak sepupunya itu. Mereka menuju ruang tamu. Eunwoo langsung bangkit begitu melihat siapa yang datang.

“ Akhirnya kau datang juga hyung!” ia menyapa Key dan merangkulnya. Mereka tertawa berasama. Bagi Key yang merupakan anak tunggal, Eunmin dan Eunwoo bagai saudara kandungnya. Terutama dengan Eunwoo, ia sangat akrab sebab mereka sama-sama namja dan memiliki hobi yang sama.

“ Eunwoo kau baik sekali” kata Eunmin kemudian.

Namdongsaeng-nya itu hanya mengerutkan kening.

“Kau pasti menelpon Kibum agar datang dan membantuku memasak” lanjut gadis itu kemudian.

Mendengarnya, Kibum dan Eunwoo berpandangan, “ Haaahh??”

Eunmin menggaruk-garuk kepalanya, “ Jadi salah ya?”

“Aigoo, noona kau ini sudah 22 tahun! Bagaimana bisa kau terlalu berprasangka baik pada orang? Dewasa lah noona.. dewasa…” Eunwoo mengejeknya dengan senyum khas pemuda itu. Senyuman evil!

Eunmin menekuk mukanya. Key tampak bingung. Ia menarik Eunwoo duduk di sofa. Eunwoo dengan sangat senang hati menceritakan masalah Eunmin. Ia senang sekali mem-bully noona-nya.

Tawa Key terdengar lepas usai mendengar cerita Eunwoo. Pemuda itu tahu betul bahwa memasak adalah kelemahan Eunmin. Bahkan kemampuan masaknya jauh lebih di atas sepupunya itu.

“ Lalu sekarang Noona mau belajar memasak bersama Yesung hyung?” tanyanya sambil berusaha menahan tawa yang belum juga reda.

Eunmin mengangguk, “Mau tidak mau aku harus memenuhi permintaan Haramonim. Bukan masalah bagaimana image  ku dihadapannya. Aku kan juga membawa nama baik Yesung Oppa”

“begitulah kalau noona tidak pernah membantu ahjumma memasak” jawab Key.

“Aku sudah membantunya. Tapi entah kenapa aku tidak bisa mengingat takaran bumbu dan resep masakan. Makanya saat tinggal di Seoul aku catering

Eunmin menatap Key penuh harap, “ Kau mau membantuku kan?”

Key kembali membuka lebar mulutnya. Sebelum ia menjawab, Eunwoo sudah menyela.

“Kibum Hyung mau menginstal aplikasi di notebook-nya. Dia juga mau memasang miniature pesawat tempur terbaru kami. Pokonya tidak boleh diganggu”

“Jahat! Kau mau aku gagal ya? Ayolah Kibum..”

Bel kembali berbunyi. Dengan langkah gontai ia berjalan. Sempat dilihatnya Yesung berdiri di pintu melalui interphone. Gadis itu lalu memasang wajah seceria mungkin.

“Ayo masuk Oppa”

Yesung berjalan di belakang Eunmin. Ia menuju ruang tamu. Dilihatnya Key dan Eunwoo sedang asyik berkutat pada sebuah notebook.

“ Kau ada disini juga, Kibum?” sapa Yesung sambil duduk di samping mereka dan ikut memperhatikan.

Key menoleh sejenak. Ia menyalami sunbae-nya di SME itu.

“Aku ingin menginstal software  untuk notebook-ku”

Yesung mengangguk-angguk.

“Sebenarnya aku berharap kau mau membantu kami. Tapi kalau kau sedang ada urusan yang lebih penting, tidak apa-apa” katanya kemudian.

JLEB! Kata-kata bijak Yesung itu seakan menusuk hatinya. Key langsung merasa tersentuh. Eunmin meleletkan lidah padanya, tanda mengejek. Pemuda itu lantas menggaruk-garuk kepalanya. Rasanya tidak enak kalau tidak membantu.

Sementara itu Eunwoo memasang muka hopeless. Kalau sudah begini, selanjutnya yang akan terkena serangan kata-kata bijak Yesung adalah dirinya.

“Yaa..ya.. nanti kalau butuh bantuanku, bilang saja” kata Key kemudian.

“Gomawo, maaf kalau jadi merepotkanmu” jawab Yesung sembari membuka kulkas. Ia lalu memindahkan satu persatu sayuran dan buah-buahan yang tadi dibawanya dalam paper bag.

“Oppa membawa bahan-bahan sebanyak ini, memangnya kita akan memasak apa?” Tanya Eunmin. Ia berjongkok di samping tunangannya dan membantunya.

Yesung menoleh, “ Molla yo” jawabnya sambil tersenyum.

Gerakan Eunmin terhenti. Ia nyengir. Lalu dengan putus asa memandang kulkasnya yang kini penuh dengan sayur dan buah. Otaknya berputar memikirkan cara menghabiskan bahan makanan yang segini banyaknya. Apalagi untuk seseorang yang tidak bisa memasak seperti dirinya, sayur dan buah itu hanya akan berakhir tragis serta menggenaskan membusuk lalu dibuang.

“Go..gomawo yo” kata Eunmin sambil tersenyum terpaksa.

“Ne” jawab Yesung singkat sambil meneruskan pekerjaannya.

“Woaa.. daebak! Seorang great star seperti hyung mau pergi ke pasar demi tunangannya! Ckckck” komentar Eunwoo.

Yesung berdiri dan menutup kulkas.

“Aniyo”

Ia berjalan ke arah meja makan dan meneguk jus yang telah disiapkan Eunmin.

“Aku menyuruh Joongjin membeli semuanya”

Eunwoo dan Key menganga mendengarnya. Eunmin hanya berdiri dan melemparkan senyum manis penuh kemenangan, seakan berkata ‘Kalian tidak bisa menang melawan tunanganku’

Detik itu juga, Eunwoo sadar bahwa Yesung jauh lebih evil dibanding dirinya. Ia lalu merasa kehidupannya akan berbalik 180 derajat saat Noona-nya menikah dengan Yesung. Sepertinya ia sudah digariskan untuk menjadi target bullying mereka berdua.

“Eunwoo ah” panggil Yesung. Eunwoo tergagap mendengarnya.

“ne.. ww.. wae hyung?”

Yesung menatap calon adik iparnya itu dan tersenyum dengan aura calon kakak ipar yang bijaksana, “Kalau kau tidak lelah dan tidak sibuk, bantu kami ya? Jika Eunmin berhasil membuat masakan yang enak untuk Haramoni nanti, kurasa itu juga berkat bantuanmu. Dan dia pasti akan sangat berterima kasih padamu”

Eunwoo menelan ludahnya. Masih dengan tatapan kosongnya, ia menjawab “Nee.. dengan senang hati, hyung”

Dan sekali lagi Eunmin tersenyum penuh kemenangan pada adiknya. Kali ini dit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s