[Fanfic] All My Heart: Romantic

 

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan!

“Aish, aku pulang saja!” Hyunchan pergi meninggalkan sekolah setelah sekian lama berdiri di depan gerbang sekolah.

“Hyun, mau pulang?” tanya Jonghyun yang tiba-tiba lewat di depan Hyunchan dengan motornya.

“Oppa?”

“Annyeong! Lama tak jumpa!”

“Untuk apa oppa kemari?” tanya Hyunchan.

 “Apa aku tidak boleh ke sekolahku?” tanya Jonghyun.

“Hehe, iya yah!” Jonghyun sudah tiga bulan pindah sekolah ke sekolah seni untuk mengembangkan bakatnya dalam musik.

“Aku sudah lama tidak bertemu Minhwan, bagaimana kabarnya?” tanya Jonghyun lagi.

“Dia baik!”

“Aku mau ke rumahmu bertemu dengannya, apa kau mau sekalian kuantar pulang?” Hyunchan terdiam sejenak memandang ponselnya.

‘Bagaimana ini? Aku sudah dua jam menunggunya tapi oppa belum keluar, tapi aku sudah janji… aish!! otthokke?’ batin Hyunchan.

“Hyun, gwenchana?” tanya Jonghyun.

“Ah, ne oppa! Mianhaeyo, aku sudah ada janji dengan teman, aku tidak bisa ikut denganmu,” kata Hyunchan.

“Arasseo, kalau begitu aku duluan yah! Jaga dirimu baik-baik!” ucap Jonghyun sambil mengacak rambut Hyunchan. Jonghyun pun pergi.

“Ah jinjja? Kenapa aku tidak pulang saja bersama Jonghyun oppa? Hyunchan babo!” gumam Hyunchan. Tiba-tiba seseorang menjitak kepalanya.

“Ya, kau memang babo! Kenapa tidak pulang saja bersamanya? Tinggalkan saja aku sendiri!” omel orang itu.

“Appo!” gumam Hyunchan sambil memegang kepalanya. “Oppa, dari mana saja sih?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan setelah berniat meninggalkanku!” Namja itu pergi meninggalkan Hyunchan.

“Aigo, yang salah siapa? yang marah siapa? Dasar bayi raksasa,” gumam Hyunchan. Dia mengejar namja itu yang tidak lain adalah Taemin. Hyunchan menyusulnya dan menggandeng tangannya.

“Aigo, lihat ada orang dewasa yang ngambek!” ucap Hyunchan sambil mencubit pipi Taemin.

“Sudahlah! Jadi pergi tidak?” tanya Taemin dengan bibir dimanyunkan.

“Ani, aku tidak mau pergi dengan orang yang sepanjang jalan memasang tampang jelek seperti ini,” kata Hyunchan sambil mengangkat telunjuknya menyentuh pipi Taemin. Taemin dengan cepat ingin menggigit telunjuk itu namun Hyunchan lebih cepat menyingkirkannya dan Taemin pun tersenyum.

“Jangan sekali-kali menganggapku bayi raksasa lagi, arasseo?” kata Taemin.

“Aigo, apa oppa tadi mendengarku?” tanya Hyunchan dan Taemin hanya mengangguk.

“Sudah cukup hyung-hyungku memanggilku baby Minnie, jadi kau tidak boleh ikut-ikutan,” ungkap Taemin.

“Ne, arasseo!” ucap Hyunchan. “Ngomong-ngomong, oppa tidak pakai penyamaran?”

“Aku hampir lupa! Tidak ada yang melihat kita, kan?” tanya Taemin sambil celingak-celinguk mengamati sekelilingnya.

“Aku rasa tidak,” jawab Hyunchan.

* * * * *

Hyunchan POV

Hari ini aku senang karena istirahat tadi dia mengirimiku pesan dan memintaku menunggunya setelah pulang sekolah untuk berkencan. Kami sudah lebih dari satu minggu tidak bertemu, walaupun berada dalam satu sekolah masih saja sulit untuk menemuinya.

“Kau kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri,” tanya namja yang duduk di depanku ini. Lee Taemin namja chinguku.

“Aniya,” jawabku singkat.

“Mianhae, aku belum bisa menjadi namja yang baik untukmu,” gumamnya.

“Kenapa oppa bilang begitu? Oppa adalah yang terbaik,” kataku.

“Akhir-akhir ini jadwalku sangat padat bahkan menemuimu di sekolah pun tidak sempat karena aku harus mengejar pelajaran yang tertinggal selama aku ke Jepang.”

Aku menggenggam tangannya yang berada di atas meja, “Gwenchana oppa! Aku sudah tahu akan begini sejak awal aku menerimamu menjadi kekasihku, ini sudah jalan yang aku ambil untuk pacaran dengan seorang selebriti terkenal.”

“Gomawo Hyunchan! Neomo beogosipo!” ucap Taemin oppa.

“Naddo,” balasku. Kami hanya jalan-jalan sebentar setelah makan malam dan mengantarku pulang.

“Hei, kau tahu tidak? Sebelum aku ke Jepang, aku dan member SHINee yang lain menghadiri acara ulang tahun Ryeowook hyung,” ungkapnya saat perjalanan pulang.

“Jeongmal? Aigo~ Kenapa oppa tidak memberitahuku?” tanyaku.

“Yak, lihat wajahmu sekarang! Kau sepertinya berharap aku mengajakmu waktu itu dan mengenalkanmu padanya, kan?” tebaknya.

“Hehe, jangan cemburu oppa! Dia itu hanya idolaku tidak mungkin bisa menggantikanmu,” kataku menenangkannya.

“Jinjja? Bahkan jika dia memintamu?” selidiknya.

“Entahlah, mungkin kalau dia memintaku, itu akan berbeda, haha,” aku rasa sekarang dia akan marah.

“Yak.”

“Aniya, itu tidak akan terjadi,” kataku dengan cepat.

“Iya juga tidak mungkin itu terjadi, sepertinya Ryeowook hyung sangat mencintai noona itu,” gumam Taemin.

“Noona?” tanyaku bingung.

“He em, kau tidak punya kesempatan lagi karena Ryeowook hyung sudah punya kekasih,” kata Taemin dengan senyuman evil. “Dan walaupun Ryeowook hyung tidak punya kekasih, aku juga tidak akan pernah melepaskanmu,” dia menarikku ke dalam pelukannya. “Kau bilang kau sudah tahu konsekuensinya pacaran denganku, kan?” Aku hanya menganggukkan kepala. “Karena itu, aku tidak akan pernah melepaskanmu, kecuali kau sendiri yang memintaku untuk melepaskanmu.”

“Jangan bicara begitu, aku…aku tidak akan pernah memintamu melepaskanku jadi jangan pernah lepaskan aku,” kataku sambil mengeratkan pelukanku.

“Kau pasti akan kaget mendengar siapa nama pacar Ryeowook hyung,” tebak Taemin oppa.

“Heh? Apa dia artis?” tanyaku.

“Ani, dia seorang dokter,” jawabku.

“Jinjja? Wah daebak! Aku panasaran bagaimana mereka bertemu, seorang dokter dan seorang penyanyi,” gumamku. “Oh iya, siapa namanya?”

“Namanya, Choi Hyunchan,” jawab Taemin oppa dan seperti yang dia tebak aku kaget setengah mati mendengarnya.

“Jeongmal? Choi Hyunchan?” tanyaku masih tidak percaya.

“ Aku juga sangat kaget waktu Ryeowook hyung memperkenalkannya, bukan hanya aku bahkan Minho hyung juga kaget,” katanya sambil tersenyum simpul. Dia melirik ke arahku melihatku yang penuh harap, “Jangan pikirkan kalau kau seandainya adalah Choi Hyunchan yang menjadi yeoja chingunya Ryeowook hyung!” haha dia sok tahu sekali, aku tidak pernah berpikir seperti itu, bagiku tidak ada yang lebih baik menjadi namja chinguku daripada si bayi raksasa ini.

“Wah oppa hebat bisa menebak apa yang kupikirkan,” kataku jahil padahal tebakannya 100% salah.

“Yak,” aku berlari jauh di depannya dan dia pun mengikutiku.

nani wo shi te mo (boku no kokoro wa)
mou (todokanai no ka)
Replay Replay Replay

“Yeoboseyo?”

“Channie, dimana kau? Umma mencarimu!” tanya Minhwan oppa melalui telepon.

“Aku…aku sedang bersama teman, oppa! Aku akan segera kembali, sekarang aku dalam perjalanan pulang!” jawabku.

“Jeongmal? Apa aku harus menjemputmu?”

“Aniya, sebentar lagi aku sampai kok, oppa tenang saja! Juga bilang sama umma kalau aku baik-baik saja! Annyeong haseyo!”

 “Nuguya?” tanya Taemin oppa.

“Minhwan oppa, dia menyuruhku cepat pulang,” jawabku.

“Oh, kajja!” Taemin oppa langsung menarik tanganku dan mengantarku pulang ke rumah.

* * * * *

Taemin POV

“Kemarin, aku bahagia sekali karena bisa kencan bersama yeoja chinguku, setelah dua bulan pacaran itu untuk pertama kalinya kami kencan,” batin Taemin saat melangkah masuk ke sekolahnya.

“Dia kenapa? Tumben datang senyum-senyum, biasanya juga sombong,” gumam seorang siswa yang aku lewati. Aku tak peduli, saat ini aku terlalu senang untuk memikirkan kata-kata mereka, yang aku inginkan sekarang hanyalah melihatnya. Sayangnya, kelasku dan kelasnya berjauhan, jadi aku memutuskan untuk menemuinya di jam istirahat seperti biasanya.

Tringggggggg……………….

“Akhirnya!” gumamku. Waktu yang aku tunggu-tunggu, aku segera mengambil bentoku dan sebelum ke ruang seni, aku menyempatkan diri untuk membelikan yeoja chinguku es krim coklat kesukaannya. Aku melangkah menuju ruang seni tempat kami biasa bertemu dan makan siang, siswa-siswa di sini tidak terlalu menyukaiku dan mengasingkanku jadi aku memutuskan untuk makan sendiri saat istirahat. Sesampainya di ruang seni, tepatnya ruang tari aku melihat Hyunchan duduk sendirian di sana. “Dia pasti menungguku!” gumamku percaya diri. “Annyeong,  My Princess!” sapaku saat memasuki ruang seni dan menempelkan es krim di pipinya.

“Aish, dingin!” protesnya sambil mengambil es krimnya.

“Hyun, kau masih di dalam?” tiba-tiba seseorang datang, aku segera bersembunyi karena tidak ada yang boleh tahu tentang hubungan kami. Kulihat Hyunchan juga kaget.

“Ne, oppa!”

“Ah, apa itu?”

“Haaa…ciii!”

“Tuh, kan. Kau kan sedang flu kenapa malah makan es krim,” kata Kiseop sambil mengambil es krim yang aku berikan pada Hyunchan. ‘Mwo? Dia flu, apa karena semalam?’ batinku bertanya-tanya.

“He, aniya oppa! Aku sedang ingin makan es krim, gwenchana!”

“Andwee, minum ini!” Kulihat Kiseop menyodorkan segelas teh hangat padanya. “Mian, aku harus mengurus sesuatu jadi aku tidak bisa menemanimu di sini.” Kiseop mengacak rambut Hyunchan dan membuatku cemburu kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini. Aku keluar dari persembunyianku saat bayangan Kiseop tak terlihat lagi, Hyuchan hendak memakan es krim yang aku berikan dan aku refleks menahan tangannya dan merebut es krim darinya.

“Kau ini babo! Kenapa tidak memberitahuku kalau sedang flu?”

“Oppa kan tidak tanya,” jawabnya singkat sambil merebut es krimnya lagi.

