[Fanfic] Nan Neoui Boyfriend Part 1

 

Wah, ada ff bru lgi nih! hehe
Semoga suka yah! Ini ff author tentang boyfriend, ada hubungannya dengan ff yg judulnya “Love Letter” sebelumnya…

Semoga suka ^^ Comment please!

Author: Yun Taeryeo中島

Cast: Jo Kwangmin Boyfriend, Kim Haejin (imagine), Jo Youngmin Boyfriend, Lee Junghwan/Sandeul B1A4, Member Boyfriend

Genre: Romance

Kwang POV

Hari ini aku lelah sekali harus menjalani rutinitasku sebagai calon artis, dalam waktu dekat ini kami akan debut sebagai boyband baru. Terlalu bosan kalau hanya berdiam diri seperti ini di kamar, aku memutuskan untuk refreshing dengan berjalan-jalan di sebuah taman yang tak jauh dari sekolahku. Setelah lama berjalan aku memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang yang dimana terdapat dua kursi yang menyatu namun saling membelakangi. “Lelah sekali!” Aku mermbentangkan kedua tanganku ke samping kemudian membaringkan kepalaku ke sandaran bangku.

“Aww,” tiba-tiba terdengar seseorang memekik, ternyata ada orang yang duduk tepat di belakangku sehingga kepalaku terbentur kepalanya.

“Ahh, jwaseonghamnida.. jwaseonghamnida!” ucapku refleks berbalik karena panik.

“Appo!” keluhnya sambil memegang belakang kepalanya dan belum berbalik ke arahku.

“Jeongmal mianhae!” ucapku lagi sambil ikut mengelus kepalanya.

“Yak, kepalamu itu keras sekali,” bentaknya dan tiba-tiba berdiri lalu berbalik dalam keadaan masih tertunduk, apakah kepalaku sekeras itu sampai-sampai dia meringis kesakitan padahal aku tidak merasakan apa-apa.

“Gwenchanayo?” aku memegang kedua bahunya dan berusaha untuk melihat wajahnya. Tiba-tiba dia mengangkat wajahnya sehingga wajah kami begitu dekat. Kami terdiam beberapa saat, kemudian menyadari sesuatu. “Kim Haejin?” Dia buru-buru menepis tanganku dan sedikit menjauh dariku.

“Kau… kau Jo Kwangmin?” terdapat ekspresi kaget juga di wajahnya. Aku refleks memeluknya dengan erat.

“Yak, kau kemana saja?” tegurku sedikit marah karena tiga tahun yang lalu dia menghilang begitu saja.

“Aku… aku,” dia berbicara terbata-bata.

“Duduk!” perintahku sedikit memaksa saat melepaskan pelukanku. Setelah itu kami berdua pun duduk dan terdiam untuk beberapa saat. Aku berusaha mengendalikan diriku dan menyusun kata-kata dengan baik karena banyak sekali yang ingin kutanyakan. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah, “Wae?”

“Heh?” dia sepertinya kaget, aku hanya menatap ujung sepatuku tanpa berani melihat ekspresinya. Dia tiba-tiba hanya diam dan tidak menjawab pertanyaanku. Emosiku tidak bertahan lama, aku memandangnya…

“Wae Haejin-ah? Kenapa saat itu kau tidak datang dan menghilang tanpa kabar?”

“Eh… mianhae!”

“Aku butuh penjelasan bukan kata maaf! Apa sebegitu tidak sukanya kau padaku hingga saat itu kau langsung pergi?” tanyaku dengan nada sedikit keras sehingga dia semakin diam. “Ah, mianhae!” aku menyapu wajahku dengan kedua tanganku. Kulihat dia menghembuskan napas panjang.

“Siapa bilang aku tidak menyukaimu?” kalimat pertama yang dia ucapkan. Aku langsung berbalik ke arahnya meminta penjelasan yang lebih. “Aku tidak ingin mengecewakanmu, Kwang-ah! Hari itu aku sangat shock saat kau mengatakan itu di depan orang-orang,” jelasnya.

