[Fanfic] Nan Neoui Boyfriend Part 2

 

Author: Yun Taeryeo中島

Cast: Jo Kwangmin Boyfriend, Kim Haejin (imagine), Jo Youngmin Boyfriend, Lee Junghwan/Sandeul B1A4, Choi Junyoung, Member Boyfriend

Genre: Romance

tring….tring…tring…

Ponselku berdering, Haejin memanggil.

“Ada apa? Kita baru saja berpisah, apa kau sudah kangen padaku?” tanyaku sedikit bergurau.

“Kwang-ah!” panggilnya terselip nada takut di suaranya.

“Gwenchana?” aku mulai panik.

“A..aku takut!” katanya gugup. “Kyaaa…,” pekik Haejin dari seberang sana bersamaan dengan suara gedoran pintu yang keras.

“Haejin-ah, gwenchana?” aku sangat panik.

“Ada apa Kwang?” tanya Young. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku berlari dengan cepat menuju rumah Haejin. Selama perjalanan ke rumah Haejin yang aku pikirkan hanya keadaannya, sebenarnya apa yang terjadi sambil terus mencoba menghubunginya.

Butuh waktu 45 menit untuk sampai di rumahnya, aku melihat seorang namja berdiri di depan salah satu jendela yang kalau tidak salah adalah kamar Haejin. Namja itu terus saja menggedor-gedor jendela. Aku tidak mungkin menghadapi orang itu sendirian karena tubuhnya lumayan kekar. Aku punya ide, aku mengeluarkan ponselku lalu menyalakan sirine polisi. Namja itu tiba-tiba kebingungan dan tiba-tiba berlari pergi saat aku semakin mengeraskan speakernya.

“Huft, dasar penjahat!” gumamku lalu melangkah masuk ke rumah Haejin. Lama aku mengetuk pintu tapi tetap tidak dibuka. Aku ke tempat penjahat tadi berdiri dan mengetuk jendelanya. “Haejin-ah, ini aku!” teriakku. Haejin membukakan jendela.

“Kwang?” panggilnya dengan gugup.

“Gwenchana?” tanyaku gelisah. Dia mengangguk tapi suaranya bergetar. Dia membukakan pintu depan sehingga aku bisa masuk. Saat aku baru masuk dia tiba-tiba memelukku dan menangis.

“Aku takut sekali!” gumamnya dengan suara bergetar.

“Gwenchana! Aku di sini!” ucapku sambil mengusap pundaknya. Kami berdua pun duduk di sofa yang berada di ruang tengah. Aku ke dapur dan mengambilkannya segelas air putih supaya dia merasa lebih tenang.

“Tanganmu sangat dingin!” kataku saat menggenggam tangannya. Aku menghangatkan kedua tangannya dengan menggosok-gosokkan tanganku. Aku mencoba menghangatkannya dalam pelukanku hingga akhirnya dia tertidur. Ku jatuhkan kepalanya perlahan di pangkuanku agar dia bisa merasa lebih nyaman.

New sms!

Ponselku berdering, itu pesan dari Young. Dia bertanya aku dimana. Aku tidak mungkin meninggalkan Haejin sendirian di rumah ini, bagaimana kalau penjahat tadi datang lagi? Aku membalas pesan Youngmin, aku tidak akan pulang untuk malam ini. Tiba-tiba Youngmin menelpon.

“Yak, Kwangmin-ah! Kau mau umma marah?”

“Aku betul-betul tidak bisa pulang sekarang, tadi Haejin hampir dicelakai penjahat dan aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian,” jelasku.

“Gwenchana, aku akan menjelaskannya pada umma!”

“Gomawo, Young-ah!”

“Cheonman, itulah gunanya twins!”

“Oke!” aku menutup telponnya. Sekarang mataku tertuju pada yeojaku yang sedang tertidur pulas, sepertinya dia kedinginan. Pelan-pelan aku menurunkannya dari pangkuanku dan mengangkatnya ke kamarnya. Dia pasti sangat shock tadi.

