[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 3

Cast :

  1. MBLAQ Member
  2. Yang Seungmi as Seungho’s younger sister (imaginer)
  3. Infinite Hoya as Seungmi’s Schoolmate
  4. Another imaginer casts

“ oppa , aku mau ke perpustakaan ya” kata Seungmi sambil menuruni tangga. Ia tampak sudah rapi dengan rok coklat muda selutut, kaos krem motif bunga-bunga lengan panjang , dan mantel yang serasi dengan bajunya. Lengkap juga dengan syal kotak-cotak perpaduan hitam-cokelat tua, serta tas selempangan warna putih.

Seungho bengong melihat penampilan adiknya, “ sekarang?” tanyanya.

Seungmi mengangguk.

“ Biar kuantar!” seru Miru yang muncul dari dapur. Pemuda itu sudah datang sejak pagi, numpang sarapan.

Seungmi menggeleng,” Gomawo.. tapi aku sendirian juga tidak apa-apa”

“ Ani yo. Akan kuantar. Lagi pula aku tidak ada kerjaan pagi ini. Ah tunggu, aku ganti baju dulu” Seungho yang masih memakai kaos oblong dan celana pendek, berlari ke kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar.

“ Let’s go!!” seru Miru. Seungho geleng-geleng kepala.

Makhluk satu ini…

Musim dingin di Seoul akan segera berakhir. Angin sudah tidak terlalu kencang berhembus. Meski begitu, salju masih terlihat menumpuk dimana-mana. Di pinggir jalan, di pepohonan, atau atap rumah penduduk.

Kendaraan tidak begitu padat. Hanya dalam waktu 15 menit, mereka sudah sampai di depan perpustakaan kota.

“ Mau apa kau kesini?” Tanya Miru.

“ Mau karaoke! Tentu saja mau belajar. Dia mau persiapan masuk universitas” potong Seungho sebelum adiknya menjawab. Seungmi hanya terkekeh mendengarnya.

“ hooo… hwaiting!”

“ ne.. ne… ah, aku masuk dulu. Gomawo sudah mengantarku. Nanti tidak usah menjemput,aku pulang sendirian tidak apa-apa. Annyeong” ia mengecup pipi kakaknya sebelum turun. Sejak kecil orangtuanya selalu membiasakan untuk melakukan hal itu. Sebagai bentuk  kasih sayang adik-kakak.

“ Lho? Aku tidak?” protes Miru. Spontan Seungho menjitak kepala pemuda yang duduk di sampingnya itu.

*****

         “ Besok jam 9 di perpustakaan kota”

         “ Baiklah. Aku akan datang tepat waktu”

         Terdengar suara tawa Seungmi, “ Oya? Aku tidak yakin”

         “ Hei. Hei.. jangan memberiku sugesti seperti itu donk. Hahaha.. ya, tunggu saja pokoknya”

         Hoya meremas-remas jarinya tanda tak sabar. Mukanya tampak tenang, tetapi hatinya berkata lain. Jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 9 lewat 10. Ia tak habis pikir mengapa bisa terlambat. Bus yang berjalan normal ini pun terasa sangat lama tiba di halte perpustakaan kota.

Ia kembali melirik layar hp-nya.

Tidak ada telepon. Tidak ada email masuk.

         Perjalanan yang terasa panjang itu berakhir juga. Hoya mempercepat langkahnya. Sambil berlari, ia menuju lantai dua tempat mereka janjian. Tiba disana, matanya dengan cepat mencari sosok Seungmi.

Ah, itu dia!

Ia menghampiri gadis berambut sebahu yang tengah menekuni sebuah buku.

“ Mianhae aku..”

“ 17 menit 41 detik. Aku sudah menyelesaikan 14 soal. Artinya aku menjawab 1 soal dalam 1 menit 15 detik. Hmm.. masih terlalu lama ya” Ujar Seungmi sambil tersenyum dan mengangkat wajahnya menatap Hoya yang masih berdiri dengan napas tersenggal-senggal.

“ Yah.. Seperti biasa, matematikamu selalu bagus. Apalagi kalau menghitung waktu” jawab Hoya sambil mengambil duduk berhadapan dengan Seungmi. Ia meletakkan tasnya di meja.

“ Ne, terutama menghitung waktu keterlambatan seseorang”Gadis itu kembali menekuni bukunya.

