[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 2

Pukul 09.00 PM

Gaseume nae gaseume

Ppaegokhi geudaeman sseoinneunde

Eotteokhae Na eotteokhae

Neol jiuran geonji geureoke nan oh nan motae

Dering hp Seungmi memecah keheningan malam kediaman keluarga Yang. Gadis berambut sebahu itu bergegas mengangkatnya.

Panda oppa calling

         “ Yoboseo?”

“ Kau sedang apa sekarang? Sudah makan belum?” Suara Seungho di seberang terdengar berbisik.

“sudah. Sekarang aku sedang belajar untuk ujian. Ada apa oppa, kenapa bisik-bisik? Rapatnya belum selesai?” Tanya Seungmi beruntun.

“ Ne. Mmm.. tidak usah menungguku pulang. Tidurlah duluan. Jangan lupa mengunci semua pintu dan jendela juga mematikan kompor. Arasseo?”

“Ne, arasseo oppa” jawab Seungmi. Ini sudah beberapa kali terjadi sebelumnya. Dan ketika hp nya tadi bordering, ia sudah bisa menebak kalau oppa-nya itu akan mengatakan hal seperti itu.

“ Gurae. Ah, sudah dulu ya. Aku mau rapat. Annyeong”

“ annyeong”

Klik! Telepon terputus. Seungmi menopang dagunya dengan kedua tangan. Buku pelajarannya dibiarkan terbuka begitu saja di hadapannya. Meski ia sudah kondisi seperti ini sudah sering terjadi, tetapi rasa kesepian itu tetap saja ada. Seungmi sering berharap andai saja waktu dapat terputar kembali. Ia ingin mengulang saat-saat Oppa mengajarinya bermain piano, atau pergi ke bioskop berdua pada hari sabtu. Juga saat oppa menggandeng tangannya ketika mereka berangkat dan pulang sekolah bersama.

Mengingat kenangan indah seperti itu, harusnya mampu melukiskan seuntai senyum dan rasa bahagia. Namun, entah mengapa saat ini justru menimbulkan rasa sesak di hati.

Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..

         1 new email

******

         Hoya membaca buku sejarahnya dengan kening berkerut. Sederetan kalimat di dalamnya bagai barisan semut hitam yang panjang. Ia menghela napas berkali-kali. Entah kenapa, otaknya itu susah sekali menerima informasi dari mata pelajaran tersebut.

“ Hoya ah, kau besok ada ujian?” Tanya Appa-nya..

“Hmm” jawab Hoya dengan masih serius membaca.

“ Ya sudah, pulang saja dan belajarlah di rumah. Biar noona dan adikmu saja yang membantu disini”

“ Gwenchana. Aku sudah belajar, ini hanya mengulang sedikit. Tenang saja, aku pasti bisa kok” Ia berdiri dan menghampiri Appa yang sibuk memasak.

“ Mana yang harus kubawa?” tanyanya.

“ Meja nomor 10”

Hoya dengan cekatan mengantarkan pesanan. Café malam ini penuh pengunjung. Ia tidak tega membiarkan orang tua dan adiknya bekerja bertiga saja. Noonanya akhir-akhir ini tidak dapat membantu karena pulang kerja larut malam. Ia jadi jarang bertemu dengannya.

Berbicara soal jarang bertemu, ia jadi ingat Seungmi. Gadis itu pasti malam ini sedang belajar untuk membunuh rasa sepinya karena sendirian di rumah tanpa Seungho hyung. Ia tahu betul betapa Seungmi tidak suka suasana sepi.

Setelah melaksanakan tugasnya, ia kembali ke meja di sudut dapur dan membaca kembali bukunya. Namun tangannya tiba-tiba tergerak untuk mengirim sebuah email untuk Seungmi.

To : Seungmi

         Biar kutebak, malam ini kau pasti sedang duduk di depan meja belajarmu, membuka buku sejarah, dan membacanya sambil menopang dagu dengan kedua tanganmu.

         Kalau kau sedang kesepian, ini kukirimkan temanku untuk menemanimu

         Tak  lama kemudian, ada email balasan.

From : Seungmi

         Haha.. gomawo ^^ Temanmu itu lucu sekali. Boleh aku kenalan dengannya tidak?

Ngomong-ngomong, kau ini jangan-jangan stalker atau sasaeng fans ku ya?

         Hoya tersenyum

Sepertinya dia baik-baik saja

*****

         Ada sesuatu yang tidak pernah berhenti bergerak. Waktu. Sekeras apapun berusaha, manusia tak akan bisa menghentikannya. Mereka hanya bisa mengukir kenangan di atasnya. Dan sekeras apapun menginginkan untuk kembali atau menuju ke masa depan, manusia hanya akan mendapatkan kenyataan bahwa mereka selamanya hanya hidup di hari ini.

