[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 5 (FINAL) –


Casts :

  1. MBLAQ Member
  2. Yang Seungmi as Seungho’s younger sister (imaginer)
  3. Infinite Hoya as Seungmi’s Schoolmate
  4. Another imaginer casts

Seungmi berdiri di beranda kamarnya. Terpekur. Tangannya memegang pinggiran pagar beranda. Ia mengatur napasnya. Membuang pandangannya jauh ke depan. Menatap derai air hujan yang tampaknya masih enggan berhenti. Ia menarik menghirup udara dalam-dalam, memenuhi rongga dadanya dengan harum tanah basah. Berharap kesegarannya mampu sejukkan hatinya. 

Seungmi menghembuskan napasnya keras.

Kesal.

Baginya, sikap Seungho keterlaluan. Menyebalkan. Ia bukan anak TK yang harus selalu dituntun. Umurnya menjelang 19, ia tahu apa yang tidak boleh dilakukannya. Appa dan Eommanya sudah banyak mengajarinya tentang nilai-nilai luhur. Ia tidak mengerti, mengapa Oppa berlaku seperti itu. Cinta? Huh! Kalau seperti itu harusnya Seungho banyak waktu untuknya. Harusnya dia tidak pernah membiarkan Seungmi makan malam sendirian dan menghabiskan berhari-hari sendiri di rumah. Terbukti, dalam tiga bulan terakhir, ia hampir tidak pernah pulang. Sibuk.

Seungmi sudah mencoba dewasa, memahami hal itu sebagai tuntutan pekerjaan Oppanya. Ia mulai tidak pernah merengek dan mengeluh.  Sebaliknya, ia berharap Seungho juga akan memahami dirinya, membiarkannya hidup dengan bebas. Tidak terkekang. Ia ingin mengenal banyak orang, memiliki banyak pengalaman. Ia ingin bebas berteman dengan siapa saja, meski untuk menjadi dekat tentu hanya dengan orang tertentu. Seperti Hoya

Seungmi tersentak. Ia sadar telah melupakan pemuda itu sejenak. Mendadak ia menjadi cemas. Hatinya dipenuhi berbagai pertanyaan, dimana dia sekarang? Kedinginankah? Apakah dia baik-baik saja? Bergegas ia mengambil Hp-nya.

From : Hoya

      Aku pulang dulu ya ^^

Selamat istirahat, ini kukirimkan satu lagi temanku

     

Ia tertegun. Seketika sugumpal sesal memenuhi perasaannya. Andai saja ia tidak meng-iya-kan ajakan Hoya untuk pulang bersama, Hoya tak perlu menemaninya menunggu Seungho. Pemuda itu tak perlu pula berhujan-hujanan. Dan tak perlu dimarahi Oppa-nya.

Seungmi merasa bersalah. Padahal pemuda itu Hoya sudah terlalu baik padanya selama ini. Ia ingin meminta maaf, tapi tak tahu apa yang harus dikatakannya. Dihapusnya berkali-kali serentetan kata yang sudah disusunnya untuk membalas email Hoya. Ia menggigit bibirnya. Bingung.

To : Hoya

      Mianhae

      Singkat. Ia tidak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Seungmi berbaring di tempat tidur. Matanya tertutup, tapi tak sedetik pun ia dapat tertidur. Ia berharap-harap cemas menunggu balasan dari Hoya. Ia mempersiapkan diri untuk menerima seburuk apapun kata-kata. Toh, semuanya terjadi juga karena dirinya.

Hp-nya bergetar.

From : Hoya

      Mianhae

****

      Seungho mengusap wajahnya. Ia tampak sangat lelah. Sudah tengah malam, tetapi ia tidak dapat tidur. Pikirannya penuh dengan kejadian barusan. Mereka, ia dan Seungmi, tidak pernah bertengkar sehebat ini. Apalagi sampai Seungmi membentaknya.

Perih.

Atau apapun namanya, ia tidak pernah merasa seperti ini. Seperti ada yang sesak. Apa ia salah jika mengatur pergaulan adiknya demi keselamatan Seungmi sendiri? Kenapa seungmi harus semarah ini, bukankah selama ini ia sudah menunjukkan cinta yang begitu besar? Bukankah dengan menjaga adiknya ia juga sudah memperlihatkan betapa cintanya ia terhadap gadis itu.

Sembari berbaring, Seungho menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali kepada suatu waktu, ketika peri mungil itu hadir memasuki kehidupannya.

*****

      Ting.. ting.. ting…

      Denting piano mengalun merdu dari sebuah rumah sudut kota Seoul. Seungho kecil tampak asik memencet tuts-tuts hitam putih sehingga menimbulkan sebuah harmoni yang sangat indah. Sebuah lagu selesai dimainkannya. Kaki-kaki mungilnya berlari menuju ruang tamu. Ia melongok jendela. Tak berapa lama, ia kembali duduk di hadapan piano hitamnya.

      Itu adalah lagu kedua yang ia mainkan. Namun Appa yang ia tunggu tak kunjung datang. Katanya, Appa sedang menjemput Eomma dan adiknya di rumah sakit.

      Kata Appa hari ini ia akan memiliki seorang adik.

      Seungho tidak tahu adik itu seperti apa.

      “ Adik itu orang yang bisa kau ajak bermain bola”

      “ Adik selalu meminta bonekaku”

      “ Kau bisa menggandeng tangannya setiap pulang dan berangkat sekolah”

      “ Adik itu makhluk kecil menyebalkan yang setiap malam tidak pernah berhenti menangis”

      Begitu kata teman-teman sekolahnya.

      Suara kalkson mobil membuyarkan lamunannya. Ia membuka gerbang. Eomma keluar dengan menggendong seorang bayi yang mungil. Mata Seungho tak bisa lepas menatap adiknya yang tampak tidur dengan tenang dalam balutan selimut.

      “hari ini kau menjadi seorang kakak” kata Ayah saat mereka tengah duduk di ruang tamu. Seungho masih menatap adiknya. Dimatanya, bayi itu tampat seperti peri kecil yang lucu.

      “ Kenapa dia kecil sekali? Apa dia bisa kuajak bermain piano? Apa dia bisa kuajak berlatih tae kwon do?”Seungho memburu kedua orang tuanya dengan banyak pertanyaan. Eomma tersenyum.

      “ Nanti kalau dia sudah besar, dia akan menjadi anak yang sangat cantik. Kau bisa mengajarinya bermain piano dan tae kwon do”

      Seungho tersenyum, ia kembali menatap adiknya, “ Seungmi ah, ini aku, Oppa mu. Nanti kalau kau sudah bisa bicara, panggil aku Seungho Oppa ya?”

*****

Drrt… drrt… drrt…

Getar Hp membangunkan Seungho dari tidur lelapnya. Tangannya meraba-raba mencari benda putih itu.

G.O Calling…

      “Yoboseo?” jawabnya dengan suara mengantuk.

“ Yak.. aku di depan rumahmu. Kubel berkali-kali tidak ada yang membuka pintu”

“Hmm”

Pemuda itu melangkah turun dengan mata yang setengah tertutup. Tidur semalam terasa sebentar sekali. Ia masih ingin terlelap.

Seungho menoleh ke arah kamar Seungmi yang tertutup. Lampu kamarnya masih belum menyala saat ia melintas, tanda bahwa gadis itu belum bangun.

Tumben batinnya

Ia lalu membukakan gerbang untuk G.O. Pemuda itu lalu memasukkan motor Hyosung sport-nya ke garasi rumah Seungho.

“ mana Seungmi? Biasanya jam segini dia sudah bangun” Tanya G.O.

Seungho berbaring di sofa ruang keluarga, “ Molla” ia memejamkan matanya.

G.O menuju meja makan. Tidak ada makanan yang tersedia menandakan Seungmi memang belum bangun. Ia lalu menoleh ke arah Seungho yang setengah terlelap.

“ Apa kalian jalan-jalan semalam?”

Seungho membuka matanya. Ia lalu bangun dan duduk “ani..”

G.O menatap heran, “ Ada.. masalah ya?” tanyanya hati-hati.

“Hmm” seungho beranjak menuju kitchen set, mengambil sebungkus roti tawar dan selai cokelat. Ia menyalakan dispenser, memanaskan air.

“Apa aku terlihat seperti seseorang yang mempunyai masalah?” ia mengoleskan selai ke atas roti. “Mau?”