Hoya tertawa pelan, “ Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Padahal tadi aku sudah bangun pagi, tapi masih terlambat juga. Baiklah, kita mulai darimana?”

“ halaman 40”

Ia membuka bukunya cepat. Dibacanya soal yang ada di halaman itu. Ia melihat Seungmi yang tampak serius.

“ Marah?” tanyanya.

Seungmi mengangkat wajahnya, “ Eh? Tidak kok. Wae?” jawabnya.

“ Kau kelihatan marah”

Gadis itu menatap Hoya bingung. “ Apanya? Aku tadi hanya bercanda, kau ini serius sekali. Hahaha..”

“ Ani. Aku kan hanya menebak” elak Hoya. Ia kembali pada bukunya.

“ Baiklah, mau berlomba?” tantangnya sambil mengangkat satu alisnya.

Seungmi tampak berpikir sebentar.

“ Yang kalah traktir es krim di café depan”

“ Tidak takut”

****

         Seungho membuka pintu rumahnya. Ia langsung merebahkan diri di sofa ruang keluarga. Miru yang berjalan di belakangnya lantas mengambil remote dan menyalakan televisi.

“ Kau tidak khawatir dengan Seungmi, Hyung?” Tanya Miru.

“ Khawatir kenapa? Dia gadis yang baik kok”

“ Ya, aku tahu. Maksudku, Hyung tidak khawatir dengan pergaulan Seungmi? Hyung perhatikan penampilannya tadi? Dia seperti akan bertemu dengan seseorang yang special” lanjut Miru.

“ Mana mungkin? Kalau jalan denganku juga, dia sering berpakaian seperti itu. Lagian kau ini kenapa bisa berpikiran seperti itu? ”

Miru masih menatap lurus ke arah layar. Acara Music Bank sedang ditayangkan.

“ Dulu Noona juga seperti itu waktu masih pacaran. Seungmi juga pasti sudah punya namjachingu. Sekarang ini, siapa sih yang tidak punya kekasih?”

Seungho melayangkan sebuah bantal kursi yang mendarat tepat di kepala Miru.

“ Yak! Kau mau menyinggungku? Lagipula kau sendiri tidak punya yeojachingu kan?’

“ ya.. ya.. belum saja”

Seungho menatap langit-langit ruang keluarga. Entah kenapa hatinya sedikit terusik dengan perkataan Miru tadi.

“ Remaja sekarang gaya dating-nya berbahaya lho, hyung. Bukan hanya pegangan tangan, bahkan ada yang sampai kissu dan..”

“Andwae!!”

Seungho menatap Miru yang melihatnya dengan tatapan datar.

“Eotteokajyo?”

****

        seungmi menyandarkan badannya di kursi dan menutupi mukanya dengan buku. Ia menangkat tangan kirinya. Menyerah. Ia kalah dari duel menjawab soal dengan Hoya.

“ Baiklah, pulang nanti kau kutraktir” katanya kemudian. Ia mengacak-ngacak rambutnya.

“ Eh, ini kan hanya satu pelajaran. Di pelajaran lain kau lebih unggul. Sejarah misalnya, atau bahasa inggris”

Seungmi hanya mengangguk-angguk sambil menggigit pensilnya. Ia membaca lagi bukunya. Hoya menahan senyum.

“ kalau tidak mau mentraktirku juga tak apa”

Gadis itu cepat-cepat menggeleng, “ Ani yo. Aku sudah janji, jadi harus kutepati”

“ Sepertinya kau tidak ikhlas”

“ Iklhas… aku ikhlas kok!!!” Ia tersenyum, tetapi kemudian kembali cemberut. Seungmi sedikit tidak rela dikalahkan Hoya. Perasaan bersaing gadis itu memang tinggi. Hoya hanya geleng-geleng kepala.

“ Ah, kalau soal bahasa inggris ini maksudnya bagaimana? Aku kurang mengerti” pemuda itu berusaha memberi semangat. Seungmi langsung tampak sedikit lebih cerah.

“ ah, ini kan soal tenses. Tunggu sebentar, kucarikan bukunya” Ia lalu beranjak menuju rak-rak berisi buku pelajaran SMA. Hoya melihatnya sambil tertawa.

