[fanfic] Hwang Family – Nara Story (1/3)

Mian baru post yang kelanjutannya. Terima kasih buat reader yang setia menunggu kelanjutan dari fanfic ini. Sekarang udah masuk part 1 (dulunya masih prolog). Daripada banyak basa-basi mendingan langsung saja baca kelanjutannya.

Cast:    Lee Hyuk Jae (Super Junior) as Hwang Hyuk Jae

Woo Sung Hyun – Kevin (U-Kiss) as Hwang Sung Hyun

Hwang Nara (Admin imagination)

Lee Jeong Min (Boyfriend)

Chinen Yuuri (Hey!Say!JUMP)

Sebulan yang lalu saat kelasku mengikuti darmawisata ke Busan, aku bertemu dengan orang yang aneh. Ia adalah anak pemilik penginapan yang kami tempati. Namanya Lee Jeong Min. Aku menganggapnya aneh karena dia selalu mengikuti kami, tepatnya aku dan keempat sahabatku, Goo Hye Ra, Goo Ji Eun, Park Ahn Mi, dan Seo Min Jeung.

Cerita ini bermula saat kami tiba di penginapan itu. Kami disambut oleh Jeong Min yang mengenakan pakaian seragam karyawan penginapan ini. Walaupun, ia bukanlah anak sulung yang akan meneruskan usaha keluarga, tapi ia bekerja sambilan di penginapan milik orangtuanya. Orang yang cukup mandiri menurutku.

Namun, saat hari kedua kami berada di sana, ia mulai membuat kami agak risih. Saat makan, ia mengganggu kami dengan ocehannya ketika kami menyisahkan makanan. Dia juga malah menambah makanan kami. Aku sempat berpikir mungkin dia ingin membuat kami pulang dengan badan yang gemuk.

Saat ingin tidur, ia masuk ke kamar kami dengan mengingatkan kami untuk tidur lebih awal agar tidak masuk angin. Walaupun hal itu memang benar, tapi tetap saja aku merasa risih. Kami kan bisa jaga diri dan umur kami juga sudah mencapai tujuh belas tahun.

Nah, sekarang, hari ini, ia berada di depan kelasku. Lebih tepatnya di samping Yoon seosangnim. Satu hal lagi, dia mengenakan seragam sekolah kami.

“Semuanya dengarkan. Kita kedatangan seorang siswa baru pindahan dari Busan. Silahkan perkenalkan dirimu,”

“Lee Jeong Min imnida,”

“Nah, Jeong Min-ah. Sebutkan hobi dan cita-citamu,”

“Hobiku bermain baseball dan sepakbola. Aku belum menemukan cita-citaku, tapi saat ini aku punya keinginan tertentu,”

“Baiklah Jeong Min, silahkan duduk di bangku yang kosong di belakang sana,”

Aku berbalik ke bangku yang kosong di belakangku. Aku sudah memikirkan cara agar anak itu tidak duduk di sana. Aku melihat sekeliling dan mencari apakah ada bangku kosong lainnya, namun tidak ada. Ternyata itulah satu-satunya bangku yang kosong.

Dia berjalan sambil memperlihatkan ekspresi lembut. Rasanya aku hampir saja muntah melihat ekspresinya itu. Akhirnya ia pun duduk di bangku yang tepat di belakangku.

“Sshhttt… Nara,”

“Ada apa sih?”

“Boleh pinjam bukumu?”

“Kalau kau pinjam, aku pake apa? Berbagi saja dengan teman sebelahmu,”

Aku melirik orang yang berada di sebelahnya. Aku belum pernah melihat wajahnya atau aku yang tidak pernah memperhatikan. Ia melihat ke arahku dengan tatapan dingin seolah ingin mengatakan ‘Jangan ganggu aku. Itu urusanmu’. Melihat situasi itu, tak mungkin bagi Jeong Min berbagi dengannya.

“Ya sudah, pakai bukuku. Aku akan berbagi dengan Ahn Mi,”

Aku pun mendekatkan bangkuku ke meja Ahn Mi. Ahn Mi yang sepertinya mendengar percakapan kami pun mendekatkan bukunya ke arahku.