G.O mengambil selembar. Ia mulai mengunyah. Ia yakin terjadi sesuatu dengan Seungmi, atau lebih tepatnya, ada sesuatu antara Seungho dan Seungmi. Persahabatannya dengan Seungho sejak SMA membuatnya tahu apa yang dirasakan pemuda itu hanya dengan melihat gerak-geriknya. Seungho selalu menjawab dengan ‘hmm’ atau ‘oya?’ ‘begitukah?’ saat ditanya apa masalahnya.

Terdengar suara langkah menuruni tangga. G.O melongok, tampak Seungmi sudah siap berangkat ke kampus. Sementara itu, Seungho asyik mengunyak sarapannya. Sama sekali tidak menoleh.

“ Seungmi ah, annyeong!” sapanya. Seungmi menoleh, lalu tersenyum.

“ Annyeong oppa” gadis itu menuju rak piring. Ia mengambil botol minumannya, dan mengisinya dengan air putih. Setelah memastikannya tertutup rapat, ia memasukkan benda berwarna biru itu ke dalam tas kremnya.

“ Aku berangkat” ia tersenyum kearah G.O

“Hati-hati” G.O melambaikan tangannya.

Seungho melirik sekilas, memastikan adiknya sudah benar-benar berangkat. Lalu menyibukkan diri dengan menyeduh teh hangat di dalam teko keramik. Ia menaruhnya di atas meja, kemudian menuangkannya ke dalam dua buah mug. Ia meletakkan satu di hadapan G.O.

Seungho menyeruputnya perlahan, “aku bertengkar dengan Seungmi” katanya kemudian.

G.O yang baru hendak meminum tehnya, sontak meletakkan kembali mug yang dipegangnya di meja. Selama ia mengenal Seungho, tidak pernah ia mendengar pemuda itu bertengkar dengan adiknya. Kalau menurut pendapatnya, mereka berdua adalah pasangan kakak-adik paling akur sedunia.

“wae?”

Seungho menghembuskan napasnya berat. Ia menatap air teh kecoklatan dalam mugnya. Keruh. Seperti pikirannya.

“ Dia punya namjachingu, dan aku tidak setuju. Aku ingin menasehatinya, tapi kami malah bertengkar”

“lalu dia mendiamkanmu?”

“Dan aku juga mendiamkannya”

“MWO???” G.O merasa inilah sifat ter-kanak-kanakan Seungho selama ia mengenalnya.

“ aku kesal. Aku tidak pernah melarangnya apapun. Aku hanya ingin dia berhati-hati dengan pergaulan. Kau tahu kan bagaimana bebasnya remaja sekarang? Apalagi dia baru saja lulus SMA. Apa jadinya kalau dia sampai rusak? “ Mendadak Seungho menjadi emosi. Ia mengusap wajahnya keras. Kesal. Kesal. Kesal sekali. Sebenarnya apa yang salah pada sikapnya? Ia hanya menasehati adiknya, hanya melakukan kewajibannya sebagai kakak. Apa yang salah? kenapa Seungmi harus marah padanya? Bukan kah seharusnya gadis itu berterima kasih?

G.O tersenyum. Di antara mereka berlima, memang hanya Seungho yang anak sulung, selebihnya adalah anak bungsu. Ia tahu bagaimana Seungho sangat protektif terhadap adiknya.

“ aku mengerti bagaimana cemasnya kau dengan Seungmi. Kalau boleh ku beri saran, mungkin kau harus mengatakan apa maksudmu sebenarnya, apa alasan kau melarang Seungmi berpacaran”

Seungho bungkam. Ia mengaduk-aduk tehnya.

“ Kurasa ideku yang lebih masuk akal dibanding ketiga no brain namja itu”

Seungho tertawa, “ Memang. Ah, jangan beri tahu yang lain. Terutama Miru”

“ jangan khawatir. Hahahaha”

“ Hmm… baiklah, kalau begitu aku juga akan bungkam”

G.O dan Seungho terkejut, mereka berpandangan dan menoleh ke sumber suara : sofa ruang keluarga. Dan mendapati makhluk bernama Miru sedang berbaring santai di sana.

*****

      Seungmi duduk tegang di bangku bus. Kendaraan roda empat ini membawanya semakin dekat menuju halte tempat mereka biasa bertemu. Sepanjang perjalanan ia berharap tidak bertemu Hoya hari ini. Ia tak tahu harus menampakkan wajah seperti apa. Ia juga tidak siap menerima apa yang akan Hoya katakan.

Seandainya bisa, Seungmi sangat ingin berdiam diri di rumah. Atau menghilang saja kalau perlu. Berpergian seperti ini membuatnya merasa dihantui. Namun kenyataan tidak berpihak padanya, hari ini ia ada tugas presentasi penting. Mau tak mau ia harus masuk kuliah.

Bus kemudian berhenti di halte setelah pertigaan. Seungmi harus turun dan mengganti bus di halte setelah tikungan ke kanan. Gadis itu merasa tubuhnya kaku untuk turun.

Semoga dia tidak ada. Semoga. Kumohon…

      Langkahnya semakin mendekati halte roti, begitu mereka menyebutnya sebab halte itu tepat di hadapan sebuah toko roti. Seungmi menundukkan wajahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia membayangkan hal yang tidak-tidak mengenai sikap Hoya jika mereka bertemu.

“Kurasa kita sudah tidak bisa bersama”

      Entah mengapa pikiran itu muncul. Seungmi memejamkan matanya. Tidak berani membayangkan lebih lanjut. Omona! Apa mungkin separah itu? Apa Hoya setega itu?

Ia tiba di halte. Dan mendapati sepasang kaki telah berada di sana. Ia memperhatikan sepatunya. Gadis itu bernapas lega karena bukan sepatu yang biasa di pakai Hoya. Perlahan, Seungmi mengangkat wajahnya. Ia menoleh. Seorang siswa SMA berkacamata.

Lega

Ia lalu mengarahkan pandangannya ke arah datangnya bus. Tidak berminat memperhatikan orang di sampingnya.

Bus datang. Ia segera naik, takut tidak mendapatkan tempat duduk. Bus tidak segera berjalan, mungkin masih ada yang sedang menuju halte. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Seseorang naik dan duduk di sebelahnya

“Hoya?”

Pemuda itu menoleh. Tersenyum. Senyum khas Hoya yang menurut Seungmi hanya pemuda itu yang bisa melakukannya. “annyeong” sapanya.

Seungmi kehabisan kata-kata. Ia hanya menatap Hoya dengan syok. Entah ini takdir atau bukan, ia tak tahu. Kemudian baru diingatnya jika sekarang adalah hari rabu, dimana mereka sering berangkat bersama.

Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya, menatap sepatunya. Ia sebenarnya tidak punya keberanian bertemu pemuda itu setelah kejadian yang kemarin. Tapi kalau tidak minta maaf, ia akan diliputi perasaan bersalah selamanya.

Seungmi tanpa sadar mengetuk-ketukkan telunjuknya ke lututnya, tanda ia sedang gelisah. Hoya hanya memperhatikan dengan diam.

Seungmi menarik napas panjang, “ Hoya, mianhae” katanya kemudian. Masih dengan wajah tertunduk.

“Kau sudah mengatakannya kemarin”

“ habisnya kau tidak membalasnya. Jadi.. ya pokoknya aku minta maaf”

Hoya hanya diam. Sejujurnya ia juga ingin mengatakan banyak hal. Ia menunggu Seungmi selesai mengatakan semuanya. Namun kenyataannya gadis itu memilih untuk bisu. Menunduk dengan jari telunjuk mengetuk-ketuk lututnya. Mungkin resah. Mungkin juga ingin mengatakan sesuatu.

Seungmi melirik Hoya dengan sudut matanya. Menebak apa yang dipikirkan pemuda itu dibalik sikap diamnya. Ia menunggu apa yang akan dikatakan Hoya. Meski, apa yang ingin dikatakannya sendiri belum sepenuhnya ia ungkapkan. Mendadak ia tak bisa merangkai kata-kata.

“ Kau tidak mau mengatakan sesuatu?” Tanya Seungmi kemudian.

Hoya menoleh kembali, “ tentang?”

Gadis itu menarik napas. Ia jadi gemas sendiri.

“ kau tidak membalas emailku! Aku kan jadi tidak tahu kau marah atau tidak. Setidaknya kau katakan sesuatu”

“ Aku sudah membalasnya”

Seungmi menoleh capat, menatap Hoya “ aku tidak mengerti maksud emailmu”

“ Aku minta maaf”

Seungmi terdiam seketika. Ia kembali menunduk. Maaf katanya? Apa tidak salah? Seungmi benar-benar tidak bisa mengerti pikiran pemuda itu.