Ia lalu membolak-balik halaman buku milik Seungmi. Tampak banyak coretan di sana-sini, tanda bahwa gadis itu sering mengerjakannya. Ia tertawa lagi saat membandingkan dengan buku miliknya.

“ Hoya?” Tegur sebuah suara yang sangat dikenalnya. Ia menoleh. Tampak seorang pemuda dan seorang gadis berdiri di samping mejanya.

“ Myungsoo? Annyeong! Ah, sudah lama aku tidak melihatmu” Ia berdiri dan menjabat tangan Myungsoo, teman satu club dancernya.

“ semuanya sedang sibuk. Kita jadi tidak pernah bertemu lagi” jawab Myungsoo.

“ Kau sendiri yang pertama menghilang. Terakhir kali kau datang kan saat mengenalkan dia pada kami” Hoya melemparkan pandangan menuju gadis yang berdiri di samping Myungsoo.

“ Annyeong” sapanya, Hyunmi. Hoya mengangguk.

“ sudahlah. Ngomong-ngomong, kau sendirian?”

“ ani. Aku bersama seseorang”

“Maksudmu dia?” Myungsoo menunjuk ke arah samping kanan Hoya. Pemuda itu menoleh dan mendapati Seungmi berdiri sambil menatap bingung ke arah mereka. Ia baru saja tiba.

“ Ah iya, kenalkan namanya Seungmi”

“ Annyeong haseyo. Yang Seungmi himnida” Seungmi membungkuk hormat.

Myungsoo menaikkan satu sudut bibirnya. Ia tersenyum aneh. “ ternyata kau juga ya?”

Hoya tertawa, “ apa aku belum pernah cerita? Kau sendiri sudah lebih jauh kan?”

Baik Seungmi dan Hyunmi tampak bingung mendengar percakapan kedua pemuda itu. Sepertinya hanya untuk kalangan para namja.

“ Oiya Seungmi, kenalkan, dia temanku di club dancer. Namanya Myungsoo. Lalu yang disebelahnya adalah Hyunmi”

“ Annyeong haseyo” ujar keduanya kompak. Seungmi mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“ Mereka baru saja tunangan” tambah Hoya lagi.

“ Eh? Jinjja? Ah.. senangnya! Chukkae! Semoga segalanya berjalan lancar” Seungmi tampak sangat gembira. Ia meletakkan tangannya di kedua pipinya.

“ Gomawo” jawab Hyunmi sambil tersenyum. Myungsoo menatap Seungmi. Gadis itu merasakan hawa aneh saat itu juga. Ekspresinya berubah sedikit demi sedikit saat menangkap tatapan Myungsoo.

“ Sudah, kami duluan ya. Lanjutkan acara belajar kalian. Maaf kami menganggu” kata Myungsoo kemudian.

“ Gwenchana. Justru sepertinya kami yang akan mengganggu kalau kalian bersama kami”

“ Hmm.. Annyeong”

“Annyeong”

Myungsoo dan Hyunmi lalu menuju meja yang agak jauh dari mereka. Sementara itu, Hoya menangkap ekspresi aneh Seungmi. Gadis itu tampak sedikit ketakutan.

“ Gwenchana. Myungsoo memang seperti itu. Tak usah dipikirkan, tak ada yang salah darimu”

Seungmimenghela napas, “ Habis, dia menatapku seperti itu. Aku jadi takut. Kupikir aku salah bicara jadi dia tersinggung. Lagipula dia memang tampak menyeramkan”

Hoya tertawa lagi, “ sebenarnya kalian berdua itu mirip lho. Sama-sama suka memaksa dan banyak maunya”

“ enak saja!” seungmi tampak tidak terima.

“ Hanya saja, kau itu versi bunyi, sedangkan Myungsoo versi diam”

Seungmi tambah cemberut.

*****

         “Aku pulang”

“ Annyeong. Bagaimana belajarnya? Cepat sekali” sahut Seungho dari dapur.

“ Unn.. “ Seungmi menuangkan sebotol jus ke dalam gelas dan meminumnya. Seungmo memperhatikannya untuk beberapa saat.

“ Anoo.. Seungmi, kau..” Ia teringat pembicaraannya dengan Miru tadi siang.

“Mwo?”

         Miru mengangguk, “ Ya, hyung harus pastikan apakah dia memiliki namjachingu atau tidak”

         Entah mengapa, muka Seungho langsung bersemu merah.