“Yak, kau mau makan es krimnya saat sedang flu? Minum tehnya!” perintahku sambil menyodorkan segelas teh yang tadi Kiseop bawa.

“Aniya, aku mau es krim!”

“Jangan seperti anak-anak! Ayo minum tehnya dan minum obat flu cepat!”

“Ini kan dari oppa, jadi aku harus memakannya,” oh jadi karena itu dia mau memakannya walaupun sedang flu.

“Siapa bilang ini untukmu? Aku hanya menyuruhmu memegangkan untukku, aku sendiri yang mau memakannya, bukan untukmu!” Aku mengambil es krimnya kembali dan memakannya. Dia hanya memukulku pelan dan meminum tehnya dengan terpaksa. Kami makan siang seperti biasanya, berbagi bekal yang kami bawa. “Hari ini tidak usah menungguku, Jinki hyung akan menjemputku untuk latihan jadi kita tidak bisa pulang sama-sama.

“Ne, arasseo!” selesai makan kami kembali ke kelas masing-masing.

* * * * *

Hyunchan POV

Aku menunggu Minhwan oppa di depan gerbang, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depanku, mobil yang sangat kukenali.

“Annyeong, my little princess!”  sapa orang yang berada di dalam mobil itu saat membuka kaca mobil sedikit.

“Ajusshi?”

“Ne, ayo masuk!” ajak Yunho ajusshi.

“Heh? Tapi Minhwan oppa…?” aku biasanya pulang bersama Minhwan oppa.

“Aku sudah memberitahunya kalau hari ini aku yang akan menjemputmu,” jawabnya mengerti maksudku.

“Oh, arasseo,” aku masuk ke mobil ajusshi.

“Hari ini kau harus membantuku,” pintanya memelas.

“Heh? Bantu apa?”

“Changmin memintaku untuk makan siang bersamanya dan tunangannya, kau tahu kan siapa tunangannya?” tanya Yunho ajusshi. Aku hanya mengangguk mengerti. Aku hanya ikut kemana dia pergi, sebelumnya dia membawaku ke sebuah toko untuk mengganti baju karena aku masih menggunakan seragam.

“Oppa, kita sekarang mau kemana?” tanyaku.

“Kita ke kantorku dulu, kami janjian bertemu di sana karena Changmin ada pekerjaan,” jawab Yunho ajusshi. “Hyunchan-ah, bisakah selama di kantor jangan memanggilku ajusshi? Aku kan malu masih muda begini dipanggil ajusshi, apa kata teman-temanku nanti?”

“Arasseo! Tapi untuk hari ini saja yah!” pintaku.

“Ne, apa susahnya sih memanggilku oppa?” gumamnya dan aku tidak mengacuhkannya.

Hari sudah gelap waktu kami sampai di kantor agensi Yunho ajusshi. “What? SM Entertainment?” aku sontak kaget dan membelalakkan mata saat turun dari mobil dan melihat papan yang tertulis besar ‘SM ENTERTAINMENT’

“Ne, waeyo? Aigoo, jangan bilang kau baru tahu kalau aku artisSM?” Tanya ajusshi, tebakannya benar! Kemana saja aku selama ini, sampai tidak tahu kalau ajusshinya bekerja satu naungan dengan namja chingunya dan idolnya, Super Junior?

“Jangan salahkan aku, ajusshi! Aku kan tinggal di Indonesia selama lima tahun dan hanya berminat pada Super Junior dan sedikit-sedikit Kpop, tapi tak pernah mendengar tentangmu,” kataku memasang tampang tak berdosa.

“Yak, aku sudah bilang, kalau di sini jangan panggil aku ajusshi!” bentaknya.

“Ne, arasseo, Yunho oppa!” ucapku meledek.

“Sudahlah, kajja!” dia menarik tanganku masuk ke dalam gedung SM. “Sepertinya aku harus bekerja keras lagi, aku belum cukup terkenal,” gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar, aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Oppa, jangan marah dong!” kataku menggodanya, dan menggandeng tangannya. Dia malah semakin memanyunkan bibirnya. “Oppa~~”

“Hahaha, lucu juga mendengarmu memanggilku oppa, terdengar menggelikan,” sepertinya ajusshi sudah tidak tahan mendengarku dan tertawa.

“Arasseo, aku tidak akan memanggilmu oppa lagi!”

“Aniya, little princessku jangan marah!” ucapnya sambil mengacak rambutku. Kuarahkan pandanganku lurus pada jalan yang kami lalui, tiba-tiba langkahku terhenti. Dia? Apa yang dia lakukan?

“Hmm…,” deham Yunho oppa pada pemandangan yang dia lihat di hadaannya. Seorang namja yang tidak asing bagiku, namja chinguku sedang berpelukan dengan yeoja lain. Aku terdiam shock melihat kejadian itu. Namja itu berbalik dan memasang ekspresi yang sama sepertiku.

“Hyun…..? Maksudku, Hyung??” Aku berusaha menahan diriku untuk tidak menangis ataupun mengamuk mengingat hubungan kami tidak boleh diketahui siapapun.

“Jadi rumor kalian pacaran itu benar?” tanya Yunho oppa pada Taemin oppa yang dengan refleks melepaskan pelukannya dari yeoja itu.

“Ah…aniya….”

“Oh, maaf mengganggu kalian! Kami harus segera pergi, annyeong!” aku mengeratkan gandenganku di lengan Yunho ajusshi berusaha menahan diri.

“Princess, gwenchanayo?” tanya Yunho ajusshi.

* * * * *

Taemin POV

“Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu!” kata Sulli setelah menarikku ke koridor yang sepi.

“Ne, ada apa?”

“Na…. joahaeyo!” akunya. Aku tercengang mendengarnya.

“Maksudmu?” aku hanya tersenyum kecil berpura-pura tidak mengerti.

“Neomu joahaeyo! Aku sudah lama menyukaimu, sejak pertama kali aku menjadi trainer,” akunya lagi.

“Mianhae, Sulli-ya,” ucapku pelan agar tidak menyakiti hatinya. Aku menundukkan kepalaku.

“Waeyo oppa? Apa kau tidak menyukaiku?” tanyanya sambil mengguncang lenganku.

“Aniya, aku suka padamu tapi hanya sebagai adik,” kataku.

“Apa kau sudah punya orang lain?” tanyanya lagi.

“Eh, ne, mianhae aku sangat mencintainya dan tidak akan pernah bisa meninggalkannya,” kataku mantap, entah apa yang aku pikirkan sehingga aku berani mengatakannya. Aku mengangkat kepalaku dan mendapatinya menangis terisak. Tiba-tiba dia memelukku dan menyandarkan kepalanya di dadaku karena tidak tega aku pun membalas pelukannya. Tiba-tiba seseorang datang, ah bukan dua orang.

“Hmm…,” deham orang itu. Aku sangat shock mendapati dua orang yang ada di hadapanku, Yunho hyung dan seorang yeoja. Aku refleks melepaskan pelukanku. Kulihat yeoja itu terdiam dan sangat kaget, sepertinya menahan emosinya. Apa dia salah paham?

“Hyun…..? Maksudku, Hyung??” Satu-satunya kalimat yang bisa keluar dari mulutku. Aku sangat ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada yeoja yang datang bersama Yunho hyung.

 “Jadi rumor kalian pacaran itu benar?” tanya Yunho hyung padaku.

“Ah…aniya….”

“Oh, maaf mengganggu kalian! Kami harus segera pergi, annyeong!” belum sempat aku menjelaskan, mereka sudah akan pergi. Aku melihat Hyunchan menggandeng Yunho hyung.

“Princess, gwenchana?” tanya Yunho ajusshi. ‘Princess?’ kenapa Yunho hyung memanggilnya pricess, dia yeoja chinguku!

“Ne, oppa gwenchanayo!” jawabku. ‘Oppa? Hyunchan memanggilnya oppa dan menggandeng tangannya? Apa maksud semua ini?’ aku ingin sekali bertanya langsung padanya tapi itu tidak mungkin. Mereka berdua lewat di hadapanku dan Hyunchan sama sekali tidak menatapku, kulihat sekilas matanya berkaca-kaca, ‘apa dia marah padaku? Tidakkah dia tahu aku juga marah padanya?’ Saat mereka berdua tak terlihat lagi, aku refleks berbalik dan menendang dinding di dekatku.

“Oppa, gwenchanayo?” tanya Sulli bingung. Aku hanya mengacak rambutku, terlalu bingung dengan kejadian tadi.

* * * * *

Author POV

#Hyunchan house

Sepulangnya dari kantor SM, Hyunchan langsung masuk kamar dan menguncinya. Dia mencoba mencerna apa yang terjadi tadi, bayangan Taemin memeluk yeoja lain terus terbayang, tanpa sadar air matanya mulai menetes. “Omo, aku baru ingat! Bukan kah yeoja tadi Sulli f(x)?”

Flash back

“Aigoo, lama juga aku tidak update tentang oppadeul!” gumam Hyunchan sambil mengakses internet dan mencari berita melalui beberapa website. Tiba-tiba matanya tertuju pada satu topik yang sedang hangat dibicarakan, ‘SHINee Taemin Pacaran dengan f(x) Sulli?’ Melihat itu hatinya sudah sangat panas, dia memaksakan diri untuk membuka topik itu dan di dalamnya terdapat beberapa foto Taemin dan Sulli bergandengan tangan dan juga ada yang sedang jalan bersama, serta beberapa foto backstage konser SHINee di Korea.

Hello, hello Nareumdaero yonggil naesseoyo
Hello, hello Jamshi yaegi hallaeyo
Hello, hello Naega jom seodooljin mollado
Who knows? Eojjeom oorin
Jal dwaeljido molla

Ponsel Hyunchan terus berdering, Hyunchan mengambil ponselnya dan melihat nama yang terpampang di layar ponselnya, dia melempar ponsel itu ke atas tempat tidur.

Hello, hello Nareumdaero yonggil naesseoyo
Hello, hello Jamshi yaegi hallaeyo
Hello, hello Naega jom seodooljin mollado
Who knows? Eojjeom oorin
Jal dwaeljido molla

Karena lelah mendengar ponselnya berdering, dia mengangkatnya namun hanya diam tanpa mengatakan apa pun.

“Yeoboseyo?” sapa orang yang menelpon itu yang tidak lain adalah namja chingunya, Lee Taemin. Hyunchan tetap saja diam. “Waeyo? Kenapa tak bicara?” Hyunchan tetap tak menjawab. “Jagi, waeyo? Tolong bicara satu kata apa pun itu. Kau marah padaku? Aku lebih suka mendengarmu memarahiku, membentak-bentakku jika kau marah dari pada kau hanya diam seperti ini, jebal!” Hyunchan gengsi untuk bicara, dia mengirimi Taemin email foto Taemin bersama Sulli. Beberapa saat kemudian foto itu diterima Taemin. “Oh, jadi karena ini kau marah? Kau cemburu?” tanya Taemin sambil terkekeh kecil.

“Yak, apa maksud semua itu? ‘SHINee Taemin Pacaran dengan f(x) Sulli’? Hebat yah! Seorang Lee Taemin punya pacar artis cantik, imut, dan disukai banyak namja. Huh, kau ingin aku berkata apa? Chukkae oppa! Aku tak menyangka kau seberuntung itu. Ups, salah kau kan sudah seharusnya mendapatkan artis sepertimu, sangat serasi!” sindir Hyunchan. Taemin refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Jagiya, jagiya, mianhae! Apa yang kau maksud pacaran? Aku hanya punya satu pacar, namanya Choi Hyunchan! Dan tidak ada yang berhak menentukan siapa yang pantas bersamaku selain hatiku dan hatiku sudah memilihmu!” kemarahan Hyunchan mereda mendengar kata-kata Taemin, malahan itu membuatnya tersenyum.

