[Fanfic] 01:23 no Kyoudai – Part 1

 

Cast :

  1. Arioka Daiki
  2. Yaotome Hikaru
  3. Kota Yabu
  4. Nakajima Yuuto
  5. Chinen Yuuri
  6. Inoo Kei
  7. Yamada Ryosuke
  8. Okamoto Keito
  9. You as Arioka Miki

 

Cast-nya cowoknya semuanya adalah member Hey!Say!JUMP. Pemeran tambahan yang lain , seperti teman-teman sekolah cast utama, adalah tokoh imajinasi penulis semata.

Selamat Membaca!! ^_^

 

CSC

Kota Tokyo pada bulan Februari yang dipenuhi salju. Seperti biasa, Rumah keluarga Arioka  selalu dipenuhi oleh keramaian..

“ Daichan.. dimana buku sejarahku yang kau pinjam kemarin malam?” tanya Miki sambil mengetuk-ngetuk  pintu kamar Daichan. Namun tidak terdengar jawaban dari dalam.

“ Daichan, kau dengar aku tidak? Daichan…”

Pintu itu tiba-tiba terbuka.

“ Bisa tidak, satu hari saja kau tidak mengangguku pagi-pagi?” seru Daiki sambil berkacak pinggang.

Miki terkejut, “ Aku kan bertanya baik-baik, kenapa kau malah membentakku? “

“ Aku tidak tahu dimana bukumu dan aku tidak mau mendengarmu berteriak di depan pintu kamarku,” Daiki langsung menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Miki.

“ Daichan matte! Aku belum selesai” Miki berusaha membuka pintu kamar Daiki. Namun percuma saja, sebab pemuda itu telah menguncinya dari dalam.

“ Kan kemarim malam kau meminjamnya”

“ Iia!” jawab Daiki dari dalam. Miki tersentak.

“ Uso!”

“ Kikitakunai”

Miki menggeram menahan marah, “ Daichan kawaii” serunya sebelum berlalu dari depan kamar Daiki.

“ Micchi!!!!!!!!”

Begitulah, rumah keluarga Arioka yang tidak pernah sepi. Selalu saja ada keributan-keributan kecil di pagi hari. Siapa lagi, kalau bukan si kembar Daiki dan Miki. Ulah mereka itu selalu membuat anggota keluarga yang lain geleng-geleng kepala.

“ Doushite?” tanya Okaasan ketika Miki tiba di dapur.

Miki tidak menjawab.

“ Ada apa lagi sih? “ gerutu Hikaru, putra sulung keluarga Arioka. Wajahnya masih tampak mengantuk. Ia lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya.

Bukannya menjawab, Okaasan malah berdiri sambil berkacak pinggang di depannya.

“ Siapa yang menyuruhmu bangun sesiang ini? “ tanya Okaasan. Hikaru tersenyum kecut.

“ Ini memang hari libur, tapi bukan berarti kau boleh bangun siang. Apa kau tidak kasihan melihat Otousan mengecat pagar dan membersihkan halaman sendirian? “ kata Okaasan bertubi-tubi.

“ Wakatta.. wakatta” Hikaru lalu menyusul Otousan ke halaman.

Keluarga arioka memiliki tiga anak. Yang pertama adalah Hikaru. Saat ini ia tengah menyelesaikan studinya di universitas tokyo, mengambil jurusan arsitektur. Ia adalah pemuda yang cerdas, dan sangat menyayangi kedua adiknya. Anaknya rajin, tetapi hanya pada hari senin hingga jumat. Kenapa? Karena prinsipnya, sabtu dan minggu adalah waktunya bersantai setelah bekerja keras selama lima hari. Karena itu, setiap hari sabtu dan minggu, ia selau bangun kesiangan.

Putra kedua adalah Daiki, Miki memanggilnya dengan Daichan. Pemuda itu saat ini tengah menduduki kelas dua SMA di SMA Horikoshi. Dia (SANGAT) sangat tidak menyukai matematika. Anaknya malas. Jika ada kegiatan membersihkan kelas bersama, ia selalu bersembunyi di atap sekolah. Tetapi meski begitu, kamarnya selalu rapi. Hobinya bermain bola. Bila sudah begitu, ia sampai lupa waktu.

Lalu si bungsu bernama Miki, dipanggil Micchi. Ia adalah adik kembar Daiki yang lahir 1 menit 23 detik setelah Daiki. Wajahnya sangat mirip dengan Daiki, bisa dikatakan ia adalah Daiki versi perempuan. Hanya saja, ia seikit lebih kurus dibanding kakaknya itu. Ia sangat suka mendengarkan musik, terutama Arashi dan Yui.

Si kembar Daiki dan Miki bersekolah di sekolah yang sama, berada di kelas yang sama dan duduk di deretan bangku yang sama. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama dengan bus. Sebenarnya mereka adalah kembar yang manis, hanya saja mereka lebih sering berantem dibanding akrab.

*****

“ Daichan hayaku!” teriak Miki dari ruang makan. Gadis itu tengah merapikan peralatan makannya.

“ Urusai!!” Balas Daiki dari lantai atas.

“ Hhh… dia selalu saja begitu. Aku kan bisa terlambat” gerutunya.

Hikaru yang duduk di depannya angkat bicara, “ Pagi-pagi jangan teriak-teriak dong. Aku jadi tidak bisa makan”

“ Hmp… tapi toh nambah juga”  balas Miki. Hikaru hanya mencibir.

Tak lama kemudian, suara berdebum terdengar. Rupanya Daiki tengah berlari menuruni tangga. Ia lalu duduk disamping Hikaru, menyantap makan paginya dengan terburu-buru.