“Jadi benar kau tidak menyukaiku?” tanyaku kecewa.

“Aku belum selesai!” katanya. “Waktu itu, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, perasaanku bercampur aduk malam itu,” aku hanya mendengarkannya yang bercerita masih tidak berani menatapku. “Kwang-ah, aku bahagia sekali saat kau bilang kau menyukaiku,” pernyataannya itu membuatku kaget, jadi dia bahagia? “Sebenarnya aku juga menyukaimu entah sejak kapan itu,” hatiku senang sekali mendengar pernyataannya lagi. Dia menyukaiku.

“Lalu kenapa waktu itu  kau tidak datang dan menghilang tanpa kabar?”

“Sebenarnya waktu malam kau mengatakan itu, aku mau bilang pada kalian semua kalau aku akan pindah ke Australi besok paginya, tapi kau membuatku mengurungkan niatku, hehe,” jelasnya, aku?

“Aku?”

“Aku tidak mau membuatmu kecewa, aku tidak datang ke tempat yang kau bilang karena saat itu pesawatku sudah berangkat,” jadi, sebenarnya waktu itu dia pergi?

“Bagaimana dengan sekarang?” tanyaku sambil meraih tangan kanannya.

“Maksudmu?” tanyanya mungkin pura-pura tak mengerti.

“Aku masih mengharapkan jawaban atas pertanyaanku yang dulu,” kataku jujur.

“Wah, kau ini jujur sekali. Kita kan baru bertemu,” ucapnya sambil tetap tak menatapku. Aku berdiri dan berlulut di hadapannya sambil memegangi kedua tangannya.

“Aku serius!” ucapku menekankan. “Aku masih tetap meyukaimu. Aku selalu berusaha melupakanmu tiga tahun ini karena aku kecewa, sangat kecewa padamu, tapi tetap tidak bisa. Aku tidak bisa melupakanmu tanpa mendengar jawaban darimu.”

“Aku tidak tahu harus menjawab apa, Kwang-ah,” ucapnya. Kulihat dia menarik napas panjang, “Maafkan aku membuatmu kecewa, apa aku masih pantas bersamamu?”

“Kau tidak mau menebus kesalahanmu?”

“Apa ada cara agar aku bisa menebusnya?”

“Yah, dan kau harus melakukan itu karena sudah menyiksa hatiku selama tiga tahun.”

“Aku tidak menyangka kau sesakit itu, baiklah aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku! Apa yang harus aku lakukan?”

“Kau…kau harus jadi milikku,” jawabku.

“Hah?” dia heran tapi kulihat rona merah di pipinya.

“Nah sekarang kau sudah jadi milikku! Kau tidak ada alasan untuk menolaknya karena kau sudah menyanggupinya,” tegasku tanpa membiarkannya menjawab karena aku tidak mau sesuatu yang mengecewakan keluar dari mulutnya.

“Tidak bisa begitu!”

“Heh? Wae? Kau tidak punya pacar, kan? Kalaupun kau punya kau harus memutuskannya!” tegasku, apa aku ini egois? Pasti jawabannya iya dan aku tidak peduli.

“Aniya, aku tidak punya. Tapi bukankah ini sangat terburu-buru?”

“Terburu-buru? Tiga tahun aku menunggu itu terburu-buru?”

“Baiklah tuan Jo, kau dari dulu sampai sekarang tidak berubah, sifat pemaksamu itu masih ada ternyata,” ujarnya, tapi aku senang.

“Jadi hari ini kita resmi pacaran!”

* * * * *

Haejin POV

“Jadi hari ini kita resmi pacaran!” ucapnya seenaknya. Segampang itukah pacaran? Kami baru bertemu hari ini setelah tiga tahun dan dia dengan seenaknya menyuruhku menjadi pacarnya, sedikit kesal sih tapi aku senang…haha. Tiga tahun yang lalu sebelum aku pergi ke Australi saat prom di sekolah kami Kwangmin menyatakan perasaannya padaku padahal hari itu aku akan berpamitan pada semuanya termasuk Kwangmin.