Segalanya memang selalu datang bersamaan. Seperti saat kelulusan sekolah. Kebahagiaan datang bersama dengan kesedihan akan perpisahan.

“ Seungmi ah.. Hwaaaaaaa” seorang gadis berambut panjang berlari ke arah Seungmi. Mereka berdua berpelukan. Rasanya, 3 tahun mereka bersama terasa sangat singkat.

Seungmi menghapus air matanya, lalu berjalan ke luar kelas. Ia berdiri di depan jendela koridor yang menhadap ke arah taman. Pemandangan hampir sama dimana-mana, para siswa tengah mengucapkan salam perpisahan kepada teman masing-masing di hari kelulusan ini. Siswa perempuan, hampir semuanya berurai air mata. Gadis itu tersenyum getir. Bukan karena sedih berpisah dengan temannya. Namun..

Seseorang datang dan berdiri di sampingnya. Ia menatap Seungmi. Merasa diperhatikan, gadis itu lantas menoleh.

“ Wae?” tanyanya.

“Ani” Hoya lalu mengalihkan tatapannya ke arah taman.

Seungmi mengikuti arah pandangan Hoya.

“ Hoya” panggilnya kemudian setelah beberapa saat mereka terdiam

“ Hmm..”

“ Apa kau bahagia?”

“ Tentu saja aku bahagia. Setelah kelulusan ini kan, kita bisa melanjutkan ke universitas”

Seungmi tidak menjawab. Ia diam-diam melirik ke arah Hoya. Sepertinya ia salah bertanya seperti tadi. Sudah sangat sering ia menjejali telinga dan pikiran pemuda itu dengan curahan hatinya. Juga, entah sudah sebesar apa kesabaran yang dikeluarkan untuk menghadapi orang seperti dirinya. Mungkin untuk kali ini ia tidak perlu bercerita apa-apa.

“ aku tidak keberatan kalau sekarang kau ingin menceritakan sesuatu kepadaku”

Seungmi terkejut. Namun dengan cepat disembunyikan ekspresinya itu. I menggeleng kuat.

“ Ani. Tidak ada apa-apa”

Hoya tersenyum simpul, “ Hmmm.. begitukah? Aku tidak yakin. Atau kau mau aku yang menebaknya?”

Gadis itu menatap Hoya yang tersnyum ke arahnya. Ia lalu kembali menatap halaman, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Seungmi yakin, masalah seperti ini tak perlu ditangisi.

“ Eomma dan appa tidak jadi pulang. Waktu tahun baru kemarin, mereka bilang mau pulang bulan ini, bersamaan dengan kelulusanku. Tapi.. ya.. lagi-lagi katanya tugas Appa masih banyak. Ini sudah setahun aku tidak bertemu mereka. Aku kan… kangen. Terus..” Seungmi tiba-tiba berhenti. Ia terlihat menarik napas berkali-kali. Cara khasnya supaya tidak menangis.

“ Terus.. sudah hampir dua minggu Oppa tidak pulang ke rumah. Katanya, ada tugas penting jadi dia harus menginap di kantor. Sebelumnya, Oppa pernah seperti itu juga, tetapi tetap pulang pagi harinya. Dan tidak selama ini. Sekarang malah seminggu sama sekali tidak di rumah. Dia hanya menelponku sebentar. Lama-lama aku merasa kehilangan Oppa”

Hoya tidak langsung bicara. Ia mengerti betul perasaan sepi yang Seungmi rasakan. Dulu saat Appanya masih bekerja di perusahaan, ia merasakan bagaimana sebulan tanpa Appa di rumah. Hoya juga sempat merasa seperti tidak memiliki Appa.

“ Masih ingat dengan pembicaraan kita tentang langit malam?”

Seungmi mengangguk, “ Ne”

“ Tenang saja, segala sesuatunya itu berpasangan. Pasti ada sebuah kebahagiaan yang sudah disiapkan untukmu”

“ Arasseo. Hanya saja, aku belum mengerti bagaimana menemukan kebahagiaan itu. Entah kenapa hatiku selalu sempit”

Hoya tersenyum sekali lagi, “ Ada seseorang yang berkata seperti ini padaku : Dalam kehidupan, ada hal-hal yang tidak perlu kita protes dan kita kritik. Kita hanya butuh untuk memahaminya”

Gadis itu tertegun. Ia sudah memilih orang yang tepat. Hoya selalu bisa memberikan kata-kata ajaib, jawaban atas berbagai pertanyaannya. Hoya tak hanya bisa menghibur tapi juga menguatkannya.

