[Fanfic] Choice Part 4/4

Ruangan divisi dua malam ini diliputi suasana serius. Sudah jam 9 malam, tetapi semuanya memang harus dilakukan malam ini juga. Mereka akan segera melakukan penyergapan di markas besar organisasi itu. Berdasarkan hasil penyelidikan mata-mata divisi dua, organisasi itu selama ini menempati sebuah gedung di dekat pelabuhan sebagai markas mereka.

“ Malam ini kita akan menggunakan strategi baru. Kita akan datang ke markas mereka dengan alasan interogasi. Tim A sudah menghubungi mereka, dan mereka setuju dengan imbalan 100 Juta won yang harus kita siapkan,” jelas Changmin.

`               “ dalam interogasi nanti, yang bisa masuk hanya tiga orang. Yaitu Aku, Asistenku Hwang Minwoo, dan..” ucapan Changmin terputus saat seseorang tiba-tiba memasuki ruangan tersebut.

“ Dan Yoon Jiho..” lanjutnya. Orang itu, Yoon Jiho, terkejut saat namanya disebut. Ia hanya bisa mengangguk,  tidak menyangka bahwa Changmin akan mengikutsertakannya dalam misi kali ini.

Changmin sendiri juga tidak tahu mengapa nama Jiho terlontar begitu saja dari mulutnya. Mungkin ia memang harus tetap mempercayai Jiho. Toh satu tahun telah berlalu, dan Jiho tidak menunjukkan gelagat bahwa ia masih bergabung dengan organisasi itu. Tapi kalaupun ia masih bergabung, kesempatan kali ini akan membuktikannya di hadapan semua orang, walau mungkin dengan bayaran yang mahal. Nyawanya sebagai taruhan.

“ Baiklah kita berangkat!”

Dengan kendaraan khusus NDI, divisi dua dibantu oleh divisi empat, divisi khusus yang menangani masalah perang dan keamanan wilayah negara, segera menuju pelabuhan. Misi kali ini tidak main-main. Menurut hasil pengamatan Tima A yang berhasil menyusupkan dua anggota mereka, organisasi itu memiliki anggota yang handal menggunakan senjata dan berjaga di sekeliling markas besar mereka. Ditambah lagi, sistem keamanan yang sangat sulit ditembus.

Akhirnya mereka telah tiba di tempat tujuan. NDI sengaja menghentikan kendaraan mereka tak jauh dari pintu masuk pelabuhan. Tujuannya agar organisasi itu tidak mengetahui maksud kedatangan mereka. Changmin segera memberi perintah agar anggota yang lain segera menyebar. Ia, Minwoo, dan Jiho lantas berjalan menuju markas organisasi itu.

Benar saja, gedung itu memang dijaga sangat ketat. Kamera CCTV pun terpasang di beberapa sudut ruangan. Itupun yang terlihat oeh mata. Yang tidak terlihat, entah ada berapa jumlahnya. Tidak cukup dengan itu, mereka bertiga pun juga harus diperiksa oleh para anggota organisasi itu sebelum memasuki gedung. Segala jenis alat komunikasi, serta senjata di sita. Mereka mengikutinya, tentu saja dengan sebuah antisipasi. Mereka telah menaruh sebuah handgun di dalam koper yang dibawa oleh Minwoo. Koper itu mereka katakan berisi uang sebesar 100 juta won.

Seorang penjaga pintu itu memeriksa Jiho. Gerakannya lantas terhenti begitu tangannya menyentuh sebuah benda di saku belakang jas Jiho. Ia lalu menatap pemuda itu yang juga menatapnya dengan penuh arti.

*****

                “ Oppa, sudah jam 9. Aku mau pulang. Sooyeon juga” kata Hyemi.

“ Oh iya… kalian bersiap-siap saja dulu. Aku sedang mengecek keadan mobil Jiho,” balas Yunho sambil setengah berteriak.

“ Kami bereskan ruangan ini dulu kalau begitu” Sooyeon yang menyahut kali ini.

Yunho lalu mulai men-starter. Berkali-kali dicoba namun tidak pernah berhasil. Sepertinya ada kerusakan pada akinya.

“ Oppa, kami siap!” seru Hyemi.