“ kenapa kau minta maaf? Kan aku yang salah. Kalau aku tidak memintamu menungguku, kau tidak akan dimarahi Oppa. Aku.. minta maaf”

Hoya bisa membaca rasa bersalah tergambar jelas di raut wajah Seungmi. Sejujurnya ia tidak mempermasalahkan sikap Seungho kemarin. Ia justru memikirkan gadis itu. Ia yakin sesuatu telah terjadi antara Seungmi dan Seungho. Mereka, menurut pengamatannya pada ekspresi Seungmi hari ini, mungkin bertengkar.

“ Gwenchana. Seungho Hyung tidak memarahiku, dia hanya menyuruhku pulang”

Toh Hoya tidak bohong. Secara tidak langsung Seungho memang menyuruh pemuda itu untuk pulang. Namun Seungmi tahu, Hoya hanya berusaha menenangkan dirinya. Seungmi jelas-jelas menangkap ekspresi marah Oppa-nya.

“  Bohong. Oppa jelas-jelas terlihat marah”

Hoya tersenyum, “ Kalaupun memang marah, bagiku tak masalah. Justru aku mengkhawatirkan kalian. Mianhae, kau jadi bertengkar dengan Hyung karena aku”

Seungmi kembali bisu. Hingga bus berhenti di halte kampus. Mereka berjalan beriringan. Seperti biasa. Hanya saja tanpa cerita. Sibuk berdialog dengan hati masing-masing. Takut, jika memilih untuk berbicara, akan mengubah segala yang telah mereka jalani selama ini. Begitu pikir Seungmi.

Mungkin saja kesabaran Hoya sudah habis menghadapinya. Mungkin saja Hoya sedang menyiapkan kata-kata terbaik untuk mengakhiri hubungan mereka, untuk mencegahnya sakit hati.

“ Hoya” panggil Seungmi. Suaranya terdengar bergetar.

“ Wae?” tanyanya.

“ Hmm.. Kau… ah, aniyo. Lupakan” Seungmi menghela napas, pada akhirnya ia memang tidak bisa mengatakannya.

“ Aku tidak ingin kita berakhir karena masalah kemarin” kata Hoya kemudian. Berhasil membuat Seungmi terperangah.

Hoya membalasnya dengan senyuman khas miliknya, “ Apa kau lupa bagaimana aku waktu SMA? Kalau hanya dengan Seungho Hyung kemarin, tidak akan berhasil membuatku menyerah” Ia mencoba menenangkan gadis itu. Meski ia tak bisa membohongi dirinya bahwa perasaan takut bertemu Seungho Hyung benar-benar merasukinya hingga ke sum-sum tulang.

Perlahan, senyum merekah di bibir Seungmi. Benar, ia seperti tidak tahu siapa Hoya. Mr. Poker face. Ia tentu juga tak lupa dengan bagaimana pemuda itu saat SMA. Mengingatnya, mau tak mau Seungmi tertawa.

“ Wae yo? Kenapa tertawa?” kali ini giliran Hoya yang bingung.

“ Ani.. aku hanya ingat bagaimana ekspresi datarmu saat Jang Sesangnim memarahimu di hadapan satu kelas karena kau mengecat rambutmu menjadi warna cokelat”

“ Oo waktu itu! Aku hanya tidak mengerti mengapa Jang Sesangnim memarahiku habis-habisan. Sedangkan siswa kelas D yang mengecat rambutnya warna merah itu hanya ditegur satu kali”

Seungmi memegangi perutnya yang sakit karena tertawa, “ Terang saja kalau guru-guru menjadi terkejut saat itu. Kau kan selalu dianggap sebagai siswa yang rajin dan penurut. Apalagi dengan kacamata setebal alas botolmu itu”

“ Heee? Kau mengejekku?”

“ Ani.. annyeong!” Seungmi melenggang dengan cepat berbelok ke arah kanan, menuju fakultasnya.

Hoya memandangi gadis itu dengan tersenyum, sembari membalas lambaian tangannya. Ia yakin masih ada yang ingin disampaikan Seungmi. Namun ia tak ingin memaksa gadis itu bicara, jika sudah dirasakan tepat Seungmi pasti dengan sendirinya bercerita padanya.

*****

      “lalu menurutmu aku harus bagaimana?” Tanya Seungho pada G.O yang menyetir di sebelahnya. Motor Hyosung Sport pemuda itu sengaja ditinggal di rumah Seungho.

“ Ya.. itu tadi. Kau harus memberi pengertian padanya”

“ Bukan itu. Maksudku, apa aku harus melarangnya atau membiarkannya bersama bad boy itu?”

G.O tampak berpikir.

“ Hyung, hati-hati loh.. bad boy tidak bermakna buruk. Menurut buku yang pernah kubaca, bad boy dalam arti sebenarnya adalah mereka yang berani menyuarakan ide dan gagasan mereka. Terkadang memang tampak nakal, sebab mereka tidak puas dengan kondisi yang selama ini ada. Begitu” kata G.O kemudian

“ aku salah satunya” timpal Miru yang duduk di belakang.

Seungho melengos mendengarnya. Mengapa juga makhluk satu itu bisa berada di rumahnya. Menambah rusak mood-nya di awal hari memulai kesibukan kantor yang lama-lama terasa memuakkan. Ia hanya memilih bungkam.

“ Mungkin Seungmi hanya merasa kesepian. Sejak SMA kan dia hanya tinggal berdua denganmu. Ditambah lagi kau sibuk bekerja. Dia mungkin menemukan teman yang tepat untuk berbagi. Kalau boleh kusarankan, sebaiknya kau selidiki saja tentang namjachingu-nya seungmi” kata G.O lagi.

Seungho mengangguk-angguk. Benar juga, pikirnya. Mungkin ia kemarin hanya terlalu emosi. Sampai-sampai ia tidak mengucapkan maaf telah membuat Seungmi menunggunya bergitu lama.

“ Lee Howon. Busan, 28 maret, 178 cm, golongan darah AB. Panggilannya Hoya. Orangnya sedikit pendiam dan serius. Anak kedua dari tiga bersaudara dengan satu noona dan satu adik laki-laki. Jurusan informasi dan komunikasi Hanyang University. Teman sekelas Seungmi selama SMA. Mereka dekat sejak naik kelas 3 hingga sekarang. Cukup ahli dalam Tae kwon Do dan dance. Dia tergabung dalam klub dancer bernama Infinite dan sudah sering tampil pada acara-acara dalam kota. Orangtuanya punya café pribadi. Dulu dia sering membantu disana, tapi sekarang mulai bekerja part time  di pom bensin”

Baik Seungho dan G.O sama-sama terperangah mendengar penjelasan Miru yang tiba-tiba. Mereka berpandangan. Terkejut, mengapa Miru bisa bertindak seperti itu. Bingung, darimana anak itu mendapatkan informasi yang sebegitu detailnya. Sementara, pemuda berambut pirang itu hanya cengar-cengir sambil mengunyah permen karet.

“ Apa Hyung mau nomor Hp dan alamat emailnya juga? Atau alamat rumah? “ Tanya Miru lagi.

Seungho, masih dengan keterkejutannya, menjawab, “ A.. ani.. gomawo, itu sudah cukup. Darimana kau mendapatkannya? Aku curiga kau ini benar-benar stalker

Miru mengibas-kibaskan tangannya, “ ckck.. Jangseon man selalu punya cara. Lebih dari itu, apa Hyung sudah merasa yakin dengan anak itu? Sudah siap melepas Seungmi padanya?”

“Aku juga punya cara” katanya pelan.

G.O menoleh menatap Seungho. Mendadak perasaannya tidak enak. Jika sudah menyangkut adiknya, Seungho tidak pernah main-main.

“ Kuharap kali ini kau tidak akan melakukan hal yang sama saat SMA dulu”

Seungho tersenyum simpul, “ Kali ini berbeda”

*****

      “ Kita kemana?” Tanya G.O sambil berlari mengejar Seungho.

      “ Gudang tua bekas pabrik meubel” jawab pemuda itu singkat. Raut wajahnya tampak sangat khawatir. Seungmi tidak ada di sekolahnya saat ia menjemput. Memang ia datang terlambat dari biasanya, tapi Seungho sudah menyuruh adiknya menunggu di ruang guru. Namun kata gurunya, anak itu sudah lama pulang. Seungho takut terjadi sesatu pada adiknya di tengah jalan. Benar saja, tak lama berselang seseorang mengirim email padanya dan mengatakan Seungmi ada bersama orang itu.