***

Jam istirahat, aku menunggu di kelas hingga semua orang keluar. Namun, Jeong Min tetap tinggal di dalam.

“Hey, kau tidak mau keluar? Makan atau yang lainnya?”

“Tidak, aku sedang malas melakukan sesuatu,”

Aku segera mengambil kamera digital yang kubawa dari tas dan membawanya secara sembunyi-sembunyi. Aku pun meninggalkan kelas dan mencari tempat yang aman.

Di koridor, aku menemukan view yang bagus di mana aku bisa melanjutkan hal yang belakangan ini kulakukan. Aku mengambil kameraku dan mulai fokus ke objek.

“Sedang apa kau?”

Aku tersentak kaget. Sedikit lagi aku bisa mengambil gambar yang kuinginkan. Aku juga hampir menjatuhkan kameraku.

“Itu urusanku. Lagipula, kenapa muncul seperti hantu sih? Tidak dapat disadari dan didengar kemunculanmu,”

“Tidak kok, buktinya tadi orang yang sedang sibuk nelpon di sebelahmu menyadari kedatanganku lalu pergi,”

“Eh? Tadi ada orang di sebelahku?”

“Berarti memang kenyataannya kau yang tidak peduli dengan sekitar. Kau menghayal ya? Atau kau melihat seseorang?”

Jeong Min memunculkan kepalanya melalui jendela di samping jendela tempatku melihat keluar. Aku mulai mengarahkan kameraku pada seseorang saat tiba-tiba Jeong Min berteriak.

“Oii, Yuuri sunbae…”

Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku dan membuatnya menunduk hingga kami tak terlihat dari luar.

“Kenapa kau teriak-teriak? Kalau Chinen sunbae melihatku sedang memotretnya bagaimana? Lagu pula, kau ini berani sekali memanggil nama kecilnya, bukan nama keluarganya,”

“Jadi, yang kau lakukan tadi adalah memotretnya,”

“Itu bukan urusanmu,”

“Tentu saja itu urusanku. Karena aku memergokimu melakukannya. Kalau aku beritahukan padanya bagaimana?”

“Tolong, jangan beritahukan padanya,”

“Baiklah, lagipula aku bukan orang yang seperti itu. Tidak ada untungnya juga jika aku memberitahunya, nanti malahan rugi,”

“Rugi? Rugi kenapa?”

“Ah, eh, ka…kau tidak perlu tahu,”

Kami pun duduk dalam diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga bel berbunyi, kami pun masuk ke kelas.

***

Bel yang menandakan saatnya kami untuk pulang berbunyi. Aku melihat Jeong Min yang membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru. Hari ini aku akan tinggal di sekolah beberapa saat untuk menonton pertandingan sepak bola Chinen sunbae.

Aku duduk di bangku dekat lapangan yang tidak terlalu kelihatan jika kita melihat dari lapangan. Pulang sekolah pun, ia dan teman-temannya tetap bermain sepak bola. Mungkin untuk menikmati saat-saat terakhir di sekolah ini.

“Lagi-lagi memotret kakak kelas pindahan dari Jepang itu, ya,”

“Ji Eun? Kau tidak pulang?”

“Tadi ada rapat pengurus klub. Aku cuma mau memberi tahumu bahwa saat kau pulang nanti, kau akan melihat pemandangan yang mengagetkan,”

“Eh?”

“Nara, kenapa kau tidak bilang saja kepadanya kalau kau menyukainya?”

“Tidak! Aku kan perempuan,”

“Ya sudah, itu sih terserah padamu. Aku pulang dulu, ya!”

“Ji Eun, kita pulang sama-sama ya,”

***

Aku masuk ke rumah dan menemukan sebuah sepatu yang asing bagiku. Mungkin, ada tamu yang datang.

“Aku pulang,”

“Oh, Nara. Kau sudah pulang rupanya. Ayo cepat, ada fruit cake kesukaanmu,”

“Oppa yang membelinya? Tumben sekali,”

“Bukan, tapi tetangga baru kita,”

Aku berjalan ke ruang tengah sambil di dorong Hyuk Jae oppa dari belakang. Sesampainya di sana, aku melihat Kevin oppa yang sedang menikmati sepotong fruit cake di tangannya dan JEONG MIN di sampingnya.