Flashback

“Umma, appa, aku pergi dulu yah?” aku pamit pada kedua orang tuaku untuk ke acara prom.

“Ne, hati-hati dan jangan pulang kemalaman karena besok pagi kita akan berangkat ke Australi,” kata umma. Aku siswi tingkat 2 SMP jadi harus di antar oleh sopir appa, dalam waktu 25 menit aku sudah sampai di gedung tempat perayaan prom sekolah kami.

“Haejin-ah, kau sudah datang rupanya!” sapa Junghwan oppa. Dialah yang memintaku untuk datang karena ini adalah perpisahan siswa tingkat 3.

“Ne, oppa!”

“Ayo kita ke dalam!” Junghwan oppa menggandeng tanganku dan menarikku ke dalam. Tiba-tiba langkahku terhenti saat melihat seorang namja yang sedang berbincang dengan kembarannya sambil memegang segelas minuman. “Gwenchana?” tanya Junghwan oppa, namja itu berbalik ke arahku dan entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia mengehentakkan gelas ke meja dan pergi begitu saja.

“Ada apa dengannya? Apa dia sebegitu bencinya padaku, sampai melihat wajahku saja dia kesal, padahal ini hari terakhirku,” batinku.

“Haejin-ah, gwenchanayo?” Aku baru sadar kalau dari tadi Junghwan oppa sedang berbicara denganku.

“Ah ne, gwenchana oppa!” Kami berdua pun masuk dan menikmati prom malam itu. Aku tiba-tiba kebelet sekali dan memutuskan untuk ke toilet. Tidak lama aku pun keluar dari toilet, tiba-tiba seseorang manarikku.

“Kim Haejin!” panggil orang itu. Aku membuka mataku dan mendapatinya berdiri di hadapanku.

“Kwangmin?” ternyata yang menarikku adalah Kwangmin. “Lepaskan!” bentakku.

“Apa kau membenciku?” tanya namja itu, aku tidak menyangka dia akan menanyakan itu.

“Ah…eh…. ya, memang kenapa?” Dia melepaskan pegangan tangannya dan entah apa yang dia lakukan dia mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya dan mengacak rambutnya. Dia tiba-tiba menempelkan tangannya ke dinding tepat di sebelah kepalaku. Dia mengapitku dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya dan aku hanya memalingkan wajahku. Tiba-tiba terdengar suara dan ternyata dia menghentakkan tangan kanannya ke tembok juga tepat di sebelahku.

“Ini tidak benar,” gumamnya. Aku takut sekali melihatnya sekarang, sebenarnya ada apa dengannya? Dia menarik tanganku lagi dan membawaku ke depan atas panggung di depan orang-orang. Aku tidak tahu harus berbuat apa, dia memang selalu saja menyiksaku dan terus kasar padaku, tapi kenapa aku….?

“Perhatian semuanya!” dia mengambil mic dan kulihat semua orang memandang ke arah kami.

“Apa lagi yang akan dia lakukan? Mempermalukanku?” batinku sambil menutupi wajahku dengan salah satu tanganku yang tidak dipegangnya.

“Kim Haejin!” panggilnya, aku pun berbalik ke arahnya sambil menahan senyum ke semua orang, saat aku berbalik dia sudah berlutut di hadapanku. “Mianhae Kim Haejin!” ucapnya.

“Hah? Seorang Jo Kwangmin meminta maaf?” batinku. “Apa yang kau lakukan?” bisikku padanya sambil tetap tersenyum paksa ke semua orang.

“Mian aku selalu mengganggumu, membuatmu hidup tidak tenang di sekolah ini!” lanjutnya. “Jeongmal joahaeyo!” ucapnya, ‘apa? Dia bilang apa?’ aku terpaku melihatnya yang sekarang sudah berdiri di hadapanku.