“Wah, darimana seorang Lee Taemin mempelajari kata-kata itu? Apa kau sudah diprivate langsung oleh guru besar Kim Jonghyun oppa?” Taemin mengacak rambutnya bingung apa yang harus dia lakukan lagi.

“Hyunchan-ah, jebal! Jeongmal mianhaeyo!” hanya itu yang bisa dia katakan. Hyunchan tidak tahan lagi dan terkekeh membayangkan wajah Taemin sekarang.

“Pwahahaha, ne’ aku percaya pada oppa! Uljima!” kata Hyunchan.

“Yak, Choi Hyunchan! Aku hampir saja akan berlari ke rumahmu dan menunggu di depan rumahmu sampai kau memaafkanku!” kata Taemin.

“Memang oppa berani?” tanya Hyunchan.

“Iya, eh apa Minhwan ada di rumah?” tanya Taemin ragu.

“Ne’, wae? Oppa mau bicara dengan Minhwan oppa?” canda Hyunchan.

“Hehe, gomawo atas tawarannya, lain kali saja!”

Flash Back End

“Apa oppa membohongiku?” tanya Hyunchan dalam hati.

“Channie, kau tidak makan malam?” tanya Minhwan oppa yang terdengar setengah berteriak dari luar.

“Aku sudah makan tadi,” jawabku bohong.

“Iya yah, kau tadi pergi makan malam bersama ajusshi,” gumam Minhwan oppa yang masih bisa kudengar. Aku sama sekali tidak menyentuh makananku tadi saat makan malam bersama Yunho oppa dan Changmin oppa. Tiba-tiba perhatianku tertuju pada ponsel yang tergeletak di sampingku. ‘Dia sama sekali tidak menelponku untuk memberi penjelasan,’ gumamku dalam hati. Aku membenamkan kepalaku dalam selimut dan membiarkan air mataku mengalir begitu saja.

* * * * *

Author POV

“Hyunchan, Minhwan, sarapan dulu!” panggil umma dari bawah.

“Ne,” jawab Minhwan. Minhwan keluar dari kamar sambil memasang dasinya, bersamaan dengan itu Hyunchan juga keluar dari kamarnya. “Saeng, gwenchana?” tanya Minhwan melihat raut wajah dongsaengnya.

“Gwenchana, oppa!” jawab Hyunchan dengan senyum simpul.

“Ya sudah! Ayo kita turun!” ajak Minhwan sambil merangkul dongsaeng kesayangannya itu.

“Channie, kau pucat sekali sayang!” kata eomma saat melihat Hyunchan turun bersama Minhwan. “Gwenchana?”

“Ne, eomma! Cuma flu biasa saja!” kata Hyunchan.

“Sebaiknya tidak usah ke sekolah dulu!” pinta eomma.

“Gwenchana eomma, aku hari ini ada ujian jadi harus ke sekolah!” jelas Hyunchan.

“Baiklah, tapi kau harus pulang kalau perasaanmu benar-benar tidak enak,” pesan eomma. “Minhwan, jaga adikmu baik-baik!”

“Ne, aku pastikan dongsaengku ini akan selamat sampai ke rumah!” kata Minhwan sambil memeluk Hyunchan.

“Ayo makan dulu!” ajak eomma.

“Ani eomma, aku tidak nafsu makan!” kata Hyunchan.

“Setidaknya kau harus makan, bagaimana kalau terjadi sesuatu?” tanya eomma.

“Gwenchana eomma, kami sudah hampir terlambat, biar aku makan bekalku saja sesampainya di sekolah!” kata Hyunchan.

“Arasseo, ini bekalmu!” Eomma Hyunchan memberikan sekotak makanan dan Hyunchan memasukkannya ke tas.

“Kami berangkat dulu yah!” kata Minhwan.

* * * * *

Taemin POV

Aku melangkah lesu memasuki gerbang sekolah, seperti biasanya, hanya merunduk karena siswa-siswa senang sekali menyambutku datang, ada yang membeciku dan ada juga yang setengah mati ngefans padaku, tapi aku tidak peduli itu. Kejadian semalam terus terbayang dikepalaku, bagaimana Hyunchan datang dengan Yunho hyung begandengan tangan, bagaimana Yunho hyung memanggil Hyunchan princess, dan bagaimana Hyunchan melihatku berpelukan dengan Sulli, ini terlalu memusingkan, di sisi lain aku membutuhkan penjelasan dan di sisi lain pula aku terlihat mengkhianatinya. Tanpa sadar aku sudah sampai di depan kelas, melangkahkan kaki dengan lesu dan duduk di kursiku.

“Hey, Lee Taemin! Kau kenapa?” tanya Minhwan yang baru saja memasuki kelas. Aku seperti biasanya tidak memperdulikannya walaupun dia oppa Hyunchan, tapi dia salah satu orang yang tidak suka padaku karena aku sering menyakiti yeoja-yeoja di sini dengan menolak mereka.

Hari ini semuanya terasa begitu cepat, tanpa sadar lagi ini sudah jam istirahat. Sepertinya aku harus menyelesaikannya sekarang juga. “Aku berdiri kemudian berlari secepat mungkin ke arah ruang seni tari.

“Annyeong, oppa!” sapa Hyera hoobaeku di SM, tapi aku tidak mempedulikannya aku terus berlari.

* * * * *

Hyunchan POV

Kepalaku terasa berat sekali, tapi syukurlah aku bisa menyelesaikan ujian tadi. Sekarang waktu istirahat.

“Gwenchana?” tanya Eunmin padaku.

“Ne, gwenchana,” jawabku dengan lemas dan tak lupa tersenyum.

“Arasseo, apa seperti biasa kau membawa bekal?” tanya Eunmin lagi yang kubalas dengan anggukan.

“ Arasseo, kalau begitu aku ke kantin dulu yah! Hati-hati, kalau kau merasa tidak enakan telpon aku!” pesannya. Aku menyandarkan kepalaku di atas meja, berfikir apa aku harus ke ruang seni tari seperti biasanya atau tidak. Entah apa yang merasukiku, aku berjalan dengan langkah lunglai menuju ruang tari sebenarnya hanya untuk menenangkan diri tapi tetap berharap bisa melihatnya. Aku melangkah masuk ke ruang tari dengan menenteng bekalku.

* * * * *

Taemin POV

Aku terus berlari hingga sampai di ruang tari. Memandang sekeliling dan tak mendapatinya ada di sini, aku duduk di sebuah bangku yang biasa kutempati makan bersamanya, mengacak rambut frustasi, dan membenamkan wajahku ke dalam dua belah tanganku. Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu memasuki ruangan ini.

“Hyunchan?” panggilku saat mendapatinya berdiri tak jauh dariku. Dia tiba-tiba berbalik pergi, dengan cepat aku menariknya ke dalam pelukanku. “Mianhae!” ucapku, dia berusaha melepaskan pelukanku tapi sepertinya tidak bisa. “Hyunchan-ah, mianhae! Aku tahu aku salah, tapi apa kau tidak merasa bersalah padaku? Tidak ada yang mau kau jelaskan?” tanyaku tapi tak ada jawaban darinya, tiba-tiba terdengar suara sesuatu terjatuh, ternyata bekal makanan Hyunchan. Aku melepaskan pelukanku dan melihat Hyunchan sudah tidak sadarkan diri. “Hyuncha-ah, Hyunchan-ah, gwenchana? Hyunchan-ah, ireona!!” Aku berusaha membangunkannya tapi tetap saja tak berhasil. Aku memegang tangannya dan merasakan suhu tubuhnya panas. “Choi Hyunchan! Ireona!” Aku menggendongnya dan tanpa berpikir lagi membawanya ke UKS tanpa mempedulikan setiap pasang mata yang memandang kami.

“Taemin, ada apa? Siapa itu?” Tanya suster sekolah.

“Dia… aku menemukannya pingsang di ruang tari,” jelasku, aku sengaja tidak bilang yang sebenarnya supaya tidak muncul berita yang tidak mengenakkan. Hyunchan diperiksa keadaannya oleh dokter.

“Sepertinya dia harus dibawa ke rumah sakit! Dia tidak makan apa-apa sejak semalam dan sepertinya dia sedang stress,” jelas dokter.

“Mwo? Apa kejadian kemarin yang membuatnya seperti ini?” tanyaku dalam hati.

“Hey, kau apakan dongsaengku?” tiba-tiba Minhwan datang dan menarik kerah bajuku.

“Hey, hey! Tenang, jangan berkelahi di sini!” kata suster sekolah. Akhirnya Minhwan melepaskan cengkramannya dan beralih pada Hyunchan.

“Hyunchanie, ireona! Dokter, bagaimana keadaannya?” tanya Minhwan.

“Dia sebaiknya di bawah ke rumah sakit! Dia kekurangan cairan dan sepertinya lambungnya bermasalah, juga dia sedang banyak pikiran!” jelas dokter.

Hyunchan di bawah ke rumah sakit saat ambulance sudah datang. Aku sangat menyesali semua yang terjadi hari ini, di saat-saat seperti ini aku tidak bisa berada di sampingnya.

* * * * *

Author POV

@Rumah sakit

“Channie, gwenchana?” tanya Minhwan saat Hyunchan sadar.

“Ne, gwenchana oppa!” jawab Hyunchan.

Sepulang sekolah Taemin mampir ke rumah sakit untuk sekedar melihat keadaan yeoja chingunya. Taemin melihat keadaan Hyunchan melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Dia merasa sedih karena tidak bisa berada di samping Hyunchan, dia duduk di deretan kursi di depan ruangan Hyunchan.

“Taemin, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yunho yang baru saja datang bersama eomma Hyunchan.

“Yunho-sshi, aku masuk dulu yah!” kata eomma Hyunchan.

“Ne,” jawab Yunho.

“Hyung, kenapa kau di sini?” tanya Taemin kembali.

“Mwo, harusnya aku yang tanya! Hyunchan itu keponakanku, jadi wajar kalau aku ada di sini!” jelas yunho.

“Mworago? Kau… kau ajusshinya Hyunchan?” tanya Taemin dengan mulut dibulatkan.

“Kenapa kau kaget begitu? Lalu kenapa kau di sini? Kau kenal Hyunchan?” tanya Yunho lagi. Taemin terlihat berpikir untuk memberitahukan yang sebenarnya, akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu Yunho apapun yang terjadi.

“Hyung, sebenarnya aku dan Hyunchan pacaran!” ucap Taemin.

“Mwo? kalian?”

“Ne, dan aku sangat merasa bersalah dengan kejadian kemarin malam!”

“Bukannya kau dan Sulli?”

“Aniya hyung, aku dan Sulli sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, satu-satunya yeoja yang kucintai adalah Choi Hyunchan!” kata Taemin. “Dan bodohnya, aku kira dia selingkuh dengan hyung gara-gara melihat kalian bergandengan tangan dan hyung yang memanggilnya Princess,” jelas Taemin.

“Aigoo Taemin, jadi keponakanku sakit seperti ini karena memikirkanmu? Dan kau juga tidak menghubunginya karena mengira dia mengkhianatimu??” tanya Yunho lagi.

“Mwo? Jadi benar dia sakit karena aku?” tanya Taemin lagi.

“Dia tidak makan sejak kemarin sore dan hanya mengurung diri di kamar,” jelas Yunho.

“Mianhae hyung!”

“Jadi, apa yang mau kau lakukan selanjutnya? Apa Minhwan tahu semua ini?”

“Aniya, tidak ada seorang pun yang tahu tentang hubungan kami kecuali Minho hyung dan hyung sendiri,” jawab Taemin. “Aku juga bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Hyunchan. Minhwan itu sangat membenciku sebagai seorang artis.”

“Baiklah, demi keponakan kesayanganku, aku akan membantumu menjelaskan pada Hyunchan tanpa dihalangi siapapun,” kata Yunho.