      Mereka berlari kembali ke sekolah mereka. Di belakang gedung sekolah ada sebuah gedung bekas pabrik meubel. Mereka masuk melalui pintu belakang yang langsung terhubung ke halaman pabrik itu. Bagunannya tampak gelap dan bobrok.

      “ Kau tunggu disini, aku akan masuk. Jika 10 menit aku tidak kembali, cari bantuan” kata Seungho.

      “ yak..” tidak sempat G.O mencegah, Seungho sudah berlari masuk ke dalam bangunan itu. Ia hanya berdiri mematung.

      Sementara itu, Seungho melangkah hati-hati begitu tiba di pintu depan. Ia membuka pintu perlahan, debu dan sarang laba-laba tampak dimana-mana. Juga tumpukan kayu yang dimakan rayap. Ia mendapati beberapa orang berdiri di lantai dasar gedung tua itu. Mereka adalah teman sekolahnya.

      “ kau datang juga?” Tanya salah satu dari mereka. Sinis.

      “ Mana adikku?” Seungho tak mengubrisnya.

      Seorang pemuda berambut cepak mengarahkan pandangannya pada sebuah ruangan di sudut yang dijaga seseorang, “ Kau pikir bisa dengan mudah mendapatkannya?”

      Seungho sudah tidak bisa menahan amarahnya. Ia bisa terima apapun perlakuan buruk orang terhadap dirinya, tapi tidak untuk adiknya.

      Ia mendorong pemuda berambut cepak itu hingga terjatuh. Tidak terima, yang lainnya mulai menyerang bersamaan. Bukan masalah bagi Seungho. Sepuluh tahun menggeluti Tae Kwon Do membuat serangan tak berteknik seperti itu tidak ada apa-apanya bagi dirinya.

      Tak butuh waktu lama melumpuhkan mereka semua. Namun tanpa disadarinya, orang yang menjaga ruangan di sudut tadi menyerangnya dengan sebuah balok kayu dari belakang. Seungho dapat menghindarinya walu sedikit terkejut. Dengan sebuah tendangan di perut, orang itu terkapar dengan terbatuk-batuk. Seungho segera berlari menuju ruangan itu. Ia membuka pintunya, tampak olehnya Seungmi dalam kondisi terikat pada kursi dengan mulut tertutup kain.

      Tergesa, Seungho melepaskan ikatan pada tubuh adiknya.

      “ oppa…” tangis Seungmi pecah dan menghambur ke pelukannya. Pemuda itu mengelus-elus kepala adiknya.

      “ Gwenchana.. gwenchana. Oppa disini. Sekarang sudah aman”

      “ aku takut..”

      Seungho mengeratkan pelukannya. Ia tak bisa menahan air matanya, ia sangat takut terjadi hal yang tidak-tidak pada Seungmi akibat kelalaiannya. Entah apa yang akan dikatakan Appanya jika tahu tentang hal ini.

      Seungho mengahapus airmatanya sebelum terlihat oleh Seungmi. Ia melepaskan pelukannya.

      “ Ayo pulang. Sudah sore. Kau pasti lapar”

      Seungmi mengangguk. Tepat saat itu, G.O masuk.

      “ seungmi baik-baik saja?” tanyanya dengan cemas.

      “gwenchana”

*****

      Seungho tidak mungkin lupa dengan peristiwa beberapa tahun lalu saat ia masih SMA. Beberapa teman-temannya dari kelas lain melakukan balas dendam padanya dengan menculik Seungmi karena ia mengalahkan perwakilan mereka dalam pemilihan ketua organisasi siswa. Mungkin karena peristiwa itulah ia bersikap overprotective terhadap adiknya. Perasaan takut yang sama selalu menghantuinya.

Sementara itu, G.O memperhatikan sahabatnya. Ia khawatir Seungho akan melakukan hal yang sama pada anak bernama Hoya itu. Ia merasa harus ikut mengawasinya.

“ Aku tidak akan berkelahi” kata Seungho.

G.O tersenyum kaku.

*****

      From : Hoya

      Langit hari ini cerah sekali. Birunya indah.

      Aku tidak ada kuliah. Duduk-duduk di taman tengah bersama?

 

      Seungmi memasukkan Hp-nya ke dalam tas. Kuliahnya sudah selesai. Lebih cepat dari hari biasanya. Ia melangkah keluar kelas.

“ Selamat siang tuan putri Seungmi”

Seungmi berhenti. Baru beberapa langkah dari pintu kelasnya. Ia berbalik dan mendapati Hoya berdiri bersandar pada dinding koridor sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

“ sejak kapan tuan filsuf langit bisa berteleportasi?”

Hoya nyengir dan menjajari langkah Seungmi. Mereka menuju taman yang terletak di tengah-tengah kompleks universitas mereka. Tak begitu jauh dari gedung fakultas Seungmi.

Taman itu luas dengan sebuah danau buatan di tengah-tengahnya. Tanaman berbunga indah beraneka warna tumbuh berkeliling, membentuk pagar pada taman. Puluhan pohon rindang tumbuh bertebaran, menciptakan suasana teduh dan sejuk. Di bawah beberapa pohon, terdapat meja besi dan beberapa kursi yang mengelilinya.

Hoya dan Seungmi memilih duduk di bawah pohon yang paling dekat dengan danau. Hoya menyelonjorkan kakinya.

“apa yang mau kau katakan?” Tanya Seungmi.

“Tidak ada. Aku kan tadi hanya mengajakmu duduk di taman” jawab Hoya.

Senyum Seungmi mendadak hilang. Hoya merasakan aura menyeramkan dari gadis itu. Seketika ia ingin sekali menarik perkataannya barusan.

“ kau tahu aku kesal sekali!” seru Seungmi sambil menatap Hoya tajam. Pemuda itu menelan ludah.

Mati aku

      “ Seungho Oppa benar-benar menyebalkan!!!!!!!!!!!!!” Seungmi mengambil sebuah kerikil di dekatnya dan melemparkannya ke danau. Hoya menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

“ Kau tahu, malam itu Oppa memarahiku. Lalu…..”

Seungmi bercerita tanpa henti. Ia mencurahkan seluruh kekesalan hatinya. Napasnya tidak teratur. Ia benar-benar marah sama Oppa-nya. Dan seperti biasanya, Hoya hanya menatapnya sambil mengangguk-angguk. Menyimak tanpa memotong sedikitpun.

“Intinya aku kesal sekali”

Seungmi mengakhirinya dengan melempar satu kerikil lagi. Hoya mengangguk-angguk, masih menatap gadis di sebelahnya. Suasana sejenak menjadi hening. Seungmi lalu berbalik menatapnya.

“ katakan sesuatu”

Ia tersentak, “ eh? aku pikir kau masih mau berbicara”

Seungmi menghembuskan napas, “ Hoyaaaa”

Hoya tertawa dengan tawa khasnya, “ arasseo.. arasseo. Biarkan aku berpikir sejenak” ia memegang dagunya dengan telunjuk dan jempol tangan kanannya. Berpose bak detektif-detektif dalam film.

“ Sok!”

Ia tertawa sekali lagi mendengarnya. Sementara itu Seungmi mengambil benda apa saja yang ada di dekatnya. Batu kerikil, ranting kayu, ia lemparkan sekuat-kuatnya ke danau. Sayang sekali hari ini tidak ada jadwal latihan Tae Kwon Do. Biasanya ia melampiaskan kekesalannya dengan berlatih.

“ Mungkin Seungho hyung hanya terlalu mencintaimu. Kau kan adik perempuan satu-satunya, jadi wajar kan?”

“ Tapi kan tidak perlu sampai seperti itu?”

Hoya menggaruk-garuk kepalanya. Tampaknya kekesalan Seungmi belum mereda. Gadis itu belum bisa menerima masukan.

“ Iya sih..” ia mencoba berempati.

Seungmi menyandarkan punggungnya ke pohon di belakang mereka.

“Tae Kwon Do yuk”

“ hari ini kan tidak ada jadwal”

“ Kita latihan sendiri. Memangnya tidak boleh? Aku tidak sedang ingin pulang”

Hoya terkejut, “ Wae? Kau mau kabur? Yak!”

