[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 1

Casts :

  1. MBLAQ Member
  2. Yang Seungmi as Seungho’s younger sister (imaginer)
  3. Infinite Hoya as Suengmi’s Schoolmate
  4. Another imaginer casts

 

Langit malam Seoul dipenuhi warna warni percikan kembang api. Suasana penyambutan tahun baru sangat meriah. DI taman, tempat rekreasi, penuh oleh orang-orang yang terlarut dalam gegap gempita menuju detik-detik terakhir di tahun 2011. Tampaknya semua berbahagia. Tampaknya..

Tritt.. tritt.. tritt…

Dering telepon memecah keheningan ruang tamu. Seorang pemuda bergegas mengangkatnya. Kemudian ia terlarut dalam sebuah percakapan singkat dengan seseorang yang berada di seberang sana.

“ Dari siapa oppa?” Tanya seorang gadis, sesaat setelah dia meletakkan gagang telepon di tempatnya.

“ Dari eomma. Err… katanya… mereka tidak bisa pulang akhir tahun ini. Appa harus melakukan persiapan menyambut presiden Korea yang akan melakukan kunjungan ke Thailand” jawabnya pelan. Dan seperti yang telah ia duga sebelumnya, gadis itu langsung murung dan berbalik meninggalkannya. Ia bergegas menyusul.

” Mmm… se, sebenarnya Eomma dan Appa sangat ingin pulang, tapi..”

“ Tapi keadaannya tidak memungkinkan. Aku sudah bosan mendengar alasan seperti itu” Potong gadis itu, Seungmi, yang langsung mengunci diri di kamar.

“ Tapi.. kalau urusan Appa sudah selesai, mereka pasti pulang kok. Hei, kau dengar aku tidak? Seungmi ah?” Ia, Seungho, mengetuk-ketuk pintu kamar adiknya. Mencoba memberi pemahaman.

“ Molla” jawab Seungmi dari dalam dengan suara serak. Ia tahu, adiknya pasti sedang menahan tangis.

Seungho berdiri mematung. Sebuah rasa bersalah terselip di hatinya. Ini malam tahun baru, seharusnya mereka bahagia. Menyalakan kembang api, berjalan-jalan di Myungdong, atau pergi menonton konser. Seharusnya. Namun pada kenyataannya,  ia hanya membuat Seungmi menangis.

Ia lalu memiih duduk di ruang keluarga, menyalakan I-padnya. Ada beberapa tugas yang harus diselesaikannya berkaitan dengan pekerjaannya sebagai seorang Event Organizer. Sebentar-sebentar, matanya melirik ke arah tangga. Berharap Seungmi segera turun dari kamarnya.

Benar saja, tak begitu lama, Seungmi keluar dari kamarnya. Gadis 18 tahun itu duduk diam dan menyalakan televisi. Seungho hanya melirik tanpa berani bertanya. Ia lalu beranjak menuju halaman belakang rumah. Entah apa yang dikerjakan kakakknya, Seungmi tak peduli. Matanya menatap lurus ke arah layar. Sementara tangannya sibuk memencet remote, mengganti channel.

“ Seungmi ah, bagaimana kalau malam ini kita membuat barbeque?” Tanya Seungho dari belakang. Ia tetap bungkam.

Seungho lalu duduk di samping gadis itu. “ Aku sudah menyiapkan peralatannya. Kau bantu aku menata sayuran di piring ya?”

“ Shireo” jawab Seungmi singkat tanpa memalingkan wajahnya dari televisi.

“ Ayolah, aku tahu kau belum makan malam. Kau pasti lapar”

“ Shireo”

“ Aigoo, kau mau oppa gendong ya?” Seungho benar-benar melakukannya. Ia tertawa saja mendengar Seungmi meronta-ronta minta diturunkan.

“ Turunkan aku! Nanti aku jatuh” rengak Seungmi.

“ Aigoo.. punggungku”

“ Sudah tahu punggungnya bermasalah, malah menggendongku”

Pemuda 25 tahun itu hanya meringis, “ Sudahlah, ayo masak saja. Kalau kenyang, sakitnya pasti hilang. Hahaha” Seungmi tidak menggubrisnya. Ia melangkah menuju dapur.

“ Ya ampun, oppa! Ini kan daging mahal!” serunya sambil mengeluarkan daging dari kulkas.

“ Benarkah? Aku tidak tahu daging mana yang selama ini kita makan. Jadi kubeli saja yang itu. Daging yang mahal kan, sudah pasti bagus” sahut Seungho dari halaman belakang sembari menyiapkan pemanggangan.