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Nara, kau sudah mengenal Jeong Min? Dia baru pindah di rumah keluarga Jang yang berada dua rumah di sebelah kanan rumah kita. Kau tahu kan kalau keluarga Jang pindah ke China? Nah, karena keluarganya dan keluarga Jang punya hubungan kekerabatan, makanya dia menempati rumah itu,”

“Kurasa aku akan pingsan. Aku mau ke kamar dulu,”

Sekitar pukul empat sore, Jeong Min pun pulang. Aku segera keluar dari kamarku setelah memastikan ia sudah benar-benar pulang. Saat aku menuruni tangga, Hyuk Jae oppa memergokiku.

“Oi, Nara. Kamu sudah baikan?”

“Eh? Oh, iya. Aku sudah beristrirahat tadi. Aku mau belanja untuk makan malam. Oppa, antar aku ya!”

“Ya sudah,”

***

Pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah untuk menghindari kemungkinan yang terjadi. Aku bahkan tidak sempat menyiapkan sarapan untuk ini. Saat keluar dari rumah, aku melihat ke kanan dan kiri. Aman. Akhirnya aku pun berangkat ke sekolah.

Setibanya di sekolah, suasana masih sangat sepi. Bahkan, aku bisa merasakan kehadiran makhluk lain di sekitarku. Aku menghabiskan waktu untuk menunggu yang lainnya datang dengan bermain game di ponselku. Dan Jeong Min pun datang.

“Nara, kau sudah datang rupanya. Aku datang menjemputmu tadi untuk berangkat sama-sama. Eh, ternyata kamu berangkat lebih dulu,”

“Sudah kuduga!” batin Nara.

“Nara, apa kau sudah baikan? Kemarin kau hampir pingsan, kan?”

“Pingsan apanya?”

“Eh? Jadi yang kemarin kau hanya pura-pura untuk menghindariku. Dan hari ini kau berangkat pagi-pagi juga untuk menghindariku?”

“Iya, memangnya kenapa? Aku merasa terganggu dengan ulahmu yang seolah-olah selalu mengikutiku. Mulai di Busan, sekolah, bahkan lingkungan rumahku,”

“Aku…aku punya alasan yang tidak bisa kujelaskan,”

“Alasan apa? Kau harus memberitahuku karena aku sudah capek oleh tingkahmu itu. Apakah aku punya utang denganmu atau apa?”

Jeong Min hanya diam dan langsung duduk di bangkunya. Aku melihatnya menunjukkan ekspresi yang tidak bisa kutebak. Aku merasa bersalah, namun otakku membenarkan apa yang kulakukan. Kami pun duduk dalam diam hingga yang lainnya datang dan sekolah pun menjadi ramai.

***

Sepulang sekolah, Jeong Min lagi-lagi pulang lebih awal. Wajahnya juga masih menunjukkan ekspresi seperti yang kulihat sebelumnya dan itu membuatku merasa semakin bersalah. Tiba-tiba Ji Eun mengagetkanku dari belakang.

“Nara, bisa bicara sebentar,”

Kami pun pergi ke lapangan dan duduk di salah satu bangku. Ji Eun menarik napas sejenak dan memulai pembicaraan.

“Aku sudah mendengar semuanya dari Jeong Min,”

“Mendengar semuanya? Ternyata dia mengadu kepadamu ya!”

“Itu bukan kesalahannya. Itu salahku. Kau masih ingatkan kemarin aku bilang ketika kau akan melihat sesuatu yang mengagetkan dan yang kumaksud itu adalah kedatangan Jeong Min ke rumahmu. Semuanya ideku,”

“Aku tidak mengerti,”

“Pindah ke sekolah ini, tinggal di dekat rumahmu, bahkan datang ke rumahmu. Itu semua ideku. Waktu kita berdarmawisata ke Busan, aku menyusun ide ini untuknya,”

“Tapi, kenapa kau melakukannya?”