“Jo Kwangmin, berhentilah mempermainkanku!” gumamku. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Kim Haejin! Apa kau mau menjadi yeoja chinguku?” Aku berdiri mematung mencoba mencerna apa yang terjadi, ini sangat tidak mungkin seorang Jo Kwangmin menyukaiku? Dia bahkan tidak pernah bersikap ramah padaku, bisanya hanya berteriak-teriak dan membuat hidupku tidak tenang. “Haejin-ah~~? Ini mungkin bukan gayaku, aku bisa saja menyatakan saat ini juga kalau kau adalah pacarku tanpa mendengar persetujuanmu, tapi aku akan memberimu waktu! Besok pagi, kau harus datang ke taman sekolah jika kau menyukaiku. Dan aku pastikan kau akan kesusahan kalau sampai kau tidak datang!” katanya dengan sangat jelas, ‘besok pagi? Tapi aku berangkat besok pagi?’ aku sadar ini semua tidak mungkin, aku menghentakkan tanganku sehingga genggamannya terlepas dan berlari menjauh darinya pergi dari tempat ini.

“Jo Kwangmin, naddo joahaeyo!” batinku sambil menghapus air mataku yang entah sejak kapan terjatuh.

* * * * *

Kwangmin POV

“Jeongmal joahaeyo!” ucapku, ‘apa aku ini sudah gila?’

“Jo Kwangmin, berhentilah mempermainkanku!” gumamnya. Entah apa yang kupikirkan, aku meraih tangannya dan menggenggamnya.

“Kim Haejin! Apa kau mau menjadi yeoja chinguku?” ‘Sudah terlanjur, aku harus mengatakannya sekarang juga,’ dia hanya terdiam jadi aku kembali bicara. “Haejin-ah~~? Ini mungkin bukan gayaku, aku bisa saja menyatakan saat ini juga kalau kau adalah pacarku tanpa mendengar persetujuanmu, tapi aku akan memberimu waktu! Besok pagi, kau harus datang ke taman sekolah jika kau menyukaiku. Dan aku pastikan kau akan kesusahan kalau sampai kau tidak datang!” kataku dengan sangat jelas ‘ah bodoh! Kenapa aku berkata seperti itu?’ dia masih saja diam entah apa yang dia pikirkan. Tiba-tiba saja dia menghentakkan tangannya sehingga genggamanku terlepas, dia berlari menjauh dariku dan pergi dari tempat ini, dan Ya Ampun apa yang aku lakukan? Dia menangis? Selama ini aku terus mengganggunya namun ini untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis dan ini semua karena aku. Aku hanya memandangi bayangannya yang perlahan hilang dibalik pintu masuk, semua orang memandangku tapi aku tidak peduli itu, yang ada dipikiranku sekarang ‘apakah yang aku lakukan ini salah?’ tentu saja, selama ini aku hanya bisa mengganggunya tiba-tiba saja bilang menyukainya, pasti dia sangat kaget.

“Kwangmin-ah! Apa yang kau lakukan?” tiba-tiba seseorang datang dan memukulku hingga akupun berbalik memukulnya. Youngmin kembaranku datang dan melerai kami. Aku kembali ke rumah setelah kejadian itu.

“Young-ah, apa tindakanku salah?” tanyaku pada Youngmin tanpa menatapnya dan aku hanya berbaring di tempat tidur memandang ke langit-langit kamarku.

“Aniya! Yang kau lakukan sudah benar!” jawabnya sambil duduk di sisi tempat tidur.

“Tapi aku membuatnya menagis!” gumamku. “Selama ini aku terus saja mengganggunya, mengerjainya, dan membuat hidupnya tidak tenang.”

“Tapi kau melakukan itu karena kau menyukainya, Kwang-ah!” timpal Youngmin, dia benar! aku tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan padanya, aku memang pengecut, aku selalu berpikir untuk menyatakan perasaanku, tapi tiap kali melihatnya aku sangat gugup hingga tindakanku malah membuatnya terganggu.

