[Fanfic] Nan Neoui Boyfriend Part 3

Mian yah, Part 3nya kelamaan….hehe Semoga suka ^^

* * * *

Haejin POV

“Yeoboseyo?” aku dan Kwang menghubungi nomor Youngmi eonnie setelah makan malam.

“Yeoboseyo, nuguya?” tanya Youngmi eon.

“Nae Haejin, eon!”

“Haejin? Wah, apa kabar?”

“Aku baik-baik saja eon, aku mau minta tolong!”

“Ne, wae?”

“Bisakah eonnie menemaniku tinggal di rumah?” tanyaku.

“Ah mianhae Haejin-ah, dalam waktu satu bulan ini eonnie tidak bisa meninggalkan apartement karena teman eonnie meminta eonnie menjaganya, mungkin bulan depan eonnie baru bisa tinggal bersamamu!”

“Jeongmal! Ne, gwenchana eonnie! Gomawo!” telpon kami terputus.

“Bagaimana?” tanya Kwang.

“Youngmi eonnie baru bisa pindah ke sini bulan depan,” jawabku.

“Jadi, kau akan tinggal sendiri sampai bulan depan?” tanyanya lagi yang kujawab dengan anggukan.

“Wah ini tidak mungkin, bagaimana kalau penjahat itu datang lagi?”

“Entahlah, aku sudah tidak punya keluarga lagi di Korea selain haraboji dan haramoni, itu pun mereka di Busan,” jawabku.

“Kau tidak punya saudara lagi, begitu?” aku berfikir sejenak.

“Ya, aku hampir lupa! Aku masih punya sahabat namanya Minchan, dia kalau tidak salah tinggal sendirian di Seoul,” kataku.

“Kau bisa menghubunginya?”

“Ne, semoga saja dia tidak mengganti nomornya,” kataku. Aku mencari nomor Minchan di ponselku lalu menghubunginya. “Tersambung!” ucapku semangat pada Kwang. “Yeoboseyo?”

“Ne, nuguya?” tanya seseorang diseberang sana.

“Aku Kim Haejin, bisa bicara dengan Jung Minchan?” tanyaku.

“Kim Haejin? Kemana saja kau?” tanya orang itu tiba-tiba.

“Minchan, ah syukurlah! Kau masih tinggal di Seoul?” tanyaku.

“Ne, wae?”

“Aku ingin mengajakmu tinggal di rumahku, apa kau mau?” tanyaku.

“Jinjja? Ah, Kim Haejin kau memang penyelamatku, aku ada masalah sekarang dan tidak tahu harus tinggal dimana sekarang!” ujar Minchan.

“Mwo? Memang apa yang terjadi?” tanyaku.

“Panjang ceritanya! Nanti akan kuceritakan kalau kita bertemu,” jawabnya.

“Ne, aku akan mengirimkan alamatnya padamu! Gomawo Minchan!”

“Ne, seharusnya aku yang berterima kasih!” katanya lagi. Telpon kami pun terputus.

“Bagaimana?” tanya Kwangmin.

“Minchan akan kesini sebentar lagi!” jawabku.

“Syukurlah!”

“Kau tidak pulang?” tanyaku.

“Sebaiknya aku di sini sampai sahabatmu itu datang!”

“Oh, baiklah! Kau mau minum sesuatu?” tanyaku lagi.

“Memang kau bisa membuat minuman?” aku melayangkan jitakan di kepalanya. “Aku cuma bercanda serius amat! Buatkan kopi hangat saja!”

“Hehe, tunggu sebentar yah!” Aku membuatkan kopi hangat untuknya dan untukku. Setelah itu kami berdua duduk di depan TV dan menonton.

“Mana temanmu?” tanya Kwangmin sambil memandang jam tangannya.

“Aku juga tidak tahu, kita sudah tiga jam menunggunya!”

ting tong ting tong

Bel rumah berbunyi…

“Mungkin itu dia!” kataku sambil bangkit dan berjalan ke arah pintu.

“Tunggu, biar aku saja! Siapa tahu penjahat yang kemarin!” kata Kwang, aku hanya tersenyum melihat sikapnya. Aku mengikutinya dari belakang. Kwangmin membuka pintu dan terlihat seorang yeoja yang sangat familiar dimataku berdiri dengan napas terengah-engah dan sambil menenteng koper.