“Dia bilang dia menyukaimu dan aku hanya berusaha untuk membantunya. Aku menyusun semua ini agar kau bisa melihatnya. Karena, selama ini kau hanya melihat Chinen sunbae yang bahkan mungkin sama sekali tidak melihatmu,”

“Menyukaiku? Ah, kau ini bercanda ya. Mana mungkin! Lagipula yang kusukai saat ini adalah Chinen sunbae,”

“Terserah padamulah. Ayo kita pulang!”

***

Aku pulang ke rumah dengan berjalan pelan. Menikmati setiap langkah kakiku. Aku akhirnya menyadari kalau sudah berada di depan rumah keluarga Jang, rumah yang ditempati Jeong Min saat ini.

“Apa aku keterlaluan ya? Hah, aku tidak mengerti,”

Aku pun berlari ke rumahku yang tak jauh dari rumah keluarga Jang.

“Aku pulang,”

Namun tidak ada tanggapan. Aku mencari ke seluruh penjuru rumah dan tak menemukan Hyuk Jae oppa maupun Kevin oppa.

Tiba-tiba kudengar seseorang masuk.

“Op…pa…”

“Hahaha, kau mengira  aku oppamu yah. Maaf ya, membuatmu kecewa,”

“Lee ahjumma? Ada apa?”

“Ini tadi kedua saudaramu itu menitipkan surat ini untukmu,”

Aku mengambil surat yang dipegang bibi Lee dan membacanya.

Annyeong Nara,

Mian, hari kami meninggalkanmu di rumah sendirian. Aku menginap di rumah temanku karena ada tugas kuliah yang harus kami selesaikan secara berkelompok. Sedangkan, Hyuk Jae hyung katanya sedang lembur jadi besok pagi dia baru akan pulang. Untung, kau pandai memasak, jadi aku tidak perlu repot memikirkan makananmu. Oh iya, jaga dirimu ya. Kalau ada apa-apa telepon oppa. Ok!

Kevin

“Kalau begitu, ahjumma pulang dulu ya,”

“Ne, gomawo Lee ahjumma,”

Setelah Lee ahjumma pergi, aku segera mengecek kulkas. Dan sesuai dugaanku, kedua oppaku yang ceroboh itu tidak berbelanja sebelum pergi tadi. Dengan terpaksa, akulah yang harus pergi.

Aku membeli bahan makanan yang secukupnya untuk membuat makan malamku dan untuk sarapan besok. Sepulangnya dari supermarket, aku melihat Jeong Min yang sedang bersandar di tembok pagar rumahku.

“Habis berbelanja ya?”

“Kau sudah lihat kan,”

“Hari ini aku mendapat surat dari oppamu. Bacalah!”

Jeong Min-ah…

Tolong bantu kami. Hari ini aku dan Hyuk Jae hyung tidak bisa pulang ke rumah karena ada urusan penting yang harus kami handle terlebih dahulu. Tolong jaga Nara ya. Dia kan perempuan dan tinggal sendirian di rumah itu kan berbahaya. Kami percaya padamu. Gomawo.

Kevin

“Aduh, kenapa Kevin oppa sampai seperti ini sih?”

“Aku tahu kau tidak suka padaku. Tapi, kalau terjadi sesuatu, hubungi aku. Boleh aku pinjam handphonemu, aku ingin memasukkan nomorku,”

Aku memberikan handphoneku kepadanya. Ia menerimanya dan mulai menekan beberapa nomor. Lalu, ia tersenyum dan mengembalikan handphoneku.

“Baiklah, aku pulang dulu yah,”

***

Aku masuk ke dalam rumah dan mengeluarkan belanjaanku dari plastik dan memasukkannya ke dalam kulkas. Setelah itu, aku menelpon Kevin oppa untuk membelikan beberapa bahan makanan yang diperlukan.

Aku melihat ke jam dinding yang telah menunjukkan pukul enam sore. Aku pun memulai memasak makan malamku, lalu menyantapnya ketika matang. Setelah itu, aku menonton televisi untuk menghilangkan kepenatan. Untungnya besok libur, jadi tidak ada tugas.