“ Tunggu sebentar!” Yunho lalu membuka pintu untuk keluar. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah buku usang yang tergeletak di jok depan. Ia tersenyum.

Kebiasaan Jiho yang pelupa itu kumat lagi. Tapi ini buku apa ya.. sudah kusam sekali

Ia lalu mengambil buku itu dan dibukanya lembar demi lembar. Gerakannya terhenti di sebuah lembar dimana tertulis kata ‘KILL’ di bagian atasnya. Perasaan Yunho lantas tidak enak. Di kepalanya terbayang kasus setahun yang lalu. Tangannya terus membolak-balik halaman buku itu dengan cepat. Satu kata lagi ia temukan. Dan di halaman terakhir, juga terdapat satu kata. Yunho terperanjat membacanya. Pasti ini merupakan rencana organisasi itu. Ia harus segera mencegahnya,

“ Oppa kenapa? Ayo pergi. Nanti aku dan Sooyeon dimarahi karena pulang larut..” ucapan Hyemi tidak selesai sebab Yunho sudah keburu pergi dengan meninggalkan sebuah buku usang ditangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, tingkah Yunho begitu aneh. Ia lalu membuka buku itu dan membaca tiga kata yang terususun menjadi satu kalimat, sama seperti yang ditemukan Yunho.

“ Kill..Changmin… Today..” Hyemi terperanjat. Ia menoleh.

“ Sooyeon?” ia tak sadar gadis itu telah berdiri di sampingnya. Sooyeon membacanya..

“ ada apa dengan Changmin oppa? Itu tulisan siapa? Siapa yang merencanakannya? Siapa ?” tanya Sooyeon bertubi-tubi pada Hyemi.

“Itu..” Hyemi tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu, itu milik Jiho.

“ Begini Sooyeon, Changmin sedang dalam bahaya. Tapi kau tenang saja. Aku dan Yunho akan mencoba menyelamatkannya. Akan kupanggilkan taksi, kau pulang sendiri bisa kan? “ kata Hyemi.

“ Tapi.. tapi oppa… aku.. aku..” ketakutan telah menyelimutinya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Tapi ia tidak ingin pulang sebelum memastikan Changmin selamat.

“Pulanglah. Changmin akan baik-baik saja. Lagipula kalau kau ikut, hanya akan membahayakan dirimu saja,” Hyemi terus membujuknya. Sooyeon tahu, ia memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi bagaimanapun juga..

“ Hyemi, cari taksi dan pulanglah bersama Sooyeon. Aku akan menyusul Changmin” Kata Yunho yang sudah tampak bersiap.

“ Tidak. Akan kupanggilkan taksi untuk Sooyeon. Dan aku akan ikut dengan oppa” Hyemi takut Yunho akan berbuat nekat. Ia tahu, Yunho sudah menganggap Changmin seperti adiknya sendiri. Yunho sendiri sudah tidak ingin berdebat lagi. Waktu terlalu berharga untuk terbuang gara-gara masalah sepele.

*****

                Changmin, Jiho, dan Minwoo saat ini tengah berada di sebuah ruangan. Di hadapan mereka, bos besar organisasi kriminal yang akan mereka tangkap itu duduk. Sudah sekitar satu jam mereka berada di ruangan itu, tetapi lelaki gempal itu tampaknya belum mau memberi keterangan apapun.

“ Mana benda yang kalian janjikan? “ lelaki itu bertanya. Changmin memberi tanda kepada Minwoo untuk membuka koper yang mereka bawa. Minwoo membukanya perlahan.

“ Menyerahlah” katanya sambil menodongkan handgun  ke arah lelaki itu. Rupanya sejak awal NDI tidak mempersiapkan uang sepeserpun. Yang mereka bawa dalam koper  adalah handgun.

Lelaki itu tersenyum sinis seraya memandang penuh arti.

Dor!

Sebuah bunyi tembakan terdengar. Seketika itu, tubuh Minwoo ambruk. Peluru telah bersarang di lambungnya. Changmin terkejut, ia menoleh. Jiho!

“ Berikutnya kuserahkan padamu” kata lelaki itu seraya menepuk bahu Jiho dan keluar dari ruangan.

