[Fanfic] Saranghaeyo Oppa -Part 4-

 

Casts :

  1. MBLAQ Member
  2. Yang Seungmi as Seungho’s younger sister (imaginer)
  3. Infinite Hoya as Seungmi’s Schoolmate
  4. Another imaginer casts

Seungmi mengamati pantulan dirinya di kaca lemari kamar. Bibirnya menyunggingkan senyum. Celana hijau pastel tiga perempatnya tampak serasi dipadukan dengan kaos putih tulang serta jaket berwana senada. Tak lupa sebuah jam bewarna krem melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia tersenyum sekali lagi.

Tok.. tok.. tok..

“ Seungmi, sudah selesai belum?” Seungho mengetuk pintu dari luar.

“ Iya.. sudah. Aku keluar” ia mengambil sebuah topi fedora krem berhias pita dan memakainya. Disambarnya tas selempangan putihnya sebelum melesat keluar.

“ Mian. Hehehe”

Seungho menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita selalu nomor satu dalam urusan berdandan.

“ Kajja”

Seungmi melangkah dengan gembira. Ia dan Oppa-nya akan jalan-jalan untuk mencari keperluan kuliahnya. Jarang sekali mereka keluar seperti ini semenjak Seungho bekerja. Seungmi kembali berkaca di spion mobil sebelum masuk. Tak lupa pula mengecek sepatu sandal krem yang digunakannya. Hari ini adalah istimewa baginya, karena itu Seungmi merasa harus tampil secantik mungkin.

Mereka melaju menuju pusat perbelanjaan Myeongdong.

“ Senangnyaa….” Seru Seungmi.

“ Wae?” Tanya Seungho sambil berkonsentrasi menyetir.

“ Kan sudah lama aku tidak pergi bersama Oppa. Sudah lama juga tidak ditraktir es krim”

Seungho tertawa. Ia ingat, dulu setiap kali pulang sekolah, ia membelikan Seungmi es krim di toko kelontong dekat sekolah Seungmi. Lalu mereka akan duduk di bangku panjang di depan toko itu, dan menghabiskan es krim sambil memperhatikan pejalan kaki berlalu lalang.

“ Dulu kau pernah menangis saat eomma melarangmu makan es krim karena flu dan batuk. Dasar anak kecil!”

Kali ini giliran Seungmi yang tertawa, “ Kalau begitu nanti Oppa traktir aku”

“ eits.. shireo! Kali ini giliranmu!”

“Kok aku? Aku kan masih di bawah umur. Ini namanya pemerasan”

*****

         Hoya berlari-lari menuju halte. Seungmi telah menunggunya disana. Mereka berjanji akan berangkat bersama di hari pertama masuk universitas. Ia menyesali dirinya mengapa bisa terlambat. Gadis itu pasti akan mengomel padanya begitu ia tiba. Dari kejauhan, ia bisa melihat sosok Seungmi duduk menunggunya.

Ia tiba di hadapan Seungmi dengan napas terengah-engah.

“ Kajja” Gadis itu seketika berdiri. Bus menuju kampus sudah terlihat mendekat.

“ 10 menit 37 detik” kata Hoya.

“ Apanya?” Tanya Seungmi.

“ Heee??”

Bus tiba. Ia mengikuti Seungmi masuk ke dalamnya. Mereka duduk bersebelahan. Hoya terus memandangi Seungmi dengan bingung.

Apa dia sebegitu marahnya ya? Biasanya dia selalu cerewet kalau aku  terlambat. Kok sekarang malah tidak bereaksi apa-apa

         Seungmi tiba-tiba menoleh ke arahnya. Hoya tersentak.

“ Hoya, kau tahu tidak kemarin aku seharian pergi bersama Seungho Oppa. Kami ke Myeongdong membeli baju untukku lalu makan di pinggir jalan. Kami juga”  Seungmi bercerita dengan sangat ceria. Sepertinya gadis itu tidak peduli akan keterlambatan Hoya saking gembiranya.

Hoya hanya mendengarkannya sambil tersenyum, antara lega dan ikut senang. Ia memperhatikan binar mata Seungmi. Tidak ada yang berubah dari gadis itu sejak mereka bertemu di tahun pertama SMA.