         “ Tapi.. itu kan masalah pribadinya. Aku tidak berhak ikut campur hingga sejauh itu”

         Miru spontan menatapnya, “ Yak, Hyung kan Oppa-nya. Hyung berhak tahu, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?”

         Seungmi memandang bingung Oppa-nya. Ia meletakkan gelas yang sudah kosong di wastafel.

“ Wae?”

“Seungmi, kau punya namjachingu?”

         Seungho merasakan jantungnya berhenti berdetak. “ Seungmi, kau..”

Adiknya memandangnya semakin bingung.

“ Kau.. mm…kau.. kau lapar tidak?”

Seungmi menghela napas, “ kupikir Oppa mau bilang apa! Aku tahu, oppa juga lapar dan makanan di rumah sudah dihabiskan Miru oppa kan? Oppa pasti mau menyuruhku masak. Yah, berhubung aku sudah lapar, aku akan masak sesuatu. Oppa tunggu saja. Ah, ngomong-ngomong Miru oppa sudah pulang? Tidak ingin ikut makan malam sekalian?” celoteh Seungmi. Seungho hanya garuk-garuk kepala.

“ Ne, dia pulang duluan. Ah iya, aku tunggu ya. Cepatlah, aku sudah sangat lapar”

“ Arasseo!”

Seungho memperhatikan adiknya yang memasak dengan ceria. Ia percaya sama adiknya. Meski perasaan khawatir di hatinya jauh lebih besar.

*****

         “ Kau mau mengambil jurusan apa?” Tanya Seungho sambil menyuapkan ramyun ke dalam mulutnya.

“ Komunikasi, aku ingin jadi pembawa berita”

“Hmm… kudengar jurusan itu banyak peminatnya. Kau harus rajin belajar” Seungmi mengangguk-angguk mendengarnya.

“ Terus, tadi kau di perpustakaan bersama siapa?” Tanya Seugho lagi.

“ Temanku” jawab Seungmi tenang

“ Bukan namjachingu mu?” spontan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Seungho. Seungmi merasa tidak enak. Namun ia tetap memasang ekspresi tenang.

“Dengan temanku, tentu saja. ”

Seungho meletakkan sumpitnya. Ia diam dan menatap Seungmi serius.       

“ Hmmm.. siapa namanya?” katanya kemudian.

“ Hyunmi. Dia baru saja bertunangan dengan namjachingunya”

Yah, aku tidak berbohong. Toh tadi Hyunmi memang di perpustakaan. Biarpun baru kenal kan, dia juga sudah menjadi temanku

         “ Mwo? Tunangan? Baru lulus SMA masa’ tunangan? Bukan gara-gara ‘kecelakaan’?”

“ Oppa sembarangan! Tentu saja bukan! Oppa tahu sendiri kan, perjodohan orang tua” jawab Seungmi. Beruntung tadi Hoya sempat menceritakan beberapa hal tentang Myunsoo dan Hyunmi, sehingga ia tak perlu mengarang kebohongan.

Seungho meneguk segelas air putih, “ Kalau Eomma dan Appa menjodohkanmu, aku orang pertama yang akan menentang”

Seungmi tertawa, “ Mana mungkin mereka seperti itu? Kalaupun Eomma dan Appa melakukannya, pasti itu untuk Oppa. Oppa kan sudah TUA!” Ia berlari membawa mangkuknya yang sudah kosong ke wastafel.

“ Yak, jangan katakan kata ‘tua’ dengan penekanan. Aku…”

Seungmi melesat melewati meja makan dan menaiki tangga, menuju kamarnya.

“ Oppa cuci piring ya? Gomawo”

Seungho melongo dengan mangkuk yang masih penuh makanan. Maklum, ia makan ramyun dua porsi.

“ Yak!!”

*****

         Menunggu. Bagi sebagian manusia, kata itu adalah salah satu dari daftar kata menyebalkan yang ada dalam hidup mereka. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Sementara pikiran dan hati tak tenang, menerka. Lalu, ketika apa yang ditunggu, diharapkan kedatangannya, telah tiba, tak semua bisa menerimanya dengan sepenuh hati. Tak sedikit, dengan penantian begitu lama, apa yang ada kemudian tak sesuai harapan. Membuat arti menunggu jadi sia-sia.