Author POV

Kwangmin membelai wajah Haejin. “Aku bahagia sekali, akhirnya kau jadi milikku!” Tidak lama kemuadian Kwangmin tertidur sangking mengantuknya.

Keesokan paginya…

Haejin membuka matanya sedikit demi sedikit dan tersenyum mendapati namjachingunya tertidur di sampingnya. Tapi tiba-tiba terlihat bingung dan berfikir. “Yak, Jo Kwangmin! Kenapa kau di sini?” teriak Haejin sambil mendorong tubuh Kwangmin yang masih tertidur.

“Huaaa, ada apa sih?” tanya Kwang dengan mata masih setengah terpejam sambil mengacak rambutnya.

“Kau tidak melakukan apa-apa, kan?” tanya Haejin yang berdiri di sisi tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Apa sih maksudmu? Kita hanya tertidur berdua di sini jangan berlebihan,” jawab Kwang sambil menguap.

“Yak Jo Kwangmin, apa maksudmu dengan hanya?” Haejin melemparkan bantal ke arah Kwangmin yang masih setengah sadar.

“Kim Haejin, biasa sajalah! Aku juga tidak mungkin mengapa-apakanmu!” sekarang kesadaran Kwangmin sudah penuh. “Aku cuma tidak berani meninggalkanmu sendirian di rumah ini, bagaimana kalau penjahat itu datang lagi dan mencelakaimu? Aku tidak mau mengambil resiko kau celaka,” bentak Kwangmin. Haejin langsung tertunduk.

“Mianhae, Kwang-ah!” Haejin mendekat pada Kwang sambil meraih tangan Kwangmin dan menggenggamnya. “Jeongmal gomawo! Aku tidak tahu kau begitu mengkhwatirkanku, kalau tidak ada kau semalam aku tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Haejin. Kwangmin dengan cepat merangkul Haejin. “Ngomong-ngomong jam berapa ini?” tanya Haejin tiba-tiba.

“Wae?” tanya Kwang.

“Hari ini hari pertamaku masuk sekolah,” jawab Haejin.

“Mwo? Aku juga hari ini ada ujian, mati aku!” Tiba-tiba bel berbunyi. Haejin keluar membukakan pintu yang diikuti oleh Kwangmin.

“Wah, Young-ah! Jeongmal bogoshipo!” Haejin langsung mencubit pipi Young yang baru saja datang.

“Kau benar-benar Haejin?” tanya Young mematung menatap Haejin.

“Ne,” jawab Haejin dengan anggukan semangat, Young langsung saja memeluknya.

“Hey hey hey, Jo Youngmin! Jangan coba-coba menyentuh yeojachinguku!” Kwangmin memisahkan mereka berdua.

“Ya sudah! Tidak ada waktu lagi, sebentar lagi bel berbunyi!” kata Youngmin.

“Aisshh, aku hampir lupa, apa kau membawakan seragamku?” tanya Kwangmin.

“Pastinya, aku tahu kalau ini akan terjadi,” kata Youngmin. Haejin masuk ke kamarnya untuk mandi dan memakai seragamnya, sedangkan Kwangmin masuk ke salah satu kamar yang di dalamnya juga ada kamar mandi dan berganti pakaian. Dan dalam waktu 30 menit mereka berdua sudah siap.

“Wah kalian hebat! Dalam waktu 30 menit sudah  selesai?” Young kagum pada kecepatan mereka berdua.

“Ini saja aku tidak berdandan ke sekolah, padahal ini hari pertamaku di sekolah!” kata Haejin. “Aku takut terlambat!”

“Yak, jangan pernah berdandan ke sekolah! Apa kau mau tebar pesona pake dandan segala?” tanya Kwangmin sinis.

“Ih, Jo Kwangmin biasa sajalah! Yeoja berdandan itu sudah biasa, memangnya kenapa kalau memberikan kesan yang baik pada tiap orang?” tanya Haejin kembali.