“ Kurasa itulah jawabannya. Lalu, yang namanya kebahagiaan itu datangnya bukan dari luar tapi dari sini “ ia menunjuk ke arah jantungnya.

“ Dari hati, dari dalam diri kita” lanjutnya lagi.

Seungmi tersenyum. Ya, lagi-lagi, pemuda itu memang benar. Mungkin ia harus belajar lebih dewasa lagi dalam memahami segala sesuatu.

“ Gomawo” katanya malu-malu. Hoya tersenyum membalasnya

Gaseume nae gaseume

Ppaegokhi geudaeman sseoinneunde

Eotteokhae Na eotteokhae

Neol jiuran geonji geureoke nan oh nan motae

         Panda Oppa calling..

“ Yoboseo?” Seungmi berjalan beberapa langkah menjauh dari Hoya.

Tak beberapa lama kemudian, Seungmi kembali. Mata gadis itu berkaca-kaca. Beberapa kali Seungmi menarik napasnya, tetapi airmatanya tetap mengalir. Hoya menatapnya bingung.

“ wae yo? Ada apa?”

“ Oppa.. oppa..  tadi.. oppa telepon, katanya… sekarang sedang dalam perjalanan menjemputku. Trus, Oppa bilang mau mengajakku ke café untuk merayakan kelulusanku.” Seungmi terisak. Ia menarik napsnya lagi.

“ Aku senang.. Hoya, kau benar. .” Hoya tersenyum lega mendengarnya.

“ Syukurlah, aku ikut senang. Sudah, sekarang hapus air matamu. Kau harus tampak secantik mungkin”

Seungmi mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan menyeka air matanya.

“ Sudah belum?”

Hoya tampak mengamati. Kemudian ia menggeleng, “ Ani. Kau masih terlihat habis menangis. Cuci muka di wc dulu”

Setengah berlari, Seungmi mengikuti saran Hoya. Pemuda itu hanya menatapnya sambil geleng-geleng.

Polos sekali

         Gadis itu lalu kembali beberapa saat kemudian, “ bagaimana? Sudah tida terlihat seperti habis menangis kan?”

Hoya tampak berpikir, “ Sudah lebih baik dari yang tadi. Hmm.. kau tidak memakai maku up? Lip balm atau mascara?”

“ Shireo! Aku tidak suka memakai benda-benda itu. Bedak dan parfum sudah cukup. Ah, sebentar.. aku harus bersiap-siap” ia kembali melesat masuk ke dalam kelas. Dengan bergegas, di bereskannya buku-buku, ijazah yang tadi dibagikan, dan segala benda-benda miliknya ke dalam tas. Perasaan bahagia meletup-letup di hatinya. Ia ingin segera bertemu dengan Seungho Oppa. Dua minggu tidak melihatnya, rasanya seperti lama sekali.

Hp-nya kembali bordering.

“ Yoboseo? Oke.. aku keluar sekarang”

Seungmi berlari keluar kelas.

“ Hoya.. aku pergi dulu” dihampirinya Hoya yang masih berdiri di depan jendela koridor.

“ Ne. Selamat bersenang-senang”

Seungmi tidak bisa berhenti tersenyum, “ Gomawo. Aigoo.. jjeongmal gomawo yo. Annyeong!” ia melambaikan tangannya.

Beberapa langkah berjalan, Seungmi berbalik lagi.

“ Wae?” Tanya Hoya

“ Sepertinya, kebahagiaan itu menular ya”

Pemuda itu tertawa. Ia menatap punggung Seungmi yang semakin menjauh menuruni tangga.

Aku tidak sepenuhnya bahagia, Seungmi.

*****

         Seungmi keluar dari gerbang sekolah. Tak jauh dari situ, tampak sebuah sedan hitam terparkir. Itu adalah milik Oppa-nya. Ia berjalan menghampiri dan mengetuk-ketuk jendela depan.

“ Panda Oppa”  tidak terdengar jawaban.

Seungmi menggaruk-garuk kepalanya. Ia menghentak-hentakkan kakinya, tandak tak sabar. Tiba-tiba, pandangannya jadi gelap.

“ Nugu ya?’ tanyanya panic

“ Coba tebak” kata seseorang yang menutupi matanya dari belakang.

“ Yang Panda Oppa” Seru Seungmi.