Seungmi mengakhiri ceritanya dengan memegang kedua pipinya, tanda ia sedang senang.

“ Seungho hyung baik ya” kata Hoya kemudian yang disambut dengan anggukan kepala Seungmi.

“ seandainya dia bisa mengantarmu sekarang, pasti kau tidak naik bus seperti ini” Seungmi hanya tertawa mendengarnya.

Raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah, “ Hoya, kau tahu hari apa ini?” tanyanya penuh selidik.

Hoya tampat berpikir, “ Senin. Wae?”

“Bukan, bukan itu maksudku. Masa’ kau tidak tahu?”

Hoya menggeleng.

“ Yak” Seungmi tampak kesal. Pemuda itu hanya menatap tanpa ekspresi. Sedetik kemudian, tawanya pecah. Seungmi bingung dibuatnya.

“ Aku ingat kok.. ingat! Tenang saja! Setahun kan?” Wajah Seungmi langsung berubah saat mendengarnya. Gadis itu mengangguk senang.

Bus tiba di halte dekat kampus. Mereka turun dan berjalan kaki. Bersamaan dengan itu, memori di masa lalu kembali teringat.

*****

         Seungmi menatap Hoya ,yang berdiri di hadapannya, dengan raut wajah bingung. Ia tidak mengerti mengapa pemuda itu memanggilnya ke sudut perpustakaan saat sekolah telah usai.

Hoya kemudian menarik kancing kedua jas sekolahnya hingga terlepas. Tangannya terulur memberikan benda bulat itu kepada Seungmi. Gadis itu menerimanya.

“ Aku pikir, kalau menunggu hingga hari kelulusan tiba itu terlalu lama. Jadi kuputuskan untuk mengatakannya padamu sekarang. Aku sangat berharap kau menerimanya. Dan aku juga akan sangat menghargai jika kau mengembalikan benda itu padaku”

Seungmi terdiam untuk beberapa saat. Bagi anak sekolah, kancing kedua pada jas seragam sekolah diberikan kepada orang yang mereka sukai sebagai bentuk perasaan mereka. Hal itu karena hati terletak tepat dimana kancing kedua berada.

“ Tapi aku ini manja, keras kepala, banyak maunya, suka mengatur, dan tidak suka mengalah. Aku juga cerewet dan aku ikut klub tae kwon do. Kata teman-teman laki-laki di kelas, hal itu mengerikan”

“ Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Jika kita mengharapkan yang sempurna, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa” jawab Hoya.

“ Aku mungkin setiap hari akan menjejalimu dengan cerita-cerita yang sama dan membosankan. Aku juga mungkin mengatakan beribu keluh kesahku padamu. Aku takut kau terbebani dan merasa lelah nantinya. Daripada seperti itu, lebih baik tidak usah bersamaku”

Hoya terdiam.

“Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berguna bagi sesame. Seringkali, hanya dengan mendengarkan, kita dapat meringankan beban orang lain. Dengan begitu, kita akan memiliki kegunaan bagi mereka, bukan?”

Seungmi tampak berpikir. Sementara itu, Hoya tak berani mengangkat wajahnya, ia terus menundukkan kepalanya.

Tangan kanan Seungmi lalu terulur menarik kancing kedua pada jasnya sendiri hingga ikut terlepas. Ia menaruhnya di hadapan Hoya.

“ Sebagai gantinya, terima punyaku juga ya?”

Hoya mengangkat wajahnya yang semula menunduk.

“ Eh? Artinya..”

Seungmi mengangguk sambil tersenyum. Hoya ikut tersenyum. Hatinya begitu senang.

Mereka lalu berjalan beriringan, memutuskan untuk pulang sekolah bersama. Seungmi nantinya akan naik bus dari halte tak jauh dari sekolah mereka. Sedangkan Hoya akan membantu di café milik orang tuanya yang terletak di seberang halte itu.

Mereka hanya berjalan sambil diam. Rasanya masih aneh.

“ Howon sshi..”

“ Seungmi sshi..”

Mereka memanggil satu sama lain bersamaan. Kemudian sama-sama menunduk sambil tersipu.

“ Mm.. rasanya aneh ya” kata Seungmi kemudian. Hoya hanya mengangguk.

