[Fanfic] Be Mine Part 2

Image

Cast: Kim Myungsoo aka L Infinite, Shin Hyunmi (Imagine), Lee Junghwan aka Sandeul B1A4, Seungyeol, Sunjong, Haena (imagine), Other member Infinite.

Genre: Romance, School, friendship

Author: RyeoChan aka YunTaeryeo

Twitter: @RyeoChan12

“Jadi yeojachinguku!” ucapnya. Jantungku tiba-tiba berdegup dengan cepat, namja yang aku sukai selama dua tahun ini memintaku menjadi yeojachingunya? “Sudahlah, terlalu lama kalau menunggu jawabanmu, aku tidak menerima penolakan!” ujarnya lalu menarikku kembali ke kelas. Semua pandangan yeoja kini tertuju pada kami yang bergandengan tangan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas kami seakan mengumumkan kalau dia tidak main-main dengan perkataannya kemarin, aku semakin bingung dengan namja di dekatku ini. Aku sama sekali tidak bisa membaca matanya, terlalu banyak teka-teki dalam dirinya, aku tidak tahu kapan dia serius dan kapan dia hanya main-main. Bell berbunyi aku yang duduk agak di depan tidak berani menatap ke belakang hanya duduk di tempatku.

“Hyunmi-yah, bisa pinjamkan aku pulpen?” Minhyun salah satu teman kelasku yang juga lumayan dekat denganku berdiri di samping mejaku. Dia menatap ke belakang sebentar dan entah kenapa sikapnya langsung aneh. “Ah mianhae Hyunmi-yah, lupakan saja!” ucapnya lalu pergi padahal aku baru saja mengambilkannya dari tas. Aku hanya mengangguk tak paham. Han seosangnim sudah datang.

“Anak-anak, kalian bisa duduk dengan teman kelompok yang telah seosangnim tentukan kemarin, ara?” perintahnya. Semua anak sibuk mencari pasangan yang sudah ditentukan. Aku hanya menatap sekeliling kelas dan mengamati setiap orang yang sedang menghampiri pasangannya, tapi namja satu itu sama sekali tidak bergeming. “Tuan Kim, apa kau mendengarku?” tanya Han seosangnim pada namja itu. Tiba-tiba terdengar langkah menuju ke bangkuku, jantungku berdegup lebih cepat lagi, tidak lama namja itu sudah duduk di sampingku.

“Annyeong haseyo!” sapaku kikuk, namun dia tidak peduli.

“Baiklah, kerjakan tugas pada halaman 183, dan untuk tugas prakteknya bisa kalian kerjakan di rumah bersama,” jelas Han seosangnim.

“Myungsoo-sshi, mana bukumu?” tanyaku agak segan. Dia lalu menarik buku di hadapanku lalu membaca isinya. Aku baru saja mau protes tapi bibirku serasa tertahan saat menatapnya. “Hyunmi, babo!” gumamku. Dia lalu tersenyum. “Jangan tersenyum di hadapanku!” ucapku lalu mengambil buku itu lagi. Aku sangat legah saat bell pergantian pelajaran berdering. Aku masih memikirkannya? Ah, Molla! Aku tidak peduli biarlah ini berjalan sesuai keinginannya.

Aku berjalan keluar kelas sendirian, hari ini Haena kurang enak badan jadi dia tidak masuk. “Argghh!” sebuah pulpen melayang mengenai kepalaku.

“Haha, lihat dia! Menurut kalian apa dia pantas dengan prince JangChoong?” ujar salah satu dari mereka, empat yeoja menghampiriku dan menghakimiku seenaknya.

“Yak kalian ini hoobae, tidak bisakah lebih sopan?” gumamku.

“Hahaha, aku tidak pernah menganggapmu sunbae!” katanya sambil menjitak kepalaku.

“Kalian apa-apaan, huh?” omelku sedikit emosi, entah kenapa aku susah sekali marah pada orang padahal dia ini hoobaeku. Fans fanatic Myungsoo yang mereka panggil Prince itu.

Beeppp…beeppp…. Sebuah motor berhenti tidak jauh di hadapan kami. Pengemudinya membuka kaca helm, dan itu namja yang dipuja-puja hoobae tidak tahu diri itu.

“Bukankah aku menyuruhmu menungguku?” ujarnya. “Palli!” Perintahnya sambil menunjuk ke belakang.

“Mwoya?” tanyaku.

