[Fanfic] Nan Neoui Boyfriend Part 6

“Kwang-ah?” panggil Haejin pada Kwang yang menatap keluar jendela bus.

“Hmmm.”

“Jeongmal joaheyo?” tanya Haejin. Kwangmin membuka headset yang dari tadi terpasang di telinganya.

“Wae? Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Kwangmin.

“Ani,” Haejin memalingkan wajahnya.

“Waeyo?” Kwangmin menarik wajah Haejin hingga kembali menatapnya.

“Aku katanya tidak pantas untukmu!” gumam Haejin.

“Haha, siapa yang mengatakan itu?” tanya Kwangmin.

“Teman kelasku!”

“Mwo? Mereka tahu kita pacaran?”

“Ani, wae? Kau tidak mau ada yang tahu hubungan kita karena malu punya pacar sepertiku?” Haejin mulai kesal.

“Yak, Kim Haejin! Kau tidak mau kan dikejar-kejar infotainment?” tanya Kwangmin. Untung saja busnya sepi dan hanya ada orang-orang tua, jadi orang-orang di sana tidak peduli dengan pembicaraan mereka.

“Shireo!” ucap Haejin singkat.

“Arasseo, kalau kau mau aku bisa saja ke sekolahmu dan berteriak di depan mereka semua kalau aku ini milikmu. Apa kau mau itu?” tanya Kwangmin.

“Andwe, tidak perlu!”

“Terus, apa maksudmu mereka bilang kau tidak pantas jadi pacarku?”

“Temanku tidak sengaja memfoto kita waktu kencan pertama kita, tapi untung saja saat itu aku sedang berbalik dan hanya wajahmu yang terlihat, teman sebangkunya adalah fans beratmu dan dia bilang yeoja yang berada bersamamu itu pendek dan tidak pantas untukmu,” jelas Haejin.

“Aigoo, dasar yeoja penggosip! Mereka tidak melihat wajahmu, kan?” tanya Kwangmin yang dijawab dengan anggukan dari Haejin. “Pantas saja!” gumam Kwangmin.

“Wae?” tanya Haejin penasaran.

“Ani, lupakan saja! Mereka hanya yeoja-yeoja kurang kerjaan.”

Kwangmin dan Haejin berjalan menuju rumah Haejin.

Pipp…pipp… (suara klakson) Sebuah mobil lewat di samping Haejin dan Kwangmin. Mobil itu berhenti dan pemiliknya turun dari mobil.

“Jin-ah,” panggil pemilik mobil yang tidak lain adalah Sandeul.

“Ah, Junghwan oppa?”

“Kau mau pulang yah? Kebetulan aku mau ke rumahmu, ayo naik!” tanya Sandeul. Haejin menatap Kwangmin yang sepertinya kesal.

“Kwang, otokae?” bisik Haejin.

“Sudahlah, kau naik saja! Lebih baik aku mengantarmu sampai sini saja!” kata Kwangmin.

“Omo, kau tidak marah, kan?”

“Untuk apa aku marah, dan mengenai pertanyaanmu tadi, nan neomu saranghae!” ujar Kwangmin sambil mengecup kening Haejin, Haejin hanya tersenyum dan mengecup pipi Kwangmin.

“Nado saranghae!” Sandeul yang melihat pemandangan di hadapannya langsung menarik lengan Haejin. “Aigoo oppa! Waeyo?” tanya Haejin sambil melepas paksa tangannya.

“Mianhae Haejin-ah, ini sudah malam jadi kau harus pulang!”

“Yak hyung, jangan pernah berani menyakiti yeojaku!”

“Cuih, yeojamu? Asal kau tahu saja, appa Haejin memberikan tanggung jawab untuk menjaga Haejin padaku dan sejak kecil kami sudah dijodohkan, arasseo?” Sandeul mulai emosi. Sandeul menarik tangan Haejin kembali, Haejin masih mematung melihat namja yang begitu dia kagumi menjadi menakutkan seperti itu. Kwangmin juga hanya menatap Sandeul yang menarik Haejin karena mendengar pernyataan Sandeul. Sejak saat itu, Haejin dan Kwangmin hanya bisa berhubungan lewat telpon karena tiap hari Haejin diantar dan dijemput oleh Sandeul. Sandeul sama sekali tidak mengijinkan Haejin bertemu Kwangmin.