“ Kalau begitu, panggil aku Hoya saja”

Gadis itu mengernyitkan dahinya, “ Wae?”

“ Sebenarnya, di rumah aku dipanggil Hoya. Dan aku lebih suka dipanggil seperti itu”

Seungmi lalu mengangguk, “ Hoya sshi?”

Hoya menggeleng, “ tidak usah pakai ~sshi”

“ Hoya?” Seungmi merasa aneh. Ia dibiasakan oleh orang tuanya untuk memanggil teman sebayanya dengan panggilan formal. Untuk lebih sopan, begitu kata Eomma.

Pemuda itu terlihat senang. Meski masih merasa aneh, ia yakin mereka akan menjadi lebih baik kedepannya.

“ Kalau begitu, panggil aku Seungmi juga. Tidak pakai ~sshi” kata Seungmi kemudian.

“ Arasseo”

*****

         Kenangan beberapa waktu silam kembali terputar. Waktu itu mereka baru saja naik kelas tiga SMA. Sekarang sudah setahun berlalu. Mereka sudah lebih dewasa.

“ Ini” Hoya mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado biru dan menyerahkannya kepada Seungmi.

“ Gomawo” Gadis itu kemudian juga memberikan sesuatu kepada Hoya.

Pemuda itu menerimanya dengan tersenyum. Ia menebak-nebak isinya.

“ Boleh kubuka?” tanyanya.

Seungmi menggeleng, “ Jangan, bukanya di rumah saja. Nanti tidak jadi surprise

“ Arasseo. Gomawo” Hoya memasukkannya ke dalam tas.

Mereka lalu tiba di gerbang depan kampus mereka. Seungmi tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“ Selca di depan pintu masuk bagaimana?” usulnya.

“ Kajja” jawab Hoya. Mereka lalu menuju taman kecil, kira-kira dua kali dua meter,  di tengah pintu masuk. Di dalam taman itu, sebuah batu yang sangat besar dipahat menjadi lambang kampus mereka.

Mereka berdiri berdambingan. Seungmi mengeluarkan Hp-nya.

“ Hana, dul, set.. cheese”

*****

         Seungho menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Ia baru saja pulang. Hari ini hanya sampai sore, tetapi energinya terasa terkuras habis. Ia memejamkan matanya, lelah sekali.

“ Oppa capek ya?” Seungmi yang sedang menonton televisi menoleh padanya.

“Hmm” Seungho hanya bergumam.

“ Kubuatkan jus ya?” Gadis itu berjalan menuju dapur. Tak lama kemudian, terdengar suara blender.

Drrt.. drrt.. drrt..

         Hp Seungmi yang tergeletak di meja, bergetar. Seungho membuka matanya. Ia mengambil benda berwarna hitam itu.

1 new email

         Hoya

         Seungho mengernyitkan dahinya. Sebuah perasaan mendorong tangannya untuk membuka email itu.

Hoya? Jangan-jangan selama ini dugaanku benar

         Jempol kanannya terulur, hendak menyentuh panel open. Sedetik kemudian, gerakannya terhenti.

Andwae! Ini privasi Seungmi. Ia berhak berteman dengan siapa saja. Aku tidak boleh melarangnya.

         Tetapi ia ingat pembicaraannya dengan Miru beberapa minggu lalu. Terus terang ia selalu memikirkannya hingga saat ini. Tangannya kembali terulur.

“ Oppa, jusnya sudah siap!” seru Seungmi dari arah dapur. Seungho mengembalikan Hp itu ke tempat semula.

Seungmi tiba dan meletakkan segelas Jus jeruk di hadapan Seungho.

“ Hp mu bergetar” kata Seungho.

“ Oya?” Gadis itu mengambilnya. Sedetik kemudian, ia tersenyum-senyum sendiri. Seungho memperhatikannya sambil menyeruput minumannya hingga tandas. Ia semakin curiga.

“ Katamu HP itu rusak”

Seungmi menoleh. Ia lalu mengangguk, “ Iya. Suka mati sendiri. Touchscreen-nya juga sering ngadat. Makanya aku lagi menabung untuk membeli yang baru. Ehehehe” jawabnya.

Part time?” Tanya Seungho lagi.