“Minchan?” aku langsung menggeser Kwang dan memeluk sahabatku yang sudah tiga tahun lebih tidak kutemui.

“Hmmm, Hyunchan-ah, bogoshipeo!” ucapnya.

“Ne, neomu bogoshipeo!” ucapku kembali. “Kenapa lama sekali sampainya?” Aku melepaskan pelukanku dan sepertinya dia lelah sekali.

“Tadi ada sedikit masalah!” jawabnya.

“Gwenchana?” tanyaku lagi.

“Ne, gwenchana!”

“Ayo masuk dulu! Sepertinya kau kelelahan sekali!” kami bertiga pun masuk dan duduk di ruang tengah. Aku mengambilkan Minchan minum. “Masalah seperti apa tadi?” tanyaku saat Minchan selesai minum dengan tergesa-gesah.

“Aku tadi dikejar-kejar beberapa orang karena ada sedikit kesalah pahaman,” kata Minchan singkat. “Oh ya, dia siapa?” tanyanya sambil menunjuk Kwang.

“Oh, dia…”

“Annyeong, aku Jo Kwangmin namjachingunya Haejin,” Kwangmin memperkenalkan dirinya sendiri.

“Mwo? Kau tidak pernah cerita kalau punya namjachingu,” bisik Minchan tapi masih didengar siapapun di ruangan ini. “Kau pintar juga memilih namjachingu, dia tampan!”

“Tampan dari mana?” aku akui Kwang memang tampan tapi harga diriku bisa jatuh kalau aku mengakuinya di depan Kwang.

“Dasar kau Kim Haejin, semua orang tau kalau aku ini tampan, jadi tidak usah bohong!” celetuk Kwang.

“Dasar narsis!” gumamku sambil melangkah pergi dari ruangan itu untuk mengambil minum lagi. Kudengar Minchan dan Kwangmin cengingisan.

* * * * *

Haejin POV

Kwangmin baru saja pergi, sekarang hanya aku dan Minchan di rumah ini. Aku tidak perlu khawatir, karena Minchan itu lebih berani dari pada seorang namja, dia lulusan Tae Kwon Do tingkat 5 (?) dan pembela kebenaran di kalangan yeoja dulu.

“Sebenarnya apa yang terjadi tadi?” tanyaku pada Minchan saat kami baru saja ingin tidur.

“Aku diusir dari kost karena belum bayar tiga bulan….hehe, aku tidak enak harus meminta pada ayahku di Busan, aku ingin hidup mandiri,” katanya.

“Trus, apa yang terjadi kenapa kau tadi ngos-ngosan?”

“Iya, tadi ada namja aneh yang dicegat beberapa preman dan aku menolongnya kemudian preman-preman itu mengejar kami saat kami berdua kabur, saat kami berhasil lolos, dia malah marah-marah tidak jelas padaku,” jelas Minchan.

“Oh, dasar namja aneh! Seharusnya dia berterima kasih.”

“Iya, dia memang aneh!” kata Minchan lagi. “Eh bukankah namjachingumu itu Jo Kwangmin musuh bebuyutanmu dulu?” tanya Minchan.

“Ne,” ucapku malu.

“Wah ternyata benar yah, benci dan cinta itu beda tipis,” ujar Minchan, dulu aku memang sering menjelek-jelekkan Kwang di depan Minchan. “Bagaimana ceritanya kalian bisa jadian?”

“Kami baru jadian sekitar 3 hari yang lalu, waktu aku mengurus surat-suratku di SMP untuk daftar di sekolah baruku,” jelasku. “Kami tidak sengaja bertemu dan dia dengan seenaknya menetapkan aku adalah pacarnya.”

“Tapi kau senang, kan?” Jujur aku memang senang.

“Sudahlah! Ayo tidur!” aku mengalihkan pembicaraan.

“Wah, ada yang mukanya merah,” goda Minchan, tapi aku langsung memunggunginya hingga ia menyerah.

* * * * *

Ting tong ting tong

Bel rumah berbunyi, namja yang kutunggu-tunggu pasti sudah datang.