“Huft, pertengkaan rumah tangga!” gumam Young sambil meninggalkan mereka berdua. Sebelum ke sekolah Jo twins mengantarkan Haejin terlebih dahulu ke sekolahnya. Haejin turun dari mobil Jo twins dan terburu-buru memasuki gerbang yang sebentar lagi akan di tutup.

Brukkk! Haejin bertabrakan dengan seseorang saat berlari memasuki gerbang sekolah hingga dia dan orang yang bertabrakan dengannya terjatuh. Kwangmin yang melihat kejadian itu ingin segera turun manum ditahan oleh Youngmin karena mereka bisa saja terlambat.

“Jeongmal mianhae!” kata orang yang bertabrakan dengan Haejin, yang ternyata adalah seorang namja.

“Seharusnya aku yang minta maaf, aku terburu-buru jadi tidak melihat sekeliling saat berlari,”balas Haejin.

“Sudahlah, ayo bangun!” namja itu berdiri dan megulurkan tangannya pada Haejin.

“Gomawo!” kata Haejin.

“Kita sudah hampir terlambat, ayo cepat!” ajak namja itu sambil menarik tangan Haejin pergi. Mereka berlari menyusuri koridor yang sudah sepi. “Oh ya, kelasku di sini! Namaku Choi Junyoung! Sepertinya Han seosangnim sudah ada di dalam, mati aku!” kata namja itu sambil menepuk dahinya. Haejin hanya tertawa. “Aku ini memang lucu!” ujar namja yang bernama Junyoung itu. “Aku masuk duluan yah! Oh ya, namamu siapa?”

“Aku Kim Haejin, sunbae!” Haejin membungkukkan badannya.

“Oh, jadi kau kelas satu?” tanya Junyoung.

“Ne, bisa aku menanyakan sesuatu?”

“Tentu saja, apa itu?”

“Kelas 2B dimana yah?” tanya Haejin.

“Jadi kau murid baru?” tanya Junyoung lagi dan diikuti anggukan dari Haejin.

“Di ujung koridor ini ada pembelokan nah, dua kelas dari pembelokan itu itu kelas 2B,” jelas Junyoung.

“Gomawoyo, sunbaenim!” ucap Haejin sambil meninggalkan Junyoung. Junyoung terus mengamati Haejin yang semakin jauh, tiba-tiba seseorang menarik kupingnya.

“Oh bagus yah! Ini sudah jam berapa? Kenapa hanya berdiri di sini?” bentak Han seosangnim sambil mengeraskan jewerannya.

“Aaaa, jwaseonghamnida seosangnim!”ucap Junyoung sambil meringis kesakitan.

“Kau tidak boleh masuk jam pertama dan bersihkan halaman depan kelas sekarang!” bentak Han seosangnim sekali lagi.

* * * * *

Haejin POV

Aku berjalan secepat mungkin mengikuti jalan yang ditunjukkan Choi sunbaenim tadi. Kulihat pintu kelas itu tertutup, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.

“Annyeong haseyo, mianata aku terlambat!” ucapku sambil membungkuk 90 derajat saat seorang yeoja separuh baya membukakan pintu.

“Jadi kau murid barunya?” tanya wanita itu yang kuduga adalah seorang guru.

“Ne,” jawabku masih merunduk.

“Baru pertama masuk sudah terlambat, bagaimana besok besok?” tanya guru itu.

“Mianata seosangnim, aku janji tidak akan mengulanginya lagi!” ujarku masih tetap merunduk.

“Baiklah, karena ini hari pertamamu, aku memberikan keringatan, kau boleh masuk!”

“Gansahamnida, seosangnim!” ucapku. Aku melangkah masuk mengikuti guru tadi.

“Anak-anak, kalian punya teman baru pindahan dari Australi!” kata guru itu. “Sekarang perkenalkan dirimu!”

“Ne, annyeong haseyo! Kim Haejin imnida! Akupindah ke Australi tiga tahun lalu dan kembali beberapa hari yang lalu. Mohon bantuannya!” kataku sambil membungkukkan badan sekali lagi.

“Kau duduk di sebelah Park Chaerin yah, di sebelah sana!” tunjuk seosangnim. Aku berjalan ke arah tempat itu dan duduk di sebelah seorang yeoja yang juteknya minta ampun.