“Palli!” perintahnya lagi, aku hanya mengikutinya dan naik ke belakangnya. Para hoobae kurang ajar itu menganga melihat kami, Myungsoo menancap gasnya lalu meninggalkan tempat itu segera. “Babo!” gumamnya hampir tak terdengar karena dia menggunakan helm.

“Waeyo?” tanyaku. Dia membuka kaca helmnya. “Neo babo!” teriaknya, aku sontak menjitak kepalanya.

“Argghh,” erangku, jelas saja, dia menggunakan helm yang ada malah tanganku yang sakit. Dia sedikit berbalik dan bisa kulihat wajahnya menahan tawa. Aku jadi salah tingkah melihatnya.

“Pegangan yang erat!” teriaknya dan tanpa perhitungan laju motor semakin cepat. Refleks aku memeluk pingganganya karena takut. Ini pertama kalinya aku naik motor. Dia berhenti di dekat halte kami turun kemarin. Aku langsung saja melepas tanganku yang melingkar dipinggangnya.

“Jwaseonghamnida!” ucapku.

“Hey, sampai kapan kau akan bicara formal padaku? Ikuti permainanku, mana ada orang pacaran menggunakan bahasa yang sangat-sangat formal?” ujarnya, aku menganga mendengarnya bicara lebih dari tiga kata. “Wae?” tanyanya.

“Aniyo!” jawabku.

“Mulai sekarang aku tidak mau mendengar bahasa formal lagi! Diamana rumahmu?” tanyanya lagi. Aku menunjuk ke arah lorong yang tidak jauh dari tempat kami sekarang. Dia kembali menjalankan motornya dan menuju ke gang yang kumaksud hingga sampai di rumahku. Saat bersamaan kami sampai depan rumah, eomma juga baru pulang.

“Oh, Hyunmi-yah?” ucap eomma. Myungsoo membuka kaca helmnya dan menyapa eomma.

“Annyeong haseyo!” sapanya sambil tersenyum, ternyata anak ini sopan juga yah.

“Annyeong haseyo!” balas eomma. “Ayo masuk dulu!” ajak eomma.

“Ne, gansahamnida! Aku lebih baik pulang saja!” katanya.

“Aniyo, masuk dulu yah!” ajak eomma lagi.

“Sudahlah eomma, dia bilang tidak mau tidak usah dipaksa,” kataku kesal.

“Wah kalian bertengkar yah?” selidik eomma.

“Aniyo!” ucap kami bersamaan. Aku menatapnya sinis.

“Haha, ayo masuk!” Sekarang eomma menarik lengannya turun dari motor. Myungsoo dan eomma berjalan masuk ke rumah dan meninggalkanku. Aku hanya mengikuti mereka dari belakang. Eomma dan Myungsoo duduk di ruang tamu. “Siapa namamu?” tanya eomma.

“Kim Myungsoo imnida!” jawab Myungsoo.

“Kau pasti belum makan siang, makan siang dulu yah!” pinta eomma.

“Gansahamnida! Sebaiknya aku pulang saja!” kata Myungsoo.

“Aniyo, kau sudah di sini tidak boleh pulang dengan perut kosong! Sekalian sebagai tanda terima kasih mengantarkan uri Hyunmi dengan selamat,” jelas Eomma.

“Eomma, dia bilang kan tidak mau!” kataku kesal lalu pergi melangkah menuju kamar. Aku mengganti baju dan kembali ke ruang tamu tapi Myungsoo sudah tidak ada, dia pasti sudah pulang.

“Ayo, makan yang banyak yah!” terdengar suara eomma ruang makan, aku menuju ke sana dan ternyata Myungsoo masih di sini di ruang makan.

“Ne, gansahamnida!” ucapnya.

“O, Hyunmi-yah ayo makan bersama Myungsoo!” pinta eomma, aku mengambil posisi di sebelah Myungsoo karena memang biasanya aku duduk di kursi itu.

“Eomma, aku mau makan ramyun yah?” pintaku.

“Tapi sayang. itu tidak sehat!”

“Eomma sekali ini saja! Jebal!” pintaku memelas.

“Ne, tapi jangan dibiasakan yah!” ucap eomma sambil mengelus kepalaku. “Myungsoo, kau makan sama Hyunmi-yah!” kata eomma lalu pergi. Aku menuju dapur dan memasak ramyun, entah kenapa aku sangat ingin makan ramyun. Myungsoo tersenyum simpul seakan mengejekku. Aku tidak peduli dan melanjutkan makanku, dia juga makan makanan yang disiapkan eomma.

