[Fanfic] Be Mine Part 1

Image

Cast: Kim Myungsoo (L) Infinite, Shin Hyunmi (Imagine), Lee Junghwan (Sandeul) B1A4, Other member Infinite, Haena (Imagine)
Genre: Romance, and Friendship
Author: YunTaeryeo aka RyeoChan

= = = = 

Hyunmi POV

Hari ini aku menjalani rutinitasku yang sudah dua tahun belakangan ini aku lakukan. Menyelinap ke bangku seorang namja dan memasukkan surat tiap hari senin dan kamis ke dalam laci seorang namja yang sesekali juga kusertai dengan hadiah, tepatnya aku ini seorang ‘Secret Admirer’ dari namja pujaan yeoja satu sekolahan, aku tidak pernah menampakkan aku menyukainya. Tidak lama setelah menjalankan aksiku, namja itu datang bersama dengan sahabat-sahabatnya Seungyeol, dan Sungjong. Dia

“Kau mendapatkannya lagi?” tanya Sungyeol sambil meninju pelan bahu namja yang kusukai itu yang kini tengah tersenyum simpul di bangkunya. Senyuman tipisnya itu mampu membuat para yeoja jatuh cinta padanya.

“Uri Myungsoo punya banyak penggemar, tapi yang satu ini berbeda! haha,” ujar Sungjong. Dia kembali tersenyum.

“Hmmm… caranya kuno, tapi aku suka suratnya!” gumamnya, mwo?? Dia menyukai suratku? Apa ini mimpi? Jadi dia membaca semuanya? Aku bahkan berpikir surat itu sudah terkumpul di tong sampah sebelum dia sempat membukanya.

“Woaa~~ Neon joa?” tanya Sungjong.

“Molla!” jawabnya tidak acuh dan sekali lagi tersenyum simpul.

= = = =

@Hyunmi Room

“Apa dia menyukaiku?” gumamku sambil menopang dagu di atas tempat tidur. “Huft, dia hanya suka suratku!” gumamku frustasi sambil menggulingkan badan hingga menatap langit-langit kamarku.

Drrttt….drrrttt… Ponselku tiba-tiba berdering, aku mencoba meraih ponsel yang terletak di atas meja di samping tempat tidurku.

“Yeoboseyo?” sapaku tanpa melihat siapa yang menelpon.

“Annyeongie, uri Hyunminie!” Suaranya tidak asing, aku menatap layar ponsel lalu mengerjap tak percaya.

“Junghwan Oppa??” tanyaku memastikan.

“Aku pikir kau sudah melupakanku, yeobo!” ucapnya.

“Yak Oppa, berhenti memanggilku yeobo!” omelku.

“Apa salah kalau aku memanggil yeojachinguku yeobo? haha,” tanyanya.

“Sejak kapan kita pacaran, hah? haha,” tanyaku balik.

“Hiks, aku ditolak oleh yeoja kecil manja ini!” candanya.

“Oppa, berhenti bercanda! Kapan kau kembali?” tanyaku.

“Aku tidak mau kembali sebelum kau menerimaku!”

“Oppa, ayolah berhenti bercanda!”

“Ne ne ne princess, aku akan kembali minggu depan, kau senang?”

“Jeongmal??” tanyaku senang.

“Hmmm…, kau begitu merindukanku yah?” tanyanya.

“Aniya, nae neomu bogosipeo!” ucapku senang.

“Hahaha…,” Junghwan Oppa hanya tertawa.

= = = =

Author POV

Myungsoo berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.

“Kalian tau, mereka semua sangat mengganggu!” gumam Myungsoo sambil mematikan ponselnya.

“Apa ada yang ingin bunuh diri lagi? haha,” tanya Dongwoo sambil mencicipi kopi di hadapannya.

“Itu karena kau belum menetapkan hatimu, Myungsoo-yah!” ujar Sungkyu.

“Gurae, mereka semua tahu kalau kau itu masih singel,” lanjut Seungyeol. Myungsoo mulai berpikir.