“ arasseo” jawabnya singkat. Ia kini mengarahkan handgun-nya ke Changmin.

Changmin tertegun. Rupanya dugaannya selam ini benar, Jiho terlibat dengan organisasi itu juga dengan kasus satu tahun lalu.

“ Rupanya kau merencanakan ini dari awal” kata Changmin dengan tatapan yang tetap waspada pada tangan Jiho.

“ Ya”

Changmin berusaha agar tetap tenang. Matanya tetap fokus pada gerakan tangan Jiho selanjutnya. Jiho merupakan salah satu sniper handal kebanggaan NDI. Dia bahkan bisa mengkoordinasikan kedua tangannya untuk menembak dalam waktu bersamaan. Changmin benar-benar dihadapkan pada posisi yang sulit. Tanpa senjata apapun ditangannya, ditambah lagi posisinya yang duduk dan menyulitkannya untuk bergerak cepat. Tapi yang jelas ia harus tenang dan…

Druak!

Baik Changmin dan Jiho sama-sama terkejut.  Suara itu berasal dari pintu depan gedung, tampaknya ada sesuatu yang terjadi. Jiho mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

Kesempatan!

Changmin langsung memukul pergelangan tangan Jiho sehingga handgun itu lepas dari tangannya. Lalu dengan gerakan cepat, ia menarik kerah baju Jiho dan membenturkannya ke sebuah rak buku.

“ Sial. Sialan kau changmin!” teriak Jiho sambil memberontak sekuat tenaga. Ia balik mencengkram kerah baju Changmin.

*****

                Yunho membuka pintu jeep-nya dan keluar. Ia baru saja menjebol pintu gedung itu dengan menabrakkan mobilnya. Dihadapannya kini para anggota organisasi telah bersiaga dengan snejata masing-masing. Yunho menatap mereka dingin bak pandanga seorang pembunuh. Sejujurnya ia sedikit tegang sebab sudah lama sekali ia tidak menjalankan misi seperti ini.

Di luar gedung, Hyemi menunggu dengan cemas. Tangan kanannya menggenggam walkie talkie. Ia sedari tadi sibuk berkoordinasi dengan anggota NDI yang ada di dalam gedung.  Sembari itu, ia berharap Yunho cepat keluar dari dalam. Sebenarnya ia sudah mencegah agar Yunho tidak masuk dan menyerahkan  penangkapan kepada anggota yang lain. Toh mereka juga sudah memberitahu bahwa Changmin dan Minwoo dalam bahaya. Tetapi Yunho benar-benar  tidak bisa tinggal diam jika sudah menyangkut keselamatan orang- orang yang dicintainya.

Hyemi memandang cemas ke arah gedung. Berkali-kali terdengar suara benda dibanting dan bunyi tembakan. Ia takut terjadi apa-apa pada Yunho.

Semoga oppa baik-baik saja..

                “ Tenang saja, Yunho bukan orang yang lemah. Ia bisa diandalkan”

Hyemi menoleh. Disampingnya berdiri Kepala divisi empat sambil tersenyum penuh keyakinan. Orang itu juga adalah teman satu angkatannya dulu saat masih menjalani masa trainee sebagai anggota NDI.

“ Dia pasti bisa menghadapi mereka semua” katanya lagi.

Hyemi mengangguk, “ Ya.. semoga”

*****

                Sooyeon seakan hilang kesadaran. Ia bahkan tidak menyadari ketika taksi berhenti di depan rumahnya. Tangannya sedari tadi mengenggam Hp dengan erat. Menunggu ada telepon dari Changmin atau Hyemi.

Kumohon lindungi oppa

Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Berkali kali dicobanya untuk menghubungi Changmin HP-nya tidak aktif. Changmin tidak pernah mematikan hp-nya bahkan ketika rapat sekalipun, selalu hanya dalam keadaan silent. Sooyeon menunduk. Di pandanginya liontin berbentuk kupu-kupu pemberian Changmin. Ia mengenggamnya erat. Satu persatu air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Ia terkejut. Ia tidak pernah mennangis untuk Changmin sebelumnya. Tidakpernah..

Babo! Jangan menangis! Oppa akan baik-baik saja! Ayo, berhenti menangis Sooyeon. Meskipun kau memnangis tetap saja tidak akan membantu oppa.