“Mashita!” ujarku saat memulai memakannya. Dia sekali lagi tersenyum.

Baby I’m sorry we got the better…. Ponselku berdering, video call.

“O, Oppa?” aku tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, menyimpan sumpit lalu mengangkatnya.

“Chagiya~~” teriaknya. Aku langsung tersedak saat mendengarnya berteriak, aku menatap Myungsoo dan sepertinya dia tidak peduli dan masih fokus pada makanannya.

“Yak Oppa, aku bilang berhenti memanggilku seperti itu! Eomma bahkan mengira kau namjachinguku!” omelku.

“Hahaha, biarkan saja! Biar aku cepat-cepat dijadikan menantunya,” candanya.

“Oppa!!”

“Hahaha, aku bercanda! Jangan marah yah!” ucapnya. “Tunggu, kau sedang makan ramyun? Itu tidak sehat, kenapa kau makan itu?” omelnya.

“Bukan urusanmu!” jawabku sambil memeletkan lidah.

“Ya ya ya, kau sudah mulai berani pada Oppa yah?” tanyanya.

“Molla!” jawabku sambil berdiri dari meja, tidak ingin malu di depan Myungsoo. Setelah menerima video call dari Junghwan Oppa, aku kembali ke meja makan. Dia sudah hampir selesai makan, aku juga segera menyelesaikan makanku. Setelah makan dia menemui eomma dan berpamitan.

“Ahjumma gansahamnida makanannya benar-benar enak!” ujarnya, wah mulutnya manis juga.

“Ne cheonman, lain kali datang lagi yah!” pesan eomma.

“Ne,” jawabnya lalu menaiki motornya dan pergi.

“Hyunmi-yah, kemari!” panggil eomma saat aku baru saja mau naik ke kamar.

“Ada apa eomma?” tanyaku. Eomma lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya.

“Eomma tahu tidak seharusnya eomma melakukan ini, kau berhak menentukan menyukai siapapun,” kata eomma yang membuatku bingung.

“Maksud eomma Myungsoo?” tanyaku. Eomma hanya tersenyum dan memberikan kotak itu.

“Dulu hidup dua orang yang sangat saling mencintai dan nyaris mengabadikan cintanya dalam pernikahan, mereka sudah menyiapkan semuanya. Seminggu sebelum pernikahan mereka, sahabat mereka menikah. Di hari pernikahan sahabat mereka itu, calon pengantin pria mengalami kecelakaan dalam perjalanan hingga yeoja ini meminta agar namjanya itu menikahinya, akhirnya namja itu yang menikahi calon pengantin wanita di hari itu,” jelas eomma.

“Mwo? Ini cerita siapa eomma? Teman eomma?” tanyaku ikut bersedih.

“Yeoja yang meminta namjanya menikahi sahabatnya itu adalah almarhum halmoni, sayang!” kata eomma sambil menangis dan memelukku. Aku ikut menangis melihat eomma menangis.

“Halmoni?” gumamku.

“Ne, suatu hari mereka dipertemukan kembali! Halmoni sudah menikah dengan haraboji dan mereka berdua sudah memiliki masing-masing keluarga, mereka membuat sebuah janji akan menikahkan cucu-cucu mereka yang masih kecil saat itu kelak nanti, janji itu dibuat hingga akhirnya halmoni menghembuskan napas terakhirnya!” jelas eomma lalu semakin meneteskan air mata.

“Eomma ulljima!” ucapku.

“Sayang, kau boleh menolaknya kalau kau tidak mau!” perintah eomma.

“Aniyo, eomma! Kalau itu permintaan halmoni, aku akan melakukannya!” tegasku. Eomma lalu memelukkku kembali.

“Gomawo, chagi!” ucap eomma. “Eomma tidak akan melarangmu pacaran hingga kalian dipertemukan nanti, di saat kelulusanmu nanti, aku dan orang tuanya sudah berjanji akan mempertemukan kalian. Kau sudah punya takdirmu, chagi!” ucap eomma. Aku ahnya tersenyum dalam tangis mendengar kenyataan itu. Aku kembali ke kamar dan mengamati cincin itu, di dalamnya terdapat ukiran dua buah huruf M&H? Halmoni bernama Hyunji dan haraboji itu namanya kira-kira siapa yah? Aku menjadikan cincin itu sebuah liontin dan mengalungkannya di leherku, hingga aku dipertemukan dengan takdir yang sudah disiapkan halmoni untukku.