“Annyeong, aku Kim Haejin!” sapaku sambil mengulurkan tangan. Dia hanya menatapku dari kacamatanya dan kembali membaca bukunya.

“Huft, kenapa aku harus dapat teman sebangku sepertinya?” ujarku dalam hati. Aku mengeluarkan bukuku dan mengikuti pelajaran.

* * * * *

Kwangmin POV

Aku dan Youngmin terlambat, tapi untung saja kembaranku ini pintar cari muka ke guru kami jadi kami tidak dihukum, itu salah satu keberuntungan punya saudara kembar yang cute.

Sekarang waktu istirahat, aku memandangi ponselku berpikir apa aku harus menelpon Haejin untuk menanyai keadaannya, kebanyakan pria kan begitu. Selalu menanyai keadaan yeojachingunya. “Ah itu terlalu dramatis!” kataku sambil memasukkan ponsel kembali ke kantongku. Tapi tiba-tiba Young merebutnya sebelum sempat kumasukkan ke saku celanaku. “Young-ah, apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil berusaha merebut ponselku kembali yang sekarang dipencet-pencet olehnya.

“Lihat saja!” Dia menunjukkan layar posel kepadaku dan terlihat memanggil ke nomor Haejin.

“Yak, Young-ah!” Aku berhasil merebut ponselku namun terlambat Haejin sudah mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” sapa Haejin.

“Hmm, ne!”

“Ada apa tuan Jo?” tanya Haejin. Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus bilang, chagiya bagaimana keadaanmu di sekolah itu? Apa kau ada masalah? Tidak ada yang menjahilimu, kan? Oh itu bukan gayaku. “Kwang, apa kau masih di sana?”

“Ne, banuku ketinggalan di rumahmu, aku akan mengambilnya setelah pulang sekolah!” kataku sambil menarik napas panjang.

“Dasar bodoh!” dengus Young.

“Oh, aku pulang jam 3, kau bisa mengambilnya langsung setelah aku sampai di rumah.”

“Ani, kami juga pulang jam segitu, biar kami menjemputmu dan kita bisa sama-sama ke rumahmu,” ujarku sedikit gugup.

“Ne, aku tunggu!” ucapnya.

“Kim Haejin?” terdengar suara seorang namja memanggil nama Haejin dari sana.

“Choi subae?” sekarang Haejin yang menyapanya.

“Yak Kim Haejin, kau sedang bersama seorang namja?” tanyaku tapi tidak dihiraukan lagi olehnya dan terdengar nada putus dari telponku. “Aishh, mati kau Kim Haejin!”

“Bagaimana Haejin betah dengan namja tidak romantis dan pencemburu sepertimu?” gumam Young dan langsung meninggalkanku.

* * * * *

Haejin POV

“Rupanya kau di sini?” tanya Junyoung sunbae.

“Ne,” jawabku. “Gansahamnida atas pertolongan sunbae tadi pagi!”

“Tak perlu sungkan, mau ke kantin?” tanyanya.

“Ne, aku baru saja mau ke sana,” jawabku.

“Oh, kalau begitu kajja!” sekali lagi namja ini menarik tanganku, aku yakin kalau Kwang melihat ini, dia tidak akan melepaskanku.

“Haejin-ah, kau bilang kau murid baru yah?”

“Ne, sunbae! Aku baru kembali dari Australi,” jawabku.

“Ooh, begitu!” Kami makan siang bersama lalu kembali ke kelas masing-masing saat bel masuk berbunyi.

#pulang sekolah

Aku berdiri di depan gerbang sekolah menunggu Kwangmin yang katanya akan pulang bersamaku untuk mengambil pakaiannya.

“Kim Haejin!” seseorang tiba-tiba saja datang dan mengagetkanku.

“huft, sunbae! Kau mengagetiku!” gumamku sambil mengusap dada.

“Mianhae, kau belum pulang?” tanyanya.

“Aku sedang menunggu seseorang menjemputku,” kataku.