“Aku sudah bosan dengan mereka, apa yang harus aku lakukan?” tanya Myungsoo cuek.

“Kau hanya perlu mencari seseorang untuk jadi yeojachingumu, aku yakin mereka akan pergi satu per satu, haha,” usul Dongwoo.

“Apa itu akan berpengaruh?” tanya Myungsoo sepertinya tertarik.

“Yak Kim Myungsoo, aku hanya bercanda!” kata Dongwoo yang tidak menyangka Myungsoo betul-betul tertarik.

“Itu patut di coba!” Myungsoo meninggalkan mereka semua yang masih tercengang dengan keseriusan Myungsoo.

= = = =

@School

“Aku harus berani menyatakan perasaanku, bagaimana bisa dia melihatku kalau aku tidak pernah menampakkan wajahku di hadapannya?” tanya Hyunmi dalam hati.

Myungsoo duduk sendirian terlihat sedang memikirkan sesuatu, Hyunmi yang baru saja dari ruang guru tidak sengaja melihatnya.

“Apa ini kesempatanku?” gumam Hyunmi sambil menatap Myungsoo dari jauh. “Benar, kapan lagi dia sendirian? Hyunmi Fighting!!” kata Hyunmi sambil mengepalkan tangan ke udara. Hyunmi berjalan ke arah Myungsoo dengan jantung yang berdebar cepat. “Apa aku harus melakukan ini?” dia berhenti sejenak, menarik napas panjang lalu melanjutkan langkahnya. “Chogiyo?” Myungsoo menatap Hyunmi sinis. “Ada yang harus aku katakan!” lanjutnya.

“Mwo?” tanyanya sinis.

“Naega…?” Baru saja Hyunmi mau mulai bicara.

“Myungsoo-yah!” kedua sahabat Myungsoo datang.

“Hyunmi-sshi, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Seungyeol.

“Dia bilang ada yang harus dia katakan padaku,” jawab Myungsoo. “Katakan sekarang!” pinta Myungsoo, Hyunmi semakin deg-degan apa dia harus mundur?

“Wah itu Myungsoo, Seungyeol, dan Sungjong!” tiba-tiba segerombolan yeoja datang mengelilingi mereka, wajah Hyunmi berubah pucat.

“Mwo?” tanya Myungsoo sekali lagi. “Palliwa!”

“Ne! Nan…? Nan joahaeyo!” ucap Hyunmi sambil menahan malunya namun dia tidak bisa mengelak lagi. Semuanya terbelalak mendengar apa yang dikatakan Hyunmi.

“Mworago? Dia pikir dia siapa? Yeoja tidak tahu diri!” gumam salah satu yeoja yang mengerumuni mereka.

“Wah nyalinya besar juga yah, cuih!” ucap salah satu dari mereka lagi. Hyunmi berusaha menahan tangisnya hingga dia tidak sanggup menahannya lagi, dia berbalik dan berlari namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.

“Kau tidak mau mendengar jawabanku?” tanya Myungsoo sinis, selama ini tidak ada yang berani menyatakan perasaan secara langsung kepada Myungsoo.

“Aniya, aku tahu aku tidak tahu diri. Aku yakin, kau bahkan tidak ingat namaku, hiks….,” jawab Hyunmi sambil mencoba melepas tangan Myungsoo.

“Tckk…,” Myungsoo mendecak. “Arasseo, ije…,” Myungsoo memang tidak terlalu ingat dengan nama Hyunmi padahal mereka sudah hampir tiga tahun berada dalam satu kelas, dia menatap sekilas name tag di seragam Hyunmi. “Shin Hyunmi, neon nae yeojachingu!” ujarnya. Dia lalu keluar dari kerumunan itu sambil menarik Hyunmi mengikutinya. Semua orang yang ditinggalkannya shock terlebih lagi Hyunmi yang masih ditarik mengikuti Myungsoo. Hyunmi melepas paksa genggaman tangan Myungsoo lalu mendorongnya dan berlari sambil menghapus air matanya. Myungsoo hanya menghembuskan napas panjang lalu berjalan kembali menuju kelas, sedangkan Hyunmi masuk ke toilet mencoba menenangkan dirinya. Sekarang semua tatapan siswa di sekolah itu tertuju pada Hyunmi yang sedang berjalan menuju kelasnya, dia segera berlari masuk ke dalam kelasnya.