Seungmi menggeleng-gelengkan kepala, “ Daging bagus dan murah itu adanya di supermarket dekat stasiun. Makanya jangan membeli makanan tanpa aku. Huh, aku berharap nanti oppa menikah dengan perempuan yang hemat supaya keuangan oppa bisa terkontrol”

“Hahaha”

*****

Di bawah langit yang sama, di sudut kota yang berbeda,

“ Hoya ah, tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor lima’

“ Ne Appa” Dengan cekatan, pemuda berambut coklat itu membawa nampan menuju sepasang kekasih yang menunggu di sudut café milik orang tuanya. Disajikannya dua spaghetti dan dua lemon tea hangat.

“ Maaf membuat anda menunggu. Silakan dinikmati”

Ia lalu kembali ke dapur. Hari ini pengunjung yang datang sangat banyak. Mungkin karena menjelang tahun baru. Ia tampak begitu lelah. Sembari duduk, diteguknya segelas air putih. Melelui jendela dapur yang terbuka, ia menatap langit bertabur bintang di luar. Sesekali tampak warna-warni cahaya percikan kembang api.

Entah mengapa, ia suka sekali menatap langit. Begitu lapang, dan membuat hatinya merasa tenang. Meski tetap ada secuil rasa sedih yang hinggap di hatinya. Selalu, di setiap malam tahun baru ia harus berkutat di café dari pagi. Sedangkan, disaat yang bersamaan, remaja seusianya akan menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka, keluarga, atau bahkan kekasih.

Dulu tidak seperti ini. Tiga tahun lalu, ia masih bisa bermain hingga larut di malam tahun baru bersama teman-teman klub dancer-nya. Sebelum perusahaan Appanya bangkrut, kehidupannya tidak seperti ini. Perekonomian keluarganya lalu memburuk. Beruntung dengan tabungan yang masih tersisa, mereka dapat mendirikan café kecil. Untuk menghemat pengeluaran dari gaji karyawan, mau tak mau ia dan Noona serta dongsaengnya harus ikut membantu.

Sebuah kembang api kembali meledak di langit. Hoya tersadar dari lamunannya. Seraut wajah melintas di kepalanya. Ia lalu mengambil hp dan mengetik beberapa kata.

“ Hoya ah, tolong antarkan ke meja nomor 12” seru Appa.

“ Ne” dikirimnya sebuah email sebelum ia melesat menuju sumber suara.

To : Seungmi

            Langit malam ini begitu indah. Apa kau melihatnya?

*****

            “ Yap, dagingnya sebentar lagi matang. Tuan putri, silakan menunggu di ruang keluarga”

“ Ne..” sahut Seungmi singkat. Ia lalu kembali menyalakan televisi.

Seungho tersenyum melihatnya. Tampaknya mood Seungmi sudah agak membaik. Pemuda itu membolak-balikkan beberapa potong daging. Aroma barbeque memenuhi halaman belakang.

“ Tadaa…. Barbeque special tahun baru”

Mereka menikmati makan malam sambil menonton acara gayo daejun yang disiarkan MBC.

“ Aku heran, kenapa perempuan suka pakai baju yang pendek-pendek seperti itu” kata Seungho sambil menunjuk ke layar. “ Apa tidak dingin? Sekarang kan sedang musim salju”

Seungmi menganggkat bahu, “ Entahlah. Itu urusan mereka, yang jelas aku tidak seperti itu”

Mendengarnya, Seungho spontan mengacak-acak rambut adiknya. Entah berapa banyak waktu yang terlewat, saat ini ia menyadari bahwa Seungmi sudah mulai dewasa.

“ Tahun baru ini apa harapanmu?”

“Apa ya? Hmmm… mungkin.. seorang namjachingu?” jawab Seungmi sambil tersenyum jahil.

Seungho tersedak. Cepat-cepat diminumnya segelas air putih.

“ Yak, berapa umurmu? Lulus SMA belum, sudah mau punya namjachingu. Aku saja belum punya pacar”

“ Oh iya, oppa kan sudah TUA. Apa mau kucarikan saja?” tanyanya dengan penekanan pada kata ‘tua’.

“ Hhh.. sampai saat ini pun, aku belum pernah mendengar ada yeoja yang suka padaku”

“ Pasti karena mata oppa. Tuh, ada lingkaran hitamnya kan?”

