[Fanfic] All My Heart Part 4

“Kau sudah selesai? Aku keluar duluan yah! Kita tidak boleh terlihat bersama.”
“Ne, aku mengerti!”
“Annyeong Hyunchan!”
“Ne, Annyeong haseyo oppa!”
Hyunchan juga keluar tidak lama setelah Taemin keluar dari ruang dance, dia melewati ruang musik dan melihat seseorang sedang duduk di pinggir panggung memainkan sebuah bass dengan nada yang kacau. Hyunchan berlari ke dalam ruang musik saat suara bass itu tiba-tiba berhenti seakan-akan senarnya itu putus. “Omona~ oppa, gwencanayo?” Hyunchan sangat panik ketika menemukan Kiseop memegangi matanya yang berlumuran darah akibat terkena senar bass yang putus.

“Arght, sakit!” pekik Kiseop.

“Sabar oppa! Tunggu sebentar, aku akan telpon ambulance dan memanggil orang untuk membantu,” kata Hyunchan yang sedang memeluk Kiseop yang mesih memekik kesakitan dipangkuannya. Hyunchan menelpon ambulance dan menelpon Eunmin untuk memanggilkan seorang guru ke ruang seni, karena dia tidak mungkin meninggalkan Kiseop sendirian dalam keadaan seperti ini.

“Aigo, apa yang terjadi? Kenapa Kiseop bisa begini?” tanya Jonghyun yang baru saja datang dan kaget menemukan Kiseop dan Hyunchan juga darah yang berlumuran di mata Kiseop.

“Nanti aku jelaskan, yang paling penting sekarang kita harus membawanya ke rumah sakit sebelum tambah parah, tadi aku sudah menelpon ambulance dan temanku untuk memanggil seorang guru,” jelas Hyunchan dengan berlinangan air mata.

“Hyunchan-ah, apa yang terjadi?” tanya Eunmin yang baru saja datang dengan terburu-buru bersama Jang seosangnim setelah ditelpon oleh Hyunchan.

“Sudahlah, ayo cepat kita bawa dia ke rumah sakit!” kata Jang seosangnim.

“Kiseop-sshi, bertahanlah!” ucap Jonghyun yang kemudian mengangkat Kiseop yang sudah tidak sadarkan diri dipangkuan Hyunchan. Jonghyun menggendong Kiseop menuju ambulance.”

Setelah Ambulance itu pergi Jonghyun buru-buru mengambil mobilnya untuk menyusul Kiseop ke rumah sakit. Tapi sebelumnya dia menelpon Soohyun untuk menyusul juga.

“Oppa, apa kau mau menyusulnya ke rumah sakit?”

“Ne’.”

“Apa aku boleh ikut? Aku khawatir sekali padanya.” Pinta Hyunchan yang masih tetap berlinangan air mata.

“Tentu saja boleh, kau boleh ambil tasmu dulu. Aku juga masih menunggu Soohyun.”

“Gomawoyo, oppa!” ucap Hyunchan kemudian berlari dengan cepat ke kelasnya untuk mengambil tas.

Jonghyun bersandar di depan mobil menunggu Soohyun dan Hyunchan. “Jonghyun-ah, ayo kita berangkat! Aku ambil mobil dulu yah, ini tasmu!” ajak Soohyun yang tiba-tiba datang dengan nafas terengah-engah setelah berlari secepat mungkin karena mendengar Kiseop dilarikan ke rumah sakit.

“Tunggu sebentar! Aku menunggu Hyunchan, dia juga mau ikut ke rumah sakit,” kata Jonghyun.

“Oh, oke! Aku ambil mobil dulu yah!” kata Soohyun.

“Ah, oppa…. mian membuat kalian menunggu,” Hyunchan datang sebelum Soohyun pergi mengambil mobilnya, sama seperti Soohyun sebelumnya Hyunchan juga datang dengan nafas yang terengah-engah karena berlari secepat mungkin. Hyunchan juga bingung apa yang membuatnya begitu khawatir pada Kiseop yang jelas-jelas bersifat dingin padanya.

“Ayo masuk, Hyunchan!” ajak Jonghyun sambil membukakan pintu mobil untuknya.

“Ne, gomawoyo!” ucap Hyunchan masuk ke dalam mobil Jonghyun sambil mengusap air mata yang masih membekas di wajahnya.

“Nah, aku sendirian dong?” tanya Soohyun.