***

(Jeong Min P.O.V)

Aku menonton acara televisi favoritku sambil menikmati sebotol cola dan keripik kentang. Tiba-tiba, mati lampu. Semuanya menjadi gelap dan aku berusaha membiasakan mataku dengan kegelapan. Lalu, handphoneku pun berbunyi.

“Yoboseo,”

“Jeong Min-ah, tolong datanglah ke rumahku. Kumohon,”

Aku mendengar suara Nara di ujung sana seperti orang ketakutan. Suaranya menjadi serak dan bergetar.

“Baiklah, aku akan segera ke sana. Tunggu aku,”

Aku menutup handphoneku dan segera berlari keluar menuju ke rumah Nara. Setibanya di sana, dengan cahaya lampu handphoneku, aku mencari keberadaannya.

“Jeong Min, kau kah itu?”

“Nara, kau baik-baik saja?”

“Ya, cepatlah,”

Suaranya masih bergetar dan aku bisa merasakan bahwa saat ini ia ketakutan. Saat aku sampai tepat di depannya, ia menarik tanganku.

“A…aku takut,”

Aku pun duduk di sampingnya. Aku merasakan tangannya yang gemetaran.

“Aku cari lilin dulu,”

“Jangan! Kumohon, biarlah seperti ini,”

“Memangnya kenapa?”

Ia diam sesaat dan sepertinya ia sedang berpikir akan mengatakan alasan mengapa ia tidak mau menyalakan lilin.

“Sepuluh tahun yang lalu, sewaktu aku masih berumur tujuh tahun…”

Ia kembali terdiam seperti menahan tangis.

“Saat itu, aku bermain-main di taman dekat rumah. Tiba-tiba, dua orang yang tak dikenal menculikku. Karena aku yang paling kecil di keluarga kami, seluruh keluargaku panik mencariku. Omma yang paling cemas dan akhirnya ia berhasil menemukan tempatku disekap. Omma berusaha menolongku…”

“Saat itu, mataku ditutup dengan kain dan aku tidak bisa melihat apapun. Aku sangat ketakutan waktu itu. Aku hanya bisa mendengar suara omma dan penculik itu yang bertengkar. Dan saat akhirnya aku bisa membuka penutup mataku, aku melihat omma yang berusaha membuka ikatan taliku. Walaupun saat itu, ia telah ditusuk oleh penculik itu. Ia memberikan handphonenya padaku dan menyuruhku untung menghubungi ayah dan yang lainnya tentang keberadaan kami dan saat mereka tiba, omma sudah meninggal,”

Ia pun menangis tersedu-sedu.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat pengalaman pahit itu,”

“Umm, tidak. Kau memang tidak tahu sejak awal kan. Lagipula, ini bukan hal yang harus ditutup-tutupi,”

Kami pun terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku melihat ke arahnya yang tampaknya masih meneteskan air mata. Waktu berselang, aku merasakan genggaman tangannya yang tadinya kuat menjadi sedikit lebih longgar. Lalu aku merasakan kepalanya bersandar di bahuku. Dia tertidur pulas.

***

Seberkas cahaya menyinari wajahku dan membuat mataku merasa silau. Aku membuka mataku perlahan dan mendapati diriku masih dalam posisi duduk seperti semalam. Namun, yang berbeda adalah badanku sudah tertutupi dengan selimut sampai ke leherku dan Nara sudah tidak ada di sampingku.

Tiba-tiba aku mendengar bunyi yang tak asing dan aku mencium aroma yang sangat harum. Aku mengikuti aroma itu hingga tiba di sumbernya, dapur. Aku melihat Nara yang sedang sibuk memasak sesuatu.

“Oh, kau sudah bangun ya?”

“Mmm,”

“Bahumu tidak sakit, kan? Mian, semalaman kepalaku bersandar di bahumu,”

“Ah, tidak apa-apa. Kau sedang masak apa?”