= = = =

Author POV

Hyunmi memasuki kelas dan mengeluarkan buku yang akan dipelajarinya di jam pertama.

“Hyunmi, annyeong!” sapa Seungyeol yang baru saja datang bersama Myungsoo dan Sungjong.

“Annyeong!” sapa Sungjong juga, mereka bertiga menuju tempatnya yang agak di belakang. Kami memulai pelajaran seperti biasa dan tidak terasa bell istirahat berdering. Satu bulan ini aku harus bekerja bersamanya, tapi aku tidak tahu bagaimana memulainya. Aku berpikir keras agar akhirnya aku mengalahkan gengsiku untuk menanyakannya. Aku berdiri dari tempatku dan perlahan melangkah ke mejanya dengan gelisah.

Myungsoo POV

Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana pada yeoja yang baru saja menjadi yeochinku itu. Aku sebenarnya bukan tidak mengenal dia, tapi memang pada dasarnya aku tidak tertarik memperhatikan orang lain. Aku menganggap saja dia takdir karena di saat aku butuh seseorang untuk menjadi yeochin, dia muncul dengan mengungkapkan perasaannya secara tiba-tiba padahal setauku selama ini kami tidak pernah berbicara satu sama lain sedikitpun. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti hati seorang yeoja, tapi aku sudah janji pada seseorang aku tidak akan pernah jatuh cinta selain pada takdir yang sudah lama dia siapkan untukku.

“Chogi,” sekarang yeoja itu muncul di hadapanku. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya sambil menelengkan kepala.

“Hmm…?”

“Kapan kau mau mengerjakan tugas dari Han seosangnim?” tanyanya.

“Terserah kau saja!” jawabku. Aku merasa orang-orang di kelas ini memperhatikan kami seakan masih tidak percaya kami ini pacaran. “Kemari!” perintahku, dia sedikit takut-takut mendekat, aku menariknya agar mendekat dan merogoh saku jasnya.

“Kau mau apa?” tanyanya. Aku menarik tanganku keluar dari sakunya bersama dengan ponselnya yang sekarang sudah di tanganku. Aku tertawa kecil melihat wallpapernya fotonya bersama dengan seorang namja. Aku menekan beberapa angka lalu menekan tombol call, lalu kuberikan kembali ponselnya.

“Itu nomorku!” bisikku, agar yang lain tidak tahu. Kan tidak wajar orang pacaran tidak tahu nomor pasangannya. Dia langsung kembali ke tempatnya.

“Myungsoo, ayo ke cafetaria!” ajak Sungjong.

“Kalian duluan saja!” kataku.

“Hyunmi-yah, kajja istirahat!” ajak seorang yeoja pada Hyunmi. Mereka bersiap-siap pergi, aku segera berdiri dan menariknya pergi.

“O’, ige mwo?” tanyanya. Aku hanya menariknya. “Haena-yah, mianhae! Annyeong!” sapanya pada temannya itu. “Yak, Kim Myungsoo! kau ini hobi sekali menarik-narikku,” omelnya. Aku langsung menghentikan langkahku sehingga dia menabrakku. “Ah, Appo!” ringisnya.

“Oppa, annyeong!” sapa seorang yeoja, yah yeoja yang paling sering menggangguku, yeoja yang tiap hari memenuhi inboxku, yeoja yang kemarin menghakimi Hyunmi, dan yeoja yang membuatku muak tiap hari hingga aku menuruti ide Dongwoo hyung agar segera memiliki yeochin. “Oppa, aku membawakan makan siang untukmu!” katanya sambil menyodorkan kotak makanan padaku.

“Tsk,” aku hanya berdecak dan berbalik menghadap Hyunmi.

“Appo? Mianhae!” ucapku sambil mengusap dahinya dengan ibu jariku, dia menatapku bingung. “Kajja, sebagai permintaan maafku aku akan menuruti permintaanmu!” janjiku sambil menggenggam tangannya dan tersenyum, aku lalu menggandengnya menuju cafetaria.

“Namja aneh!” gumamnya, aku hanya tersenyum devil. Aku makan berdua dengannya di cafetaria dengan berbagai pasang mata yang memandang kami yang membuatku harus bersikap manis pada yeoja ini. “Jangan terlalu memaksakan diri, ini bukan gayamu!” bisik Hyunmi.