“Hyunmi-yah, wae?” tanya Haena sahabatnya.

“Aniya, gwenchana!” dia melirik sekilas ke arah Myungsoo yang benar-benar terlihat tidak peduli setelah apa yang ia lakukan tadi.

“Hyunmi-yah, apakah berita itu benar?” tanya Haena. Hyunmi hanya menarik napas frustasi. “Gwenchana, apa pun yang terjadi katakan padaku, aku ini sahabatmu!” kata Haena.

“Gomawo!” ucap Hyunmi sambil berusaha tersenyum.

“Hyunmi-sshi, gwenchana?” Sungjong tiba-tiba datang ke arah Hyunmi.

“Ne,” jawab Hyunmi. Sungjong sebenarnya menyukai Hyunmi namun tidak ada satu pun di antara sahabat-sahabatnya yang tahu.

Bell berbunyi, semuanya kembali ke tempat masing-masing.

“Baiklah, kalian harus mengerjakan tugas kelompok! Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang, ara? Seosangnim yang akan menentukannya, nomor urut 1 Kim Jaemi dengan nomor urut 4 Lee Gyumin, nomor urut 2 dengan nomor urut 5,” Han seosangnim mengemumkan semua kelompok hingga akhirnya, “Nomor urut 8 Shin Hyunmi dan nomor urut 12 Kim Myungsoo,” Hyunmi shock mendengar pengumuman Han seosangnim.

“Yak, Kim Myungsoo~~,” Seungyeol menyeringai menatap Myungsoo.

“Wae?” tanya Myungsoo tidak peduli.

“Tsk!” Sungjong hanya berdecak.

“Wae gurae?” Seungyeol berbalik manatap Sungjong hingga akhirnya dia kebingunangan sendiri.

Tidak terasa bell pulang pun berbunyi, siswa-siswa JangChoong High School mulai membenahi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.

“Itu Myungsoo sunbae!” teriak salah satu yeoja yang mendapati Myungsoo, Seungyeol, dan Sungjong berjalan pulang lalu mendekatinya. “Sunbae, bisakah aku mendapatkan nomormu?” tanya yeoja itu.

“Tsk…,” Myungsoo hanya berdecak. Myungsoo menatap sekelilingnya lalu tatapannya berhenti pada seorang yeoja yang berjalan tidak jauh darinya. Tanpa mempedulikan hoobaenya tadi, Myungsoo berlari ke arah yeoja itu dan menariknya menaiki bus.

“Yak Kim Myungsoo, mau kemana kau?” teriak Seungyeol. Myungsoo tidak acuh dan tetap menarik Hyunmi dan duduk bersama di bus itu.

“Ige mwo?” tanya Hyunmi sambil menarik tangannya.

“Hmm, bukankah kau menyukaiku?” tanya Myungsoo.

“A… sudahlah lupakan!” ucap Hyunmi sambil menatap ke luar jendela. Mereka terbalut dalam hening sekarang. “Chogiyo…?”

“Mwo?” jawab Myungsoo tanpa menatap Hyunmi. Dia langsung berbalik ke arah yeoja itu, “Kita sudah pacaran dan kau masih menggunakan bahasa formal padaku?” tanya Myungsoo.

“Kapan aku bilang mau menjadi yeochinmu?” gumam Hyunmi kesal. Myungsoo hanya tersenyum simpul. Bus pun berhenti. Hyunmi turun dari bus dan diikuti oleh Myungsoo. “Yak, sampai kapan kau mau mengikutiku? Apa tidak puas kau mempermalukanku tadi?” omel Hyunmi.