* * * * *

ting tong ting tong

“Itu pasti Minchan,” Haejin segera membuka pintu tanpa basa-basi.

“Kau anaknya Kim Haewoon, kan?” tanya tiga orang namja bertubuh kekar yang berdiri di depan Haejin.

“Nnnn…ne, kalian siapa?” tanya Haejin gemetar. Haejin buru-buru menutupkan mereka pintu dan menguncinya, karena dia mengenali salah satu dari mereka adalah orang yang hendak mencelakainya dulu.

Dorrr, dorrr, dorrr. Mereka menggedor-gedor pintu rumah Haejin. Haejin mengambil ponselnya dan menelpon Kwangmin segera.

* * * * *

Kwangmin POV

Youngmin sedang asyik-asyiknya telponan dengan Youngmi noona. Malam ini malam selasa dan aku merasa sangat bosan. (?)

Nan neoui boyfriend eh…eh…eh… Ponselku berdering dan terlihat dilayar nama Kim Haejin, aku tersenyum dan kemudian mengangkatnya.

“Kwang-ah, hiks….hiks…. aku takut!” terdengar suara Haejin bergetar.

“Kim Haejin, gwenchana?” tanyaku panik.

Dorrr, dorrr, dorrr. Aku mendengar suara sesuatu yang digedor-gedor, sepertinya itu pintu.

“Brakk!” Suara apa itu?

“Mwo? Haejin-ah! Jin-ah!”

“Apa mau kalian?” teriak Haejin yang bisa kudengar. aku segera mengambil mobil tanpa mempedulikan apapun dan segera ke rumah Haejin. Selama perjalanan aku terus menelpon Haejin tapi tetap tidak bisa, aku memutuskan menelpon Youngmin. Tapi tetap tidak tersambung, dia pasti masih menelpon Youngmi noona. Aku hanya mengirimi Youngmin pesan dan menelpon seseorang lagi.

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo, Minchan-ah, kau di mana? Kau tidak di rumah?”

“Aniyo, aku sedang melatih taekwondo, waeyo?”

“Haejin dalam bahaya, cepat pulang!” ujarku panik. “Pantas saja mereka bisa masuk, Haejin tidak mungkin bisa mengatasi mereka, otthokae?” gumam Kwangmin.

* * * * *

Haejin POV

“Berikan nomor appamu!” bentak salah satu dari tiga namja di hadapanku.

“Aniyo!” ujarku dengan suara bergetar, aku sangat ketakutan tapi aku tidak mau appaku dalam masalah.

“Cepat berikan! Kalau tidak, kau tidak akan selamat!” bentak mereka lagi. Mereka merebut ponselku dan mengacak-ngacak nomor kontakku. Sudah sekitar 20 menit kejadian ini berlangsung, akhirnya mereka emosi tidak menemukan nomor appaku, karena aku memang tidak menyimpannya dengan nama appa tapi dengan mana Nae Chagi. Tiba-tiba terlihat Kwangmin memasuki rumah dengan hati-hati, hanya aku yang melihatnya karena ketiga namja ini membelakangi pintu. Kwangmin memberi tanda agar aku tenang. Dia mengambil tongkat baseball milik appa.

“Brukkk,” Kwang memukul salah satu dari mereka.

“Arghhh,” erang namja yang dipukul Kwang.

“Mwo, rupamya ada tikus kecil yang mengantarkan nyawa ke sini!”

“Arghhh,” pekikku karena tiba-tiba salah satu dari mereka menarik ahuku paksa.

“Lepaskan Haejin! Dasar pengecut, beraninya dengan seorang yeoja, cuih~”Kwang bodoh, dia menabuh gendera perang.

“Kurang ajar!” mereka marah dan menyerang Kwangmin.