“Aku memang tak pernah bisa menyembunyikan apa pun darimu,” kataku sambil berbalik ke arahnya yang sudah terbaring di sebelahku. Dia menepuk bahuku.

“Kwang-ah, aku ini kembaranmu!” gumamnya. Aku hanya terkekeh.

* * * *

Haejin POV

“Kwang-ah, mianhae!” aku melangkah keluar rumah bersama appa dan ummaku untuk menuju ke bandara.” aku terus saja melihat jam di tanganku dan cemas dengan keadaan Kwangmin. Aku hanya anak-anak dan tidak mungkin melakukan sesuatu seperti di drama-drama, kabur dari sini dan berlari menuju taman.

Kwangmin POV

“Aigo, kenapa dia belum juga datang? Apa dia begitu membenciku?” Aku duduk di taman ini sendirian dan terus saja memandang jam tanganku hingga tanpa sadar hari sudah sore. “Dia tidak akan datang!” Ini sudah sore, mana mungkin dia datang, aku tahu tidak akan ada keajaiban seperti di drama-drama yang setelah menunggu lama akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang di akhir penantian. Aku memutuskan pulang ke rumah dan menahan air mata yang rasanya ingin mengalir begitu saja.

Flashback END

 

“Haejin-ah, neomu yeppoyo!” ucapku tanpa sadar memecah keheningan di antara kami.

“Hah?”

“Aniya, anggap aku tidak bilang apa-apa!” kataku.

“Hah, kau marah?”

“Hmm….”

“Mianhae!”

“Aku tidak butuh maafmu, besok jam 9 kau harus pergi bersamaku! Arasseo?” tegasku.

“Aigo, kau bahkan tidak menanyakan aku bisa atau tidak,” gumamnya dan aku hanya tersenyum devil.

“Kau tahu aku, kan?” gumamku.

“Arasseo! Aku harus pulang sekarang!” katanya.

“Cepat sekali! Kita baru saja bertemu!” protesku.

“Aku harus mengurus banyak hal untuk kepindahanku,” bantahnya sambil berdiri. Aku menarik tangannya saat dia baru saja akan pergi dan memeluknya. “Kwang-ah, banyak orang di sini!”

“Sebentar saja! Aku sangat merindukanmu!” ucapku dan sepertinya dia mengangguk. “Sejak kapan kau kembali?” tanyaku.

“Dua hari yang lalu,” jawabnya.

“Kenapa kau kembali?” tanyaku lagi.

“Aku tidak betah tinggal di sana, jadi aku memohon pada orang tuaku untuk mengijinkanku pulang ke Korea,” jelasnya.

“Hanya itu?”

“Ne.”

“Apa kau menjadi pacarku sekarang karena terpaksa?” tanyaku lagi.

“Yak, kau mau meng-interviewku?” tanyanya.

“Jawab saja!”

“Arasseo. Saranghaeyo!” Aku tersenyum mendengar itu.

“Baiklah! Kau boleh pulang,” kataku sambil melepas pelukanku. Dia memanyunkan bibirnya.

“Siapa yang menahanku tadi? Sekarang mengusirku, huft!”

“Jadi kau masih mau di sini? Baiklah, aku pulang dulu, ini sudah malam!” kataku. Aku mencium dahinya sambil berdiri dan meninggalkannya yang mematung.

“Yak, Jo Kwangmin yebak!” teriaknya. Aku tidak berbalik dan hanya tersenyum mendengarnya yang mengomel sendiri.

* * * * *

Hari ini kencan pertama kami, aku ini bukan tipe pria romantis, sebelum pergi aku bertanya pada Young tempat apa yang bagus, kami memang kembar tapi sifat kami sangat berbeda. Young itu lembut, penuh perhatian, romantis, dan di sukai banyak yeoja, sedangkan aku cuek, arogan, gengsi tinggi, dan tidak romantis, tapi tetap saja banyak yeoja yang mengejarku.