“Jinjja? Jeongmal gomawo, hyung!” kata Taemin senang.

“Sudahlah tenang saja! Kau mau masuk menjenguk Hyunchan?” tawar Yunho.

“Aku ingin sekali, tapi mana mungkin! Hyunchan pasti benci sekali padaku, lagipula Minhwan ada di dalam!” kata Taemin.

“Baiklah, tunggu saja kabar dariku!” kata Yunho.

“Ne, gomawo, hyung! Kalau begitu aku pulang dulu yah!” ucap Taemin sambil melangkah pergi.

“Dasar anak muda!” gumam Yunho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu masuk ke kamar Hyunchan. Hyunchan tidak perlu menginap di rumah sakit, hanya disarankan untuk istirahat yang cukup di rumah.

* * * * *

Taemin POV

Sudah tiga hari aku tidak melihat Hyunchan, dari pembiacaraan Minhwan dan Kiseop, Hyunchan harus beristirahat selama tiga hari di rumah, artinya hari ini dia sudah masuk. Aku sangat ingin melihatnya! Aku sudah hampir gila karena merindukannya. Tiap hari aku ke ruang seni dan makan sendirian di sana tanpa Hyunchan. Tiba-tiba ponselku bergetar.

From: Yunho hyung

Hari ini jam 3 sore, sepulang sekolah ke Taman XXX,
yang harus kau lakukan, nyanyikan lagumu yang
berjudul ‘Romantic’ Hyunchan sangat suka itu. Lalu jelaskan padanya, semuanya!
Jangan membuatnya menangis lagi, arasseo?
Kalau sampai itu terjadi, maka tamatlah riwayatmu, LEE TAEMIN!

 

Aku membalas sms-nya

Arasseo, gomawo! JEONGMAL GOMAWO, hyung!
Aku tidak akan membuatnya menangis lagi! Walaupun aku harus mengorbankan hidupku untuk mencegah setetes air mata keluar dari matanya.

 

Pada saat istirahat, aku tetap tidak melihatnya, sepertinya dia tidak keluar kelas. Aku tetap bertahan dengan kerinduan yang begitu memuncak sampai bel pulang berbunyi. Setelah pulang, aku langsung menuju ke Taman yang dimaksud Yunho hyung. Sebelumnya aku menyempatkan diri membeli setangkai bunga mawar putih dengan penyamaran secukupnya aku melangkah menuju taman itu.

Aku duduk di sebuah bangku taman dengan gitar di tanganku.

 “Ajusshi, kenapa kita kesini?” terdengar suara seorang yeoja yang sangat kekenali.

“Sudahlah, ikuti kata ajusshi, pergi ke sana tiga meter dari sini, kau tahu kan tempat biasa kita duduk makan es krim?” petunjuk Yunho hyung.

“Memangnya ada apa?”

“Ada seseorang yang menunggumu!” kata Yunho hyung lagi. “Sudahlah, jangan banyak bicara! Sekarang kesana cepat!” Aku bersiap-siap memainkan gitarku, aku jarang sekali memainkan gitar. Saat langkah kakinya sudah terlihat, aku mulai memainkannya.

Nae maeumee ganeundaero nan
amoosaenggak ubshi gudgo ittji
nee moseubeul dalmeun noogoongareul chatneun gunji nan
geunyang geu jarieh suissuh

Sseulsseulhan nae uggaereul geumbangeerado
neega doodeurigo soomeun gutman gateundeh
wae ubneun gun ji
mot boneun gun ji
ani noonee mulutneunji (oh no! )

Ddo dareun sarangeul hal soo do ittdago
nan midussuttneundeh
gaseum aneh nuneun nagin churum jiool sooga ubsuh udduhgae

Nuh animyun andweneun gul
ijeya araburin naega numoo bichamhae
sajin sogen ajikdo naega nuyeh
sarangin gut gateundeh

Nuyeh che on nuyeh ulgool,
ajikdo nae poom aneh neuggyuh jigo ittneun gul
still, I have ROMANTIC in my heart
dolagago shipeun gul

Soo ubshi manheun nareul geuruhgeh
nuyeh modeun guseul gajyutdun na
ijen wae? (baby why?) negensun (tell me why?)
nal chajeul soo ga ubgeh dwen gulgga?
Nan, numoo dooryuhwo ooriyeh choougee
gipeh bae uh ittneun goseh
wanbyukhan sarameul mannan nul
bogeh dwilggabwa

Nuh gateun sarangeul mannal soo ittdago nan midussuttneundeh
gaseum aneh nuneun naginchurum apah jooggettneun udduhgae

Nuh animyun andweneun gul
ijeya araburin naega numoo bichamhae
sajin sogen ajikdo naega nuyeh
sarangin gut gateundeh

Nuyeh che on, nuyeh ulgool
ajikdo nae poom aneh neugyuhjigo ittneun gul
Still, I have Romantic in my heart
doragago shipeungul

Nan jichyuburyuttna bwa heuro namgyujin sarangeh
nuyeh binjari man nan chatgo hemaeneun deh
jebal jom nareul bwa
bul dalmeun nareul bwa
naegen jungmal irun shiryundeulee himdeuluh

Gidarim boda himdeun gun
nee seubgwadeulggaji modoo dalma burin guyah
naesogen naboda neega duh manheungul
I wanna be (wanna be) your man

Geuddaero doraga dashi
nul saranghan han namjaro tae-uh nasuh
dashineun nureul apeugeh hajineun anheullae
Can I go? I wanna be, (I won’t let you) be your man

Nuh animyun andweneun gul
ijeya araburin naega numoo bichamhae
sajin sogen ajikdo naega nuyeh
sarangin gut gateundeh

Nuyeh che on, nuyeh ulgool,
ajikdo nae poom aneh neuggyuhjigo ittneun gul
still, I have ROMANTIC in my heart
doragago shipeun gul

Aku menyimpan gitar dan mendekatinya yang masih berdiri termangu. Saat aku lebih dekat, aku baru sadar kalau dia menangis. Aku mempercepat langkahku dan memeluknya.

“Mianhae!” ucapku dan tiba-tiba tangisnya semakin pecah.

“Hiks…hiks….”

“Uljima!” pintaku sambil mengeratkan pelukanku. “Mianhae, aku sudah salah paham terhadapmu!”

“Hiks…hiks…” dia masih saja menangis.

“Bicaralah, jebal! Katakan sesuatu! Maki aku kalau kau memang marah padaku, aku lebih suka kau memarahiku daripada mendiamiku.” Tiba-tiba dia memukul-mukul dadaku.

“Oppa jahat! Oppa sudah menyakiti hatiku! Oppa bilang gosip itu tak benar, tapi nyatanya apa? Oppa berpelukan dengan yeoja itu di depan mataku. Dia memberontak dalam pelukanku, dia benar-benar meluapkan semua emosinya, aku mendekapnya semakin erat untuk menenangkannya. Setelah dia tenang, aku melepaskan pelukanku dan berlutut di hadapannya.

“Choi Hyunchan, aku hanya mencintaimu dan selamanya akan terus begitu, tidak ada yeoja lain di hatiku selain dirimu, aku dan Sulli tidak ada hubungan apa-apa, waktu itu dia mengungkapkan perasaannya padaku tapi aku sudah bilang padanya kalau hanya kau yang ada di hatiku, tiba-tiba dia menangis dan aku tidak tega padanya lalu memeluknya,” jelasku. “Jebal! Percaya padaku!” pintaku sambil memegang tangannya dan memberikan mawar putih padanya. Dia kembali menangis.

“Mianhae oppa, bangunlah! Seharusnya aku mendengar penjelasan darimu!” Dia mengambil mawar itu dan membantuku berdiri.

“Gomawo, Hyunchan-ah!” ucapku lalu kembali memeluknya. Kami berdua hanya berdiri mematung seperti ini selama beberapa menit, lalu kami melepaskan pelukan kami dan saling berpandangan beberapa waktu hingga kami berciuman, ini pertama kaliannya kami berciuman.

 “Sarranghae, Choi Hyunchan!”

“Naddo, saranghae!” balasnya. Setelah itu kami berjalan-jalan sebentar, makan es krim sama-sama dan pulang saat hari mulai gelap.

“Sebenarnya aku masih ingin bersamamu,” kataku saat kami sudah dekat dari rumahnya.

“Oppa, apa kau mau kita memberitahu Minhwan oppa sekarang?” tanyanya sangat tiba-tiba.

“Mwo? Apa kau sudah siap?” tanyaku padanya, sebelumnya dia tidak pernah berani memberitahukannya pada Minhwan karena Minhwan sangat membenciku. Dia mengangguk mantap dan menarikku ke rumahnya.

“Annyeong! Aku pulang!” ucapnya sambil menarikku masuk ke rumahnya.

Oh, Hyunchan-ah, kau sudah pulang?” tiba-tiba seorang yeoja sepatuh baya keluar dan menyambut kami.

“Ne eomma, aku mau mengenalkan kalian pada seserang!” katanya lalu mendorongku ke hadapan eommanya, aku jadi salah tingkah.

“Annyeong, ajumma! Lee Taemin imnida!”

“Wah, annyeong Taemin! Kau manis sekali!” kata ajumma.

“Gansahamnida!” ucapku sambil membungkukkan badan dan tersenyum.

“Dia namjachinguku, eomma!” aku kaget sekali, Hyunchan dengan entengnya mengatakan itu di depan eommanya.

“Oh, hahaha. Sudah eomma duga ada sesuatu yang berbeda dari gelagat putri eomma ini saat menatapmu, Taemin!” kata eommanya. Eomma Hyunchan sangat ramah sama persis dengan Hyunchan sendiri. Hyunchan hanya tersenyum malu. “Oh iya, eomma sampai lupa mengajakmu duduk, Taeminnie duduklah, makan malam di sini saja! Sebentar lagi appa Hyunchan juga pulang, dia pasti senang bertemu denganmu,” Aku dan eomma Hyunchan duduk di ruang tamu dan Hyunchan menyiapkan minuman.

“Ada apa ini ribut-ribut?” tiba-tiba Yunho hyung keluar juga. “Oh Taeminnie, kau di sini?” tanya Yunho hyung.

 “Ne, annyeong hyung!” sapaku.

“Kalian saling mengenal?” tanya eomma Hyunchan.

“Ne, dia hoobaeku di kantor noona! Noona tidak merasa familiar dengan wajahnya?” tanya Yunho hyung.

“Hmm, artinya dia juga penyanyi?” tanya eomma Hyunchan takjub.

“Ne, dia Lee Taemin maknae boyband yang terkenal SHINee,” kata Yunho hyung.

“Jinjja? Jadi kau Lee Taemin maknae SHINee yang cute itu? Wah, ajumma sampai tak mengenalimu,” ujar eomma Hyunchan dan aku tersenyum malu.

“Dia ini anak yang baik noona, jadi tenang saja, Hyunchan akan aman bersamanya,” Yunho hyung semakin memujiku.

“Aku harap juga begitu, tolong jangan sakiti urio Hyuunchan, yah!”

“Ne ajumma! Aku berjanji!” ucapku.

“Wah wah serius amat sih? Kalian bicarain apa?” Hyunchan datang sambil membawa tiga gelas coklat hangat.

“Kau ini mau tau saja, agashi!” kata Yunho hyung.

“Ngomong-ngomong, Minhwan oppa kemana?”

“Oppamu itu belum pulang, katanya ada latihan band, sebentar lagi juga pulang,” jelas eomma Hyunchan.

“Annyeong, aku pulang!” Tiba-tiba orang yang dibicarakan datang. “Mwo, Lee Taemin? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya kaget.

“Oppa, aku dan Taemin oppa pacaran!” ucap Hyunchan mantap di depan oppanya sambil menggenggam tanganku.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan!