                Namun oercuma saja. Air matanya semakin deras. Badannya gemetar dan terasa lemas. Diputuskannya untuk berbaring, ia tak kuat bahkan untuk duduk sekalipun.

*****

                “ Kalian tidak akan kubiarkan lolos” kata Yunho tenang sambil turun dari jeepnya. Anggota organisasi yang berada di tempat itu memasang posisi siaga dengan senjata masing-masing. Yunho menatap mereka tajam. Satu-persatu mulai menyerangnya. Yunho tetap tenang. Dengan gerakan cepat, ia berhasil menangkap tangan salah seorang dari mereka dan mengendalikannya untuk menembak anggota lain. Setelah beberapa anggota tumbang, ia menarik handgun  milik orang itu dan membunuhnya.

Ia menghadapi orang-orang itu sendirian. Tiba-tiba rasa nyeri menyerang kaki kanannya. Ia berlutut sejenak. Sudah lama nyeri itu tidak muncul. Entah mengapa di saat seperti ini.

Aku tidak boleh menyerah. Cahngmin sedang dalam bahaya. Aku harus menolongnya.

Yunho bangkit kembali. Ditumbangkannya semua anggota organisasi itu dengan sebuah handgun. Ia melawan setiap detik saat rasa anyeri itu datang. Ia tidak peduli lagi. Ia tidak mau kehilangan sahabatnya.

Semua musuh akhirnya bisa dikalahkannya. Ia mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Namun ia tidak menyadari, seseorang tengah berjalan di belakangnya sembari mengarahkan handgun ke arahnya. Ia berbalik saat mendengar suara langkah mendekat. Pemimpin organisasi itu telah siap menarik pelatuk..

Dor!

Tubuh pemimpin organisasi itu rubuh seketika. Yunho berhasil menarik cepat pelatuknya sebelum peluru mengenainya. Ia bergegas memberi instruksi kepada setiap anggota NDI yang berada di gedung itu untuk menggeledah setiap ruangan dan mencari Changmin. Ia sendiri sudah berlari masuk masing-masing ruangan. Nalurinya membawanya melangkah menuju sebuah ruangan dengan pintu kayu. Entah kenapa. Ia memutar kenop pintu itu dan membukanya.

****

                Pintu tiba-tiba terbuka. Changmin dan Jiho sama-sama menoleh. Sosok Yunho terlihat di sana. Cangmin terkejut. Ia lengah. Melihat hal itu, Jiho memukulnya hingga terjatuh membentur kursi. Pria itu lalu berlari mengambil handgun-nya yang terjatuh.

Dor!

Yunho menembak lantai tempat handgun milik Jiho tergeletak. Langkah Jiho terhenti. Ia menoleh.

“ Yunho..”

“ Wae? Kau ingin menembak teman mu lagi? Atau kali ini kau akan membunuhnya?” tanya Yunho.

“ Kau pikir kenapa Changmin memilihmu untuk menemaninya menemui pemimpin organisasi itu? Karena dia mempercayaimu. Tapi kenapa kau tega mengkhianati teman-temanmu? Jawab aku kenapa?” Amarah Yunho  tiba-tiba meluap. Ia masih bisa memaafkan Jiho yang menembaknya setahun yang lalu. Namun ketika ia tahu temannya ita hendak membunuh Changmin, ia sama sekali tidak bisa memahaminya.

“ Pikirkan bagaimana seandainya kau ada di posisiku. Saat orang yang paling kau cintai disandera dan diancam untuk dibunuh. Didunia ini hanya adikku yang kumiliki. Dan sekarang mereka  akan membunuhnya jika aku tidak menuruti mereka. Apa kau pikir aku masih punya pilihan lain ?”
“ Jika kau menceritakannya pada kami dari awal apa kau pikir kami tidak bisa mengerti dan membantu mu?” ujar Changmin.

Jiho menoleh mentap Changmin.

“ Kau dengar kan? Kami adalah sahabatmu. Sampai akhirpun kami akan selalu berusaha ntuk membantu mu”

Suasana menjadi hening. Hanya detak jarum jam yang terdengar. Sedetik kemudian, hp Jiho bergetar. Sebuah Video massage masuk. Jiho meliriknya. Jantungnya terasa berhenti berdetak seketika. Sekujur badannya terasa lemas.

