[Fanfic] Nan Neoui Boyfriend Part 7 (END)

* * * * *

“Kwangmin, annyeong!” Hyeri melangkah dengan riang memasuki kamar rawat Kwangmin, Kwangmin sedang membaca majalah.

“Mwo? Untuk apa kau kemari?” tanya Kwangmin kaget melihat kedatangan Hyeri.

“Aigoo, tentu saja untuk menjengukmu, chagi!” kata Hyeri sambil mencoba meraih tangan Kwangmin.

“Hey, sekali lagi aku tegaskan! Jangan panggil aku chagi!” gertak Kwangmin.

“Sudahlah! Ini aku bawakan bubur abalon untukmu!” Hyeri mengambil mangkuk yang dia bawa dan mencoba menyuapkan Kwangmin bubur itu.

“Yak, aku bilang jangan dekat-dekat aku lagi!” teriak Kwangmin sambil menghentakkan tangan Hyeri hingga sendok dan mangkuk itu terlempar.

“Yak, Kwang-ah, kenapa kau sekasar ini pada yeoja? Dia kan hanya ingin berbuat baik!” Youngmin yang sebelumnya tidak sengaja melihat kejadian ini tiba-tiba masuk dan membentak Kwangmin yang lumayan kasar pada Hyeri, mata Hyeri terlihat berkaca-kaca setelah dibentak Kwangmin. Hyeri kemudian mengambil tasnya dan berbalik meninggalkan kamar rawat Kwangmin. Kwangmin sangat tidak peduli. Youngmin mengejar yeoja yang sepertinya akan menangis itu.

“Annyeong!” sapa Haejin yang datang beberapa saat setelah Young dan Hyeri keluar. Kwangmin berbalik dari wajah kesal, sekarang berubah menjadi senang.

“Ne.”

“Aigoo, ada apa ini? Kenapa berantakan sekali?” Gumam Haejin saat melihat bubur yang berserakan di lantai.

“Molla,” jawab Kwangmin singkat.

“Aishh, arasseo! Biar aku bersihkan dulu. Kau belum makan siang?” tanya Haejin.

“Ne, aku lapar sekali!”

“Ini, aku bawakan bubur untukmu!”

“Kau makan ini dulu, aku ambil alat untuk membersihkan ini!” Haejin menyiapkan bubur yang ia bawa lalu membersihkan bubur yang berserakan itu.

* * * * *

“Rupanya kau di sini!” gumam Youngmin sambil duduk di sebelah yeoja yang sedang menangis itu.

“Untuk apa kau ke sini?” tanya yeoja itu jutek.

“Ara, aku akan pergi!” Youngmin berdiri lalu tiba-tiba yeoja itu menariknya.

“Hiks…hiks….hwaaa….” yeoja itu tiba-tiba menangis. Youngmin gelagapan, dia hanya bisa memeluk yeoja itu.

“Hyeri-ah, jangan menangis di sini! Banyak orang yang lewat!” Bisik Youngmin pada Hyeri. Orang-orang yang lewat memandangi sinis Youngmin. “Hyeri-ah, jebal! Uljima! Nanti mereka kira aku mengapa-apakanmu!” Youngmin terus saja memberi salam pada orang-orang lewat dan berkata untuk tidak salah paham.

“Gomawo, Young-ah!” ucap Hyeri.

“Huft, kau membuatku terlihat seperti orang jahat di hadapan orang-orang,” kata Young. “Sudah! Jangan mengis lagi! Kwangmin pasti tidak ada maksud untuk membentakmu tadi!” Youngmin mengusap air mata Hyeri dengan ibu jarinya.

“Mianhae merepotkanmu!” ucap Hyeri lagi.

“Gwenchana! Aku tadi cuma bercanda, tapi kau tau? Orang-orang yang lewat matanya begini!” jelas Youngmin sambil memperaktekkan wajah orang-orang yang lewat.

“Hahahaha….,” Hyeri tertawa melihat tingkah Youngmin.

“Begitu dong! Rupanya kau manis juga yah kalau tertawa!” ucap Youngmin. Wajah Hyeri tiba-tiba memerah.

* * * * *

@Jo Twins House

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Haejin sambil duduk di pinggir tempat tidur Kwangmin.

“Gwenchana!”