 

“Aish, aku pulang saja!” Hyunchan pergi meninggalkan sekolah setelah sekian lama berdiri di depan gerbang sekolah.

“Hyun, mau pulang?” tanya Jonghyun yang tiba-tiba lewat di depan Hyunchan dengan motornya.

“Oppa?”

“Annyeong! Lama tak jumpa!”

“Untuk apa oppa kemari?” tanya Hyunchan.

“Apa aku tidak boleh ke sekolahku?” tanya Jonghyun.

“Hehe, iya yah!” Jonghyun sudah tiga bulan pindah sekolah ke sekolah seni untuk mengembangkan bakatnya dalam musik.

“Aku sudah lama tidak bertemu Minhwan, bagaimana kabarnya?” tanya Jonghyun lagi.

“Dia baik!”

“Aku mau ke rumahmu bertemu dengannya, apa kau mau sekalian kuantar pulang?” Hyunchan terdiam sejenak memandang ponselnya.

‘Bagaimana ini? Aku sudah dua jam menunggunya tapi oppa belum keluar, tapi aku sudah janji… aish!! otthokke?’ batin Hyunchan.

“Hyun, gwenchana?” tanya Jonghyun.

“Ah, ne oppa! Mianhaeyo, aku sudah ada janji dengan teman, aku tidak bisa ikut denganmu,” kata Hyunchan.

“Arasseo, kalau begitu aku duluan yah! Jaga dirimu baik-baik!” ucap Jonghyun sambil mengacak rambut Hyunchan. Jonghyun pun pergi.

“Ah jinjja? Kenapa aku tidak pulang saja bersama Jonghyun oppa? Hyunchan babo!” gumam Hyunchan. Tiba-tiba seseorang menjitak kepalanya.

“Ya, kau memang babo! Kenapa tidak pulang saja bersamanya? Tinggalkan saja aku sendiri!” omel orang itu.

“Appo!” gumam Hyunchan sambil memegang kepalanya. “Oppa, dari mana saja sih?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan setelah berniat meninggalkanku!” Namja itu pergi meninggalkan Hyunchan.

“Aigo, yang salah siapa? yang marah siapa? Dasar bayi raksasa,” gumam Hyunchan. Dia mengejar namja itu yang tidak lain adalah Taemin. Hyunchan menyusulnya dan menggandeng tangannya.

“Aigo, lihat ada orang dewasa yang ngambek!” ucap Hyunchan sambil mencubit pipi Taemin.

“Sudahlah! Jadi pergi tidak?” tanya Taemin dengan bibir dimanyunkan.

“Ani, aku tidak mau pergi dengan orang yang sepanjang jalan memasang tampang jelek seperti ini,” kata Hyunchan sambil mengangkat telunjuknya menyentuh pipi Taemin. Taemin dengan cepat ingin menggigit telunjuk itu namun Hyunchan lebih cepat menyingkirkannya dan Taemin pun tersenyum.

“Jangan sekali-kali menganggapku bayi raksasa lagi, arasseo?” kata Taemin.

“Aigo, apa oppa tadi mendengarku?” tanya Hyunchan dan Taemin hanya mengangguk.

“Sudah cukup hyung-hyungku memanggilku baby Minnie, jadi kau tidak boleh ikut-ikutan,” ungkap Taemin.

“Ne, arasseo!” ucap Hyunchan. “Ngomong-ngomong, oppa tidak pakai penyamaran?”

“Aku hampir lupa! Tidak ada yang melihat kita, kan?” tanya Taemin sambil celingak-celinguk mengamati sekelilingnya.

“Aku rasa tidak,” jawab Hyunchan.

* * * * *

Hyunchan POV

Hari ini aku senang karena istirahat tadi dia mengirimiku pesan dan memintaku menunggunya setelah pulang sekolah untuk berkencan. Kami sudah lebih dari satu minggu tidak bertemu, walaupun berada dalam satu sekolah masih saja sulit untuk menemuinya.

“Kau kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri,” tanya namja yang duduk di depanku ini. Lee Taemin namja chinguku.

“Aniya,” jawabku singkat.

“Mianhae, aku belum bisa menjadi namja yang baik untukmu,” gumamnya.

“Kenapa oppa bilang begitu? Oppa adalah yang terbaik,” kataku.

“Akhir-akhir ini jadwalku sangat padat bahkan menemuimu di sekolah pun tidak sempat karena aku harus mengejar pelajaran yang tertinggal selama aku ke Jepang.”

Aku menggenggam tangannya yang berada di atas meja, “Gwenchana oppa! Aku sudah tahu akan begini sejak awal aku menerimamu menjadi kekasihku, ini sudah jalan yang aku ambil untuk pacaran dengan seorang selebriti terkenal.”

“Gomawo Hyunchan! Neomo beogosipo!” ucap Taemin oppa.

“Naddo,” balasku. Kami hanya jalan-jalan sebentar setelah makan malam dan mengantarku pulang.

“Hei, kau tahu tidak? Sebelum aku ke Jepang, aku dan member SHINee yang lain menghadiri acara ulang tahun Ryeowook hyung,” ungkapnya saat perjalanan pulang.

“Jeongmal? Aigo~ Kenapa oppa tidak memberitahuku?” tanyaku.

“Yak, lihat wajahmu sekarang! Kau sepertinya berharap aku mengajakmu waktu itu dan mengenalkanmu padanya, kan?” tebaknya.

“Hehe, jangan cemburu oppa! Dia itu hanya idolaku tidak mungkin bisa menggantikanmu,” kataku menenangkannya.

“Jinjja? Bahkan jika dia memintamu?” selidiknya.

“Entahlah, mungkin kalau dia memintaku, itu akan berbeda, haha,” aku rasa sekarang dia akan marah.

“Yak.”

“Aniya, itu tidak akan terjadi,” kataku dengan cepat.

“Iya juga tidak mungkin itu terjadi, sepertinya Ryeowook hyung sangat mencintai noona itu,” gumam Taemin.

“Noona?” tanyaku bingung.

“He em, kau tidak punya kesempatan lagi karena Ryeowook hyung sudah punya kekasih,” kata Taemin dengan senyuman evil. “Dan walaupun Ryeowook hyung tidak punya kekasih, aku juga tidak akan pernah melepaskanmu,” dia menarikku ke dalam pelukannya. “Kau bilang kau sudah tahu konsekuensinya pacaran denganku, kan?” Aku hanya menganggukkan kepala.

“Karena itu, aku tidak akan pernah melepaskanmu, kecuali kau sendiri yang memintaku untuk melepaskanmu.”

“Jangan bicara begitu, aku…aku tidak akan pernah memintamu melepaskanku jadi jangan pernah lepaskan aku,” kataku sambil mengeratkan pelukanku.

“Kau pasti akan kaget mendengar siapa nama pacar Ryeowook hyung,” tebak Taemin oppa.

“Heh? Apa dia artis?” tanyaku.

“Ani, dia seorang dokter,” jawabku.

“Jinjja? Wah daebak! Aku panasaran bagaimana mereka bertemu, seorang dokter dan seorang penyanyi,” gumamku. “Oh iya, siapa namanya?”

“Namanya, Choi Hyunchan,” jawab Taemin oppa dan seperti yang dia tebak aku kaget setengah mati mendengarnya.

“Jeongmal? Choi Hyunchan?” tanyaku masih tidak percaya.

“ Aku juga sangat kaget waktu Ryeowook hyung memperkenalkannya, bukan hanya aku bahkan Minho hyung juga kaget,” katanya sambil tersenyum simpul. Dia melirik ke arahku melihatku yang penuh harap, “Jangan pikirkan kalau kau seandainya adalah Choi Hyunchan yang menjadi yeoja chingunya Ryeowook hyung!” haha dia sok tahu sekali, aku tidak pernah berpikir seperti itu, bagiku tidak ada yang lebih baik menjadi namja chinguku daripada si bayi raksasa ini.

“Wah oppa hebat bisa menebak apa yang kupikirkan,” kataku jahil padahal tebakannya 100% salah.

“Yak,” aku berlari jauh di depannya dan dia pun mengikutiku.

nani wo shi te mo (boku no kokoro wa)

mou (todokanai no ka)

Replay Replay Replay 

“Yeoboseyo?”

“Channie, dimana kau? Umma mencarimu!” tanya Minhwan oppa melalui telepon.

“Aku…aku sedang bersama teman, oppa! Aku akan segera kembali, sekarang aku dalam perjalanan pulang!” jawabku.

“Jeongmal? Apa aku harus menjemputmu?”

“Aniya, sebentar lagi aku sampai kok, oppa tenang saja! Juga bilang sama umma kalau aku baik-baik saja! Annyeong haseyo!”

“Nuguya?” tanya Taemin oppa.

“Minhwan oppa, dia menyuruhku cepat pulang,” jawabku.

“Oh, kajja!” Taemin oppa langsung menarik tanganku dan mengantarku pulang ke rumah.

* * * * *

Taemin POV

“Kemarin, aku bahagia sekali karena bisa kencan bersama yeoja chinguku, setelah dua bulan pacaran itu untuk pertama kalinya kami kencan,” batin Taemin saat melangkah masuk ke sekolahnya.

“Dia kenapa? Tumben datang senyum-senyum, biasanya juga sombong,” gumam seorang siswa yang aku lewati. Aku tak peduli, saat ini aku terlalu senang untuk memikirkan kata-kata mereka, yang aku inginkan sekarang hanyalah melihatnya. Sayangnya, kelasku dan kelasnya berjauhan, jadi aku memutuskan untuk menemuinya di jam istirahat seperti biasanya.

Tringggggggg……………….

“Akhirnya!” gumamku. Waktu yang aku tunggu-tunggu, aku segera mengambil bentoku dan sebelum ke ruang seni, aku menyempatkan diri untuk membelikan yeoja chinguku es krim coklat kesukaannya. Aku melangkah menuju ruang seni tempat kami biasa bertemu dan makan siang, siswa-siswa di sini tidak terlalu menyukaiku dan mengasingkanku jadi aku memutuskan untuk makan sendiri saat istirahat. Sesampainya di ruang seni, tepatnya ruang tari aku melihat Hyunchan duduk sendirian di sana. “Dia pasti menungguku!” gumamku percaya diri. “Annyeong,  My Princess!” sapaku saat memasuki ruang seni dan menempelkan es krim di pipinya.

“Aish, dingin!” protesnya sambil mengambil es krimnya.

“Hyun, kau masih di dalam?” tiba-tiba seseorang datang, aku segera bersembunyi karena tidak ada yang boleh tahu tentang hubungan kami. Kulihat Hyunchan juga kaget.

“Ne, oppa!”

“Ah, apa itu?”

“Haaa…ciii!”

“Tuh, kan. Kau kan sedang flu kenapa malah makan es krim,” kata Kiseop sambil mengambil es krim yang aku berikan pada Hyunchan. ‘Mwo? Dia flu, apa karena semalam?’ batinku bertanya-tanya.

“He, aniya oppa! Aku sedang ingin makan es krim, gwenchana!”

“Andwee, minum ini!” Kulihat Kiseop menyodorkan segelas teh hangat padanya. “Mian, aku harus mengurus sesuatu jadi aku tidak bisa menemanimu di sini.” Kiseop mengacak rambut Hyunchan dan membuatku cemburu kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini. Aku keluar dari persembunyianku saat bayangan Kiseop tak terlihat lagi, Hyuchan hendak memakan es krim yang aku berikan dan aku refleks menahan tangannya dan merebut es krim darinya.

“Kau ini babo! Kenapa tidak memberitahuku kalau sedang flu?”

“Oppa kan tidak tanya,” jawabnya singkat sambil merebut es krimnya lagi.

“Yak, kau mau makan es krimnya saat sedang flu? Minum tehnya!” perintahku sambil menyodorkan segelas teh yang tadi Kiseop bawa.