“ Andwae… Andwae!!!” teriaknya pilu. Ia menyandarkan badannya di dinding ruangan itu. Tangannya gemetar, menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Sementara itu Changmin mendekat, mengambil Iphone hitam itu. Ia terkejut melihatnya.

“ Hyung, lihatlah”

Yunho mendekat. Di dalam video massage  itu, Jisook, adik Jiho, tampak terbaring dengan berlumuran darah. Tampaknya ia ditembak tepat di jantungnya. Mereka berdua sama-sama tertegun. Jadi inilah sebabnya Jiho mengkhianati mereka.

Yunho mengulurkan tangannya ke arah Jiho. Bagaimanapun juga ia adalah teman seperjuangannya.

“ Kemarilah” kata Yunho. Jiho mendongak menatap wajah Yunho dan Changmin bergantian. Ada ketulusan yang terpancar dari mata mereka. Ia mengulurkan tangannya, hendak meraih tangan Yunho. Tetapi tiba-tiba ia berhenti.

Masihkah aku pantas bersama mereka setelah apa yang aku lakukan? Tidak, aku harus menjalani hukuman. Aku harus menanggung akibatnya.

“ Maaf, aku tidak bisa” katanya lirih sembari menarik tangannya kembali. Changmin dan Yunho bertatapan.

Yunho lalu berbalik, memutuskan untuk pergi. Changmin mengikutinya di belakang.

“ Tidak apa-apakah kita membiarkannya begitu saja, hyung?” tanya Changmin sembari menjajari langkah Yunho.

“ Dia harus menjalani hukumannya. Aku yakin, dia pasti bisa berubah menjadi lebih baik lagi setelah ini”

Changmin lalu memutuskan untuk diam. Mereka berjalan menuju pintu keluar. Sementara itu, para anggota NDI yang lainnya bergerak cepat mengevakuasi komplotan organisasi yang berada di gedung itu dan sekitarnya. Hyemi yang dari kejauhan melihat mereka berdua, segera menghampir.

“ Oppa, Changmin.. bagaimana dengan Jiho? Apa yang terjadi?” tanyanya bertubi-tubi.

Keduanya hanya bungkam. Hyemi menatap mereka bergantian dengan muka cemas.

“Nanti akan kuceritakan. Ayo, kuantar kau pulang. Ini sudah malam” Yunho merangkul Hyemi dan mengajaknya keluar.

“ Oh ya, Changmin. Tadi Sooyeon pulang naik taksi. Mian, aku tidak mengantarnya. Sebaiknya setelah urusanmu selesai, segera kau telpon dia. Tampaknya dia sangat mencemaskanmu” kata Yunho lagi.

“ Gwencanha. Gomawo Hyung, Noona, sudah menolongku” balasnya.

*****

                My Little Princess calling..

                Changmin segeram mengangkatnya.

“ Yoboseo.. My Little Princess” sapanya dengan riang.

“ Oppa… to..tolong…aku…” suara Sooyeon dari seberang terdengar sangat pelan. Changmin terkejut.

“ Ada apa Sooyeon? Kau dimana sekarang” Changmin bergegas mengambil kunci mobil dan berlari menuju garasi.

“ Di..apar…te..men.. oppa…aku…”

“ Sooyeon? Kau dengar aku? Sooyeon? “ Ia bertambah panik. Sesuatu telah terjadi pada Sooyeon. Ia melaju dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Yeojachingu-nya itu.

Jangan-jangan, organisasi itu masih ada. Mereka.. Sial!

                Begitu tiba, ia segera berlari menuju kamar Sooyeon. Di gedornya pintu berwarna krem itu.

“ Sooyeon, ini aku. Bertahanlah” Ia mecoba mendobrak pintu itu. Setelah 3 kali mencoba, akhirnya ia berhasil. Matanya langsung menangkap sosok gadis itu yang terbaring di lantai ruang tamu. Darah berceceran di sekitarnya.

“ Sooyeon” ia berlari menghampiri. Sebuah luka tembak di perut bagian kanan terlihat terus mengeluarkan darah. Ia membuka mantelnya dan menyelimuti gadis itu.