“Kapan aku mempermalukanmu?” tanya Myungsoo. Hyunmi berpikir kembali.

“Benar juga dia bahkan hanya mengatakan aku jadi yeochinnya bukan menolakku,” pikir Hyunmi.

“Myungsoo-yah!” panggil seseorang.

“Kalian? Kenapa bisa sampai sini?” tanya Myungsoo bingung.

“Kajja!” panggil Sungjong. Myungsoo lalu naik ke mobil mereka tanpa pamit pada Hyunmi.

“Hyunmi-sshi, annyeong haseyo!” sapa Sungjong. Hyunmi hanya membungkukkan badannya dan tersenyum. Mobil mereka melaju.

= = = =

“Apa kau serius?” tanya Sungjong.

“Mwoya?”

“Shin Hyunmi!”

“Apa yang salah?” tanya Myungsoo. Sungjong terlihat kesal pada Myungsoo, dia hanya bisa berdecak.

“Kim Myungsoo, jangan mempermainkan hati yeoja!” ucap Sungjong penuh penekanan.

“Apa masalahmu?” tanya Myungsoo sinis.

“Sudah sudah, jangan sampai bertengkar!” lerai Seungyeol. “Myungsoo-yah, apa ini semua ada hubungannya dengan sarang Dongwoo hyung? Dia kan cuma main-main,” ujar Seungyeol.

“Molla!” jawab Myungsoo tidak acuh.

= = = = =

Hyunmi POV

Aku berjalan menuju ke rumah dan mencoba memikirkan kembali apa yang tadi terjadi. “Aku yeijachingu Kim Myungsoo? Bagaimana bisa? Selama hampir tiga tahun, tadi pertama kalinya aku bicara padanya! Dan aku sekelompok dengannya? Berdua? Omo omo, aku rasa aku sudah mulai tidak waras, apa ini mimpi?” aku menepuk pipiku. “Aishh, appo! Aku masih sadar! Ah lupakan, Myungsoo pasti tidak serius dengan yang dikatakannya, jangan berharap Hyunmi-yah!” gumamku selama berjalan hingga tanpa sadar aku sudah sampai di depan rumah.

“Annyeong, aku pulang!” teriakku saat masuk rumah.

“Wah anak eomma sudah pulang, ganti baju lalu makan siang yah!” perintah eomma.

“Ne eommaku sayang!” ucapku lalu segera berlari ke kamar. “Shin Hyunmi, tidak usah dipikirkan lagi, arasseo?” gumam Hyunmi. Setelah ganti baju, Aku segera menemui eomma dan makan siang bersama.

“Apa ada yang terjadi hari ini di sekolah?” tanya eomma.

“Aniya eomma, semuanya seperti biasa!” jawabku sambil tersenyum.

“Jeongmal? Arasseo, ngomong-ngomong kapan Junghwannie akan kembali dari Taiwan?” tanya eomma.

“Katanya minggu depan!” jawabku.

“Hmm… kau pasti senang namjachingumu akan kembali!” ujar eomma yang membuatku tiba-tiba tersedak.

“Eomma, sejak kapan aku pacan dengan Junghwannie Oppa? Aku dan dia cuma sebatas saeng dan Oppa, tidak lebih kok!” bantahku sambil memanyukan bibir.

“Tapi selama ini dia memanggilmu chagiya, baby Hyunmi, yeobo, haha,” canda eomma.

“Itu karena dia memang senang sekali menjahiliku, mungkin semua yeoja yang dia kenal dipanggil seperti itu…haha,” ujarku.

“Husstt… Junghwan itu anak baik jadi tidak mungkin!”

“Ara ara, aku tahu eomma, dia namja yang paling baik di seluruh dunia setalah appa…hehe makanya aku senang kalau di dekatnya, aku sudah menganggapnya Oppa sendiri!” kataku.

“Baguslah kalau bukan namjachingumu!” gumam eomma.

“Mwo? Wae?” tanyaku bingung.