“Jinjja? Padahal aku mau menawarkan tumpangan!” katanya jujur dengan raut wajah kecewa.

“Hehe, gomawo sunbae! Tapi aku sudah berjanji untuk menunggunya,” jelasku.

“Menunggunya? Apa yang akan menjemputmu adalah namja chingumu?” tanya Junyoung.

“Hmmm, ne’!” jawabku.

“Aigoo, ternyata kau sudah punya namjachingu, aku baru saja ingin memintamu menjadi yeojachinguku,” ucapnya jujur dan membuatku malu. “Hahaha, aku hanya bercanda!” guraunya.

“Huft, syukurlah! Aku akan merasa bersalah jika itu terjadi!” kataku lagi.

“Awas!” aku kaget sekali, tiba-tiba Junyoung sunbae menarikku ke dalam pelukannya, sebuah mobil melintas dengan cepat dan hampir menabrakku. Aku mencoba mengatur napasku yang masih shock dalam pelukan namja ini. Tiba-tiba seseorang menarikku paksa menjauh dari Junyoung sunbae.

“Apa yang kau lakukan?” bentak Kwang lalu meninju wajah Junyoung sunbae kilat. Aku buru-buru menahannya sebelum terjadi perkelahian yang lebih gawat, akan sangat gawat kalau Kwang sudah marah.

“Hentikan!” teriakku pada mereka berdua sambil menahan tangan Kwang.

“Lepaskan!” berontak Kwang, aku refleks menamparnya.

“Mianhae Kwang-ah, kau sadar tidak siapa yang kau pukul?” bentakku pada Kwang yang sekarang tertunduk sambil memegang pipinya. “Dia itu menyelamatkanku tadi, kalau tidak ada dia, mungkin sekarang aku sudah celaka,” jelasku dengan suara keras.

“Maksudmu?” gumam Kwang sembari mengangkat wajahnya.

“Aku hampir saja tertabrak tadi, untung saja Junyoung sunbae dengan cepat menarikku,” jelasku dengan suara yang sedikit lebih rendah dari sebelumnya.

“Mianhae!” ucapnya.

“Aku tidak suka melihatmu seperti itu, Kwang-ah!” kataku dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, Kwang menjadi orang yang sangat berbeda kalau marah, dia sangat menyeramkan.

“Mianhae, Haejin-ah!” ucapnya lagi, lalu menarikku kepelukannya.

“Sunbae, gwenchanayo?” tanyaku pada Junyoung sunbae tanpa mempedulikan Kwang, sambil mendekat padanya dan memeriksa luka di pipinya.

“Ne, gwenchana!” gumamnya sambil menahan perih.

“Cepat minta maaf padanya!” bentakku tampa berbalik ke arah Kwang.

“Jwaseonghamnida!” ucap Kwang sambil mengulurkan tangannya.

“Ne, gwenchana!” katanya. “Kwangmin-ah!” panggilnya aku tersontak kaget.

“Mianhae, hyung! Aku sudah salah paham, terima kasih karena sudah menolongnya!” jelas Kwangmin.

“Kalian saling mengenal?” tanyaku bingung.

“Ne, kami berdua sama-sama trainer di Starship,” jawab Junyoung sunbae.

“ Sekali lagi, mian yah hyung!” kata Kwangmin lagi. “Aku terlalu emosi tadi.”

“Sudahlah, ini bukan apa-apa! Aku kalau melihat yeojachinguku dipeluk orang lain, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu, haha,” gurau Junyoung sunbae. “Aku pamit duluan yah, kalian jangan bertengkar karena masalah ini, oke?” Junyoung sunbae pergi dan meninggalkan kami. Tidak lama setelah Junyoung sunbae pergi, aku meninggalkan Kwang dengan perasaan jengkel.

“Haejin-ah!” panggil Kwang menyusulku. “Haejin-ah, mianhae!” ucapnya lagi sambil berusaha menahan tanganku.

“Kau sudah puas mempermalukanku?” aku tiba-tiba berhenti dan memarahinya.