“Tidak apa-apa, kan? Apa kau mau juga ikut mobilku? Bagaimana dengan mobilmu? Ayo cepat sana!” perintah Jonghyun sambil masuk juga ke dalam mobil dan meninggalkan Soohyun yang masih berfikir.

“Hah, sudahlah!” kata Soohyun pasrah.

“Sunbae, apa kau melihat Hyunchan?” tanya seseorang yang dari belakang Soohyun, padahal Soohyun baru saja mau masuk ke mobilnya.

“Dia baru saja pergi ke rumah sakit,” jawab Soohyun.

“Ah, dia sudah pergi. Aku khawatir melihatnya menangis jadi aku menyusulnya, takut terjadi apa-apa, bagaimana ini?”

“Bagaimana kalau kau ikut bersamaku saja? Aku juga mau ke rumah sakit,” ajak Soohyun.

“Jinjja? Tentu saja aku mau! Gomawo, sunbae,” kata orang itu yang tidak lain adalah Hyunchan.

* * * * *

“Sudahlah, jangan menangis lagi! Kiseop pasti baik-baik saja!” ucap Jonghyun mencoba menangkan Hyunchan yang masih menangis namun sudah tidak separah tadi.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menangis seperti ini melihat Kiseop oppa berbaring tak berdaya seperti itu, aku seperti merasakan rasa sakitnya waktu mendengar erangan kesakitannya.”

“Aku mengerti! Sebentar lagi kita akan sampai di sana,” ucap Jonghyun sambil mengelus bahu Hyunchan.

“Ne’, oppa.”

* * * * *

Hyunchan dan Jonghyun sudah sampai di rumah sakit dan menunggu di depan ruang ICU tempat Kiseop sedang ditangani. Sesampainya di depan ruangan Kiseop, Hyunchan kembali menangis mengingat rasa sakit yang dialami Kiseop. Jonghyun mencoba menenangkannya, Hyunchan menangis di bahu Jonghyun.

“Omo~ aku lupa mengabari Minhwan oppa,” kata Hyunchan kemudian mengambil hp dari dalam sakunya dan menelpon Minhwan. Jonghyun semakin penasaran apa hubungan Hyunchan dengan Minhwan, dia berniat untuk bertanya pada Hyunchan tapi dia sadar kalau ini bukan waktu yang tepat. “yobeoseo? Oppa!”

“Hyunchannie, kenapa kau menangis?” tanya Minhwan di seberang sana yang menyadari Hyunchan terisak-isak.

“Aku sedang di rumah sakit, tidak jauh dari sekolah, cepatlah ke sini!” ucap Hyunchan dan itu cukup membuat Minhwan bertanya-tanya.

“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, kan? Apa ada orang yang menyakitimu?” tanya Minhwan panik.

“Tidak, bukan aku tapi Kiseop oppa. Cepatlah ke sini!”

“Bagaimana keadaan Kiseop-sshi sekarang?” tanya Soohyun yang baru datang bersama seorang gadis pada Jonghyun yang berdiri di belakang Hyunchan. Hyunchan pun berbalik mendengar suara itu.

“Kiseop-sshi masih di dalam, dokter belum keluar keluar,” jawab Jonghyun oppa.

“Sudah dulu yah, oppa. Cepatlah ke sini! Jangan lupa kau tidak boleh pergi sendiri, minta tolonglah pada ajusshi untuk mengantarmu karena kau masih sakit.” Pinta Hyunchan lalu menutup telponnya padahal Minhwan masih penasaran.

“Hyunchan, gwencana?” tanya gadis yang datang bersama Soohyun yang ternyata adalah Eunmin.

“Eunmin, kenapa kau bisa di sini?”

“Aku khawatir melihatmu buru-buru dan masih menangis jadi aku ikut Soohyun oppa yang kebetulan mau menyusul kalian.”

“Gomawoyo,” ucap Hyunchan.

“Ne, bukan apa-apa, kau kan temanku!”

“Hyunchan, berhentilah menangis, Kiseop pasti baik-baik saja!” ucap Soohyun. “Jonghyun-sshi, apa kau sudah mengabari Minhwan?”

“Hyunchan sudah menelponnya tadi,” jawab Jonghyun.

“Itu dokternya sudah keluar!” kata Eunmin.

“Dokter, bagaimana keadaan Kiseop-sshi?” tanya Jonghyun.

“Ada masalah dengan matanya, apa aku bisa bertemu dengan keluarganya?”