Pemuda itu meraba matanya, “ Hei, mataku ini memiliki daya tarik tersendiri”

Seungmi tertawa.

Tidak terasa , jarum jam menunjukkan pukul 12 lewat. Tahun sudah berganti. Namun di luar sana, suasana masih sangat ramai. Kembang api masih berlomba untuk meledak di langit. Mungkin akan terus seperti ini hingga pagi tiba.

Seungho kembali menguap untuk yang kesekian kalinya. Matanya berair, ia tampak sudah sangat mengantuk.

“ Seungmi ah, kau tidak tidur?” tanyanya. Seungmi menggeleng.

“ Aku menunggu perform super junior dan 2PM” jawabnya dengan pandangan yang lurus manatap layar.

“ Aigoo.. apa sih, bagusnya boyband-boyband itu sehingga kau harus menunggunya hingga selarut ini?” Ia mengambil bantal kursi dan berbaring di sofa.

“ Ya pokoknya mereka keren! Ahh… aku berharap tahun ini bias menonton super show”

“ Daripada kau menghabiskan uangmu untuk yang seperti itu, lebih baik kau belajar agar bisa diterima di universitas. Lagipula kalau begadang terus seperti ini, kau bisa sakit. Malam kemarin kau juga terlambat tidur kan?”

Seungmi menoleh, “ Bukannya malam kemarin oppa yang memintaku datang menonton langsung gayo daejun KBS karena oppa adalah EO acara itu?”

Seungho tertawa, “ iya sih. Ya sudah, kalau acaranya selesai cepatlah tidur”

“Ne”

Seungmi melihat hp nya. Ada sebuah email masuk. Mungkin karena terlalu asyik menonton, ia tidak menyadarinya. Ia tersenyum saat membacanya.

To : Hoya

            Maaf baru kubalas. Malam ini aku membuat barbeque bersama oppa. Benar seperti katamu, langitnya sangat indah. Bagiku langit malam hari itu memang gelap, terkadang tampak menakutkan. Namun jika tidak begitu, bintang, bulan, dan cahaya kembang api malam ini pun tak  akan terlihat. Tapi .. aku tidak begitu pandai menilai langit, tidak seperti dirimu. ^^

*****

            Hari demi hari berlalu. Gegap gembita tahun baru pun telah usai. Begitu pula dengan musim yang sebentar lagi akan berganti.  Semua orang telah kembali melakukan aktivitasnya masing-masing. Pun dengan sekolah yang sudah kembali masuk.

Seungmi terburu-buru menuruni tangga begitu mendengar bel berbunyi. Tangannya sibuk mengancing jas abu-abu seragam sekolahnya. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul setengah tujuh. Ia membuka pintu.

“ Annyeong” sapa seorang pemuda yang berdiri di depan pagar rumahnya.

“ Ah.. G.O oppa? Annyeong!” sahutnya ramah. Seungmi membuka kan pagar untuk teman oppa nya itu. Kemudian mempersilahkan pemuda itu masuk dan duduk di ruang tamu.

“ Seungho sudah siap?” Tanya G.O

Seungmi mengernyit, kebingungan. “ Mmm.. apa kalian ada janji pagi ini?”

Kali ini giliran G.O yang bingung, “ Ne. Kami ada job baru dan pagi ini berencana mendiskusikannya di kantor. Soalnya klien kami ingin mendengar kepastiannya nanti siang”

Seungho oppa.. PABO!!!!

“ Rrrr… tunggu sebentar ya, oppa?” Seungmi bergegas menuju kamar Seungho.

Tanpa mengetuk pintu, ia segera masuk. Benar saja, Seungho masih tertidur pulas. Seungmi mengepalkan tangannya, geram. Ia tak habis pikir mengapa oppanya itu bisa melupakan janji yang sangat penting.

“ Oppa, bangun! G.O oppa menunggu di bawah” ia menepuk-nepuk pipi Seungho.

“ G.O? mau apa dia? “ jawabnya pelan dengan mata yang masih tertutup.

Seungmi memutar bola matanya, “ Bukan kah kalian janji akan ke kantor pagi-pagi? Yak, oppa!! Ireona!!” ia menepuk lebih keras lagi.

Seungho tersentak. Ia bangun seketika.

“ Benar juga! Gawat, aku lupa!” secepat kilat, pemuda itu meloncat dari tempat tidurnya.

“ Buatkan minum untuknya dan suruh tunggu aku sebentar lagi” katanya sebelum melesat ke kamar mandi.