“Kenapa tidak makan?” tanya Haejin mendapati piring Kwangmin yang masih penuh.

“Aku tau kau akan datang jadi sengaja tidak makan,” jelas Kwangmin.

“Mwo? Wae?” tanya Haejin bingung. Kwangmin memberikan tanda kalau dia tidak bisa makan karena tangan kanannya tidak bisa digerakkan dengan melirik ke arah tangannya itu. “Omona, mianhae! Biar aku membantumu makan yah!” Haejin mengambil piring itu dan menyuapi Kwangmin.

“Kau sudah makan?” tanya Kwangmin. Haejin menggeleng.

“Aigo, yeoja ini! Kenapa belum makan sih? Siapa yang akan mengurusmu kalau sakit? Sandeul hyung?” Kwangmin langsung mengambil piring dan sendok dari tangan Haejin dan menyuapi Haejin sedikit memaksa. Haejin bingung melihat Kwangmin yang ternyata bisa menggerakkan tangannya.

“Kwang-ah, kau?”

“Kunyah dulu! Ini makan lagi!” Kwangmin menyuapkan Haejin lagi.

“Uhuk…uhuk… pelan-pelan!” Haejin memukul paha Kwangmin lalu mengambil minum.

“Makanya, jangan pernah lupa makan lagi!”

“Chakkaman! Tanganmu baik-baik saja?”

“Mwo? Apanya yang baik-baik saja? Ligamen ibu jariku patah!” jelas Kwangmin.

“Jadi bukan tangan kananmu yang patah tapi cuma ligamen ibu jarimu?” tanya Haejin kaget.

Pletakkk…

“Aishh” ringis Haejin.

“Kau berharap tangan kananku yang patah? Ini saja sudah sangat sakit nona Kim!” kata Kwangmin.

“Tapi kau benar-benar membuatku khawatir tau!”

“Mianhae!” ucap Kwangmin. Kwangmin mendekat ke Haejin lalu saat begitu dekat Haejin menutup mulut Kwangmin dengan ayam goreng. “Waaeeeyyooo?” tanya Kwangmin dengan mulut penuh.

“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Haejin.

“Omona, aku hanya ingin membersikan ini!” kata Kwangmin sambil membersihkan nasi di pipi Haejin. “Kau pikir aku akan menciummu?” tanya Kwangmin.

“A….aniya!” bela Haejin.

“Haha, wajahmu merah!” canda Kwangmin.

“Arasseo! Kau sudah mengambil ciuman pertamaku di rumah sakit!” ucap Haejin sambil menyentuh bibirnya.

“Mworago? Jadi itu ciuman pertamamu?” Kwangmin tertawa. “Syukurlah! Ternyata aku namja pertama yang menciumnya dan jujur saja, dia juga yeoja pertama yang aku cium,” batin Kwangmin.

“Yak Kwangmin-ah! Jadi kau sudah pernah berciuman?” tanya Haejin marah.

“Tentu saja! Mana mungkin namja sekeren aku belum pernah berciuman?” kata Kwangmin  bohong.

“Yakk, Baboya!” teriak Haejin langsung pergi meninggalkan Kwangmin namun ditarik kembali hingga duduk di pangkuan Kwangmin.

“Jin-ah!”

“Hmm..,” jawab Haejin tak acuh.

“Demi Tuhan, kau satu-satunya yeoja yang pernah kucium!” bisik Kwangmin.

* * * * *

Haejin POV

Hari ini Boyfriend akan perform di M!Countdown, sepulang sekolah aku langsung ke rumah Kwangmin dan berangkat ke kantor Starship bersamanya. Dia belum sepenuhnya pulih jadi belum ke sekolah tapi malah harus perform dengan gerakan dance yang sangat bersemangat. Aku khawatir dia akan semakin lemah. Aku memandanginya yang sedang tertidur selama perjalanan dan ingat kembali yang dikatakannya tadi. “Demi Tuhan, kau satu-satunya yeoja yang pernah kucium!” Ternyata itu juga ciuman pertamanya, dia bilang awalnya dia cuma bercanda saat mengatakan dia sudah pernah berciuman.

“Haejin-ah, tolong ambilkan air yang ada di depanmu!” pinta Youngmin.

“Ne’” aku mengambilkan botol minuman yang dimaksud.