Seungho cepat melepaskan telapak tangannya, “ Mwo? Panda? Setampan aku ini kau bilang panda?” Seungmi tertawa mendengarnya. Mereka lalu masuk ke dalam mobil.

“ Kau merindukanku kan?” Tanya Seungho samb il menyetir.

“ Sepertinya tidak” jawab Seungmi sambil tersenyum jahil. Seungho mencubit pipi adiknya hingga gadis itu meringis.

“ Belum dua minggu tidak bertemu, kau sekarang sudah bertambah gemuk saja” kata seungho lagi.

Seungmi menoleh cepat. Ia meraba pinggangnya dan memegang pipinya. “ Ani yo! Mengatakan orang lain gemuk, padahal Oppa sendiri berat badannya juga di atas normal kan?” balasnya.

” Kau ini!” ia mengacak-acak rambut Seungmi.  Mereka tertawa.

Seungmi menatap Oppa nya. Sepertinya aku tidak kehilangan Oppa

******

Tentu saja aku bahagia. Setelah kelulusan ini kan, kita bisa melanjutkan ke universitas

         Hoya tengah berjalan gontai menuju rumahnya. itersenyum tipis mengingat perkataannya siang tadi. Ia menyesal mengatakannya karena sama saja dengan berbohong pada Seungmi. Melanjutkan pendidikan ke universitas tidak semudah mengucapkannya. Apalagi dengan kondisi ekonomi keluarganya yang masih belum stabil. Tampaknya ia harus memendam impian untuk pergi ke universitas.

Langkahnya terhenti di depan café keluarganya. Namun ia terkejut, keadaan café sungguh berbed hari ini. Kosong. Tidak ada pengunjung, Appa,Eomma, dan adiknya juga tidak ada. Bahkan pintunya terkunci.

Apa yang terajdi? Batinnya.

Pandangannya lalu tertuju pada secarik kertas yang di gantungkan di pintu bagian dalam.

Maaf, untuk sehari ini café tutup. Akan buka kembali seperti biasa pada esok hari

Hoya berlari menuju rumahnya. Jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya apa yang terjadi . Selama di buka, café mereka belum pernah ditutup secara tiba-tiba seperti ini. Ditambah lagi, orang tuanya sama sekali tidak mengatakan apa-apa padanya kemarin malam mengenai hal ini.

Sampai di depan gerbang rumahnya, ia segera masuk tanpa membunyikan bel dan mengucap salam.

“Eomma, Apppa? Sebenarnya apa yang terjadi?” ia menuju ruang tamu. Tidak ada orang.

“ eomma, Appa.. Noona.. saeng-ah…” panggilnya lagi

Ia berlari ke ruang makan. “ Sebenarnya apa yang..”

“ Chukkae hamnida.. Chukkae hamnida”

Lagu ucapan selamat terdengar. Eomma, Appa, bahkan Noona dan adiknya berkumpul di ruang makan dan bernyanyi. Di meja, tampak banyak makanan terhidang. Bahkan ada sebuah kue tart kecil. Hoya kaget. Ia hanya menatap bingung.

“ Selamat atas kelulusanmu” seru Appa sambil meniup terompet.

“ anak Eomma sudah besar sekarang” eomma menghampiri dan memeluknya.

“ chukka hoya ah” Noona mengelus kepalanya.

“ Hyung, selamat menempuh perjalanan baru” ucap dongsaengnya dengan gaya sok cool.

Hoya beridiri mematung. Mentap satu persatu anggota keluarganya bergantian.

“ Ini.. untukku? Jadi café tutup hari ini untuk menyambutku?” tanyanya. Ada rasa bahagian, haru, bercampur di hatinya. Ia serasa ingin menangis. Namun gengsi di hadapan dongsaengnya.

“ Gwenchana yo. Keberhasilan itu memang harus dirayakan. Ah sudahlah, ayo kita makan. Eomma sudah masak yang special”

“ Gomawo. Gomawo” Saking bahagianya, ia hanya bisa mengucapkan satu kata itu.

Mereka lalu mengelilingi meja makan bersama. Makanan yang ada di meja benar-benar membuat perut kelaparan. Tanpa disuruh, Hoya makan banyak hari ini. Ia benar-benar merasa bahagia. Harinya terasa sempurnya.

“ Oh iya, ini Appa bawakan brosur-brosur universitas. Kau pilih saja dimana” kata Appanya sambil menyodorkan beberapa lembar kertas. Hoya tertegun.

Bagaimana mungkin aku bisa pergi ke sana. Apa Appa mempunyai biaya yang cukup?