Seungmi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia lalu melakuakn perintah oppa-nya itu.

“ Silakan diminum dulu oppa. Mmm.. maaf, sepertinya tadi malam Seungho oppa mengerjakan sesuatu hingga larut. Jadi.. “

G.O tertawa, “ Gwenchana. Tidak begitu mendesak kok. Lee joon, cheondoong, dan Miru juga masih dalam perjalanan. Ah, kau tidak ke sekolah? Ini sudah jam tujuh”

Gadis itu sontak melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia lalu berlari menuju kamarnya. Merapikan rambutnya kembali, menyemprotkan sedikit parfum, lalu melesat dengan membawa tas sekolahnya.

“ Mianhae oppa, aku harus berangkat sekarang”

“ Ne.. ne.. hati-hatilah”

Seungmi memasang sepatunya dengan tergesa. G.O mengantarnya hingga pintu. Baginya, gadis itu sudah seperti adiknya sendiri. Seungmi pun sudah akrab dengannya juga dengan ketiga teman Seungho lainnya,. Mereka seperti keluarga sendiri.

“ Aku berangkat ya! Ah, tolong sampaikan pada Oppa kalau sarapannya sudah kusiapkan di meja. Gomawo G.O oppa, annyeong!” katanya sambil melambaikan tangan.

“ Annyeong! Kalau ada guru mu yang masih muda dan cantik, beritahu aku ya!” seru G.O

*****

            Sekolah sudah ramai ketika Seungmi tiba. Gadis itu berjalan perlahan sambil mengedarkan pandangannya ke seluaruh penjuru sekolah. Matanya lalu menangkap sosok yang sudah sangat dikenalnya, berjalan beberapa langkah di depannya. Dengan cepat, tanpa menimbulkan suara, di kejarnya sosok itu.

“ Selamat pagi, Tuan Hoya sang filsuf langit”

Hoya menoleh. Didapatinya Seungmi sedang berjalan di sampingnya.

“ Selamat pagi, Tuan Putri Seungmi yang manja” balasnya. Gadis itu mendelik dan memukul bahunnya.

“ Aku tidak manja!”

Hoya tertawa mendengarnya.

“ Kau belum memberitahu ku” kata Seungmi lagi.

“ Tentang?” Hoya balas bertanya.

Seungmi menghela napas, “ Kau belum jawab emailku tentang arti langit malam bagimu”

“ Oh itu..” Hoya terdiam sejenak. “ Kau kan tidak bertanya”

“ Aku kan sudah menuliskan arti nya bagiku. Harusnya kau balas dengan menulis arti nya bagimu”

Pemuda itu mengangkat bahu,” Kau tidak bertanya ya .. aku juga tidak menjawab”

“ Aku kan sudah bertanya di email yang setelahnya” protes Seungmi.

Hoya tersenyum jahil. “ Sebegitu pentingnya kah?”

“ tentu saja. Kau kan selalu mengatakan padaku tentang berbagai makan langit”

Pemuda itu tampak berpikir sebelum berkata,

“ Bagiku langit malam dan bulan bintang itu seperti mengajarkan kita bahwa di duni ini semua hal muncul dengan berpasangan. Ada gelap, maka ada terang. Ada tawa, maka ada pula tangis. Dan hal-hal seperti itu, tidak datang mendahului salah satu pasangannya. Mereka datang secara bersamaan. Seperti bersamaan dengan kesedihan, pasti ada kebahagiaan. Bersamaan kesusahan, pasti ada kemudahan”ia berhenti sejenak dan melirik ke arah Seungmi yang tampak berpikir juga.

“Hanya saja, hati manusia seringkali terlalu sempit sehingga yang terlihat hanya salah satunya. Jika kita sedih, seringkali terlintas pikiran bahwa itu adalah akhir segalanya. Padahal, bersamaan dengan rasa sedih itu, ada rasa bahagia. Kita yang tidak melihatnya”

Seungmi mengangguk-angguk, “ Berarti sama seperti saat malam tanpa bintang dan bulan. Sebenarnya kedua benda itu ada, tetapi kita tidak bisa melihatnya karena tertutupi sesuatu” timpal gadis itu. Hoya tersenyum.

“ sipjeom manjeomo sipjeom” Hoya menirukan gaya dance 2PM.

“ Naega jeil jalnaga!” sambung Seungmi. Mereka tertawa bersama.

One thought on “[Fanfic] Saranghaeyo Oppa – Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s