“Jin-ah, gomawo!” ucap Young.

“Mwo? Untuk apa? Untuk mengambilkan botol minuman?” tanyaku.

“Ani, seharusnya aku mengatakan terima kasih sejak awal, gomawo karena kehadiranmu twinku ini jadi lebih sering tersenyum, sudah mulai kehilangan sifat dinginnya, bahkan sekarang dia bisa membuat orang tersenyum.”

“Hehe, aku tidak melakukan apa-apa kok!”

“Aku mohon bersabarlah menghadapi segala keegoisannya, aku baru sadar kemarin betapa besarnya dia mencintaimu! Aku pikir awalnya cintanya padamu itu lebih banyak keegoisan tapi ternyata dia tulus, aku tidak pernah melihatnya seperti kemarin,” jelas Young.

“Benarkah Kwangmin sebegitu mencintaiku?” batinku.

* * * * *

Would you be my Girl Friend?

nan neoui Boy Friend

nan neoui Boy Friend

neon naui Girl Friend

neon naui Girl Friend

. . . .

naman barabwajullae neol wihan byeori doelge

neo hanamaneul wihan nan neoui

Boy Friend

 

Sekali lagi mereka tampil dengan sangat menawan, aku tidak menyangka luka di tangan Kwangmin sama sekali tidak merubah kemampuan dancenya, bahkan dia lebih terlihat bersemangat dibanding sebelumnya.

Aku kembali ke back stage bersama Youngmi eonnie. Aku baru saja tahu kalau dia adalah asisten FT Island dan sejak hari ulang tahunnya dia merangkap sebagai kekasih bassis FT Island Jaejin oppa. Aku bahagia sekaligus sedih memikirkan perasaan Youngmin yang sudah lama sekali mengejar Youngmi eonnie.

“Huft, aku haus sekali!” gumam Hyunseong oppa sambil mengipaskan tangannya saat aku baru saja masuk ke ruangan mereka.

“Oppa mau aku ambilkan minum?” tanyaku.

“Omo, tidak usah repot-repot!” tolaknya namun aku langsung pergi dan mengambilkan minum untuknya. Aku duduk dan mengobrol lama dengannya. Tiba-tiba seseorang datang menarikku.

“Aigoo, Kwangmin-ah! Waeyo?” tanyaku saat kami sudah di luar.

“Aku tidak suka melihatmu dekat dengan hyung-hyungku!” katanya.

“Kau cemburu?” tanyaku.

“Hmm, sudahlah lupakan!” dia lalu pergi begitu saja. Aku mengikutinya dan terus menggodanya.

“Ayolah, mengaku saja! Kau cemburu, kan?” ejekku.

“Kau yeochinku, apa aku tidak boleh cemburu?” kata Kwang lalu pergi meninggalkanku.

“Kenapa dia semarah itu? Aku kan cuma bercanda,” gumamku. Tiba-tiba aku melihat Junghwan oppa. “Junghwan oppa!” Panggilku.

“Omo, Jin-ah! Kau di sini ternyata,” Junghwan oppa datang mendekat padaku. “Oh, annyeong haseyo Gongchan oppa!” sapaku pada Gongchan oppa yang datang bersama Junghwan oppa.

“Annyeong Haejin-sshi! Mianhae tak bisa sering menyapamu di sekolah, aku benar-benar jarang keluar karena harus mengejar pelajaran,” jelas Gongchan oppa.

“Gwenchana, tapi oppa tidak perlu terlalu serius nanti malah membuat oppa stres, kan tidak lucu kalau ada berita ‘salah satu member B1A4 Gongchan Shik stres karena pelajaran’ hehe,” candaku.

“Hahaha….” Gongchan oppa dan Junghwan oppa tertawa.

“Kau ada-ada saja!” ucap Gongchan oppa.

“Oh iya, malam ini oppa tidak pulang yah! Oppa ada urusan di kantor, jaga dirimu baik-baik dan Youngmin noona akan pindah ke rumahmu malam ini, dia sudah bilang, kan?” tanya Junghwan oppa.

“Ne, tadi aku bertemu dengannya, dia akan pindah malam ini,” ujarku.

“Arasseo! Tapi tetap saja kalian harus hati-hati karena kalian semua yeoja, jangan lupa kunci pintu sebelum tidur,” jelas Junghwan oppa.