“ Iya, mulainya minggu depan. Di mini market dekat SMP ku dulu. Dekat dari rumah sih”

“ Baguslah. Biar kau hemat. Biar uangmu tidak terbuang untuk konser-konser tidak jelas itu”

Seungmi melempar sebuah bantal kursi, “ aku kan menabung untuk itu juga!”

*****

         3 months passed

Langit sore ini tampak gelap. Berwarna keabuan, beda dari biasanya dimana sinar matahari membiaskan warna merah bercampur keemasan yang sangat indah. Angin, seakan turut mendukung suasana, berhembus sedikit menusuk. Sesekali, gemuruh terdengar menggema. Tampaknya hujan turun sebentar lagi.

Hoya menggosok-gosokkan telapak tangannya. Terasa dingin. Pemuda itu bersandar pada gedung olahraga tempat kegiatan ekstra mahasiswa dilaksanakan. Ia memperhatikan awan mendung yang sangat tebal sembari berharap dapat tiba di rumah sebelum hujan.

“ Menunggu lama ya?” sebuah suara mengagetkannya.

“Ani” jawabnya. Mereka lalu berjalan beriringan menuju gerbang depan.

“ bagaimana latihannya? Mau ada pertandingan?” tanyanya pada Seungmi di sebelahnya.

“ Latihan biasa kok. Kalaupun ada kejuaraan, aku tidak berminat ikut. Hehehe” jawab Seungmi. Tangannya menenteng sebuah tas berukuran sedang, berisi peralatan latihan tae kwon do nya. Ia memang aktif mengikuti beladiri itu semenjak SD karena Seungho juga aktif disitu. Bahkan saat ini gadis itu sudah mendapatkan sabuk hitam.

“ Oya!” seru Seungmi. Langkahnya terhenti. Hoya ikut berhenti.

“ Hari ini Seungho Oppa mau menjemputku. Aku disuruh menunggu di café” sambungnya kemudian. Hoya mengangguk-angguk.

“ Mianhae, tapi.. kau pulang sendiri tidak apa-apa? Mian sudah membuatmu menungguku. Aku lupa”

“Gwenchana. Kalau begitu, ayo kita ke café”

“Hah? Kenapa kau ikut juga? Pulang saja, nanti dicari eomonim”

“ Ani yo. Eomma pasti sibuk di café kami. Di rumah aku juga tidak ada kerjaan. Sudahlah, ini sudah sore. Biar kutemani sampai Hyung datang”

“Gomawo”

Hoya tersenyum simpul, “ lupakan”

Mereka berbelok menuju cafeteria. Suasana masih ramai, banyak mahasiswa yang berada di sana. Beberapa sendiri, serius mengerjakan tugas. Ada pula yang datang bersama-sama dan mengobrol ria. Hoya dan Seungmi memilih duduk di dekat jendela, agar jika Seungho datang, mereka bisa melihatnya.

“ Tumben Seungho Hyung menjemputmu”

“ Iya ya.. hhmm.. kata oppa, hari ini tidak banyak agenda kantor. Teman-temannya juga tidak mengajak keluar sih”

Hoya mengangguk,” Ngomong-ngomong, teman Oppa-mu itu namanya aneh-aneh ya? Ada G.O, Miru, Chendoong.. paling yang terdengar normal cuma Joon hyung”

Seungmi tertawa, “ Iya. Kata mereka, itu nama keren. Nama aslinya tentu saja bukan itu. Humph.. kau juga minta dipanggil bukan dengan nama asli kan?”

“ Iya sih. Hahaha”

Mereka menikmati suasana kampus saat senja hari. Bukan bertambah sepi, suasana justru semakin ramai. Pengunjung silih berganti berdatangan. Jarum jam bergerak, kali ini menunjukkan pukul tujuh. Seungmi mulai gelisah. Dicobanya menelpon Seungho berkali-kali namun Hp Oppa nya selalu tidak aktif.

“ Tunggu sebentar lagi. Mungkin saja Hyung masih rapat” kata Hoya, seolah bisa membaca wajah Seungmi.

“ Pulanglah. Ini sudah malam”

“Justru karena sudah malam makanya aku harus menemanimu disini. Kalau misalnya Seungho hyung tidak jadi menjemput, kau pulang naik apa?”

“Taxi. Naik bus juga masih ramai” jawab Seungmi. Hoya menahan senyumnya.