“Annyeong!” sapa Youngmin dari belakang Kwang saat aku membukakan pintu.

“Annyeong, Young!” sapaku lagi.

“Aku kan sudah bilang, kau tunggu saja di mobil!” gurau Kwang.

“Tapi aku ingin masuk ,” kata Young sambil memanyunkan bibirnya.

“Jahat sekali kau,” omelku pada Kwang. “Young-ah, ayo masuk!” Aku menarik tanga Young masuk.

“Gomawo!” ucap Young. Aku dan Young menuju ruang makan dan diikuti Kwang.

“Kalian sarapan dulu yah!” ajakku sambil mengambilkan sandwich untuk Young. Kwang hanya memasang tampang dinginnya seperti biasa. Minchan tiba-tiba keluar dengan seragam sekolahnya.

“Oh, Annyeong!” sapa Minchan.

“Annyeong, Youngmin imnida!” Youngmin memperkenalkan dirinya pada Minchan.

“Minchan imnida!” balas Minchan.

“Namjachingumu yang mana? Dia?” celetuk Minchan sambil menunjuk Young. Youngmin terkekeh.

“Haha, aku saudara kembarnya Kwangmin, namjachingunya Haejin,” jelas Young.

“Tapi kok Haejin lebih dekat denganmu dari pada dengan Kwang, yah?” tanya Minchan sambil menggaruk kepalanya.

“Hustttt,” aku berusaha menghentikan pembicaraannya karena Kwang sudah mulai kesal.

“Sudahlah, cepat selesaikan makan kalian lalu kita berangkat,” titah tuan muda Kwangmin. Kami dengan segera menyelesaikan sarapan kami dan berangkat bersama, sebelumnya kami mengantar Minchan ke sekolahnya, lalu mengantarku, kemudian Jo Twins itu berangkat ke sekolah mereka.

Beginilah tiap hari rutinitas kami.

* * * *

Kwangmin POV

“Aku pulang dulu yah, kalian jaga diri baik-baik! Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela!” pesanku saat Haejin mengantarku sampai ke depan.

“Ne,” jawabnya.

“Jangan lupa, besok aku akan menjemputmu!”

“Heh, untuk apa?” tanyanya.

“Apa salah kalau aku mengantar yeojachinguku ke sekolah?” ujarku sambil berjalan membelakanginya. Tiba-tiba dia menarik tanganku hingga aku berhenti dan berbalik lagi padanya.

“Gomawo untuk hari ini!” ucapnya dan tiba-tiba mencium pipi kananku yang sebelumnya ditampar.  Aku terkesiap dengan apa yang baru saja dilakukannya. “Kwang-ah!” panggilnya, aku tiba-tiba tersadar, apakah aku sudah terlihat bodoh di depannya?

“Aku pulang dulu yah!” Aku berbalik cepat dan berjalan tanpa berbalik ke arahnya lagi.

#satu bulan kemudian

@M!Countdown back stage

“Huft, semoga penampilan hari ini berjalan lancar!” gumam Young sambil menghembuskan napas panjang. Semuanya terlihat sangat deg-degan, aku tidak bisa memungkiri kalau aku juga deg-degan tapi gengsi saja menampakkannya. Hari ini adalah debut stage kami tepat tanggal 26  Mei 2011, sebelumnya kami telah mengeluarkan MV yang berjudul ‘Boyfriend’ dan kami pun akan debut sebagai boyband dengan nama ‘Boyfriend’. Sekarang kami sedang latihan untuk sebelum recording, setelah latihan aku menuju toilet dan tanpa sengaja berpapasan dengan seorang yeoja yang tidak asing bagiku.

“Youngmi noona?” panggilku ragu.

“Ya, Jo Kwangmin? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Aku…,”

“Yak, Youngmin-ah, dimana kau?” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, terdengar seorang namja memanggil nama Youngmi noona.

“Oh, mianhae Kwang-ah! Aku pergi dulu yah! Masih ada urursan penting!”

“Ne, noona!” Belum sempat mengobrol, dia sudah pergi.

“Kwang-ah~” panggil seseorang yang suaranya sudah terekam jelas di telingaku. Aku tersenyum dan dalam sekejab berbalik dan memasang tampang biasa saja di hadapan yeoja yang sangat kucintai ini.