“Jinjja? Arasseo!” jawabku lalu bersikap biasa. Aku harus bisa meyakinkan orang lain kalau kami benar-benar pacaran dan tidak akan ada yang mengangguku lagi, tapi aku juga tetap berusaha menjaga perasaanku agar tidak jatuh cinta pada yeoja ini.

= = = = =

Author POV

Sudah seminggu mereka pacaran, tapi benar-benar tidak layak dikatakan pacaran. Mereka hanya bertemu di sekolah, sesekali mengerjakan tugas di rumah Hyunmi, makan bersama di cafetaria tapi hanya duduk dalam diam. Hyunsoo berjalan menuju parkiran bersama Seungyeol, Sungjong, dan Hyunmi. Tiba-tiba ponselnya berdering.

“Yoboseyo?” jawab Myungsoo.

“….”

“Aku baru saja selesai,” jawab Myungsoo. Seungyeol, Sungjong, dan Hyunmi hanya menatap Myungsoo.

“…”

“Ne, tunggu saja!”

“….”

“Arasseo!” jawabnya sambil menutup ponsel.

“Siapa?” tanya Sungjong.

“Eomma,” jawab Myungsoo.

“Eomonim kenapa?” tanya Seungyeol.

“Eomma memintaku menjemputnya!” jawab Myungsoo lagi.

“Ara, kalau begitu pergi saja! Nanti eommamu menunggu lama!” ujar Hyunmi.

“Kajja!” Myungsoo menarik Hyunmi agar berjalan lebih cepat menuju parkiran.

“Bukannya kau harus menjemput eommamu?” tanya Hyunmi sambil mengambil helm yang diberikan Myungsoo.

“Sekalian lewat saja!” jawab Myungsoo sambil menaiki motornya dan menyalakannya. “Kajja!” Hyunmi pun menurutinya dan naik ke motor Myungsoo. Seperti biasa Myungsoo mengantar Hyunmi pulang, dia segera ke tempat eommanya berada sekarang. Dia memasuki sebuah kantor Event Organizer, eommanya sedang menemui seseorang. Dia menatap sekelilingnya dan mendapati eommanya duduk di lobi bersama seorang yeoja yang seumuran dengan eommanya itu.

“Oh, itu anakku!” ujarnya sambil menunjuk ke arah Myungsoo. Myungsoo berjalan mendekat pada mereka, teman eommanya itu berbalik.

“Oh, Myungsoo-sshi?” ternyata teman eommanya itu tidak lain adalah eomma Hyunmi.

“Kau sudah mengenalnya?” tanya eomma Myungsoo.

“Annyeong haseyo, ahjumma!” sapa Myungsoo. Eomma Hyunmi hanya tersenyum.

“Ne, dia teman Hyunmi,” Eomma Hyunmi lalu membisikkan sesuatu pada eomma Myungsoo.

“Jeongmal? Omo, itu bagus sekali!” gumam eomma Myungsoo. Myungsoo menelengkan kepalanya bingung.

“Aku benar-benar tidak menyangka ini sangat kebetulan!” ujar eomma Hyunmi.

“Ne, aku senang sekali!” lanjut eomma Myungsoo. “Bukannya Hyunmi lebih muda dari Myungsoo?” tanya eomma Myungsoo.

“Ne, tapi waktu SMP dia sekolah di Taiwan dan mengikuti program percepatan,” jawab eomma Hyunmi. “Dia terobsesi sekolah karena orang yang sangat dekat dengannya sudah bersekolah jadi kami menyekolahkannya lebih cepat,” lanjut eomma Hyunmi.

“Aigoo, daebak!” ucap eomma Myungsoo, Myungsoo juga ikut kaget mendengar Hyunmi lebih muda dari dia. Setelah mengobrol lama, Myungsoo dan eommanya pamit pulang.

= = = = =

“Myungsoo-yah, kau masih menyimpannya?” tanya eomma Myungsoo saat sampai di rumah mereka.

“Mwo?”

“Cincin!” jawab eommanya.

“Oh, ini?” tanya Myungsoo sambil menunjukkan kalung yang tergantung di lehernya yang tertutupi kemeja. Eomma Myungsoo hanya tersenyum.

“Apa ini berat bagimu, Nak?” tanya eomma Myungsoo. Myungsoo tersenyum dan merangkul eommanya.

“Gwenchana, Eomma!” jawab Myungsoo sambil menenangkan eommanya.

 

To be continued

3 thoughts on “[Fanfic] Be Mine Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s