Seungmi menatapnya datar, “ aniyo. Mana mungkin. Aku pulang kok. Lagipula kalau aku kabur, orang pertama yang akan ditemui dan dihajar Oppa adalah kau”

“ iya ya..” Hoya bergidik sendiri membayangkannya. Memang dirinya juga sudah lama berlatih Tae Kwon Do. Tapi jika dibandingkan dengan Seungho, tentu saja ia tidak ada apa-apanya.

“ Sudah, tidak usah dibayangkan. Nanti kau tidak bisa tidur nyenyak karena mimpi buruk”

*****

      Sudah tiga hari sejak ia dan Seungmi bertengkar. Namun sampai detik inipun mereka belum saling berbicara. Mengucapkan selamat pagi pun tidak. Seungho sebenarnya sudah tidak marah dengan adiknya. Tapi Seungmi sepertinya tidak demikian. Gadis itu tetap cuek meski Seungho sudah sengaja pulang sebelum malam.

Seungho tidak tahu apakah langkah yang ia pilih ini benar. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Saat ini, dari mobil hitamnya, ia tengah mengawasi seseorang dari jauh. Mengamati Hoya yang sedang menjalankan tugas part time-nya di pom bensin. Menurut informasi Miru, anak itu bekerja dari pukul tujuh Sembilan malam setiap harinya. Ia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir pukul Sembilan.

Seungho menjalankan mobilnya pelan memasuki area pom bensin. Ia mengantri di belakang mobil pickup biru. Ketika tiba gilirannya mengisi bensin, ia turun.

“ selamat malam..” Hoya tak percaya dengan pengelihatannya.

Seungho Hyung

      Mendadak perasaan takut menyelimutinya. Ia tersenyum kaku sembari membungkukkan badannya. Seungho hanya mengangguk dan menatapnya tajam.

“ Hyung, apa kabar? Mmm.. bb..berapa liter?” Tanya Hoya.

“ Full” jawab Seungho singkat.

Hoya mengisi tangki bensin hingga penuh. Seungho menyerahkan beberapa lembar won sebagai bayarannya.

“ Kutunggu kau jam sembilan, ada beberapa hal yang ingin kubicarakan” bisiknya. Hoya mengangguk pelan.

Seungho berlalu, memarkir mobilnya kembali di depan pom bensin. Hoya hanya berdiri mematung. Sebuah tepukan di pundak kanannya mengagetkannya.

“ Sekarang tugasmu sudah selesai, kau boleh pulang” Kata penanggung jawab petugas. Hoya mengangguk. Ia bergegas mengambil tasnya dan menemui Seungho yang telah menunggunya. Langkahnya terasa berat. Ia menghembuskan napas sebelum mengetuk kaca jendela mobil hitam itu.

“Fighting” ucapnya lirih.

Seungho menyuruhnya masuk. Ia duduk di sampingnya. Mereka melaju menuju suatu tempat tanpa sepatah katapun keluar. Hoya tiba-tiba berkeringat dingin. Entah karena udara yang memang dingin, atau karena orang yang menyetir di sebelahnya mengeluarkan aura menakutkan.

Mereka berhenti di sungai Han. Seungho turun dan berdiri di dekat dinding jembatan. Hoya mengikuti.

“ Bagaimana kau dengan Seungmi? Kau masih bersamanya?” Tanya Seungho. Ia menatap Hoya tajam.

“ Iya, kami masih bersama dan baik-baik saja”

“Mwo?! Kau masih bersamanya?! Setelah aku memarahimu kau masih berani bersama Seungmi??”

Seungho tidak percaya Hoya masih punya nyali bahkan setelah ia melarangnya mendekati Seungmi. Biasanya tidak ada yang berani berurusan lagi dengannya setelah ia marahi.

Hoya menggaruk-garuk tengkuknya, “ Yya.. ya.. saya pikir tidak masalah asalkan tidak pulang malam”

Seungho menghela napas. Sepertinya ia memang tidak bisa melarang mereka berdua. Ia diam sejenak, menatap jauh ke arah sungai.

“ Lalu, kenapa kau mau bersamanya? Dia itu manja, banyak maunya, tidak suka mengalah, keras kepala, suka mengatur, dan cerewet”

“ tetapi dia tidak cengeng, tidak mudah menyerah, pemberani, dan selalu berusaha mengerjakan segala sesuatunya dengan kemampuannya sendiri” jawab Hoya. Tanpa sadar ia tersenyum.

“    Jadi selama ini kau merayunya seperti itu? Dengar ya, AKU SANGAT TIDAK SUKA dengan namja tukang rayu seperti itu”

Hoya menggeleng-gelengkan kepalanya, “ saya tidak pernah merayunya “

Seungho terdiam.

“ bagiku Seungmi adalah orang yang sangat berarti. Aku bersumpah, tidak akan kubiarkan seorangpun menyakitinya seumur hidupku. Mungkin sikap overprotective ku ini terkesan menyebalkan. Namun beginilah caraku menjaganya. Aku sangat mencintainya”

Hoya tersenyum dan mengangguk. Ia membuang pandangannya jauh ke depan.

“ Kalau boleh saya cerita, saya punya seorang Noona dan eomma. Mereka adalah yeoja yang sangat berharga dalam hidup saya. Saya tidak ingin ada orang yang menyakiti mereka. Saya berjanji pada diri saya sendiri, tidak akan menyakiti yeoja lain. Karena saya tahu akn sangat tidak menyenangkan bila yeoja yang kita sayangi disakiti orang lain. Karena itu juga, saya mengerti bagaimana perasaan Hyung terhadap Seungmi” katanya.

Semilir angin bertiup lembut. Sedikit terasa dingin. Melewati dua namja yang mencintai gadis yang sama, juga dengan perasaan cinta yang sama besarnya. Hanya saja dengan cara yang berbeda.

“ Apa kau menganggap Seungmi juga sebagai orang yang penting bagimu?”

“tentu saja. Meski saya tidak tahu bagaimana dia menilai saya di hatinya. Tetapi yang jelas, bagi Seungmi, saya tidak lebih penting dari Hyung. Seungmi sering bercerita tentang Hyung dengan mata yang berbinar. Saya mengerti bagaimana dia sangat mencintai Hyung”

“ Aku tahu” jawab Seungho singkat.

Dan Seungho juga tahu, memisahkan Seungmi dengan Hoya hanya akan menyakiti hati adiknya. Dengan ini ia ingin memastikan pemuda itu bukan orang yang salah untuk adiknya. Juga meyakinkan dirinya, jika suatu saat nanti ia dan Seungmi tidak bisa tinggal bersama lagi, ada orang yang dapat dipercaya untuk menjaga adiknya.

“ Dengar ya” kata Seungho kemudian. Nada bicaranya serius. Hoya menoleh. Seungho menatapnya tepat di manik mata”

“ Cintai Seungmi setulus hatimu atau tinggalkan dia. Jika kau hanya setengah hati, kau hanya akan membuang-buang waktunya dan waktumu. Pikirkan itu baik-baik!”

Setelah mengatakannya, Seungho kembali masuk ke mobil. Meninggalkan Hoya yang termenung dengan jantung yang berdetak tak karuan, sendirian.

“ Yak, kau mau disitu sampai kapan? Hitung ketiga kau tidak masuk, kutinggal”

Teriakan Seungho menyadarkannya. Ia bergegas masuk.

*****

      From : Hoya

      Sabtu besok menonton Music Core bagaimana?

      Seungmi menatap layar Hp-nya bingung. Sungguh sebuah peristiwa langka Hoya mengajaknya menonton acara seperti live seperti itu. Meski Hoya memang aktif di club dancernya bahkan sering menjuarai perlombaan cover dance, tapi pemuda itu bukan tipe yang suka menonton perform para Hallyu stars.

Gadis itu cepat mengetik balasannya.

To : Hoya

      Jjinja? Sebenarnya aku bingung kenapa kau tiba-tiba mengajakku. Tapi kupikir bagus juga refreshing sambil melihat Exo K secara langsung

      Bertemu disana?

      Seungmi menatap kalender di meja belajarnya. Lusa adalah ulang tahunnya. Apa mungkin Hoya ingin memberi kejutan begitu cepat? Pemuda itu kan memang selalu tak terduga.

Tetapi sebuah pikiran lain melintas di benaknya. Sudah hampir seminggu ia tidak berbicara dengan Seungho. Lama-kelamaan, ia merasa tidak enak. Bagaimanapun juga, mereka bersaudara. Ia mulai berpikir, bahwa selama ini ia lah yang salah. Mendadak ia merasa sedih. Jangan-janga selama ini sikapnya telah menyakiti hati Seungho.