“Aniya!” jawab eomma sambil tersenyum, aku hanya memanyunkan bibirku kesal. Setelah makan siang yang lumayan terlambat itu, aku kembali ke kamar.

Drrtt…drrtt…. Ponselku bergetar. Aku segera meraihnya yang tergeletak di atas tempat tidur.

“Mwo? lima panggilan tak terjawab?” gumamku sebelum ponsel itu kembali berdering. “Yeoboseyo?”

“Kenapa lama sekali angkatnya, huh?” omel seseorang di seberang sana.

“Mianhae, aku tadi makan siang sama eomma di ruang makan,” jawabku.

“Mworago? Jam berapa ini? Kenapa baru makan siang sekarang?” omelnya lagi.

“Aku baru pulang dari sekolah, Oppa!” elakku.

“Mulai besok sebaiknya bawa bekal ke sekolah, ara?” perintahnya.

“Shireo!” jawabku.

“Yak, nappeun yeoja! haha,” ujarnya.

“Ih Oppa teganya!” omelku.

“Hehe, bercanda kok!” gumamnya.

“Kapan tepatnya Oppa pulang, hah?” tanyaku.

“Minggu depan chagi, hari senin!” jawabnya. “Wae? Kau sudah kangen sekali yah sama Oppamu yang paling cute ini?” ujarnya narsis.

“Isshhh, narsis sekali Oppa ini! haha,” ucapku.

“Memang kenyataannya begitu, haha,” ujarnya. “Apa ada yang terjadi hari ini? Bagaimana sekolahmu?” tanyanya lagi.

“Gwenchana, hanya hari ini aku sangat kesal dengan seorang namja!” jawabku.

“Mwo? Siapa yang berani menggagumu? Jangan coba-coba melirik namja lain selain Oppa yah!” pintanya.

“Haha, Oppa masih berlebihan yah!” kataku.

“Hehe, Oh iya Oppa harus mengurus sesuatu nanti Oppa telepon lagi yah!”

“Ne,” jawabku, dan telpon pun terputus.

= = = =

Aku melangkah masuk ke sekolah dan tetap berusaha tidak ada yang terjadi dan tidak mengacuhkan pandangan mata membunuh yang melayang padaku.

“Hyunmi, annyeong!” sapa Seungyeol yang datang dari belakang Hyunmi seperti biasa bersama Sungjong dan Myungsoo, Myungsoo?? Aku tidak berani menatap namja dingin itu.

“Annyeong haseyo!” sapaku lalu berjalan sedikit lebih cepat. Tiba-tiba seseorang berjalan lebih cepat dan menarikku entah kemana yang jelas melewati kelas kami. “Waeyo?” tanyaku saat dia berhenti menarikku dan menjebakku diantara dinding dan dirinya.

“Kenapa kau terus menghindar? Bukannya kau menyukaiku?” tanyanya sambil tersenyum sinis, senyuman khasnya.

“Lupakan saja!” ucapku lalu berusaha lepas darinya namun dia menahanku.

“Bisakah hanya biarkan seperti ini?” tanyanya, aku tidak begitu mengerti maksudnya.

“Maksudmu?” tanyaku bingung.

“Jadi yeojachinguku!” ucapnya. Jantungku tiba-tiba berdegup dengan cepat, namja yang aku sukai selama dua tahun ini memintaku menjadi yeojachingunya? “Sudahlah, terlalu lama kalau menunggu jawabanmu, aku tidak menerima penolakan!” ujarnya lalu menarikku kembali ke kelas. Semua pandangan yeoja kini tertuju pada kami yang bergandengan tangan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas kami seakan mengumumkan kalau dia tidak main-main dengan perkataannya kemarin, aku semakin bingung dengan namja di dekatku ini. Aku sama sekali tidak bisa membaca matanya, terlalu banyak teka-teki dalam dirinya, aku tidak tahu kapan dia serius dan kapan dia hanya main-main. 

 

TBC

One thought on “[Fanfic] Be Mine Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s