“Oh, aku lupa menghubungi Jay hyung. Soohyun-sshi, tolong hubungi Jay hyung!” pinta Jonghyun.

“Ne,” Soohyun pun menelpon Jay, kakak lagi-laki Kiseop satu-satunya. “Jay hyung, Kiseop ada di rumah sakit ChungDam sekarang, dia mengalami kecelakaan di sekolah.”

“Aigo, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Jay.

“Dokter ingin bicara pada keluarga pasien,” jelas Soohyun.

“Baiklah! Aku akan segera ke sana!”

* * * * *

“Ajusshi, bisakah kau mengantarku ke rumah sakit?”

“Apa yg terjadi padamu? Kau baik-baik saja kan?” tanya haramoni panik.

“Aku tidak apa-apa, Hyunchan ada di rumah sakit, tadi dia menelponku,” jelas Minhwan.

“Apa? Channie di rumah sakit? Apa yg terjadi? Dia baik-baik saja, kan?” tanya Yunho.

“Aku juga tidak tahu, tadi sebelum aku tanya lebih lanjut, dia sudah menutup teleponnya,” kata minhwan lagi. “Sudahlah, ayo cepat ke sana!”

“Haramoni juga mau ikut, haramoni takut terjadi apa-apa pada Hyunchan.”

“Umma, di sini saja! Kami berdua saja yang ke sana, kami akan mengabarimu kalau kami sudah sampai,” jelas Yunho menenangkan haramoni. Yunho dan Minhwan segera pergi ke rumah sakit ChungDam.

“Memang apa yang tadi Hyunchan bilang?” tanya Yunho sambil menyetir dengan kecepatan penuh.

“Katanya sih, bukan dia yang sakit tapi Kiseop temanku. Aku khawatir karena dia terus-terusan menangis waktu menelpon.”

“Apa? Hyunchan menangis?” ini tidak boleh dibiarkan,” ucap Yunho sambil menambah kecepatan mobilnya.

* * * * *

“Dokter, bagaimana keadaan dongsaengku?” tanya Jay dengan wajah yang sangat khawatir.

“Dongsaeng anda mengalami cidera sedikit di matanya, lensa matanya tergores sedikit akibar senar bass yang putus, untuk saja refleks matanya bagus jadi goresan yang terjadi tidak begitu parah.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan dokter? Apakah matanya akan baik-baik saja?”

“Mungkin penglihatannya pada mata kirinya akan buram,” jelas Dokter. “Banyak darah yang keluar dari matanya, karena terjadi kontraksi yang ditimbulkan akibat rasa sakit waktu terkena senar, untung saja cepat dibawa ke rumah sakit kalau tidak dia akan kehilangan lebih banyak darah dan itu akan sangat fatal.”

“Apa tindakan yang akan diambil selanjutnya dokter?” tanya Jay masih cemas.

“Dia mungkin akan membutuhkan alat bantu seperti kaca mata untuk membantu penglihatannya. Mata kirinya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik.”

“Gamsamnida dokter!”

“Ne.”

Jay pun keluar dari ruangan dokter. “Hyung, apa yang dokter katakan?” tanya Jonghyun.

“Dokter bilang mata kirinya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik lagi,” jawab Jay. “Ngomong-ngomong, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa sampai begini?”

“Tadi Hyunchan yang menemukannya di ruang latihan dan dia juga yang menelpon ambulance,” kata jonghyun.

“Kau Hyunchan?” tanya Jay sambil menunjuk Hyunchan. “Apa kau tahu apa yang terjadi?”

“Ne, Hyunchan imnida. Aku juga tidak begitu tahu apa yang terjadi. Aku hanya lewat di depan ruang musik dan mendengar seseorang sedang memainkan alat musik tapi sepertinya orang itu sedang kesal karena dia memainkannya sangat keras dan asal-asalan, tiba-tiba saja aku mendengar suara lentingan yang aku rasa adalah suara senar yang putus diikuti dengan teriakan seseorang, jadi aku buru-buru masuk dan menemukan Kiseop oppa terbaring kesakitan di atas panggung.”

“Hyung, apakah Kiseop ada masalah?” tanya Jonghyun.

“Ani, memangnya kenapa?” tanya Jay dengan kikuk.

“Jujurlah, Hyung. Akhir-akhir ini Kiseop tidak seperti biasanya. Dia selalu menyendiri, cepat kesal, dan terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dari kami.”

“Mungkin saja, dia sedang bad mood?” elak Jay.