“ Sudahlah, tidak baik sendirian keluar saat malam hari. Kita tunggu sebentar lagi, kalau tidak datang juga, kita pulang”

Seungmi mengangguk pasrah. Ia tidak enak membiarkan Hoya menunggunya selama ini. Meski mencoba tenang dan tetap ceria, ia tidak bisa menyembunyikan raut resah dan bosan di wajahnya.

“ Menikmati suasana kampus malam hari tidak buruk juga kan?” kata Hoya kemudian. Lagi-lagi, seolah bisa membaca pikiran Seungmi. Membuat gadis itu selalu kagum dengan bagaimana Hoya selalu bisa berpikir positif.

Ia tersenyum, “ Tapi tidak ada bintangnya ya? Mungkin tertutup mendung” komentarnya.

“ iya ya. Eh, coba kau lihat lampu-lampu yang menghiasi taman di depan sana. Cantik ya”

Seungmi mengangguk.

Obrolan kembali bergulir. Hingga tak terasa setengah jam berlalu. Rintik hujan yang terdengar bergemuruh di atap café, menyadarkan mereka.

“ Ah, sudah setengah 8. Kita pulang saja” kata Seungmi.

“ Kalau Hyung kesini bagaiamana?”

“ Tenang saja. Begitu selesai rapat, dia pasti menelpon”

Mereka lalu bersiap pulang.

“ Aku bawa kok. Jangan khawatir” ujar Hoya sambil mengeluarkan sebuah payung dari tasnya, begitu mereka hendak melangkah keluar café. Seungmi tertawa. Itu payung yang ia berikan saat peringatan satu tahun kemarin.

“Soalnya selama sekolah kau tidak pernah membawa payung. Sok sekali berlari di tengah hujan” katanya.

Hoya tertawa. Ia membenarkannya.

“ Kan biar keren”

Mereka berjalan menmbus hujan yang tidak begitu deras menuju gerbang depan. Tidak terlalu jauh. Beruntung, tak perlu menunggu lama, bus yang akan mereka tumpangi, tiba. Hoya memperhatikan Seungmi diam-diam. Tidak seperti biasanya, gadis itu tidak mengomel sedikitpun karena masalah ini. Gadis itu perlahan-lahan sudah mulai bisa dewasa bertindak dan berpikir. Ia senang.

Satu hal yang paling ia sukai, Seungmi bukan anak yang cengeng. Sesulit apapun kondisinya, ia selalu menahan untuk tidak menangis. Juga dengan sikap keras kepalanya, sebenarnya ada nilai plus tersendiri. Seungmi selalu bersikeras untuk menyelesaikan segala urusannya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Ia tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika apa yang dilakukannya tidak berhasil. Hoya tersenyum sekali lagi.

Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti hingga Bus tiba di halte tempat mereka selalu janjian saat berangkat bersama. Guntur sesekali terdengar. Lama-kelamaan, hujan semakin deras.

“ Aku duluan ya. Gomawo sudah menemani” kata Seungmi.

“ Ya. Hati-hati”

Bus menuju rumah Seungmi tiba. Gadis itu naik. Namun betapa terkejutnya ia saat mendapati Hoya juga mengikutinya. Bahkan pemuda itu duduk di sebelahnya.

Ia menatap Hoya bingung. Sebaliknya, pemuda itu juga menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.

“ wae? Ada yang salah denganku?” Tanya Hoya.

“ Kenapa kau ikut? Rumahmu kan harusnya berjalan kaki di belokan kiri setelah halte”

“ Aku mau jalan-jalan”

“Kemana?”

“ Ra-ha-sia”

Seungmi, masih dengan tanda tanya besar di kepalanya, memilih melihat pemandangan di luar. Namun melalui sudut matanya, ia memperhatikan pemuda yang duduk di sampingnya itu. Sikapnya sering membuatnya bingung. Tapi justru disitulah uniknya.

“ Aku tidak akan memaksamu mengaku kalau sebenarnya kau ingin mengantarku sampai rumah”

Hoya kembali menoleh,” sekalian jalan-jalan kan?”