“Aniya, aku mau es krim!”

“Jangan seperti anak-anak! Ayo minum tehnya dan minum obat flu cepat!”

“Ini kan dari oppa, jadi aku harus memakannya,” oh jadi karena itu dia mau memakannya walaupun sedang flu.

“Siapa bilang ini untukmu? Aku hanya menyuruhmu memegangkan untukku, aku sendiri yang mau memakannya, bukan untukmu!” Aku mengambil es krimnya kembali dan memakannya. Dia hanya memukulku pelan dan meminum tehnya dengan terpaksa. Kami makan siang seperti biasanya, berbagi bekal yang kami bawa. “Hari ini tidak usah menungguku, Jinki hyung akan menjemputku untuk latihan jadi kita tidak bisa pulang sama-sama.

“Ne, arasseo!” selesai makan kami kembali ke kelas masing-masing.

* * * * *

Hyunchan POV

Aku menunggu Minhwan oppa di depan gerbang, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depanku, mobil yang sangat kukenali.

“Annyeong, my little princess!”  sapa orang yang berada di dalam mobil itu saat membuka kaca mobil sedikit.

“Ajusshi?”

“Ne, ayo masuk!” ajak Yunho ajusshi.

“Heh? Tapi Minhwan oppa…?” aku biasanya pulang bersama Minhwan oppa.

“Aku sudah memberitahunya kalau hari ini aku yang akan menjemputmu,” jawabnya mengerti maksudku.

“Oh, arasseo,” aku masuk ke mobil ajusshi.

“Hari ini kau harus membantuku,” pintanya memelas.

“Heh? Bantu apa?”

“Changmin memintaku untuk makan siang bersamanya dan tunangannya, kau tahu kan siapa tunangannya?” tanya Yunho

ajusshi. Aku hanya mengangguk mengerti. Aku hanya ikut kemana dia pergi, sebelumnya dia membawaku ke sebuah toko untuk mengganti baju karena aku masih menggunakan seragam.

“Oppa, kita sekarang mau kemana?” tanyaku.

“Kita ke kantorku dulu, kami janjian bertemu di sana karena Changmin ada pekerjaan,” jawab Yunho ajusshi. “Hyunchan-ah, bisakah selama di kantor jangan memanggilku ajusshi? Aku kan malu masih muda begini dipanggil ajusshi, apa kata teman-temanku nanti?”

“Arasseo! Tapi untuk hari ini saja yah!” pintaku.

“Ne, apa susahnya sih memanggilku oppa?” gumamnya dan aku tidak mengacuhkannya.

Hari sudah gelap waktu kami sampai di kantor agensi Yunho ajusshi. “What? SM Entertainment?” aku sontak kaget dan membelalakkan mata saat turun dari mobil dan melihat papan yang tertulis besar ‘SM ENTERTAINMENT’

“Ne, waeyo? Aigoo, jangan bilang kau baru tahu kalau aku artis SM?” Tanya ajusshi, tebakannya benar! Kemana saja aku selama ini, sampai tidak tahu kalau ajusshinya bekerja satu naungan dengan namja chingunya dan idolnya, Super Junior?

“Jangan salahkan aku, ajusshi! Aku kan tinggal di Indonesia selama lima tahun dan hanya berminat pada Super Junior dan sedikit-sedikit Kpop, tapi tak pernah mendengar tentangmu,” kataku memasang tampang tak berdosa.

“Yak, aku sudah bilang, kalau di sini jangan panggil aku ajusshi!” bentaknya.

“Ne, arasseo, Yunho oppa!” ucapku meledek.

“Sudahlah, kajja!” dia menarik tanganku masuk ke dalam gedung SM. “Sepertinya aku harus bekerja keras lagi, aku belum cukup terkenal,” gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar, aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Oppa, jangan marah dong!” kataku menggodanya, dan menggandeng tangannya. Dia malah semakin memanyunkan bibirnya. “Oppa~~”

“Hahaha, lucu juga mendengarmu memanggilku oppa, terdengar menggelikan,” sepertinya ajusshi sudah tidak tahan mendengarku dan tertawa.

“Arasseo, aku tidak akan memanggilmu oppa lagi!”

“Aniya, little princessku jangan marah!” ucapnya sambil mengacak rambutku. Kuarahkan pandanganku lurus pada jalan yang kami lalui, tiba-tiba langkahku terhenti. Dia? Apa yang dia lakukan?

“Hmm…,” deham Yunho oppa pada pemandangan yang dia lihat di hadaannya. Seorang namja yang tidak asing bagiku, namja chinguku sedang berpelukan dengan yeoja lain. Aku terdiam shock melihat kejadian itu. Namja itu berbalik dan memasang ekspresi yang sama sepertiku.

“Hyun…..? Maksudku, Hyung??” Aku berusaha menahan diriku untuk tidak menangis ataupun mengamuk mengingat hubungan kami tidak boleh diketahui siapapun.

“Jadi rumor kalian pacaran itu benar?” tanya Yunho oppa pada Taemin oppa yang dengan refleks melepaskan pelukannya dari yeoja itu.

“Ah…aniya….”

“Oh, maaf mengganggu kalian! Kami harus segera pergi, annyeong!” aku mengeratkan gandenganku di lengan Yunho ajusshi berusaha menahan diri.

“Princess, gwenchanayo?” tanya Yunho ajusshi.

* * * * *

Taemin POV

“Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu!” kata Sulli setelah menarikku ke koridor yang sepi.

“Ne, ada apa?”

“Na…. joahaeyo!” akunya. Aku tercengang mendengarnya.

“Maksudmu?” aku hanya tersenyum kecil berpura-pura tidak mengerti.

“Neomu joahaeyo! Aku sudah lama menyukaimu, sejak pertama kali aku menjadi trainer,” akunya lagi.

“Mianhae, Sulli-ya,” ucapku pelan agar tidak menyakiti hatinya. Aku menundukkan kepalaku.

“Waeyo oppa? Apa kau tidak menyukaiku?” tanyanya sambil mengguncang lenganku.

“Aniya, aku suka padamu tapi hanya sebagai adik,” kataku.

“Apa kau sudah punya orang lain?” tanyanya lagi.

“Eh, ne, mianhae aku sangat mencintainya dan tidak akan pernah bisa meninggalkannya,” kataku mantap, entah apa yang aku pikirkan sehingga aku berani mengatakannya. Aku mengangkat kepalaku dan mendapatinya menangis terisak. Tiba-tiba dia memelukku dan menyandarkan kepalanya di dadaku karena tidak tega aku pun membalas pelukannya. Tiba-tiba seseorang datang, ah bukan dua orang.

“Hmm…,” deham orang itu. Aku sangat shock mendapati dua orang yang ada di hadapanku, Yunho hyung dan seorang yeoja. Aku refleks melepaskan pelukanku. Kulihat yeoja itu terdiam dan sangat kaget, sepertinya menahan emosinya. Apa dia salah paham?

“Hyun…..? Maksudku, Hyung??” Satu-satunya kalimat yang bisa keluar dari mulutku. Aku sangat ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada yeoja yang datang bersama Yunho hyung.

“Jadi rumor kalian pacaran itu benar?” tanya Yunho hyung padaku.

“Ah…aniya….”

“Oh, maaf mengganggu kalian! Kami harus segera pergi, annyeong!” belum sempat aku menjelaskan, mereka sudah akan pergi. Aku melihat Hyunchan menggandeng Yunho hyung.

“Princess, gwenchana?” tanya Yunho ajusshi. ‘Princess?’ kenapa Yunho hyung memanggilnya pricess, dia yeoja chinguku!

“Ne, oppa gwenchanayo!” jawabku. ‘Oppa? Hyunchan memanggilnya oppa dan menggandeng tangannya? Apa maksud

semua ini?’ aku ingin sekali bertanya langsung padanya tapi itu tidak mungkin. Mereka berdua lewat di hadapanku dan Hyunchan sama sekali tidak menatapku, kulihat sekilas matanya berkaca-kaca, ‘apa dia marah padaku? Tidakkah dia tahu aku juga marah padanya?’ Saat mereka berdua tak terlihat lagi, aku refleks berbalik dan menendang dinding di dekatku.

“Oppa, gwenchanayo?” tanya Sulli bingung. Aku hanya mengacak rambutku, terlalu bingung dengan kejadian tadi.

* * * * *

Author POV

@Hyunchan house

Sepulangnya dari kantor SM, Hyunchan langsung masuk kamar dan menguncinya. Dia mencoba mencerna apa yang terjadi tadi, bayangan Taemin memeluk yeoja lain terus terbayang, tanpa sadar air matanya mulai menetes. “Omo, aku baru ingat! Bukan kah yeoja tadi Sulli f(x)?”

Flash back

“Aigoo, lama juga aku tidak update tentang oppadeul!” gumam Hyunchan sambil mengakses internet dan mencari berita melalui beberapa website. Tiba-tiba matanya tertuju pada satu topik yang sedang hangat dibicarakan, ‘SHINee Taemin Pacaran dengan f(x) Sulli?’ Melihat itu hatinya sudah sangat panas, dia memaksakan diri untuk membuka topik itu dan di dalamnya terdapat beberapa foto Taemin dan Sulli bergandengan tangan dan juga ada yang sedang jalan bersama, serta beberapa foto backstage konser SHINee di Korea.

Hello, hello Nareumdaero yonggil naesseoyo

Hello, hello Jamshi yaegi hallaeyo

Hello, hello Naega jom seodooljin mollado

Who knows? Eojjeom oorin

Jal dwaeljido molla 

Ponsel Hyunchan terus berdering, Hyunchan mengambil ponselnya dan melihat nama yang terpampang di layar ponselnya, dia melempar ponsel itu ke atas tempat tidur.

Hello, hello Nareumdaero yonggil naesseoyo

Hello, hello Jamshi yaegi hallaeyo

Hello, hello Naega jom seodooljin mollado

Who knows? Eojjeom oorin

Jal dwaeljido molla 

Karena lelah mendengar ponselnya berdering, dia mengangkatnya namun hanya diam tanpa mengatakan apa pun.

“Yeoboseyo?” sapa orang yang menelpon itu yang tidak lain adalah namja chingunya, Lee Taemin. Hyunchan tetap saja diam. “Waeyo? Kenapa tak bicara?” Hyunchan tetap tak menjawab. “Jagi, waeyo? Tolong bicara satu kata apa pun itu. Kau marah padaku? Aku lebih suka mendengarmu memarahiku, membentak-bentakku jika kau marah dari pada kau hanya diam seperti ini, jebal!” Hyunchan gengsi untuk bicara, dia mengirimi Taemin email foto Taemin bersama Sulli. Beberapa saat kemudian foto itu diterima Taemin. “Oh, jadi karena ini kau marah? Kau cemburu?” tanya Taemin sambil terkekeh kecil.

“Yak, apa maksud semua itu? ‘SHINee Taemin Pacaran dengan f(x) Sulli’? Hebat yah! Seorang Lee Taemin punya pacar artis cantik, imut, dan disukai banyak namja. Huh, kau ingin aku berkata apa? Chukkae oppa! Aku tak menyangka kau seberuntung itu. Ups, salah kau kan sudah seharusnya mendapatkan artis sepertimu, sangat serasi!” sindir Hyunchan. Taemin refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Jagiya, jagiya, mianhae! Apa yang kau maksud pacaran? Aku hanya punya satu pacar, namanya Choi Hyunchan! Dan tidak ada yang berhak menentukan siapa yang pantas bersamaku selain hatiku dan hatiku sudah memilihmu!” kemarahan Hyunchan mereda mendengar kata-kata Taemin, malahan itu membuatnya tersenyum.

“Wah, darimana seorang Lee Taemin mempelajari kata-kata itu? Apa kau sudah diprivate langsung oleh guru besar Kim Jonghyun oppa?” Taemin mengacak rambutnya bingung apa yang harus dia lakukan lagi.