“Aku tahu hyung berbohong, aku sempat mendengar Kiseop-sshi bertengkar dengan seseorang di telpon dan dia sempat memanggil hyung pada orang yang dia telpon. Itu Jay hyung, kan?” sekarang Soohyun yang bicara.

“Jay hyung, itu benar!” kata seseorang yang baru saja datang. “Aku juga mau menanyakan hal yang sama, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?”

“Oppa?” Hyunchan bergegas memeluk oppanya waktu dia melihatnya.

“Hyunchannie, kau tidak apa-apa, kan?” tanya Minhwan.

“Aku tidak apa-apa, tapi aku takut waktu melihat Kiseop oppa terluka.”

“Kamu tenang yah! Kiseop pasti baik-baik saja,” kata minhwan yang mencoba menenangkan Hyunchan.

“Hyun, kamu baik-baik saja, kan?” sekarang Yunho yang bertanya pada Hyunchan.

“Ne, ajusshi.”

“Hyung, jujurlah! Sebenarnya apa yag terrjadi pada kalian? Aku tahu Kiseop sudah seminggu tidak pulang ke rumah,” kata Minhwan yang sentak membuat semua orang yang berada di ruangan itu kaget.

“Apa? Kenapa kau baru bilang sekarang?” tanya Jonghyun pada Minhwan. “Hyung, sebenarnya apa yang terjadi?”

“Sebenarnya Kiseop memintaku untuk mencarikannya rumah kost-kosan. Waktu aku tanya kenapa, dia tidak mau memberitahuku dan memintaku untuk percaya saja padanya,” jelas Minhwan. “Setiap aku menanyakan hal ini, dia marah dan memintaku tidak ikut campur.”

“Kalian benar, keluarga kami memang punya masalah. Mungkin masalah inilah yang membuatnya menjadi pemarah,” ujar Jay yang akhirnya buka mulut. “Sebenarnya, appa kami yang sudah sepuluh tahun meninggalkan kami datang lagi ketengah-tengah kami.”

“Bukankah appa kalian sudah meninggal?” tanya Soohyun.

“Mianhae, mungkin Kiseop menutupi ini dari kalian. Sebenarnya, appa masih hidup, tapi sepuluh tahun yang lalu dia meninggalkan kami tanpa alasan apa pun dan baru-baru ini kami tahu kalau dia tinggal di Amerika dan sudah menikah lagi,” jelas Jay yang tiba-tiba meneteskan air mata. “Kiseop-sshi marah sekali padanya, dia terus saja bertengkar dengan appa setiap appa datang. Bagaimana tidak? Appa pergi tanpa mengatakan alasan apa pun dan pulang untuk meminta Kiseop ikut dengannya ke Amerika, ia meminta Kiseop untuk sekolah ke Amerika dan meneruskan usahanya di Amerika.”

“Kenapa appa kalian meminta Kiseop ikut dengannya, bukan Hyung?” tanya Minhwan.

“Itulah yang membuatku sangat sakit hati, appa datang tiba-tiba dan malah meminta Kiseop bukan aku. Tapi aku sadar diri, sebenarnya aku ini hanyalah anak angkat mereka,” lanjut Jay yang semakin meneteskan air mata. Entah kenapa cerita Jay itu membuat semua yang ada di ruangan itu sedih, terutama Hyunchan yang berada dalam pelukan Yunho sekarang.

“Hyun, jangan sedih!” kata Yunho sambil mengelus kepala Hyunchan.

“Appa terus saja memaksa Kiseop, padahal Kiseop sama sekali tidak suka bidang bisnis. Dia disuruh appa untuk meninggalkan kegiatan bermusiknya. Jelas saja Kiseop tidak mau, Kiseop itu sudah sangat benci dengan appa, dan appa dengan tidak tahu malunya datang dan memintanya untuk meninggalkan musik yang sudah menjadi hidupnya,” ujar Jay lebih lanjut.

“Lalu, umma kalian bagaimana?” tanya Jonghyun.

“Itulah yang membuat aku dan Kiseop semakin marah, umma setiap hari menangis karena appa selalu datang dan bertengkar dengan appa saat kami berdua tidak ada di rumah. Setelah kami pulang ke rumah, kami melihat memar di pipi umma.”

“Aku tidak menyangka kalau kalian punya masalah seberat ini,” kata Minhwan sambil mengelus bahu Jay.