         “ Tapii…”

“ Sudahlah, ayo pilih saja. Appa dan Eomma tidak keberatan kau kuliah dimanapun asal kau bisa bertanggung jawab”

“ bagaimana dengan café nya?”

Eomma tersenyum, “ Sebenarnya hari ini ada kabar gembira lain. Kalian tahu, ada perusahaan yang meminta café kita mengantarkan paket makan siang untuk mereka setiap hari. Lalu, karena café semakin ramai dan keuntungan tahun lalu cukup banyak, Appa dan Eomma memutuskan untuk mengambil dua pegawai baru. Jadi, ditambah pegawai kita yang lama, kita punya tiga pegawai”

“ Eh? Jinja ?”

“ ini kejutan dari Appa dan Eomma” tambah Appanya.

Hoya merasakan matanya panas. Ya, benar kata Suengmi. Bahagia itu menular. Ia benar-benar merasakannya saat ini.

*****

         Ting. Tong.. ting.. tong..

         Bel rumah keluarga Yang berbunyi. Tak lama, Sungmi keluar dan membukakan pagar. Dua orang pemuda tampak beridiri di sana.

“ Yo, Seungmi ah! Apa kabar?” sapa pemuda berambut merah, Lee Joon.

“ Baik! Hehehe..” jawab Seungmi. Mereka lalu masuk ke dalam.

“ Kudengar dari Seungho hyung, kemarin kelulusanmu ya? Chukkae” kali ini pemuda berambut pirang, Cheondoong, yang berbicara.

“ Ne. Gomawo yo oppa”

“ wah, tidak terasa kau sudah besar. Hmm.. cepatlah lulus dari universitas lalu menikahlah dengan oppa” canda Leejoon.

“ Yak Joon! Berani kau menggoda adikku, kuhajar kau dengan seribu jurus taekwondo” Seungho tiba-tiba muncul dari arah tangga. Leejoon hanya tertawa.

“ Tenang saja Hyung, leejoon hyung sudah punya sekertaris cantik di kantor kita”

Leejoon mengepalkan tangannya ke arah Cheondoong. Seungho dan seungmi hanya tertawa melihat mereka berdua.

“ aku berangkat dulu ya. Baik-baiklah di rumah. Belajar untuk ujian masuk” pesan Seungho.

“ Arasseo kepten!”

“ Kami berangkat yaa.. Annyeong!”

“ Annyeong! Hati-hati” pesan Seungmi sebelum menutup pagar.

Setelah menunci pintu, ia kembali ke kamarnya. Ia membuka sebuah buku latihan soal hadiah dari Oppa-nya kemarin. Dibacanya sekilas halaman demi halaman. Hpnya tiba-tiba bordering.

Nothing’s over Nothing’s over Nothing’s over

jumuneul wiweo naege  Ddan nom mannamyeon andwae
Beolsseo geureomyeon andwae  Ajigeun kkeutnange aniya
Neol bonaen jeok eopseo

“ Yoboseo”

“ Ehm! Ada yang sedang senang sepertinya” jawab suara di seberang. Seungmi tertawa.

“ Ne.. ah… aku senang sekali! Hahaha.. ngomong-ngomong, ada apa menelponku? Mau minta diajari latihan soal?” tebak Seungmi.

“ Hmm.. memangnya aku akan pergi ke universitas?”

Bola mata Seungmi membesar tanda tak percaya. “ Kau bercanda kan Lee Hoya? “

Di seberang, Hoya menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia membiarkan Seungmi terus bertanya dan penasaran. “ Hmmm…”

“ Yak.. Yak..hei! Hoya, bukannya kemarin kau bilang mau kuliah?! Jawab serius dong” seru Seungmi lagi.

“ Memangnya kenapa kalau aku tidak kuliah? Kau kan bisa main ke café ku”

“ Ya tapi.. tapi kan.. kuliah penting! Eh, kau bercanda ya??”

Tawa Hoya akhirnya lepas juga. Seungmi kesal mendengarnya. Ia merasa dikerjai.

“ Hitungan tiga kau tidak berhenti tertawa, kutup teleponnya. Hana, dul..”

“ Stop! Baik.. baik.. aku berhenti sekarang. Aigoo, kenapa kau selalu bisa kukerjai?! Hahaha. Aku hanya bercanda, aku akan ke universitas juga. Tenang saja.

Senyuman Seungmi merekah, “ Lalu kemana?” tanyanya.

“ Aku tidak mau mengatakanna duluan. Bagaimana kalu menghitung sampai tiga, lalu kita katakan bersama?” usul Hoya.

“ Baik”

“ Hana, dul, set… Hanyang University!!!”

2 thoughts on “[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s