“Yak, Haejin-ah! Kenapa lama sekali?” tanyaku dengan wajah kesal.

“Tidak bisa kah kau lembut sedikit?” ujarnya. Aku dan dia pun duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat kami berdiri, dan juga tempat yang cukup sepi. “Aku membawakan ini untukmu!” dia mengeluarkan sekotak bekal yang berisi browniest coklat. Aku mengambil sepotong browniest dan menyuapkannya ke mulutku, ini enak sekali. “Enak tidak? Ini pertama kalinya aku membuatkan untuk seorang namja.”

“Ooh,” seperti biasa, aku hanya bisa bersikap dingin walaupun sebenarnya dalam hatiku aku senang sekali, tapi beginilah aku.

“Wah, kuenya enak yah? Kau sudah menghabiskan tiga potong!” gumamnya takjub. “Kau tidak mau membaginya ke yang lain?”

“Ini hanya milikku dan tidak ada satupun yang boleh menyentuhnya,” kataku.

“Mwo? Pelit skali!” gumamnya sambil memanyunkan bibirnya.

“Kwang-ah, rupanya kau di sini!” Young tiba-tiba datang. “Oh, Haejin kau di sini? Sejak kapan kau datang?”

“Hai Young, aku belum lama di sini,” jawab Haejin sambil tersenyum.

“Wah, ada kue!” Young berniat mengambil kotak kue yang aku pegang namun dengan cepat aku memukul tangannya.

“Aishh, sakit tau! Pelit skali!” Gumam Young. Haejin memukul tanganku pelan.

“Gwenchana?” tanya Haejin sambil memegang tangan Young.

“Ani, ini sakit!” rengek Young.

“Hey, kau mau mati?” ancamku sambil melihat tangan Young yang dipegang Haejin. Young dengan cepat melepaskan tangannya.

“Huh, seram!” gumamnya dengan wajah datar. “Ayo, 15 menit lagi giliran kita!” ucap Young.

‘Mwo?’ batinku. Tiba-tiba saja aku merasa sangat gugup. “Kau tunggu di dalam saja, aku akan segera masuk,” kataku pada Young, sebenarnya aku mau menenangkan diri dulu.

“Arasseo!” Dia pergi meninggalkanku yang bersama Haejin. Aku sangat gugup, aku merah tangan Haejin dan menggenggamnya erat.

“Gwenchana?” tanya Haejin. Aku hanya menangangguk. “Kau gugup yah?” tanyanya dan sekali lagi aku menangguk, dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa bersikap tenang seperti biasa. “Semuanya akan baik-baik saja, lakukan semaksimal mungkin karena itu yang terbaik, aku akan selalu di sisimu!” ucapnya. Aku dan Haejin berdiri bermaksud kembali ke ruang tunggu. Aku menggenggam tangan Haejin semakin erat. Tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat di pipiku, Haejin menciumku.

“Jo Kwangmin, Hwaiting!” ucapnya sambil mengepalkan tangan ke udara.

“Gomawo,” ucapku semangat sambil meninggalkannya sendiri karena aku harus kembali.

Kami berenam sekarang berada di atas panggung,

Would you be my Girl Friend?

nan neoui Boy Friend

nan neoui Boy Friend

neon naui Girl Friend

neon naui Girl Friend

Alunan musikpun memenuhi studio ini. Aku harus menampilkan yang terbaik, ini langkah awal kami!

Legah sekali rasanya sudah tampil, ternyata respon penonton lumayan bagus pada kami.

“Kwang-ah~” panggil seseorang. Aku berbalik dan tiba-tiba yeoja yang memanggilku tadi mencium pipiku, aku kaget sekali. “Penampilanmu keren sekali.”

“Haejin-ah, kenapa tidak masuk?” terdengar suara Youngmin dari arah pintu, aku berbalik dan mendapati Haejin berdiri mematung memandangiku dengan yeoja tadi. Saat aku melihatnya, dia langsung pergi begitu saja.

“Haejin-ah! Haejin!” Panggilku, aku mencoba mengejarnya namun dicegat oleh yeoja tadi.

“Siapa dia?” tanya yeoja itu.

“Ini semua gara-gara kau!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s