Namun begitulah langit mengajarkan kepada manusia. Segalanya akan datang sesuai waktunya, tak pernah lebih cepat dan tak pernah lebih lambat. Hanya butuh sedikit kesabaran dan kepercayaan untuk mendapatkannya. Sayangnya, hati manusia terlalu sempit untuk dapat memahami kebijaksanaan langit. Sehingga apa yang kemudian dipersepsikan manusia adalah, keburukan dari sebuah proses bernama menunggu.

“ Siap?”

“ Un!” Seungmi menahan napasnya. Ia mengklik  sebuah tombol berwarna hijau. Tangan kanannya menutup kedua matanya.

Sedetik kemudian, sebuah tulisan terpampang di layar notebook-nya. Ia membuka perlahan matanya. Mengerjap-ngerjap sejenak.Napasnya tertahan. Ia menutup mulutunya. Untuk sesaat suasana sunyi.

“ Bagaimana?” Tanya Hoya yang duduk di hadapannya setelah untuk beberapa detik mereka terdiam, terpaku menatap layar notebook masing-masing.

Seungmi menarik napas berat, “ Kita hitung sampai tiga”

Hoya menangguk.

“ Hana.. dul… S.. Set.. LULUS!!”

Mereka kembali terdiam. Menatap satu sama lain tak percaya.

“ Chukkae! Ah.. senangnya!!” seru Seungmi sambil bertepuk tangan.

Hoya menangguk-angguk. Hari pengumuman hasil tas masuk Hanyang University yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Lega sekali rasanya melihat hasilnya sesuai dengan yang mereka harapkan.

“ Setelah ini mau kemana? “ katnya kemudian.

Seungmi membereskan barang-barangnya. “ Aku mau ke supermarket sebentar. Malam ini aku akan masak sesuatu yang special untuk oppa”

“ Biar kutemani”

Seungmi menggeleng. Ia tersenyum. “ ani yo. Kau pulang saja. Aku tahu kau pasti sangat ingin memberitahu berita gembira ini pada keluargamu”

Pemuda itu tertegun. Ia membenarkan perkataan Seungmi. Dan ia pun tahu jika gadis itu juga memiliki perasaan yang sama seperti yang ia rasakan. Hanya saja kondisi mereka berbeda.Sering ia kagum dengan Seungmi. Meski tampak manja, gadis itu sebenarnya sangat mandiri. Ia suka cara Seungmi tetap ceria di sekolah, menyembunyikan kesedihan, kesepiannya dibalik tawa dan celotehnya.

“ Sampai di rumah nanti aku akan telpon appa dan eomma. Mereka pasti juga terkejut. Mereka bilang akan mengirim hadiah jika aku lulus” kata Seungmi kemudian seolah tahu apa yang Hoya pikirkan.

“ Ah.. iya. Seungho Hyung juga pasti terkejut”

“Ne”

“Kajja”

*****

         Drrtt.. drrtt.. 1 new email

         Hp Seungho bergetar begitu diaktifkan. Ia baru saja keluar dari ruang rapat. Bosnya memang melarang mengaktifkan alat komunikasi saat pertemuan resmi sedang berlangsung. Ia membacanya

From : Cutie Seungmi

         Oppa, aku lulus ujian masuk Hanyang! ^^

         Omomomomomomomo.. senangnya!!!!!

         Sekarang aku sedang jalan-jalan bersama temanku. Oppa cepatlah pulang, aku akan masak special malam ini ©

         Seungho menepuk jidatnya. Ia melirik arloji di tangan kirinya. Sudah sore, beberapa jam terlewat setelah email itu terkirim. Ia bergegas menuju basement tempat mobilnya diparkir.

“ Mau kemana hyung?” Tanya Cheondoong.

“ Seungmi lulus ujian masuk Hanyang. Aku harus memberinya hadiah! Argh, aku bingung. Kasih apa ya?” langkahnya terhenti. Ia tampak bingung.

“Beli bunga di toko depan saja” usul G.O

“ Ah, kau benar! Gomawo. Aku harus cepat sebelum dia pulang”

         Kembali, dengan berlari, ia menuju basement gedung kantornya. Sementara itu, otaknya terus berputar memikirkan hadiah untuk adiknya. Tidak mungkin kan, hanya memberi bunga. Ia ingin memberi sesuatu yang berarti, yang kelak akan terus diingat oleh Seungmi. Tidak sekedar menjadi pajangan saja.