“ Bertahanlah. Semua akan baik-baik saja” Changmin mendekapnya dan membawanya keluar.

“ Oppa..syukurlah..” Sooyeon berkata lirih sambil tersenyum. Kepala gadis itu terkulai lemas.

Changmin terkejut. Segera di rabanya urat leher Sooyeon. Tidak terasa. Ia meraba pergelangan tangannya. Tidak terasa juga.

“ Hei, Sooyeon? Hei, bangunlah. Hei, kau dengar aku?” ia menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tidak ada respon.

Changmin seakan tidak menginjak tanah lagi. Ia mendekap gadis itu semakin erat. Matanya mulai panas.

“ Sooyeon… “

*****

                “Andwae!” Ia terbangun seketika. Nafasnya memburu. Keringat basah bercucuran membasahi wajahnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Rupanya ia tertidur di ruang kerjanya.

“ Hanya mimpi” lirihnya.

Pabo. Organisasi itu sudah musnah. Seluruh anggotnya sudah tertangkap kemarin malam. Pemimpin organisasi itu juga sudah meninggal. Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi.

                Changmin lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 7 pagi. Ia menepuk keningnya.

Aigoo..aku lupa memberi kabar ke Sooyeon tadi pagi. Oh iya, hari ini kan aku juga janji untuk mengajaknya jalan-jalan. Aish.. kenapa aku bisa tertidur sampai jam segini

                Ia bergegas pulang. Ia bahkan juga tidak memberi tahu kedua adiknya kalau ia pulang terlambat. Ya, selama ini ia memang tinggal di apartemen bersama dua adik perempuannya.

Ia memencet bel apartemennya.

“ Giyeon, Suyeon..oppa pulang” teriaknya. Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan wajah mungil Suyeon, adiknya yang duduk di kelas satu SMA, terlihat di baliknya.

“oppa” sapanya riang sambil menghambur ke pelukan Changmin.

“ Sepertinya ada tamu ya?” kata Changmin begitu melihat ada sepasang sepatu lain yang tergeletak di pintu masuk. Suyeon mengangguk.

“ Ah, oppa annyeong!” Giyeon lantas muncul dari dapur. Tampaknya gadis itu sedang memasak.

“ Kau tidak bersiap-siap Giyeon? Bukankah hari ini kau ada jadwal kursus untuk persiapan masuk universitas?” tanyanya.

“ Ani. Aku sedang membantu temanku “ jwabnya

“ Temanmu? Dimana dia?” Giyeon lantas menunjuk ke arah dapur. Changmin melongok ke dalam.

“ Sooyeon?” ucapnya terkejut. Gadis itu lantas tersenyum.

“Annyeong” sapanya.

“ Kenapa kau ada disini?”

“Onnie sedang membuat bekal. Nanti dia akan nge-date bersama seseorang. Sekalian membuatkan sarapan untuk kami” jawab Suyeon enteng.

“Nge-date?” Changmin melemparkan pandangan penuh selidik ke arah Sooyeon. Gadis itu mengangguk.

“ Tidak apa-apa kan? Kami hanya bertemu di taman”

Ia hanya mengangkat bahu. Berani-beraninya ada namja yang mendekati Yeojachingunya itu.

“Oo..rupanya kau punya teman namja. Aku jadi ingin melihat muka namja yang kau buatkan bekal itu”

“ Oppa ingin melihatnya? Sayang sekali, dia namja yang payah. Dia sudah janji untuk mengajak Onnie jalan-jalan tetapi malah ketiduran di kantor dan baru pulang jam segini. Ditambah lagi namja itu tidak memberi tahu yeojachingu dan adik-adiknya kalau ia pulang terlambat dan membiarkan mereka tidur dengan penuh rasa cemas. Ah.. iya dia juga pulang tanpa sempat mencuci wajahnya. Hh.. benar-benar namja yang payah” jawab Giyeon. Suyeon terkekeh disampingnya.

Changmin menahan geram. Ia sudah benar-benar ditipu oleh keduanya. Ah.. bertiga ditambah Sooyeon.

“ Kalian.. “ Kedua adiknya itu buru-buru berlari menuju ruang tamu sambil tertawa.