      Suara gerbang terbuka membuat Seungmi berjalan menuju kamarnya dan membuka jendela. Melihat ke luar. Seungho sudah pulang. Ia melihat G.O menutup pagar kembali. Sepertinya pemuda itu akan menginap. Seungmi bergegas mematikan lampunya dan berbaring di tempat tidur. Ia menarik selimutnya.

Suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kamarnya lalu terbuka. Dengan hati-hati, Seungho melangkah mendekati adiknya. Ia duduk di tepi tempat tidur Seungmi. DI elusnya kepala adik lembut.

“ Dulu kau tidak bisa tidur kalau Eomma tidak mengelus-elus kepalamu. Sayangnya aku tidak pernah bisa melakukannya selembut Eomma”

Seungmi masih belum tidur. Ia hanya memejamkan matanya.

“ Hampir seminggu kita tidak bicara. Kau tahu, itu menyiksaku. Oppa kehilangan senyum jenakamu, rengekanmu di telepon, dan celoteh manjamu”

Seungmi menahan haru yang memenuhi relung hatinya. Ditahannya kuat-kuat air mata yang mendesak keluar.

“ Selamanya kau akan menjadi peri mungil Oppa. Jaljayo” Seungho mengelus sekali lagi kepala Seungmi. Ia lalu mengecup pipi adiknya lembut sebelum beranjak keluar.

Air mata Seungmi jatuh satu persatu begitu terdengar pintu tertutup. Ia terisak dalam diam. Ia merasa telah melakukan hal yang sangat jahat terhadap Oppanya. Air matanya terus mengalir. Bahkan hingga ia terlelap

*****

      Pagi menjelang. Menyisakan beberapa tetes embun yang masih menggantung di pucuk dedaunan. Matahari bersinar sangat cerah. Musim panas telah tiba. Burung-burung berterbangan lincah sambil bersiul merdu seakan turut menyambut datangnya musim baru.

Seungmi keluar kamar. Ia mendapati Seungho dan G.O masih terlelap di sofa ruang keluarga. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Namja dimana-mana sama saja. Tukang bangun siang!

Ia beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dengan cekatan disiapkannya bahan-bahan untuk membuat nasi goring kimchi. Ia mulai memotong-motong sayuran. Tanpa sadar suara peralatan masaknya membuat Seungho terbangun. Pemuda itu memeriksa dapur. Ia menatap Seungmi yang tengah memasak. Gadis itu tak menyadarinya.

“masak apa?” Tanya Seungho. Ia mengambil segelas air dan meminumnya.

“ Nasi goring kimchi” jawab Seungmi singkat.

“Hmmm” Seungho meninggalkannya sambil bergumam. Seungmi menghela napas. Ia masih terlalu gengsi untuk memulai berbicara

*****

      Seungho dan G.O tampak serius dengan notebook masing-masing. Mereka tengah mengerjakan pekerjaan kantor. Namun sepertinya pikiran Seungho berada di tempat lain.

“G.O, boleh aku meminta tolong padamu?” tanyanya sambil terus mengetik.

G.O mengangkat wajahnya dari layar, “ Mwo?”

“ Aku akan pergi sebentar. Tolong jaga rumahku dan jaga makhluk satu itu agar tidak mengikutiku”

G.O menolehkan kepalanya ke arah Miru yang tengah asik berbaring sambil membaca komik.

“Arasseo”

“Aku akan kembali sebelum sore”

Seungho lalu beranjak ke kamarnya untuk bersiap. Miru menutup komiknya dan duduk.

“ Kali ini aku tidak berani menebak apa yang akan dilakukan Seungho jika kau mengikutinya” ancam G.O. Miru hanya melengos. Ia kembali membaca komik.

Seungho keluar.

“ Pinjam motormu, ya” pintanya pada G.O. Pemuda itu langsung memberikan kuncinya pada Seungho. Tak lama kemudian, Hyosung sport hitam itu melaju meninggalkan rumah. Tak lama setelahnya, Joon dan Cheondoong datang.

“ Seungho Hyung kemana? Sepertinya terburu-buru” kata Joon.

“sepertinya urusan penting. Apa dia sudah punya yeojachingu?” timpal cheondoong.

G.O menggeleng-gelengkan kepalanya, “ aniyo. Besok kan ulang tahun Seungmi. Mungkin dia ingin menyiapkan sesuatu”

Keduanya hanya mengangguk.

“ Aku punya komik baru, Hyung berdua mau membacanya?” tawar Miru. Sebuah bantal kursi melayang tepat mengenai mukanya.

“Kerjakan tugasmu!” G.O kembali mengancam dengan sebuah bantal lagi di tangan kanannya. Siap melemparkannya ke arah pemuda asal Jangseon itu.

*****

      Suasana sudah sangat ramai ketika Seungmi dan Hoya tiba di area penonton Music Core. Sebentar lagi acara di mulai. Mereka berdesakan dengan puluhan lebih fans-fans dari hallyu star yang akan perform nantinya.

“Tumben kau mengajakku kesini?” Tanya Seungmi dengan suara ekstra untuk mengimbangi teriakan para penonton.

“Hanya penasaran saja. Kau tidak suka”

Seungmi menggeleng sambil tersenyum, “ aniyo. Aku senang. Ini pertama kalinya aku menonton berdesakan seperti ini”

“Ini nomor kursi gayo daejun-mu”

      “Ini nomor duduk kan? Gomawo Oppa. Sebenarnya aku berdiri pun tak apa”

      “Andwae. Berdesak-desakan seperti itu berbahaya”

      Mendadak bayangan Seungho terlintas di kepalanya. Ia ingat Oppa-nya tidak pernah membiarkannya menonton konser berdesakan seperti ini. Pasti selalu dicarikan tempat duduk.

“Wae?” Tanya Hoya.

Seungmi menggeleng.

Mereka kemudian terlarut dalam keramaian Music Core. Berbagai artis tampil secara bergantian. Seungmi menahan napasnya saat giliran Exo K tampil. Ia tak percaya bisa melihat mereka sedekat ini.

“ Chanyeol..” serunya tertahan. Hoya melihatnya sambil tersenyum.

“ Johae?”

Seungmi mengangguk, “ gomawo”

“Sebenarnya apa yang bagus sih dari acara ini? “ gerutu Hoya.

Seungmi tertegun mendengarnya.

“Sebenarnya apa yang bagus dari acara ini?”

      “ya pokoknya bagus. Oppa juga suka kan, karena bisa melihat girl group yang cantik-cantik”

      Lagi. Wajah Seungho terbayang. Meski Seungho tidak pernah suka menonton acara seperti ini, tetapi Oppa-nya tidak pernah lupa menemani dirinya menontonnya. Ia selalu dibawa pada acara-acara konser yang di-organizing  Seungho.

Seungmi menunduk. Ia sadar betapa selama ini Seungho terlalu baik padanya. Hoya benar. Seungho hanya terlalu mencintainya sebagai adik. Ia tiba-tiba ingin cepat pulang. Ia ingin meminta maaf pada Oppa-nya.

“Hoya.. Bagaimana kalau kita melihat langit saja?” ajak Seungmi. Hoya mengangguk mengiyakan. Mereka keluar gedung.

Diluar langit sudah agak gelap. Mereka berjalan kaki beriringan. Seungmi menikmati perpaduan merah dan biru pada cakrawala. Angin senja meniup pelan rambutnya.

“Hoya”

“Wae?”

Gadis itu menerawang, “ Menurutmu aku jahat ya?”

Hoya menggeleng, “ Ani”

Seungmi menghela napasnya. Ia tahu ia sudah sangat jahat pada Seungho. Terutama ketika ia membentak Oppa-nya itu. Padahal selama ini Seungho sudah teramat sayang padanya. Memberikan semua yang ia inginkan, menjaganya, bahkan menyempatkan waktu untuk menengoknya saat ia tidur.

Oppa…

Mereka berjalan dalam diam. Lagi, segumpal sesal memenuhi hati Seungmi. Ya, penyesalan selalu datang belakangan. Setelah semuanya terjadi begitu saja. Andai bisa, ingin rasanya Seungmi mengulang  waktu. Kembali pada malam itu, dan ia berjanji tidak akan bersikap kasar pada Seungho.

“Eotteokajyo?”

“Apanya?” Hoya bertanya balik.