Seungho memarkir mobil hitamnya di depan toko bunga itu. Letaknya persis berhadapan dengan kantor tempat ia bekerja. Dengan tergesa, ia masuk. Tak dipedulikannya sambutan sang pemilik toko. Ia bergegas berkeliling melihat bunga-bunga yang ada.

Hmm.. bunga matahari, tulip, mawar.. mmm.. Seungmi sukanya apa ya?

         “ rangkaian mawar putih bagus juga, hyung”

Seungho tersentak. Kaget. Spontan pemuda itu menoleh ke belakang. Didapatinya Miru sedang berdiri sambil cengar-cengir.

“ Yak, sejak kapan kau mengikutiku?”

Miru pura-pura berpikir, “ aku datang untuk memberi saran. Selera seniku tinggi lho, hyung”

Seungho geleng-geleng kepala. Segera ditinggalkannya pemuda itu, capek meladeni omongannya.

“ Permisi, aku ingin satu rangkaian bunga matahari”

Pemilik toko itu mengambil secarik kertas dan mencatatnya, “ Silakan pilih modelnya” katanya kemudian sambil menyodorkan sebuah albuk berisi model rangakaian bunga.

Seungho membolak-balik halaman demi halaman dengan cepat. Sesekali terdengar ia bergumam.

“ aaa.. yang ini saja. Tapi, semuanya diganti jadi bewarna biru. Pita, kertas kado, pokoknya biru”

“ Baiklah, silakan tunggu sebentar” dengan cekatan, gadis berambut cokelat itu mengerjakan pesanannya.Ia memilih duduk menunggu di bangku kayu yang disediakan di dalam toko itu. Ia masih memikirkan hadiah apa lagi yang hendak dicarinya.

Sementara itu Miru, yang masih melihat-lihat koleksi bunga, memperhatikan gadis pemilik toko itu yang sedang memetik beberapa tangkai bunga matahari.

“ Hari Ini tidak cerah ya” kata Miru. Gadis itu menoleh.

“ Ne, menurutku juga begitu” jawabnya sambil tersenyum.

“ Kau tahu tidak, kenapa matahari tidak bersinar?”

Gadis itu menghentikan pekerjaannya. Ia tampak berpikir, “ Tentu saja karena tertutup mendung”

“ Salah. Hari ini matahari tidak bersinar,  karena mataharinya sedang memetik bunga disampingku”

Gerakan gadis itu terhenti. Kemudian tanpa berkata apa-apa, ia meninggalkan Miru.

Namja aneh! Batinnya

“ Namaku Miru. Salam kenal”

“Tsk”

Dengan cekatan gadis itu lalu membungkus beberapa tangkai bunga itu  dengan tissuepaper motif bunga-bunga biru yang kemudian dilapisi dengan plastic berwarna biru muda. Juga tak ketinggalan pita biru laut sebagai pemanisnya.

“ Gomawo” Seungho meninggalkan tempat itu tanpa mengambil kembaliannya.

“ Ah tunggu, kembaliannya” gadis itu mengejar hingga ke pintu. Namun sia-sia, Seungho sudah berlalu.

“ Biar aku yang simpan. DIa teman kantorku” kata Miru yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Pemuda itu memasang senyumannya yang paling manis, membuat perasaan kesal gadis itu kembali muncul.

Miru mengambil sejumlah uang dari tangan si gadis, “ Ha Jinli sshi. Incheon, 14 Agustus 1993. 20 tahun. Jurusan designer Seoul National University. Anak Tunggal, tinggal di apartemen 30 menit dengan naik bus dari tempat ini”

Jinli, nama gadis itu, terbelalak tak percaya. Ia tak habis pikir bagaimana pemuda yang baru satu kali ditemuinya itu langsung tahu segala hal tentangnya.

“ Yak, bagaimana kau bisa tahu? Kau stalker?”

Miru tak menjawab. Ia mengeluarkan Hp-nya dan memencet sebuah nomor. Tampaknya ia menelepon seseorang.

Jinli merasakan Hp di saku bajunya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.