Sementara itu, Sooyeon menahan untuk tidak tertawa di dapur.

“ Ini ide mu?” tanya Changmin sambil menatapnya gemas.

Sooyeon masih tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“ Habis, oppa tidak menghubungi kami. Tadi pagi aku menelepon Hyemi Onnie dan katanya mungkin oppa tertidur di kantor. Akhirnya aku menghubungi Giyeon dan merencanakan semua ini” jawabnya.

“ huh.. tapi kau mencemaskanku kan?”

“ Ani” jawab Sooyeon sambil pura-pura tak peduli. Ia mengaduk samgyetang yang sudah hampir matang.

“ Begitu kah? Tapi Ah, kalau kuperhatikan tampaknya matamu bengkak”

Mendengarnya, gadis itu buru-buru meraba matanya. Tidak bengkak.

“ Tidak kok” Ia menatap Changmin.

“ Sudahlah, tidak usah bohong. Aku tahu semalam kau pasti menangisi ku kan?” godanya. Muka Sooyeon memerah.

“ Dari mana oppa tahu?” tanyanya polos.

Changmin terkekeh, “ Aku hanya menebak, kok. Tapi ternyata benar ya?”

“ eh? Oppa..” Ia memukul bahu pemuda itu. Kali ini ia yang kena tipu.

“ Merong”

*****

Epilog

Sudak sebulan sejak peristiwa itu terjadi. Kini Hyemi tahu mengapa Jiho bisa berkhianat bahkan berniat membunuh Changmin. Ia terus memikirkannya sampai tak sadar bahwa ia sudah tiba di depan rumahnya.

Hyemi melangkahkan kakinya masuk dan mendapati kedua orang tuanya sedang asyik bercakap dengan seorang namja di ruang tamu. Appanya bahkan bermain catur dengan namja itu. Ia mengernyitkan dahi. Sungguh sebuah peristiwa yang sangat langka mengingat appanya over protective mengenai masalah pergaulannya dengan seorang namja.

“ Aku pulang “ Katanya.

“ Ah… orang yang ditunggu sudah pulang. Bagaimana kalau kita membicarakannya sekarang saja” Sambut Eommanya sambil tersenyum. Hyemi bertambah bingung. Memulai apa?

“ Ayo duduklah, Hyemi” Kata Appa. Ia lalu mengambil duduk di samping Appa dan betapa terkejutnya ia melihat namja di hadapannya.

“ Yun… Yunho.. Oppa?!” Yunho tersenyum melihat keterkejutan Hyemi. Gadis itu lantas menatap Oppa dan Appanya bergantian.

“ Ada apa ini?” tanyanya.

“ Minumlah dulu. Kau pasti haus” kata Eomma yang muncul dari dapur membawa sebuah cangkir dan teko berisi sirup. Eomma lalu menuangkannya ke gelas Hyemi dan Yunho.

Ia segera meminumnya dengan cepat, “ Aku sudah minum. Sekarang beritahu aku apa yang terjadi sebenarnya” appa dan eomma saling melempar senyum.

“ Kalau itu adalah bagianku” kata Yunho. Ia menarik napas sejenak. Ditatapnya Hyemi, appa, dan eommanya bergantian.

“ Abonim, Eomonim, dan Hyemi” Ia mengawali pembicaraan.

“ Dulu aku adalah seorang intel dan aku mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi orang lain. Namun saat ini ada seseorang yang sangat ingin aku lindungi, bahkan dengan mempertaruhkan seluruh hidupku. Dan aku berjanji akan mencintainya melebihi siapapun di dunia ini” ia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya dan meletakkannya di hadapan Hyemi.

Hyemi membukanya dengan tangan bergetar. Sebuah cincin.

“ Cho Hyemi, would you marry me?”

-The End –

Atashi rasa reader udah bisa nebak jawabannya Hyemi kan? Xixixi.. Mian yah.. ngepostnya kelamaan. Atashi lagi sibuk sih*sok*😄
Jaa ne.. Sampai jumpa di FF atashi selanjutnya. Arigatou gozaimasu *membungkuk 90  derajat*

 

CSC

One thought on “[Fanfic] Choice Part 4/4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s