“Aku sedang menggoreng ikan dan membuat sup. Hari ini kau sarapan di sini dulu. Ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemaniku semalam,”

Ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Tak lama berselang, makanan telah matang dan kami pun siap untuk menikmatinya.  Sebelum aku pulang, ia sekali lagi mengucapkan terima kasih.

***

(Nara P.O.V)

Hari ini kami kembali lagi bersekolah seperti biasa. Aku hendak menuju ke kelasku namun terhenti saat aku melihat Chinen sunbae di koridor. Sepertinya ia harus menemui seseorang. Aku memutuskan untuk memutuskan untuk membuntutinya sebentar. Akhirnya ia berhenti di depan laboratorium kimia yang sepi. Ia berbicara dengan seseorang, namun aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Aku berada di tempat yang agak jauh. Namun, aku bisa melihat dengan siapa ia berbicara. Orang itu adalah Jeong Min. Aku memutuskan untuk segera pergi sebelum Chinen sunbae menemukanku.

Sesampainya di kelas aku menunggu kedatangan Jeong Min. Aku merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Setelah bel berbunyi, barulah aku melihat Jeong Min memasuki kelas disusul Lee seosangnim. Aku memutuskan untuk menanyainya saat istirahat nanti.

***

“Jeong Min!” panggilku ke seorang namja di depanku.

“Ah, Nara-ah? Wae?”

“Ada yang ingin kutanyakan,”

“Apa?”

“Tadi, kulihat kau sedang membicarakan sesuatu dengan Chinen sunbae. Aku penasaran dan… apa yang kalian bicarakan?”

Wajahnya menunjukkan ekspresi kaget, namun segera berubah dengan ekspresinya yang ceria seperti biasanya.

“Kau penasaran ya?”

“Tentu saja,”

“Rahasia,”

“Ah, Jeong Min ayolah. Beritahu aku,”

“Nanti kau juga akan tahu. Bye!”

Aku memandangnya yang berjalan menjauh. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

***

Sepulang sekolah, aku melihat Chinen sunbae berdiri di dekat pintu gerbang seperti sedang menunggu seseorang. Lalu, aku melihatnya melambai ke arahku. Aku berbalik untuk melihat jika ada seseorang di belakangku, namun tidak ada siapa pun. Dengan kata lain, Chinen sunbae melambai ke arahku.

“Nara, kau baru pulang ya?”

“Ne,”

“Bisa kita bicara sebentar, tapi tidak di sini,”

Chinen sunbae pun mengajakku pergi ke salah satu kafe dekat sekolah. Dia memesan dua ice milk tea.

“Jadi, apa yang ini kau bicarakan?”

“Aku mendengar dari seseorang bahwa kau menyukaiku. Ah, aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi maaf. Aku tidak bisa, bukannya aku tidak menyukaimu. Aku harus menomor satukan pendidikanku dan aku bahkan belum berpikir tentang berpacaran dan sebagainya. Maaf,”

Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Entah mengapa setelah ditolak sebelum menyatakan perasaan, aku merasa baik-baik saja. Mungkin rasa suka ini hanya sebatas kagum.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Tapi, aku ingin bertanya satu hal. Siapa yang memberitahu hal ini kepadamu?”

***

Tap tap tap…

Suara langkah kakiku yang cepat menggema di lorong kompleks perumahan yang sepi. Lalu langkah kakiku berhenti saat aku tiba di tempat yang kutuju. Aku mengatur napasku sebentar lalu akhirnya memencet bel.

Satu, dua, tiga, dan berkali-kali aku memencet bel namun tidak ada jawaban.

“Oh, Nara?”

“Oppa?”

Aku kaget melihat Kevin oppa yang telah berada di sampingku. Sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat.

“Oppa mau kemana?”

“Aku baru saja mau menjemputmu. Kau mencari Jeong Min ya? Apa dia tidak memberi tahumu kalau hari ini dia akan pulang ke Busan?”

“Ke Busan? Kapan dia berangkat?”

“Sekitar sepuluh menit yang lalu dia pergi membawa barang-barangnya. Oh iya, dia menitipkan ini,”

Kevin oppa memberikanku sebuah amplop berukuran sedang. Di dalamnya berisi sebuah surat.