Seungmi menunduk, “ Aku merasa sudah jahat pada Oppa. Aku yakin Oppa kecewa dengan sikapku. Aku mendiamkannya, padahal seminggu ini Oppa sudah pulang lebih awal. Selama ini aku mengeluh karena kami jarang bersama. Sekarang ketika sudah sering bertemu, malah tidak berbicara. Huff… aku harus bagaimana?”

Hoya terdiam. Masih menyimak. Seungmi lalu berbalik menatapnya dengan lesu.

“Aku sudah selesai bicara”

“ Ooo? Ya.. emm… menurutku sebaiknya kau meminta maaf. Katakan padanya kalau kau mencintainya. ‘Saranghaeyo oppa’ begitu”

“Bagaimana.. kalau Oppa benar-benar marah padaku? “

Hoya tertawa kecil. “Kurasa tidak mungkin. Hyung sangat mencintaimu”

Seungmi kembali terdiam. Ia mendongakkan kepalanya, lagi, menatap langit. Matahari sudah hampir seluruhnya tenggelam. Namun sinarnya masih tampak jelas. Senja hari, sebuah warna yang lembut dan.. sedikit sedih. Tiba-tiba Seungmi ingin menangis. Ingin segera berada di rumah dan memeluk Oppanya.

“Memandang langit itu, bisa membuat hati lapang loh” komentar Hoya.

Seungmi mengangguk

*****

      Rumah kosong. Gelap.

Tak ada Seungho Oppa dan teman-temannya. Rumah juga tampak rapi. Seungmi menyalakan lampu satu persatu. Aneh sekali, batinnya. Seungho tidak memberitahunya apa-apa jika ingin keluar. Ia lalu menuju kamarnya dan berbaring.

Sudah malam, tapi ia tak bernafsu makan. Entah kenapa perasaan kosong meliputinya. Ia tiba-tiba merasa kehilangan. Ia merasa Seungho akan pergi dari hidupnya. Pergi jauh dan.. mungkin tak kembali.

Oppa..

      Butir-butir airmata satu persatu jatuh membasahi pipinya. Ia terisak dalam diam. Andai saat itu ia tidak membentak Seungho, andai waktu itu ia membicarakannya baik-baik, andai..

Puluhan bahkan ratusan kata ‘andai’ lainnya hanya akan menguap sia-sia. Seperti bunga yang mekar tak akan bisa menjadi kuncup kembali, segalanya tidak bisa berubah seperti pada awalnya. Yang ada hanya perenungan dan perbaikan.

Seungmi terlelap. Masih dengan sesal yang menggumpal, serta air mata.

*****

      Seungmi kecil menghampiri Seungho yang sedang memainkan piano. Wajah mungilnya tampak ketakutan. Tangannya sembunyi di balik punggungnya.

      “ Oppa..” panggil gadis sembilan tahun itu dengan suara bergetar. Seungho menghentikan permainan pianonya dan menoleh.

      “Wae?” tanyanya sambil tersenyum. Seungmi menatap wajah Oppa-nya dengan mata berkaca-kaca.

      “kalau aku mengatakannya, Oppa jangan marah ya”

      Seungho mengangguk dan tersenyum “ katakan saja”

      Gadis kecil itu lalu menunjukkan sesuatu dengan kedua tangannya. Sebuah miniatur mobil antik dari kaca yang sudah berubah menjadi kepingan.

      Tangis Seungmi pecah, “ Mianhae oppa. Aku ingin melihatnya dari dekat, tapi waktu kepgang benda itu jatuh dan pecah. Mianhae”

      Seungho mengambil barang itu dari tangan adiknya. Ia lalu memperhatikan telapak tangan Seungmi.

      “Mainan itu masih bisa dibeli lagi. Yang penting tanganmu tidak terluka”

      Mendengarnya, Seungmi memeluk Oppa-nya, “lain kali aku akan berhati-hati. Aku tidak akan mengambil barang-barang Oppa lagi”

      “Sudahlah. Gwenchana. Ayo, kita bermain piano saja”

*****

      Hampir tengah malam ketika Seungmi terbangun. Ia mengecek Hpnya, tidak ada email atau telepon dari Seungho. Ia juga mengecek kamar Oppa-nya, tapi tampaknya pemuda itu belum pulang. Gadis itu kembali ke kamar dengan perasaan cemas.

Padahal besok hari ulang tahunnya. Namun tampaknya akan menjadi perayaan terburuk seumur hidupnya. Tanpa Appa dan Eomma, juga tanpa Seungho Oppa.

Ia duduk bersandar pada tempat tidurnya.

Terdengar sesuatu berbunyi dari bawah tempat tidurnya. Seungmi turun dan memeriksanya dengan hati-hati. Tampak sebuah kotak berbarna biru dengan pita berada disana. Gadis itu mengambilnya dan kembali duduk di tepi tempat tidurnya, lalu membukanya.

Sebuah Iphone 4s putih.

Seugnmi menatap benda itu heran. Mengapa bisa berada di kamarnya. Belum hilang keterkejutannya, Hp itu kembali berbunyi. Kali ini ada sebuah video massage. Ia membukanya.

Seungmi terbelalak tak percaya. Sebuah pesan rekaman video Seungho.

“sangel chukkae hamnida.. saengil chukkae hamnida. Saranghaeyo nae Seungmi. Saengil chukka hamnida”

      Seungho, dalam video itu, bernyanyi sambil memainkan piano. Video itu ber-setting rumah mereka. Seungmi tak habis pikir kapan Oppa-nya melakukan itu semua. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada video yang belum selesai itu.

Seungho tampak memperbaiki duduknya dan menatap kamera.

“Annyeong peri mungilku. Selamat ulang tahun. Tidak terasa kau sudah sebesar ini. Rasanya seperti baru kemarin Oppa bermain piggy back denganmu. Sekarang tentu saja aku sudah tidak bisa menggendongmu seperti itu. Hahaha. Aku senang kau tumbuh menjadi gadis yang baik dan tidak evil seperti aku”

      Seungho berhenti sejenak. Ia tampak berpikir.

“Ah, kau sudah sembilan belas tahun. Dalam sekejap kau akan menjadi jauh lebih cantik dan dewasa dari saat ini. Jujur, aku selalu khawatir jika kau kenal dengan pria-pria tidak baik yang hanya akan menyakitimu. Karena itu aku ingin selalu menjagamu. Sikap over protective-ku ini bagimu menyebalkan ya? Hahaha.. mian. Oppa hanya ingin menjadi kakak yang baik. Hmm..kalau kau tidak suka, kurasa kita bisa membicarakannya bersama, bagaimana sebaiknya aku bersikap”

      Airmata Seungmi kembali deras mendesak dari sudut-sudut matanya.

“Oya, semoga kau suka dengan kadonya. Aku tidak tahu harus memberi apa. Hanya benda itu yang terpikirkan. Lalu.. aku berdoa semoga kau bisa lebih bertanggung jawab lagi, selalu sehat, dan tumbuh menjadi gadis yang baik. Semoga kau tetap menjadi Seungmi yang ceria. Maaf ya, Oppa belum bisa menjadi seperti yang kau harapkan. Hmmm… bagiku… selamanya, kau akan tetap menjadi peri mungilku. Saranghae”

      Seungho mengakhiri vadeonya dengan membentuk tanda ‘love’ di dadanya menggunakan kedua tangannya.

Seungmi sesenggukan. Ia tidak menyangka Seungho sempat menyiapkan kejutan ini untuknya. Meski ia sudah bersikap buruk, meski ia tidak berbicara padanya. Hoya benar, Seungho sangat mencintainya. Ia tidak perlu bukti lagi. Dan ia tak perlu meragukannya.

Oppa.. mianhae

      Suara gerbang terbuka membuat Seungmi berlari menengok keluar melalui jendela kamarnya. Seungho baru saja tiba. Gadis itu segera keluar kamar. Yang terpikirkan di benaknya hanya meminta maaf dan mengatakan betapa ia juga sangat mencintai Oppanya itu.

Seungho baru saja menutup pintu ruang tamu saat Seungmi tiba. Mereka bertatapan.

“ Kau belum tidur? Atau aku telah mem..” Tanpa basa-basi, Seungmi menghambur memeluk Seungho. Ia lalu mulai terisak pelan. Seungho menatap adiknya heran.

“wae yo?”

“Mianhae.. jeongmal mianhae yo, Oppa..” jawab Seungmi di sela-sela tangisnya. Seungho hanya terdiam. Tangannya bergerak mengelus-elus kepala gadis itu dan membimbingnya duduk. Untuk beberapa saat, Seungmi masih menangis.