“Aku memang hanya anak angkat, tapi umma benar-benar sayang padaku. Umma sama sekali tidak pernah membeda-bedakanku dengan Kiseop, beda dengan appa yang dari kecil memang tidak pernah menerimaku,” kata Jay sambil menutupi kedua wajahnya dengan kedua tangannya seperti orang yang frustasi.

“Permisi, Kiseop-sshi sudah sadar,” ucap salah seorang suster yang keluar dari ruangan Kiseop.

“Benarkah? Apa kami boleh menemuinya?” tanya Jay.

“Silahkan!” kata suster itu.

Di ruangan Kiseop….

“Perbannya di matanya akan di lepas malam ini,” kata Dokter.

“Dia baik-baik saja kan, Dok?”

“Yah, syukurlah luka di matanya tidak terlalu parah untung dia cepat dibawa ke sini sehingga darah yang keluar tidak terlalu banyak,” jelas dokter.

“Gamsamnida, Dokter!”

“Ne, jaga Kiseop-sshi baik-baik yah! Aku pergi dulu,” kata Dokter lalu keluar dari ruangan.

“Kiseop-sshi, kau masih sakit?” tanya Jay khawatir.

“Hyung, aku senang melihatmu, aku baik-baik saja! Bagaimana keadaan umma?” tanya Kiseop yang hanya bisa melihat dengan mata kanannya karena mata kirinya diperban.

“Aku belum memberitahu umma kalau kau di sini, aku terlalu khawatir padamu,” kata Jay.

“Sebaiknya jangan beritahu dia, nanti dia khawatir,” minta Kiseop.

“Tapi dia pasti sedih dan marah kalau dia tahu kita tidak membetitahunya,” kata Jay.

“Aku hanya tidak mau membuatnya lebih sedih, dia sudah cukup menderita karena laki-laki itu, aku mohon!” kata Kiseop.

“Kiseop-sshi!” panggil Minhwan membuka pintu dan masuk ke dalam bersama Jonghyun dan Soohyun, sementara Hyunchan dan Yunho tetap di luar karena Minhwan tidak mau Hyunchan masuk karena itu hanya akan membuatnya sedih, jadi Yunho di luar dan menemaninya. Eunmin sudah meminta izin pulang sebelum Jay dan yang lain masuk ke kamar Kiseop karena orang tuanya menelpon.

“Kalian?”

“Kami sudah tahu semuanya, kenapa kau menyembunyikan semua ini pada kami?” tanya Minhwan.

“Ini bukan urusan kalian!” kata Kiseop setengah berteriak.

“Bagaimana mungkin ini bukan urusan kami? Kami ini sahabatmu, kami wajib membantumu dalam masalah apa pun,” bantah Jonghyun.

“Iya Kiseop-sshi, kami selama ini khawatir kenapa kau berubah drastis menjadi orang yang gampang marah,” lanjut Soohyun.

“Mianhae, Kiseop-sshi. Kami tidak begitu peka dengan penderitaan yang kau alami, kami tidak pantas disebut sahabat,” kata Minhwan.

“Gomawo, chingu-ah! Seharusnya aku yang minta maaf, tidak seharusnya aku menyembunyikan ini dari kalian,” kata Kiseop menyesali perbuatannya. “Aku terlalu sombong merasa bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.”

“Kau tidak sendiri, dongsaeng-ah! Hyung selalu bersamamu,” kata Jay.

“Gomawoyo, Hyung!” ucap Kiseop. “Mianhae, aku meninggalkan semua tanggung jawab padamu untuk menjaga umma.”

“Itu sudah tanggung jawabku, Kiseop-sshi!” ucap Jay.

“Kami juga selalu di sisimu Kiseop-sshi,” kata Minhwan dan membuat Kiseop tersenyum bahagia karena di kelilingi orang-orang yang menyayanginya.

* * * * *

“Ajusshi, aku mau melihat keadaan Kiseop oppa!” kata Hyunchan.

“Baiklah, tapi janji kau tidak akan menangis lagi!” kata Yunho.

“Ne, aku janji! Gomawoyo, ajusshi!” ucap Hyunchan kemudian masuk ke dalam ruangan Kiseop meninggalkan Yunho sendirian.

Hyunchan membuka pintu pelan-pelan dan masuk ke dalam, “Permisi!”

“Channie, aku sudah bilang kau tunggu di luar saja,” ucap Minhwan tiba-tiba.

“Oppa, aku khawatir dengan keadaan Kiseop oppa,” ucap Hyunchan sambil memonyongkan bibirnya.