“Hyunchan-ah, jebal! Jeongmal mianhaeyo!” hanya itu yang bisa dia katakan. Hyunchan tidak tahan lagi dan terkekeh membayangkan wajah Taemin sekarang.

“Pwahahaha, ne’ aku percaya pada oppa! Uljima!” kata Hyunchan.

“Yak, Choi Hyunchan! Aku hampir saja akan berlari ke rumahmu dan menunggu di depan rumahmu sampai kau memaafkanku!” kata Taemin.

“Memang oppa berani?” tanya Hyunchan.

“Iya, eh apa Minhwan ada di rumah?” tanya Taemin ragu.

“Ne’, wae? Oppa mau bicara dengan Minhwan oppa?” canda Hyunchan.

“Hehe, gomawo atas tawarannya, lain kali saja!”

Flash Back End

“Apa oppa membohongiku?” tanya Hyunchan dalam hati.

“Channie, kau tidak makan malam?” tanya Minhwan oppa yang terdengar setengah berteriak dari luar.

“Aku sudah makan tadi,” jawabku bohong.

“Iya yah, kau tadi pergi makan malam bersama ajusshi,” gumam Minhwan oppa yang masih bisa kudengar. Aku sama sekali

tidak menyentuh makananku tadi saat makan malam bersama Yunho oppa dan Changmin oppa. Tiba-tiba perhatianku tertuju pada ponsel yang tergeletak di sampingku. ‘Dia sama sekali tidak menelponku untuk memberi penjelasan,’ gumamku dalam hati. Aku membenamkan kepalaku dalam selimut dan membiarkan air mataku mengalir begitu saja.

* * * * *

Author POV

“Hyunchan, Minhwan, sarapan dulu!” panggil umma dari bawah.

“Ne,” jawab Minhwan. Minhwan keluar dari kamar sambil memasang dasinya, bersamaan dengan itu Hyunchan juga keluar dari kamarnya. “Saeng, gwenchana?” tanya Minhwan melihat raut wajah dongsaengnya.

“Gwenchana, oppa!” jawab Hyunchan dengan senyum simpul.

“Ya sudah! Ayo kita turun!” ajak Minhwan sambil merangkul dongsaeng kesayangannya itu.

“Channie, kau pucat sekali sayang!” kata eomma saat melihat Hyunchan turun bersama Minhwan. “Gwenchana?”

“Ne, eomma! Cuma flu biasa saja!” kata Hyunchan.

“Sebaiknya tidak usah ke sekolah dulu!” pinta eomma.

“Gwenchana eomma, aku hari ini ada ujian jadi harus ke sekolah!” jelas Hyunchan.

“Baiklah, tapi kau harus pulang kalau perasaanmu benar-benar tidak enak,” pesan eomma. “Minhwan, jaga adikmu baik-baik!”

“Ne, aku pastikan dongsaengku ini akan selamat sampai ke rumah!” kata Minhwan sambil memeluk Hyunchan.

“Ayo makan dulu!” ajak eomma.

“Ani eomma, aku tidak nafsu makan!” kata Hyunchan.

“Setidaknya kau harus makan, bagaimana kalau terjadi sesuatu?” tanya eomma.

“Gwenchana eomma, kami sudah hampir terlambat, biar aku makan bekalku saja sesampainya di sekolah!” kata Hyunchan.

“Arasseo, ini bekalmu!” Eomma Hyunchan memberikan sekotak makanan dan Hyunchan memasukkannya ke tas.

“Kami berangkat dulu yah!” kata Minhwan.

* * * * *

Taemin POV

Aku melangkah lesu memasuki gerbang sekolah, seperti biasanya, hanya merunduk karena siswa-siswa senang sekali menyambutku datang, ada yang membeciku dan ada juga yang setengah mati ngefans padaku, tapi aku tidak peduli itu. Kejadian semalam terus terbayang dikepalaku, bagaimana Hyunchan datang dengan Yunho hyung begandengan tangan, bagaimana Yunho hyung memanggil Hyunchan princess, dan bagaimana Hyunchan melihatku berpelukan dengan Sulli, ini terlalu memusingkan, di sisi lain aku membutuhkan penjelasan dan di sisi lain pula aku terlihat mengkhianatinya. Tanpa sadar aku sudah sampai di depan kelas, melangkahkan kaki dengan lesu dan duduk di kursiku.

“Hey, Lee Taemin! Kau kenapa?” tanya Minhwan yang baru saja memasuki kelas. Aku seperti biasanya tidak memperdulikannya walaupun dia oppa Hyunchan, tapi dia salah satu orang yang tidak suka padaku karena aku sering menyakiti yeoja-yeoja di sini dengan menolak mereka.

Hari ini semuanya terasa begitu cepat, tanpa sadar lagi ini sudah jam istirahat. Sepertinya aku harus menyelesaikannya sekarang juga. “Aku berdiri kemudian berlari secepat mungkin ke arah ruang seni tari.

“Annyeong, oppa!” sapa Hyera hoobaeku di SM, tapi aku tidak mempedulikannya aku terus berlari.

* * * * *

Hyunchan POV

Kepalaku terasa berat sekali, tapi syukurlah aku bisa menyelesaikan ujian tadi. Sekarang waktu istirahat.

“Gwenchana?” tanya Eunmin padaku.

“Ne, gwenchana,” jawabku dengan lemas dan tak lupa tersenyum.

“Arasseo, apa seperti biasa kau membawa bekal?” tanya Eunmin lagi yang kubalas dengan anggukan.

“ Arasseo, kalau begitu aku ke kantin dulu yah! Hati-hati, kalau kau merasa tidak enakan telpon aku!” pesannya. Aku

menyandarkan kepalaku di atas meja, berfikir apa aku harus ke ruang seni tari seperti biasanya atau tidak. Entah apa yang merasukiku, aku berjalan dengan langkah lunglai menuju ruang tari sebenarnya hanya untuk menenangkan diri tapi tetap berharap bisa melihatnya. Aku melangkah masuk ke ruang tari dengan menenteng bekalku.

* * * * *

Taemin POV

Aku terus berlari hingga sampai di ruang tari. Memandang sekeliling dan tak mendapatinya ada di sini, aku duduk di sebuah bangku yang biasa kutempati makan bersamanya, mengacak rambut frustasi, dan membenamkan wajahku ke dalam dua belah tanganku. Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu memasuki ruangan ini.

“Hyunchan?” panggilku saat mendapatinya berdiri tak jauh dariku. Dia tiba-tiba berbalik pergi, dengan cepat aku menariknya ke dalam pelukanku. “Mianhae!” ucapku, dia berusaha melepaskan pelukanku tapi sepertinya tidak bisa. “Hyunchan-ah, mianhae! Aku tahu aku salah, tapi apa kau tidak merasa bersalah padaku? Tidak ada yang mau kau jelaskan?” tanyaku tapi tak ada jawaban darinya, tiba-tiba terdengar suara sesuatu terjatuh, ternyata bekal makanan Hyunchan. Aku melepaskan pelukanku dan melihat Hyunchan sudah tidak sadarkan diri. “Hyuncha-ah, Hyunchan-ah, gwenchana? Hyunchan-ah, ireona!!” Aku berusaha membangunkannya tapi tetap saja tak berhasil. Aku memegang tangannya dan merasakan suhu tubuhnya panas. “Choi Hyunchan! Ireona!” Aku menggendongnya dan tanpa berpikir lagi membawanya ke UKS tanpa mempedulikan setiap pasang mata yang memandang kami.

“Taemin, ada apa? Siapa itu?” Tanya suster sekolah.

“Dia… aku menemukannya pingsang di ruang tari,” jelasku, aku sengaja tidak bilang yang sebenarnya supaya tidak muncul

berita yang tidak mengenakkan. Hyunchan diperiksa keadaannya oleh dokter.

“Sepertinya dia harus dibawa ke rumah sakit! Dia tidak makan apa-apa sejak semalam dan sepertinya dia sedang stress,” jelas dokter.

“Mwo? Apa kejadian kemarin yang membuatnya seperti ini?” tanyaku dalam hati.

“Hey, kau apakan dongsaengku?” tiba-tiba Minhwan datang dan menarik kerah bajuku.

“Hey, hey! Tenang, jangan berkelahi di sini!” kata suster sekolah. Akhirnya Minhwan melepaskan cengkramannya dan beralih pada Hyunchan.

“Hyunchanie, ireona! Dokter, bagaimana keadaannya?” tanya Minhwan.

“Dia sebaiknya di bawah ke rumah sakit! Dia kekurangan cairan dan sepertinya lambungnya bermasalah, juga dia sedang banyak pikiran!” jelas dokter.

Hyunchan di bawah ke rumah sakit saat ambulance sudah datang. Aku sangat menyesali semua yang terjadi hari ini, di saat-saat seperti ini aku tidak bisa berada di sampingnya.

* * * * *

Author POV

@Rumah sakit

“Channie, gwenchana?” tanya Minhwan saat Hyunchan sadar.

“Ne, gwenchana oppa!” jawab Hyunchan.

Sepulang sekolah Taemin mampir ke rumah sakit untuk sekedar melihat keadaan yeoja chingunya. Taemin melihat keadaan Hyunchan melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Dia merasa sedih karena tidak bisa berada di samping Hyunchan, dia duduk di deretan kursi di depan ruangan Hyunchan.

“Taemin, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yunho yang baru saja datang bersama eomma Hyunchan.

“Yunho-sshi, aku masuk dulu yah!” kata eomma Hyunchan.

“Ne,” jawab Yunho.

“Hyung, kenapa kau di sini?” tanya Taemin kembali.

“Mwo, harusnya aku yang tanya! Hyunchan itu keponakanku, jadi wajar kalau aku ada di sini!” jelas yunho.

“Mworago? Kau… kau ajusshinya Hyunchan?” tanya Taemin dengan mulut dibulatkan.

“Kenapa kau kaget begitu? Lalu kenapa kau di sini? Kau kenal Hyunchan?” tanya Yunho lagi. Taemin terlihat berpikir untuk memberitahukan yang sebenarnya, akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu Yunho apapun yang terjadi.

“Hyung, sebenarnya aku dan Hyunchan pacaran!” ucap Taemin.

“Mwo? kalian?”

“Ne, dan aku sangat merasa bersalah dengan kejadian kemarin malam!”

“Bukannya kau dan Sulli?”

“Aniya hyung, aku dan Sulli sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, satu-satunya yeoja yang kucintai adalah Choi Hyunchan!” kata Taemin. “Dan bodohnya, aku kira dia selingkuh dengan hyung gara-gara melihat kalian bergandengan tangan dan hyung yang memanggilnya Princess,” jelas Taemin.

“Aigoo Taemin, jadi keponakanku sakit seperti ini karena memikirkanmu? Dan kau juga tidak menghubunginya karena mengira dia mengkhianatimu??” tanya Yunho lagi.

“Mwo? Jadi benar dia sakit karena aku?” tanya Taemin lagi.

“Dia tidak makan sejak kemarin sore dan hanya mengurung diri di kamar,” jelas Yunho.

“Mianhae hyung!”

“Jadi, apa yang mau kau lakukan selanjutnya? Apa Minhwan tahu semua ini?”

“Aniya, tidak ada seorang pun yang tahu tentang hubungan kami kecuali Minho hyung dan hyung sendiri,” jawab Taemin. “Aku juga bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Hyunchan. Minhwan itu sangat membenciku sebagai seorang

artis.”

“Baiklah, demi keponakan kesayanganku, aku akan membantumu menjelaskan pada Hyunchan tanpa dihalangi siapapun,” kata Yunho.

“Jinjja? Jeongmal gomawo, hyung!” kata Taemin senang.