Plak….bruk….plakk…plak….bruk… perkelahian terus terjadi hingga akhirnya Kwang terjatuh. Salah satu dari mereka dengan cepat menginjak tangan kanan Kwang, aku refleks menutup mata adan tidak bisa berbuat apa-apa karena diikat mereka.

“Arghhhh….,” pekik Kwang kesakitan.

“Kwang-aahhh!” teriakku tanpa sadar air mataku berlinang tidak tahan melihat namja yang kucintai disiksa di hadapanku. “Hentikaaaaaaaaaaan!” aku melompat ke arah Kwang yang masih mengerang kesakitan. “Jebal, hentikan! Jangan sakiti Kwangku…hiks…hiks…hiks.” aku memegangi kaki orang yang handak menginjak Kwang lagi.

“Cuih, cinta! Minggir kau!” namja itu menghempaskan Haejin menjauh dari Kwang.

“Wah, sepertinya Kim Haewoon akan lebih menderita kalau kehilangan putri kesayangannya ini. mereka meninggalkan Kwang dan mendekat padaku, mereka mengangkat paksa daguku, sepertinya mereka ada dendam pada appaku, aku terus saja menangis.

“Ja…..ngan sen….tuh yeojaku, bajingan!” erang Kwang.

“Mwo, masih bisa bicara juga kau rupanya,” ujar namja yang sepertinya pemimpin mereka.

“Kau tahu, ini semua tidak sebanding dengan apa yang dilakukan appamu! Brukk,”

“Andweee,” aku refleks berteriak karena sekali lagi Kwang ditendang.

“Gwen….cha…na… Jin-ah!” gumam Kwang sambil memegangi tangan kanannya.

“Wah, hebat juga kau masih bisa bertahan, brukk!” Kwang terusterusan disiksa dihadapanku.

“Lepaskan dia, jebal!” teriakku sekencang-kencangnya. Namja itu berbalik dan ke arahku.

“Diam kau!” namja itu hendak memukulku, namun ditahan oleh seseorang, aku membuka mataku yang refleks tertutup dan mendapati Junghwan oppa menahan tangan namja itu.

“Jangan pernah menyentuhnya sehelai rambut pun, brukk!” Junghwan oppa bekelahi dengan namja itu dan rupanya Minchan juga di sini, dia melepaskan ikatanku dan  menghadapi dua namja lainnya. Aku bergegas menuju ke arah Kwang  dan menangis memandanginya yang tak berdaya dan berlumuran darah.

“Kwang-ah, bertahanlah!” gumamku.

Ti not ti not ti not…. (?) tiba-tiba suara sirine polisi terdengar.

“Jangan bergerak!” beberapa polisi mengepung penjahat-penjahat yang sudah kualahan menghadapi Minchan dan Junghwan oppa.

“Kwang, gwenchana?” Young dan member boyfriend lainnya menghapiri aku dan Kwang.

“Hiks…hiks…hiks… bertahanlah!”

“Arghh,” tiba-tiba tangan kiri Kwang mengusap pipiku.

“Ull….jiima!” gumam Kwang lalu pingsan.

“Kwang-ah! Jo Kwangmin!” aku mengguncang pelan badannya agar dia sadar.

“Tenanglah, Haejin-ah!” Hyunseong oppa menenangkanku sedangkan member lain mengangkat Kwang ke mobil.

“Hiks…hiks…Kwang-ah!” Kwangmin terbaring di pangkuanku di dalam mobil, aku terus menggenggam tangan selama perjalanan ke rumah sakit.

“Young-ah, gwenchana?” tanya Donghyun oppa pada Youngmin yang duduk di sebelahnya, entah kenapa Young juga merasa kesakitan, mungkin ini yang dinamakan ikatan kembar.

“Entahlah hyung, tangan kananku terasa sakit sekali, mungkin ini yang dirasakan Kwang,” ujar Young. Dalam waktu kurang lebih 20 menit, kami sampai di rumah sakit.