“Mianhae oppa” katanya lagi setelah tangisnya reda. Meski masih menyisakan isakan kecil.

“Untuk apa?” Tanya Seungho.

“ Maaf, waktu itu aku membentak Oppa, mendiamkan Oppa. Maaf.. aku tahu seharusnya aku tidak seperti itu”

Seungho tersenyum mendengarnya. Ia merangkul adiknya.

“ Aku pernah melewati masa-masa seusiamu sekarang. Aku juga sering membantah Eomma dan Appa, bahkan mereka pernah dipanggil oleh kepala sekolah saat aku SMA. Aku tahu saat ini pun kau juga memiliki banyak keinginan dan tidak ingin dibatasi. Sebagai Oppa, aku tidak ingin kau melakukan hal-hal buruk sepertiku dulu. Karena itu aku seperti ini. Kalau ini membuatmu terbebani, aku juga minta maaf”

Seungmi menggeleng.

“Gwenchana. Seharunya aku cukup dewasa memahami sikap Oppa. Selama ini Oppa sudah sangat mencintaiku, bahkan memberiku kado ini. Gomawo”

Seungho hanya tertawa.

“Saranghaeyo Oppa..”

Gadis itu kembali memeluk Kakaknya. Ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi.

“ Pastikan kau bisa pergi ya?”

“ Eh? Kemana?” Seungmi mengerutkan keningnya. Bingung.

Pemuda itu menggaruk-garuk tengkuknya mendengar jawaban adiknya.

“Jangan bilang kau tidak melihat satu benda lagi di kotak itu”

Seungmi kembali membuka kotak hadiah yang tadi di berikan Seungho. Ternyata masih ada sesuatu di dalamnya. Mungkin ia terlalu focus pada video tadi sehingga tak memperhatikannya.

Dua lembar kertas persegi panjang.

Tiket super show 4 Seoul.

“ Opppaaaa….Saranghaeee!!!!” ia berseru senang. Sungguh tidak disangkanya tahun ini ia bisa menonton super show. Bermimpipun tidak pernah.

“Nado. Hahaha.. kita pergi bersama ya”

Seungmi mengangguk.

Hp Seungho berdering. Ia beranjak untuk menerima telepon. Pemuda itu berbicara sedikit berbisik. Seungmi tak dapat mendengarnya. Tak lama kemudian, telepon terputus. Seungho mengambil kembali kunci mobilnya.

“Aku harus pergi sekarang. Tapi tidak lama aku pulang. Kau tidurlah”

Seungmi menatapanya heran, “ dari siapa? Kenapa telepon malam-malam?”

“bukan dari siapa-siapa”

Kembali sebuah dering terdengar. Email masuk di Hp Seungho. Cepat, Seungmi mengambil dan membukanya.

From : Eomma

      Seungho ya, kami ada di café. Appa dan Eomma lapar sekali, jadi kami makan dulu. Nanti kalau kau sudah tiba di bandara, hubungi Eomma lagi ya..

Bye❤

Gadis itu menatap Seungho tak percaya, “ Eomma dan Appa pulang?”

Mau tidak mau, Seungho meng-iya-kan.

“Padahal kami mau memberimu kejutan. Jadi gagal..”

“Aku ikut menjemput!!”

*****

Olympic Gymnastics Arena,  Seoul

Riuh rendah suara teriakan ELF berpadu dengan alunan musik serta suara personil super junior membawakan hits-hits mereka menggema memekakkan telinga. Meski begitu semua tampak antusias. Ini adalah penampilan terakhir dari rangkaian Super Show 4. Gedung konser berubah menjadi lautan sapphire blue oleh cahaya stick light juga balon.

Seungmi memegang stick light-nya di tangan kanan sambil pandangannya tak lepas dari stage. Sementara itu Seungho yang duduk di sebelahnya tampak berkali-kali menguap.

“oppa yang semangat dong! Mana ada orang menonton konser dengan lesu begitu?” protesnya. Seungho mengerjap-kerjapkan matanya.

“ ya.. ya.. ya… hhh.. apa tidak ada girlgroup-nya? “

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “ ckckck.. mana ada Oppa. Lagipula sejak kapan Oppa jadi ikut-ikutan yadong seperti G.O Oppa?”

Seungho tertawa.

Sorak sorai kembali terdengar saat musik mengalun. Kali ini giliran solo performing Ryeowook. Eternal maknae Supe Junior itu membawakan sexy dance sambil menyanyikan lagu move like jagger.

Spontan Seungmo menutup mata Seungmi dengan kedua tangannya.

“ Oppa, aku tidak bisa melihat”

“ Justru itu! Ini adalah tontonan yang tidak boleh dilihat olehmu”

“ Aku sudah dewasaa… lepaskan tangan Oppa”

“Shireo”

“Kalau begitu Oppa juga tidak boleh lihat. Itu yadong”

“Aku kan sudah..”

Sebuah tepukan di pundak Seungho membuatnya diam. Seorang wanita di sebelahnya menatap mereka berdua jengkel.

“Shikkeuro” katanya dengan menaruh telunjuk di bibirnya.

Seungmi dan Seungho berpandangan. Kemudian tertawa cekikikan.

“Ah, pokoknya kau tidak boleh lihat” Seungho kembali menutup mata adiknya.

“oppa juga pejamkan mata dong” protes Seungmi.

“ Ya.. aku sudah menutup mata”

Mereka terdiam.

“Kalau female dancer-nya After School Kahi, aku tidak akan menutup mata” kata Seungho kemudian.

“ Yak, Oppaa!!!!”

-THE END-

CUT!!!!

SELESAI!!!

Author : akhirnya setelah berjuang susah payah membanting tulang memeras keringat, setelah melalui perjalanan terjal dengan segala rintangan, FF ‘Saranghaeyo Oppa’ selesai juga. TT^TT #terharu #air mata komodo

Seungho : saya mengucapkan banyak terima kasih kepada reader sekalian yang sudah setia mengikuti cerita kami. Juga atas support serta kritik dan sarannya. Kamsahamnida #tepuk tangan

Seungmi : iyaa… juga buat author dengan ide ceritanya. Buat para pemeran, Seungho Oppa, Hoya, G.O Oppa, Joon Oppa, Miru Oppa, Cheondoong Oppa, dan Jinli sshi. Kamsahamnida

Hoya : senang sekali rasanya bisa bersama-sama bermain dalam FF ini. Semoga kedepannya kita masih bisa saling berkontak seperti sebelumnya.

PD : kami meminta maaf jika dalam perjalanan FF ini terdapat banyak kesalahan, juga mungkin dengan ending yang kurang sesuai. Saya atas nama seluruh kru yang terlibat serta para pemain menucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya.

Author : baik, kepada seluruh pemain atas kesabarannya menunggu kelanjutan kisah ini author mengucapkan kamsahamnida. Juga buat para reader budiman sekalian atas comment-comment dan penantiannya, kamsahamnida. Buat para kru, PD nim, make up artists eonni, para cameraman, serta Woybarn Entertainment, dan seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, author mengucapkan terima kasih banyak.

Akhirnya kami dari tim ‘Saranghaeyo Oppa’ undur diri, semoga kita berjumpa di FF selanjutnya. Stay tuned with Asian Pop City Channel ;D. kamsahamnida #membungkuk 90 derajat

9 thoughts on “[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 5 (FINAL) –

  1. hahaha…
    Ngakak bc pesan terakhirnya..
    Kekekek..

    Ffnya keren feelnya dpt meskipun cerita percintaan Hoya dan Seungmi tdk terlalu banyak..
    bye bye..
    Sampai bertemu d ff selanjutnya..:)

  2. Aku cuma baca part ini doang , and . . . Whatta great story eveeeeeerrrr<3 jadiin novel bisa kali nih, bagus banget :')
    seungho nya baik banget disini, suka banget

    keep writing ya🙂

    • gomawo chingu ^^
      part sebelumnya juga udah di share di blog ini..
      makasih atas semangatnya😀 sukses juga buat chingu

  3. seungmi.. restuilah saya dengan seungho oppa #plak😀
    wow.. di sini yg keren si mireu kekekeke… itu dia kok bs intel bgtu :p btw, gmn kelanjutan si mir dengan cewe di toko bunga itu thor? penasaran.

    #tepokjidat
    lupa.. annyeong ^^ reader baru

    • ne, selamat datang reader baru😀
      terima kasih sudah menyempatkan diri membaca disini. Mau seungho? minta sama yg punya ya *nunjuk eommax seungho oppa*
      Enjoy reading here ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s