“Gomawo, Hyunchan!” ucap Kiseop sambil tersenyum.

“Hehe, aku tidak berbuat apa-apa,” kata Hyunchan menutupi perbuatannya sambil duduk di samping Minhwan.

“Siapa bilang? Aku masih sadar waktu kau datang menolongku dan buktinya darah yang ada di bajumu itu masih ada,” kata Kiseop sambil menunjuk darah yang ada di baju Hyunchan.

“Iya, aku baru sadar kalau banyak darah di bajumu,” kata Minhwan. “Kau pulang saja bersama Yunho ajusshi!” pinta Minhwan.

“Oppa!” bentak Hyunchan, karena Minhwan tanpa sengaja sudah menjelaskan kalau Hyunchan itu ada hubungan keluarga dengannya.

“Sebenarnya apa hubungan kalian?” tanya Jonghyun.

“Hehe, Hyunchan tidak apa-apa yah kalau aku mengatakan semuanya pada mereka?” tanya Minhwan sambil tersenyum pada Hyunchan.

“Ya sudahlah, toh mereka juga sudah mengerti,” kata Hyuchan.

“Aku tambah bingung,” kata Jonghyun lagi.

“Sebenarnya Hyunchan itu adikku,” kata Minhwan.

“Apa?” ucap Jonghyun kaget

“Akhirnya aku tidak perlu tutup mulut lagi,” potong Soohyun.

“Maksudmu? Kau sudah tahu ini?” tanya Jonghyun pada Soohyun dan Soohyun hanya mengangguk kegirangan.

“Aku tahu Minhwan-sshi!” ucap Kiseop dari tempat tidurnya yang membuat semua orang di rungan itu kaget bukan hanya Jonghyun.

“Kau juga sudah tahu?” tanya Jonghyun semakin kesal karena ternyata cuma dia saja yang tidak tahu. “Kalian tega sekali, menutupi ini semua dariku dan membuatku sangat penasaran.”

“Kau tahu dari mana?” tanya Minhwan pada Kiseop.

“Aku mendengar waktu kalian bertengkar dua hari yang lalu waktu mengejar Taemin,” jelas Kiseop.

“Aku tidak melihatmu di sana,” kata Soohyun yang juga cukup kaget karena manyangka hanya dia san Minhwan yang tahu.

“Aku hanya lewat waktu itu karena Kim seosangnim memanggilku ke kantornya, jadi aku buru-buru ke sana.”

“Omona~~ jadi dua hari ini aku dibohongi mereka,” kata Jonghyun.

“Mian, oppa. Aku yang menyuruh Minhwan oppa untuk menutupi ini dari siapa pun, karena aku tidak mau direpotkan oleh orang-orang yang katanya fans-fansnya oppaku,” jelas Hyunchan.

“Oh jadi itu alasannya, yah aku mengerti!” kata Jonghyun.

“Kenapa kau langsung terima permintaan maafnya?” tanya Minhwan.

“Aku tahu perasaan bagaimana menjadi seorang kurir yang harus mengantarkan hadiah untuk seseorang, jadi aku mengerti kalau Hyunchan tidak mau menjadi seperti itu,” ujar Jonghyun. “Kau tahu aku hampir setiap hari di kerumuni oleh gadis-gadis, yang membuatku sedih itu karena mereka bukannya datang untukku tapi untukmu, bahkan sepupuku saja memintaku untuk mendekatkannya denganmu.”

“Iya, kau benar! Aku juga sering mengalami itu,” potong Soohyun lagi.

“Haha, untung aku tidak pernah mengalami itu!” kata Kiseop.

“Itu sih, karena kau memang kelihatan cuek sekali jadi orang-orang tidak ada yang berani menitipkan barang padamu,” kata Jonghyun.

“Tuh, kan oppa. Bagaimana kalau seluruh sekolah tahu aku ini adikmu, bisa-bisa aku menjadi kurirmu,” kata Hyunchan.

“Iya Hyun, sebaiknya kau jangan mengatakan ini pada siapa pun!” perintah Jonghyun.

“Ne, oppa. Cukup kalian saja yang tahu.”

“Tapi syukurlah ternyata kau adiknya Minhwan,” ucap Jonhyun tanpa sadar.

“Maksudmu?” tanya Minhwan.

“Ah, andwe,” kata Jonghyun singkat dan wajahnya memerah. Tingkah Jonghyun membuat orang-orang yang ada di rungan itu tertawa.

to be continued……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s