Untuk Nara,

Kalau kau membaca ini mungkin aku sudah pergi dari rumah yang sekarang kutempati. Kalau beruntung, mungkin kau masih bisa mencegahku untuk pergi. Aku sih berharap seperti itu. Tapi, tidak mungkin ya.

Kau tahu, apa alasanku datang ke Seoul? Karena aku mengejar seorang gadis yang menjadi cinta pertamaku. Aku bertemu dengannya musim panas yang lalu di Busan. Aku mendekatinya dengan cara memberi perhatian lebih kepadanya dan teman-temannya dibanding tamu lain, tapi sepertinya dia tidak suka dengan hal itu. Dan saat kami bertemu lagi, dia memperlihatkan ekspresi tidak sukanya kepadaku. Orang itu, adalah kau.

Maaf ya, aku memberitahu ke Chinen sunbae kalau kau menyukainya. Soalnya, aku ingin berbuat sesuatu kepadamu untuk yang terakhir sebelum aku pulang ke Busan. Mungkin aku tidak akan kembali lagi ke Seoul. Kalau sempat kunjungi aku di Busan ya.

Jeong Min

Aku berusaha menelpon Jeong Min dan berharap dia mengangkatnya.

“Yoboseo, Nara-ah. Kau beruntung kau masih bisa menelponku. Kau sudah membaca suratku? Kau kaget ya. Mian, mian. Bagaimana hubunganmu dengan Chinen sunbae? Berjalan lancar? Mian, aku memberi tahu kepadanya kalau kau…”

“Diam, babo,”

“Hah?”

“Yak! Siapa bilang kau boleh pergi tanpa seizinku? Kembali sekarang bodoh! Kau harus bertanggung jawab!”

“Ah, mian. Aku hanya ingin kau jadian dengan Chinen sunbae,”

“Bukan itu! Kau harus bertanggung jawab karena membuatku menyukaimu!”

Setelah mengatakan itu, aku baru menyadari kalau aku sudah menangis sejak tadi. Begitu derasnya air mataku mengalir hingga aku sendiri tak mampu menghentikannya.

Aku menunggu respon darinya, namun ia hanya diam saja.

“Jeong Min? Jeong Min! Bicara kau bodoh!”

“Nara, kau dimana sekarang?”

“Aku di depan rumahmu,”

“Tunggu di sana. Jangan berpindah tempat. Aku akan segera ke sana,”

Dia memutuskan telpon.

Setelah lima belas menit berselang, aku melihatnya berlari dari kejauhan. Dia berlari begitu kencang seolah dikejar-kejar oleh anjing. Ia pun berhenti berlari dihadapanku dan mengatur napasnya sejenak.

“Nara, apakah betul yang kau katakan? Kau menyukaiku?”

“A…aku tidak perlu mengulangnya kan?”

Dengan cepat dia menarik tanganku dan memelukku.

“Aku tidak akan menyesal jika aku mati sekarang. Rasanya semua tujuan hidupku terpenuhi,”

Aku tersenyum dan membalas pelukannya.

“Hei, berhenti memeluk adikku bodoh,”

Aku melihat Hyuk Jae oppa menarik baju Jeong Min hingga ia melepas pelukannya.

“Oppa?”

“Dia itu adikku yang berharga. Kau tidak boleh sembarang memeluknya,”

“Sudahlah hyung, biarkan mereka. Aku merasa terharu melihat mereka. Bagaikan menonton sebuah drama,”

“Iya, hyung. Izinkan aku dengan Nara… umm… pacaran,”

“Tidak akan,”

Sejak saat itulah, Hyuk Jae oppa dan Jeong Min menjadi anjing dan kucing. Tapi, untungnya Kevin oppa menyetujui hubungan kami. Dan satu lagi kenangan indah di keluarga Hwang.

To be continued…

Terima kasih karena sudah mau membaca fanfic yang super ‘GJ’ ini. Kalau ada kesalahan yang belum sempat aku edit, tolong kasih tahu ya. Tunggu part berikutnya, yaitu ‘Kevin Story’.

One thought on “[fanfic] Hwang Family – Nara Story (1/3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s