“Tapi aku tidak akan mengajakmu masuk, soalnya tidak ada Oppa di rumah”

“ Loh? Apa aku minta masuk? Kan aku bilang tadi cuma ingin jalan-jalan”

Seungmi mencibir. Namun dalam hati ia senang cara Hoya menunjukkan perhatiannya, tanpa membuat Seungmi merasa sungkan dan tidak enak hati. Meski tanpa sederetan kata-kata romantis atau sebuket bunga mawar, Hoya selalu bisa membuatnya merasa lebih baik.

Saat tuka kado kemarin, Hoya memberinya sebuah buku best seller mengenai teknik presentasi yang baik. Seungmi sebelumnya pernah mengatakan ingin memiliki buku itu. Sebelum sempat membeli, ia sudah lebih dulu mendapatkannya dari Hoya.

Bus kembali berhenti di halte. Seungmi dan Hoya turun. Rumah Seungmi cukup jauh dari kampus mereka, sehingga ia harus dua kali menaiki bus. Begitu tiba, hujan bertambah deras. Angin pun bertiup agak kencang. Mereka harus berjalan sambil memegang payung masing-masing dengan erat.

“ Aku baru pertama kali ke rumahmu” kata Hoya di sela-sela perjalanan mereka.

“ Oya? Kalau aku, sudah tiga kali kalau tidak salah ke rumahmu. Waktu itu mengerjakan tugas kelompok” jawab Seungmi dengan mengeraskan suaranya.

“ Soalnya rumahmu jauh sekali. Ini masih lama?”

“ Sebentar lagi. Di depan kita belok kanan, rumah kelima dari situ. Mianhae, membuatmu hujan-hujanan”

“Kan sudah kubilang aku mau jalan-jalan. Lagipula, aku kan memang suka hujan”

Malam semakin larut. Air hujan menghentak-hentakkan jalanan, menimbulkan genangan dimana-mana. Sedikit-sedikit, sepatu Seungmi mulai basah.

“ Hoya” panggilnya.

“Wae?”

“Boleh aku cerita? Kalau diam terus, aku kedinginan”

Hoya mengangguk.

Seungmi membuang pandangannya jauh ke depan.

“ Dulu oppa selalu menjemputku saat aku masih SD. Suatu hari, waktu itu aku kelas 4, hujan turun sangat deras. Seperti saat ini. Dan celakanya, aku tidak membawa payung. Aku menunggu di sekolah dengan gelisah. Lalu Oppa datang berlari-lari dengan sebuah panyung di tangannya untuk menjemputku” Ia terdiam. Hoya memperhatikan Seungmi, menyimak.

“ Kami lalu pulang, Oppa merangkulku, mencegah agar aku tidak basah. Aku pun berhasil tetap kering hingga tiba di rumah. Tapi setelah itu aku sadar, bahwa hampir seluruh tubuh Seungho Oppa basah. Kau tahu kenapa?”

Hoya menggeleng

Seungmi tersenyum sejenak sebelum kembali berkata, “ Selama perjalanan, Oppa mencondongkan payungnya ke arahku. Dia membiarkan setengah lebih badannya tidak tertutup payung dan basah terkena hujan. Oppa menjagaku agar tetap kering dan tidak kedinginan. Besoknya Oppa terkena demam tinggi, tapi tetap masuk sekolah agar aku tidak cemas”

“ Dia sangat menyayangimu ya?” komentar Hoya. Seungmi mengangguk. Mereka sudah semakin dekat dengan rumah Seungmi. Tinggal sedikit lagi menuju belokan.

Sebuah mobil hitam melaju dan berhenti beberapa langkah di depan mereka. Hoya dan Seungmi saling berpandangan.

“ Mobil oppa” gumam Seungmi.

Tak lama kemudian, Seungho turun dan menghampiri mereka.

“ Oppa..”

“ Masuk” kata Seungho pendek. Seungmi terkejut. Ia mengernyitkan dihinya, bingung.

“ Wae?”

“Masuk!” kata Seungho sekali lagi, kali ini dengan penekanan. Seungmi berpandangan dengan Hoya. Pemuda itu mengangguk pelan. Dengan tertunduk, gadis itu menuruti perintah Oppanya. Ia masuk ke dalam mobil.

Seungho menatap Hoya tajam.

“Jadi kau yang bernama Hoya?”