“Gurae!” jawabku.

“Kalian ini benar-benar seperti oppa dan dongsaeng kandung!” kata Gongchan oppa.

“Oppa baru tau yah? Junghwan oppa kan sayang sekali padaku,” kataku sambil menggandeng tangan Junghwan oppa.

“Hahaha, nae dongsaeng!” Junghwan oppa mengacak rambutku. Gongchan oppa hanya tertawa. Aku melihat Kwangmin keluar dari dressing room.

“Oppa, aku pergi dulu yah! Annyeong!” aku meninggalkan Junghwan oppa dan Gongchan oppa untuk mengejar Kwangmin. “Dia mau kemana?” baru saja aku mau mendekat padanya, segerombolan yeoja menyerbunya. Yeoja-yeoja itu mencubit pipi Kwangku seenaknya, mereka bahkan memeluknya dan berfoto ria dengan Kwang. Aku memutuskan kembali ke dressing room.

“Kau kenapa cemberut begitu?” tanya Young.

“Ani!” ucapku singkat.

“Jin-ah, bisa ke sini sebentar?” panggil Hyunseong oppa.

“Ne,” jawabku. “Ada apa, oppa?”

“Kau tahu tidak bagaimana cara mendaftar ke sini?” tanya Hyunseong oppa sambil menunjuk layar laptopnya.

“Oh, ne’! Oppa tinggal klik di sini, lalu isi semua data yang dibutuhkan,” jelasku.

“Oh arasseo!” ucapnya. “Gomawo!” kami berdua duduk dan mengobrol sambil sesekali tertawa melihat gambar-gambar lucu di internet. Ternyata Hyunseong oppa  sangat menyenangkan.

“Yak Kim Haejin aku sudah memperingatkanmu!” tiba-tiba Kwangmin datang marah-marah.

“Mworago? Wae?” tanyaku.

“Kau kenapa?” tanya Hyunseong oppa. Kwangmin pergi begitu saja. Aku menyusulnya pergi.

“Sebenarnya kau kenapa? Kenapa rasa cemburumu itu tinggi sekali?” tanyaku saat mendapati Kwang duduk di sebuah kursi, aku duduk di sebelahnya. “Mianhae kalau aku berbuat salah padamu.”

“Aniya, aku sekarang ini benar-benar takut kehilanganmu!” gumamnya, sekarang dia menatapku dalam.

“Kwang-ah!”

“Hmm…”

“Harusnya aku yang takut kehilanganmu!” kataku sambil menghindari tatapannya.

“Mwo? Kenapa begitu?”

“Jelas-jelas kau seorang artis, masih muda, banyak penggemar, kau juga bergaul di antara artis-artis yang begitu cantik, aku sama sekali tidak ada apa-apanya!” jelasku.

“Omo, Kim Haejin! Kau itu segalanya bagiku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu meskipun ribuan yeoja cantik dihadapanku aku masih bisa yakin tidak akan berpaling darimu, aku membuang semua kesombonganku hanya untuk mendapatkanmu, dengan tidak tau dirinya membawamu ke dalam keadaan terpaksa untuk menjadi yeojachinguku, itu yang membuatku takut kehilanganmu. Kau menjadi yeojachingiku karena paksaanku, sedangkan aku tau yang kau sukai sejak SMP itu Sandeul hyung.”

“Mwo? Jadi kau kira aku terpaksa menjadi yeochinmu? Dan kau pikir aku menyukai Sandeul oppa?” aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“Jadi?”

“Nan neoui girlfriend, Kwang-ah! Saranghae! Satu-satunya namja yang aku sukai sejak SMP itu tuan Jo Kwangmin, orang yang setiap harinya menggangguku, mengerjaiku habis-habisan, yang selalu mempermalukanku, dan orang yang tiba-tiba menyatakan perasaannya di hadapan semua orang kepadaku,” jelasku.

“Jeongmal?” aku hanya mengangguk. “Gomawo, Haejin-ah!” Kwang memelukku sangat erat. Aku baru tau kalau yang dia rasakan begitu, apa aku kurang menunjukkan rasa cintaku padanya?

* * * * *

2 thoughts on “[Fanfic] Nan Neoui Boyfriend Part 7 (END)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s