“Kwang!” panggil seseorang dari belakang, aku berbalik dan mendapatinya berdiri di hadapanku. Aku terdiam melihatnya dia sangat manis, sebelum dia tahu aku terpesona padanya, aku buru-buru memandang ke arah lain.

“Ho, eh annyeong!” ucapku gugup.

“Kau ini kenapa sih?” tanyanya.

“Ani, ayo kita pergi!” Aku meninggalkannya yang masih bertanya-tanya di belakang.

“Jo Kwangmin yebak!” teriak Haejin, aku hanya tersenyum evil mendengarnya.

* * * * *

Haejin POV

“Kita mau kemana sih?” tanyaku, dia terus saja berjalan tanpa menungguku. “Jo Kwangmin, tunggu!”

“Cepatlah! Kau ini lama sekali!” omelnya sambil terus melangkah. Aku ada ide supaya dia tidak meninggalkanku lagi. Aku berlari menyusulnya dan menggandeng tangannya.

“Sabar sedikit kenapa sih!” kataku sambil mengeratkan gandenganku di lengannya. Dia memalingkan wajahnya begitu saja. Haha wajahnya memerah. “Kau gugup, yah?” godaku.

“Aniya,” elaknya. “Sudahlah! Ayo cepat!” Kami menuju suatu tempat yang ternyata adalah Taman Ria. Kami berjalan seharian menelusuri taman ria ini, menaiki berbagai wahana tapi sepertinya hanya aku yang senang, wajahnya datar-datar saja. Setelah lelah menelusuri semuanya, kami duduk di sebuah bangku panjang dipinggir sebuah taman kecil.

“Kwang-ah!” panggilku. Dia mengangkat alisnya pertanda mendengarkan. “Belikan es krim!” pintaku.

“Baiklah, tunggu di sini!” pesannya lalu pergi meninggalkanku. Aku duduk sendirian di bangku ini menunggunya, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

“Kim Haejin?” sapanya, aku pun berbalik.

“Junghwan oppa?” ternyata orang itu adalah Junghwan oppa.

“Kapan kau kembali dari Australi?” tanya Junghwan oppa.

“Sejak tiga hari yang lalu,” jawabku.

“Mwo? Dan kau sama sekali tidak menghubungiku?” tanyanya lagi.

“Hehe, mianhae aku terlalu terburu-buru jadi tidak sempat menghubungi oppa,” kataku.

“Gwenchana! Kau sendirian?” tanya oppa lagi.

“Ani, aku bersama seseorang,” jawabku.

“Namjachingumu?” tanya Junghwan lagi.

“Hmm, ini es krimnya!” tiba-tiba Kwang datang dan menyodorkan es krim padaku. “Wah hyung! Lama tak jumpa, sedang apa kau di sini?” Kwangmin tiba-tiba mengalungkan lengannya di pundakku

“Jo Kwangmin? Sedang apa kau di sini?” tanya Junghwan oppa pada Kwang.

“Nae? Aku bersama yeojachinguku!” kata Kwang sambil menunjukku seakan memamerkanku pada Junghwan oppa.

“Mwo? Kau dan Haejin…?” Junghwan oppa membulatkan mulutnya.

“Wae hyung? Aku dan Haejin memang pacaran, iya kan, chagi?” kata Kwang. Aku hanya mengangguk, tumben dia semesra ini. Junghwan oppa masih saja bengong melihat kami.

“Sejak kapan? Kenapa selama ini kau tidak bilang?” tanya Junghwan oppa pada ku.

“Mwo? Selama ini? Jadi selama ini kalian sering berhubungan?” tanya Kwang heran.

“Junghwan oppa sempat tinggal di rumahku di Australi selama sebulan,” jawabku santai.

“Mworago? Kalian tinggal bersama di Australi?” Kwang memasang tampang tak percaya.

“Yak Kwang-ah, biasa saja ekspresimu!” kataku.