“Sudahlah tenang saja! Kau mau masuk menjenguk Hyunchan?” tawar Yunho.

“Aku ingin sekali, tapi mana mungkin! Hyunchan pasti benci sekali padaku, lagipula Minhwan ada di dalam!” kata Taemin.

“Baiklah, tunggu saja kabar dariku!” kata Yunho.

“Ne, gomawo, hyung! Kalau begitu aku pulang dulu yah!” ucap Taemin sambil melangkah pergi.

“Dasar anak muda!” gumam Yunho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu masuk ke kamar Hyunchan. Hyunchan tidak perlu menginap di rumah sakit, hanya disarankan untuk istirahat yang cukup di rumah.

* * * * *

Taemin POV

Sudah tiga hari aku tidak melihat Hyunchan, dari pembiacaraan Minhwan dan Kiseop, Hyunchan harus beristirahat selama tiga hari di rumah, artinya hari ini dia sudah masuk. Aku sangat ingin melihatnya! Aku sudah hampir gila karena merindukannya. Tiap hari aku ke ruang seni dan makan sendirian di sana tanpa Hyunchan. Tiba-tiba ponselku bergetar.

From: Yunho hyung

Hari ini jam 3 sore, sepulang sekolah ke Taman XXX,

yang harus kau lakukan, nyanyikan lagumu yang

berjudul ‘Romantic’ Hyunchan sangat suka itu. Lalu jelaskan padanya, semuanya!

Jangan membuatnya menangis lagi, arasseo?

Kalau sampai itu terjadi, maka tamatlah riwayatmu, LEE TAEMIN!

 

Aku membalas sms-nya

Arasseo, gomawo! JEONGMAL GOMAWO, hyung!

Aku tidak akan membuatnya menangis lagi! Walaupun aku harus mengorbankan hidupku untuk mencegah setetes air mata keluar dari matanya.

Pada saat istirahat, aku tetap tidak melihatnya, sepertinya dia tidak keluar kelas. Aku tetap bertahan dengan kerinduan yang begitu memuncak sampai bel pulang berbunyi. Setelah pulang, aku langsung menuju ke Taman yang dimaksud Yunho hyung. Sebelumnya aku menyempatkan diri membeli setangkai bunga mawar putih dengan penyamaran secukupnya aku melangkah menuju taman itu.

Aku duduk di sebuah bangku taman dengan gitar di tanganku.

“Ajusshi, kenapa kita kesini?” terdengar suara seorang yeoja yang sangat kekenali.

“Sudahlah, ikuti kata ajusshi, pergi ke sana tiga meter dari sini, kau tahu kan tempat biasa kita duduk makan es krim?” petunjuk Yunho hyung.

“Memangnya ada apa?”

“Ada seseorang yang menunggumu!” kata Yunho hyung lagi. “Sudahlah, jangan banyak bicara! Sekarang kesana cepat!” Aku bersiap-siap memainkan gitarku, aku jarang sekali memainkan gitar. Saat langkah kakinya sudah terlihat, aku mulai memainkannya.

Nae maeumee ganeundaero nan

amoosaenggak ubshi gudgo ittji

nee moseubeul dalmeun noogoongareul chatneun gunji nan

geunyang geu jarieh suissuh

Sseulsseulhan nae uggaereul geumbangeerado

neega doodeurigo soomeun gutman gateundeh

wae ubneun gun ji

mot boneun gun ji

ani noonee mulutneunji (oh no! )

Ddo dareun sarangeul hal soo do ittdago

nan midussuttneundeh

gaseum aneh nuneun nagin churum jiool sooga ubsuh udduhgae

Nuh animyun andweneun gul

ijeya araburin naega numoo bichamhae

sajin sogen ajikdo naega nuyeh

sarangin gut gateundeh

Nuyeh che on nuyeh ulgool,

ajikdo nae poom aneh neuggyuh jigo ittneun gul

still, I have ROMANTIC in my heart

dolagago shipeun gul

Soo ubshi manheun nareul geuruhgeh

nuyeh modeun guseul gajyutdun na

ijen wae? (baby why?) negensun (tell me why?)

nal chajeul soo ga ubgeh dwen gulgga?

Nan, numoo dooryuhwo ooriyeh choougee

gipeh bae uh ittneun goseh

wanbyukhan sarameul mannan nul

bogeh dwilggabwa

Nuh gateun sarangeul mannal soo ittdago nan midussuttneundeh

gaseum aneh nuneun naginchurum apah jooggettneun udduhgae

Nuh animyun andweneun gul

ijeya araburin naega numoo bichamhae

sajin sogen ajikdo naega nuyeh

sarangin gut gateundeh

Nuyeh che on, nuyeh ulgool

ajikdo nae poom aneh neugyuhjigo ittneun gul

Still, I have Romantic in my heart

doragago shipeungul

Nan jichyuburyuttna bwa heuro namgyujin sarangeh

nuyeh binjari man nan chatgo hemaeneun deh

jebal jom nareul bwa

bul dalmeun nareul bwa

naegen jungmal irun shiryundeulee himdeuluh

Gidarim boda himdeun gun

nee seubgwadeulggaji modoo dalma burin guyah

naesogen naboda neega duh manheungul

I wanna be (wanna be) your man

Geuddaero doraga dashi

nul saranghan han namjaro tae-uh nasuh

dashineun nureul apeugeh hajineun anheullae

Can I go? I wanna be, (I won’t let you) be your man

Nuh animyun andweneun gul

ijeya araburin naega numoo bichamhae

sajin sogen ajikdo naega nuyeh

sarangin gut gateundeh

Nuyeh che on, nuyeh ulgool,

ajikdo nae poom aneh neuggyuhjigo ittneun gul

still, I have ROMANTIC in my heart

doragago shipeun gul

Aku menyimpan gitar dan mendekatinya yang masih berdiri termangu. Saat aku lebih dekat, aku baru sadar kalau dia menangis. Aku mempercepat langkahku dan memeluknya.

“Mianhae!” ucapku dan tiba-tiba tangisnya semakin pecah.

“Hiks…hiks….”

“Uljima!” pintaku sambil mengeratkan pelukanku. “Mianhae, aku sudah salah paham terhadapmu!”

“Hiks…hiks…” dia masih saja menangis.

“Bicaralah, jebal! Katakan sesuatu! Maki aku kalau kau memang marah padaku, aku lebih suka kau memarahiku daripada mendiamiku.” Tiba-tiba dia memukul-mukul dadaku.

“Oppa jahat! Oppa sudah menyakiti hatiku! Oppa bilang gosip itu tak benar, tapi nyatanya apa? Oppa berpelukan dengan yeoja itu di depan mataku. Dia memberontak dalam pelukanku, dia benar-benar meluapkan semua emosinya, aku mendekapnya semakin erat untuk menenangkannya. Setelah dia tenang, aku melepaskan pelukanku dan berlutut di hadapannya.

“Choi Hyunchan, aku hanya mencintaimu dan selamanya akan terus begitu, tidak ada yeoja lain di hatiku selain dirimu, aku dan Sulli tidak ada hubungan apa-apa, waktu itu dia mengungkapkan perasaannya padaku tapi aku sudah bilang padanya kalau hanya kau yang ada di hatiku, tiba-tiba dia menangis dan aku tidak tega padanya lalu memeluknya,” jelasku. “Jebal! Percaya padaku!” pintaku sambil memegang tangannya dan memberikan mawar putih padanya. Dia kembali menangis.

“Mianhae oppa, bangunlah! Seharusnya aku mendengar penjelasan darimu!” Dia mengambil mawar itu dan membantuku berdiri.

“Gomawo, Hyunchan-ah!” ucapku lalu kembali memeluknya. Kami berdua hanya berdiri mematung seperti ini selama beberapa menit, lalu kami melepaskan pelukan kami dan saling berpandangan beberapa waktu hingga kami berciuman, ini pertama kaliannya kami berciuman.

“Sarranghae, Choi Hyunchan!”

“Naddo, saranghae!” balasnya. Setelah itu kami berjalan-jalan sebentar, makan es krim sama-sama dan pulang saat hari mulai gelap.

“Sebenarnya aku masih ingin bersamamu,” kataku saat kami sudah dekat dari rumahnya.

“Oppa, apa kau mau kita memberitahu Minhwan oppa sekarang?” tanyanya sangat tiba-tiba.

“Mwo? Apa kau sudah siap?” tanyaku padanya, sebelumnya dia tidak pernah berani memberitahukannya pada Minhwan karena Minhwan sangat membenciku. Dia mengangguk mantap dan menarikku ke rumahnya.

“Annyeong! Aku pulang!” ucapnya sambil menarikku masuk ke rumahnya.

“Oh, Hyunchan-ah, kau sudah pulang?” tiba-tiba seorang yeoja sepatuh baya keluar dan menyambut kami.

“Ne eomma, aku mau mengenalkan kalian pada seserang!” katanya lalu mendorongku ke hadapan eommanya, aku jadi salah tingkah.

“Annyeong, ajumma! Lee Taemin imnida!”

“Wah, annyeong Taemin! Kau manis sekali!” kata ajumma.

“Gansahamnida!” ucapku sambil membungkukkan badan dan tersenyum.

“Dia namjachinguku, eomma!” aku kaget sekali, Hyunchan dengan entengnya mengatakan itu di depan eommanya.

“Oh, hahaha. Sudah eomma duga ada sesuatu yang berbeda dari gelagat putri eomma ini saat menatapmu, Taemin!” kata eommanya. Eomma Hyunchan sangat ramah sama persis dengan Hyunchan sendiri. Hyunchan hanya tersenyum malu. “Oh

iya, eomma sampai lupa mengajakmu duduk, Taeminnie duduklah, makan malam di sini saja! Sebentar lagi appa Hyunchan juga pulang, dia pasti senang bertemu denganmu,” Aku dan eomma Hyunchan duduk di ruang tamu dan Hyunchan menyiapkan minuman.

“Ada apa ini ribut-ribut?” tiba-tiba Yunho hyung keluar juga. “Oh Taeminnie, kau di sini?” tanya Yunho hyung.

“Ne, annyeong hyung!” sapaku.

“Kalian saling mengenal?” tanya eomma Hyunchan.

“Ne, dia hoobaeku di kantor noona! Noona tidak merasa familiar dengan wajahnya?” tanya Yunho hyung.

“Hmm, artinya dia juga penyanyi?” tanya eomma Hyunchan takjub.

“Ne, dia Lee Taemin maknae boyband yang terkenal SHINee,” kata Yunho hyung.

“Jinjja? Jadi kau Lee Taemin maknae SHINee yang cute itu? Wah, ajumma sampai tak mengenalimu,” ujar eomma Hyunchan dan aku tersenyum malu.

“Dia ini anak yang baik noona, jadi tenang saja, Hyunchan akan aman bersamanya,” Yunho hyung semakin memujiku.

“Aku harap juga begitu, tolong jangan sakiti urio Hyuunchan, yah!”

“Ne ajumma! Aku berjanji!” ucapku.

“Wah wah serius amat sih? Kalian bicarain apa?” Hyunchan datang sambil membawa tiga gelas coklat hangat.

“Kau ini mau tau saja, agashi!” kata Yunho hyung.

“Ngomong-ngomong, Minhwan oppa kemana?”

“Oppamu itu belum pulang, katanya ada latihan band, sebentar lagi juga pulang,” jelas eomma Hyunchan.

“Annyeong, aku pulang!” Tiba-tiba orang yang dibicarakan datang. “Mwo, Lee Taemin? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya kaget.

“Oppa, aku dan Taemin oppa pacaran!” ucap Hyunchan mantap di depan oppanya sambil menggenggam tanganku.

* * * * *

Ini salah satu part dari ffku yg judulnya All My Heart tp ini khusus one shot…hehe

Mian klw gaje… Semoga suka ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s