“Jeongmal mianhae!” rengeknya.

“Sudahlah! Kau juga tidak akan pernah berubah, emosimu itu lebih cepat bekerja dari logikamu!” kataku sambil terus berjalan dan disusul olehnya. Setelah hampir satu jam kami berdua akhirnya sampai di rumahku, selama perjalanan hanya ada keheningan di antara kami. Aku masuk ke kamar dan mengambilkan Kwangmin bajunya yang ketinggalan.

“Haejin-ah, kau masih marah padaku?” tanyanya sambil menatapku yang baru saja duduk di depan TV. “Kim Haejin, ayolah!” Kwangmin duduk di sebelahku dan meraih tanganku, aku tetap tidak peduli. “Aku janji, aku tidak akan seperti itu lagi!” ucapnya tegas. Aku sudah tidak tahan lagi, aku memeluknya dan menangis.

“Jangan seperti itu lagi, jebal!” gumamku disela-sela tangisanku.

* * * * *

Kwangmin POV

“Jangan seperti itu lagi!” gumamnya sambil terisak.

“Haejin-ah, uljima!” kataku sambil mengangkat wajahnya dan menghapus tetes air mata yang membasahi wajahnya. “Aku mohon jangan menangis, aku sudah berjanji dalam hidupku tidak akan membiarkan yeoja yang kecintai menangis.”

“Aku takut sekali melihat wajahmu yang seperti itu, wajahmu saat marah seperti tadi, seperti tiga tahun lalu dan seperti saat kau marah pada namja yang mendekatiku dulu!” Dia… dia takut padaku.

“Arasseo, aku tidak akan menunjukkan emosiku lagi dihadapanmu!” kataku sambil kembali memeluknya. “Bagaimana masalah penjahat itu?” tanyaku saat Haejin sudah tenang.

“Aku tidak tahu apa motifnya, sepertinya dia tahu kalau aku tinggal sendiri,” jelas Haejin.

“Lalu bagaimana, apa aku harus menemanimu di sini?” tanyaku dan dibalas lemparan bantak sofa ke kepalaku.

“Enak saja! Apa kata orang kalau kau tinggal di sini?” tanya Haejin.

“Aku cuma bercanda, serius sekali!” gumamku sambil memegang kepala.

“Aigoo, mianhae!” Heajin memegang kepalaku juga.

“Bukan hanya ini, kau lupa soal ini? Masih sakit tau!” kataku sambil memegang pipiku.

“Itu sih salahmu sendiri, tidak bisa mengontrol emosi. Tapi mian yah! Apa aku terlalu keras menamparmu?” Haejin mengelus lembut pipiku.

“Iya, sakit sekali!”

“Mianhae, apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf?” tanyanya. Aku menunjuk pipiku dan dia memandang kebingungan.

“Lakukan seperti ini!” aku mencium pipinya kilat.

“Yak Jo Kwangmin! Apa yang kau lakukan?” Dia marah tapi tertunduk malu sambil memegangi pipinya.

“Ayo lakukan!” kataku.

“Sudahlah! Lupakan!” katanya. “Aku mau menghubungi Youngmi eonnie dan memintanya untuk tinggal bersamaku di sini, dia kan tinggal di apartement. Tapi masalahnya, aku sama sekali tidak tau dimana apartementnya.

“Kau punya nomornya?” tanyaku.

“Oh iya, aku hampir lupa! Dia pernah memberikanku nomor barunya beberapa hari yang lalu.

“Kau pernah bertemu dengannya?”

“Ne, dia yang membantuku pindah ke sini!”

“Oh kalau begitu hubungi saja dia, dan minta dia tinggal di sini bersamamu,” kataku. “Bukankah Youngmi eonnie yeoja yang sitaksir Youngmin?”

“Iya, aku hampir lupa dengan hal itu, haha,” ujarnya. “Kalau begitu Young bisa dekat dengan Youngmi eonnie!”

“Wah, Young pasti senang!” gumamku.

 

_TBC_

One thought on “[Fanfic] Nan Neoui Boyfriend Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s