“ Iya. Saya teman SMA Seungmi. Kali ini pun, kebetulan satu universitas” jawab Hoya sambil berusaha tetap tenang, meskipun ia merasa takut.

“ Kau bawa kemana adikku hingga baru pulang jam segini? Lalu dengan berlagak pahlawan kau mengantarnya sampai ke rumah?”

Hoya menunduk, mencoba merangkai kata-kata dengan baik. Ia sangat gugup. Lidahnya terasa kelu.

“ Saya menemaninya menunggu Hyung di café kampus. Tapi karena hingga setengah 8 tidak kunjung datang, dia memutuskan pulang. Menurut saya, akan lebih baik jika saya mengantarnya, soalnya sudah larut”

Seungho hanya diam. Ia sangat tidak suka ada namja yang mendekati adiknya. Apalagi Seungmi masih belia. Ia khawatir adiknya hanya akan disakiti.

“ baik, aku berterima kasih atas niat baikmu kali ini. Tapi perlu kau ingat, lain kali jangan dekati Seungmi lagi”

Seungho berbalik meninggalkan Hoya yang termangu. Mobil hitam itu melaju perlahan. Hoya menatapnya hingga menghilang di belokan. Ia merasakan tubuhnya gemetaran, antara takut dan kedinginan. Ia lalu memutuskan untuk pulang.

****

         “ Aku tidak melarangmu berteman, tapi tidak sejauh itu” Kata Seungho saat mereka sudah sampai di rumah. Ia duduk berhadapan dengan Seungmi di ruang tamu.

“Oppa tidak ingin bertanya kenapa aku bersamanya hingga semalam ini? Dia menemaniku menunggku Oppa. Dia hanya mengantarku pulang” Jawab Seungmi. Ia berusaha menenangkan hatinya meskipun merasa sangat kesal.

“ Kalau dia berbuat jahat padamu bagaimana? “

Seungmi menoleh seketika. Ia menatap Seungho tajam.

“ Oppa ini kenapa? Aku tahu siapa Hoya. Dia baik. Dia mengantarku hingga berhujan-hujan seperti ini. Dia bahkan tidak pernah menyentuhku seujung kuku pun”

“Kau bisa mengatakan seperti itu karena kau menyukainya. Kau tidak tahu sifatnya yang sebenarnya. Kau masih muda, jiwamu belum stabil. Jangan bergaul terlalu jauh seperti ini. Berbahaya” kali ini suara Seungho melunak. Ia sangat mencintai adiknya itu.

Seungmi merasakan matanya panas. Kekesalannya sudah memuncak.

“ Kau boleh berteman dengan siapa saja, tapi..”

“ Oppa tidak berhak mengaturku” seru Seungmi tiba-tiba.

Seungho terkejut.

“ Aku bebas berteman dengan siapa saja. Hoya selalu mendengarkanku, menasihatiku jika aku salah, memberiku masukan saat aku bimbang. Dia bahkan punya lebih banyak waktu untukku dibanding Oppa”

Seungho terpekur. Dalam hati ia membenarkan perkataana adiknya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia meninggalkan Seungmi sendirian di rumah. Bahkan, bulan lalu, hampir sebulan ia tidak di rumah.

Seungmi mengatur napasnya yang tersenggal-senggal.

“ Oppa bilang mau menjemputku. Tapi oppa ternyata tidak datang. Ini sudah yang keberapa kalinya? Oppa selalu sibuk dengan pekerjaan dan teman-teman Oppa. Oppa tidak punya waktu luang buatku,karena itu tidak usah perduli dengan siapa aku berteman”

Usai mengatakannya, Seungmi berlari memasuki kamarnya. Seungho hanya diam. Hatinya seperti dihantam sebuah palu besar. Ia merasa gagal menjadi seorang kakak. Ia merasa telah melukai hati adiknya. Entah, sudah berapa banyak janji yang ia batalkan. Dan sudah berapa sering ia melewatkan makan malam di rumah padahal Seungmi sudah memasak untuknya.

Namun, jauh di dalam hatinya. Ada sebuah getaran halus yang terasa. Sebuah perasaan bernama perih. Seperti pedang, sikap Seungmi telah menoreh luka baginya. Seungho menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia memejamkan mata. Sesuatu mengalir dari sudut mata kanannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s