“ Mau sampai kapan kau mau seperti ini, terburu-buru terus setiap pagi? Makanya kalau Okaasan membangunkanmu, langsung bangun” nasihat Okaasan.

“ Hai” jawab Daiki dengan mulut yang penuh makanan.

“ Ittekimasu” seru Miki sambil memakai sepatunya. Mendengar itu, Daiki gelagapan.

“ Chotto matte! Okaasan, dimana bekalku?” ia menaruh mangkuk makanannya dan meminum segelas air putih.

“ Micchi, tunggu kakakmu! Daichan habiskan dulu makanannya, jangan membuang-buang makanan. Itu namanya tidak menghargai jasa para petani” kata Okaasan yang sibuk memasukkan kotak bekal Daiki ke dalam tas kecil.

“ Jikan ga nai” kata Daiki.

“ itte..” Daiki sudah hampir pergi, tapi Otousan sudah keburu menarik lengannya. Otousan lalu mengambil mangkuk  Daiki dan menyuapkannya makanan yang tinggal setengah itu.

“ Otousan..” keluh Daiki dengan mulut yang penuh makanan.

“ ayo cepat telan!”

“ sudahlah Otousan, nanti dia bisa tersedak” Okaasan berusaha menghentikan Otousan.

“ Tidak apa-apa. Otousan sudah berpengalaman, Okaasan tidak usah khawatir” jawab Otousan. Okaasan menatap Hikaru, memintaya membujuk Otousan. Tapi pemuda itu hanya mengangkat bahu.

“ Daichan..” panggil Miki dari luar.

Daiki sudah tidak bisa menjawab sebab mulutnya sudah (BENAR-BENAR) penuh dengan makanan. Ia hanya melirik Otousan sambil susah payah mengunyah.

“ Ini minumlah” Otousan menyodorkan segelas air putih. Daiki hanya menatapnya, berusaha menjelaskan bahwa mulutnya sudah tidak muat lagi. Tapi Otousan rupanya tidak peduli.

“ Ihhehihass” mulutnya masih penuh dengan makanan.

“ Itterasshai” jawab Okaasan, Otousan, dan Hikaru.

“ Kalau kau memuntahkan makanannya di jalan, awas ya!” seru Otousan.

“ Osoi!” seru Miki yang sudah sedari tadi menunggu di depan pagar rumah. Ia segera berjalan cepat begitu melihat Daiki keluar.

Daiki memilih untuk tidak menjawabnya, daripada makanan yang di mulutnya keluar semua. Ia lalu bergegas menjajari langkah Miki. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Sifat Miki yang tidak suka menunggu, serta kebiasaan Daiki yang suka bangun kesiangan selalu membuat acara makan pagi menjadi ramai seperti ini.

Setelah sepuluh menit berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di halte bus. Dari kejauhan, bus yang mereka tunggu sudah nampak.

“ Ini gara-gara kau” kata Daiki yang sibuk mengatur napasnya yang tidak teratur akibat berjalan sambil mengunyah makanan.

“ Kalau kau tidak bangun dua puluh menit setelah Okaasan membangunkanmu, ini tidak akan pernah terjadi” balas Miki. Sebenarnya selain karena ia takut terlambat, ada satu alasan lain mengapa ia sangat tidak suka menunggu Daiki untuk berangkat ke sekolah. Kalau saja bukan Otousan dan Okaasan yang memintanya, dari dulu ia pasti sudah berangkat lebih dulu.

Miki menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari seseorang. Tapi sia-sia saja, orang itu tidak ada.

“ Cari siapa? “ tanya Daiki.

Miki hanya menggeleng lesu.  Daiki menatapnya penuh penasaran.

Anak ini kenapa sih? Batinnya dalam hati.

Akhirnya, bus  yang ditunggu pun tiba. Kendaraan berwarna putih itu akan membawa mereka menuju halte bus dekat Horikoushi Gakuen. Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba. Dari halte, mereka melanjutkan dengan berjalan kaki di jalan setapak yang ditumbuhi pohon-pohon pada pinggirnya. Sekarang sedang musim dingin, jalanan jadi tertutup salju.

“ ohayou” sapa Miki dengan riang sambil menaruh tas di mejanya. Daiki menyusul di belakangnya.

“ Ohayou” balas yang lain.

Hhh.. kenapa dia bisa sebegitu manisnya di kelas? Padahal di rumah dia sangat menakutkan. Kibishi! Batin Daiki dalam hati.

“ Nee Miki chan, tadi malam Okamoto kun membalas email ku” bisik Asuka chan.

“ Ee… hontou?” pekik Miki terkejut. Asuka lalu menghampiri tempat duduknya, diikuti oleh Sakurai.

“ Ceritakan kepadaku” pinta Miki dan Sakurai.

“ Tadi malam aku memintanya untuk menjadi parter ku dalam lari berpasangan untuk pelajaran olahraga nanti. Dan dia.. menjawab iya” Asuka bercerita sambil tersipu.

“ Ureshii” seru Miki.

Sakurai mengangguk membenarkan,”aku jadi iri”

Mereka bertiga lalu melirik ke arah Okamoto Keito yang sedang membaca buku sambil mendengarkan musik.

“ Perasaan setiap hari kalian selalu menceritakan tentang hal yang sama. Tidak bisa ganti topik?” celetuk Daiki yang duduk di belakang Miki.

“ Urusai!” balas mereka bertiga bersamaan.

Mendengarnya, Yuuto dan Chinen menghampiri Daiki dan menepuk pundak pemuda itu.

“ Okamoto-kun memang terkenal” kata Yuuto.

“ Jadi terima saja kenyataannya” tambah Chinen.

“ Hah?”

3 thoughts on “[Fanfic] 01:23 no Kyoudai – Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s