* * * * *

Author POV

Dokter keluar dari ruangan Kwangmin. Orang tua Kwangmin langsung menghampiri dokter.

“Seosangnim, bagaimana keadaan anak kami?” tanya appa Kwang masih menenangkan eommanya.

“Syukurlah hanya luka luar dan tidak terlalu parah, hanya saja ligamen tangan kanannya patah, itu yang membuatnya tidak sadarkan diri,” ujar dokter itu. “Yang lainnya bisa segera disembuhkan. Hanya butuh istirahat yang cukup untuk meregangkan otot-ototnya selama tiga hari.”

“Syukurlah!” kami semua bernapas legah.

“Mianhae, ajumma, ajusshi! Ini semua terjadi karena Kwang menyelamatkanku,” ujar Haejin sambil menangis tersedu-sedu.

“Ne, gwenchana! Kwang pasti sangat menyayangimu, makanya dia melakukan semua ini,” kata eomma Kwangmin.

“Tentu saja eomma, yeoja ini bahkan bisa membuat Kwang jadi lebih sering tersenyum dan tidak dingin seperti yang dulu,” ujar Youngmin.

“Permisi, tuan Jo sudah sadar!” seorang suster keluar dari kamar Kwangmin. Mereka semua bergegas masuk ke ruangan Kwangmin.

“Eitsss, mau apa kau?” Youngmin mencegat Haejin masuk.

“Mwo? hiks…wae?”

“Dasar cengeng! Jangan menampakkan tampang sedihmu itu di depan Kwang, dia paling tidak suka ditangisi! Sekarang ke toilet dan hapus air matamu, arasseo?” Haejin hanya mengangguk. “Anak baik!” Youngmin mengusap puncak kepala Haejin.

“Memangnya aku anak kecil, takk!” Haejin menjitak kepala Youngmin lalu tersenyum.

“Aishh, appo!” Youngmin memegangi kepalanya. “Begitu dong! Kwang pasti lebih senang melihatmu tersenyum.” Haejin ke toilet dan mencuci muka.

“Nah, begitu kan lebih segar!” ujar Young saat Haejin keluar dari toilet. Haejin hanya tersenyum. “Sekarang tinggal mengantarkan tuan putri ini ke pangerannya,” wajah Haejin memerah.

“Kau cari siapa?” tanya Donghyun, Kwangmin terus saja memandangi sekelilingnya.

“Ah ani,” ucap Kwangmin.

“Cari siapa lagi, dia pasti mencari yeoja ini!” Youngmin datang bersama Haejin.

“Kwang-ah!” Haejin bergegas memeluk Kwangmin.

“Arghh…,” erang Kwangmin.

“Eh, mianhae!”

“Hahaha,” semuanya tertawa melihat tingkah Haejin. “Lebih baik kita pergi dari sini!” ujar Donghyun, mereka pun meninggalkan Haejin dan Kwangmin berdua.

“Dasar babo!” Haejin menjitak kepala Kwangmin pelan. “Bagaimana kalau mereka melakukan yang lebih parah dari ini? Bagaimana kalau bukan hanya tanganmu yang patah seperti sekarang? Bagaimana jika….? hiks….hiks…” Kwangmin meletakkan jari telunjuknya di bibir Haejin.

“Bagaimana jika aku mati?” Kwangmin mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Haejin.

“Kau tidak boleh melakukan itu lagi!” kata Haejin lalu memeluk Kwangmin kembali.

“Ani, aku akan melakukan itu kalau ada yang berani menyakitimu,” ucap Kwangmin sambil mengelus rambut yeoja yang sangat dicintainya.

“Babo!” gumam Haejin.

“Haha…,” Kwangmin hanya tersenyum simpul. “Aku memang babo karenamu!” gumam Kwangmin lalu mengeratkan pelukannya hanya dengan tangan kirinya.

“Ternyata Kwangmin begitu mencintai Haejin,” batin Sandeul yang menyaksikan mereka berdua dari luar pintu kamar rawat Kwangmin. “Apa aku harus melepasmu, Kim Haejin?”

TBC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s