“ Itu nomorku. Tunggu emailku nanti malam. Annyeong” Miru bergegas meninggalkan toko bunga itu sebelum Jinli sempat membuka mulutnya.

*****

         Seungmi memotong gimbab yang sudah jadi menjadi beberapa potongan kecil. Di meja makan sudah tersedia banyak menu. Ada bulgogi, daging sapi yang dipanggang dengan kecap, soondubu jiggae, makanan rebus campuran Ikan segar daging sapi, bubuk cabe, tahu sutra, dan telur, serta kimchi tentu saja. Ia juga membuat cocktail yang disimpan di kulkas.

“Yap selesai!” gumamnya. Ia menata piring terakhir di meja. Kemudian ia duduk di kursi tempatnya biasa duduk saat makan.

Seungmi memandangi HP-nya. Ia sudah mengirim email kepada Seungho. Meski tak ada balasan, entah mengapa gadis itu yakin sekali Oppa-nya akan pulang cepat hari ini. Ia memandangi jam dinding dengan penuh harap. Sudah hampir pukul 7 malam.

*****

            Seungho berlari dari basement sebuah department store menuju lift. Merasa tak cukup hanya dengan membeli bunga, ia memutuskan untuk mencari kado lain. Sembari itu, ia terus berharap bisa pulang tepat waktu. Ia yakin Seungmi sudah menunggunya.

Lift bergerak menuju lantai 3, tempat aksesoris dan fashion. Otaknya terus berputar memikirkan barang yang akan dibelinya.

Apa ya? Boneka.. ah, tidak! Terlalu kekanak-kanakan. Jam tangan. Mmm, Seungmi sudah punya banyak. Hp, dia tidak perlu. Ipad… aku tidak punya uang. Hh… apa ya??

            Ia melangkah dengan cepat mengelilingi lantai 3. Matanya memperhatikan setiap toko yang ada. Toko sepatu, baju, tas, aksesoris, perhiasan.. ia semakin bingung. Sementara itu, jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya terus bergerak. Pukul setengah 8. Seungho semakin gelisah.

******

            Tiga puluh menit telah lewat dari pukul tujuh. Seungmi terus menatap jam. Ia meremas-remas tangannya. Ia gelisah. Sudah semalam ini tapi Oppa-nya belum pulang. Atau jangan-jangan, memang tidak pulang.

Pikirannya terus melayang-layang. Menebak apa yang sedang dilakukan Seungho Oppa-nya. Rapat kah? Ada job-kah? Atau terjebak macet di jalan?

Kumohon, untuk malam ini pulanglah oppa

            Seungmi merasa matanya panas. Ia memandang layar Hp-nya.

Hoya, sekarang kau sedang apa?

            Ia mengetik beberapa kata. Jempol kanannya hampir saja menekan tombol send  untuk sebuah email kepada Hoya. Namun diurungkannya niat itu. Tak ingin mengganggu momen-momen bahagia Hoya dan keluarganya.

Aku tidak boleh egois

           Ia menghapus tulisan yang telah diketiknya. Langkah kakinya membawanya menuju ruang depan. Ia mengintip keluar, ke arah pagar. Berharap mobil hitam seungho sudah ada di sana. Tapi sia-sia. Entah ini sudah yang keberapa kalinya. Gadis itu lantas kembali duduk di kursi makan.

Kali ini aku boleh iri padamu kan, Hoya?

*****

         Seungho memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sebuah benda yang cukup besar terbungkus kertas kado berwarna biru terletak di jok sebelahnya. Matanya kembali melirik ke jam kecil yang terpajang di dashboard. Hampir pukul setengah 9.

Tunggu aku Seungmi. Oppa membawa hadiah untukmu. Tunggu aku, sebentar lagi.. sebentar lagi..

         Seungho menginjak gas semakin dalam. Dipikirannya hanya ada Seungmi. Ia tak boleh membiarkan adiknya menunggu lebih lama lagi. Apapun yang terjadi, ia harus tiba di rumah secepat mungkin. Dan mobil hitam itu melaju semakin kencang. Semakin kencang. Semakin kencang.

4 thoughts on “[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 3

  1. Ping-balik: [Fanfic] Be Mine Part 5 « Asian Pop City

  2. Ping-balik: [Fanfic] Be Mine Part 5 | Hyunchan's World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s