“Kau tidak menghubungiku selama tiga tahun, pernah tinggal dengan namja lain, dan sekarang kau menyuruhku biasa saja?” Kwang sekarang mulai marah.

“Sudahlah Kwang! Eommaku dan eomma Haejin kan bersahabat, jadi waktu aku ke Australi eomma menyuruhku untuk tinggal di rumah Haejin sementara,” jelas Junghwan oppa.

“Gwenchana!” kata Kwang cuek.

“Oh ya, chukkae sebentar lagi kau juga akan menyusulku!” kata Junghwan oppa sambil mengulurkan tangan kepada Kwang.

“Ne, gomawo!” balas Kwang cuek.

“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.

“Sebentar lagi Kwang akan debut!” jawab Junghwan oppa.

“Mwo? Debut apa?” tanyaku semakin bingung.

“Aku akan debut dalam sebuah boy band baru bulan depan!” jawab Kwang.

“Mwo? Jadi penyanyi?” tanyaku masih tidak percaya. “Dan Junghwan oppa, jangan bilang kau juga penyanyi?” tanyaku.

“Ne, aku ini member B1A4 Sandeul!” katanya bangga.

“Mwo? Aish, seberapa ketinggalannya aku ini!”

“Yak, apa saja yang kau perhatikan di sana?” kata Junghwan oppa.

“Kenapa oppa tidak pernah memberitahuku kalau oppa seorang penyanyi?” tanyaku.

“Kami belum lama debut, jadi aku belum sempat memberitahumu,” jawab Junghwan oppa.

“Sudahlah! Hyung maaf! Kami harus pergi sekarang!” Kwang berdiri dan menarikku pergi. Aku membungkukkan badan pamit pada Junghwan oppa.

“Yak Kwang! Aku masih mau ngobrol dengan Junghwan oppa!” kataku pada Kwang.

“Baiklah! Kalau begitu aku pulang dulu!” katanya sambil terus berjalan. Aku mengejarnya, dia itu kekanak-kanakan sekali.

* * * * *

Kwangmin POV

Aku sangat tidak suka melihat Haejin dekat dengan namja lain terutama orang yang bernama Lee Junghwan itu. Namja itu selalu dipuji-puji Haejin dulu, sekarang dia sudah debut sebagai penyanyi yang dikenal dengan nama Sandeul B1A4. Dia pernah menyatakan dengan jelas padaku kalau dia menyukai Haejin. Setelah pertemuan dengannya tadi di Taman ria, moodku jadi tidak bagus, padahal aku baru saja merasa memiliki Haejin.

“Kwang, sedang memikirkan apa?” Haejin tiba-tiba muncul di hadapanku setelah sekian lama menunggunya ke toilet.

“Ani,” jawabku, dia hanya mendecak.

“Sekarang ceritakan masalah debutmu itu!”

“Apa yang mau kau tau?” tanyaku.

“Apa saja! Bisa tidak sih kau lembut sedikit?” pintanya.

“Aku akan debut dalam group yang bernama Boyfriend bersama Young!”

“Young? Aku hampir lupa tentang Young! Bagaimana kabarnya? Dia sehat, kan?” tanya Haejin memotong penjelasanku.

“Yak, ada apa denganmu? Waktu bertemu aku saja kau tidak pernah menanyakan keadaanku!” protesku.

“Hehe, mianhae!”

“Sudahlah! Ini sudah malam, kita pulang saja yah!” ajakku sambil menarik tangannya. Aku mengantarnya pulang ke rumah. “Kau masih tinggal di sini?” tanyaku saat sampai di depan rumahnya.

“Ne, appaku tidak pernah menjual rumah ini!” jawabnya.

“Oh, lalu sekarang dengan siapa kau tinggal?” tanyaku lagi.

“Aku tinggal sendirian,” jawabnya.

“Mwo? Kau ini yeoja, bahaya tinggal sendirian!”

“Gwenchana!” katanya sambil mengelus bahuku. “Tidak mau masuk dulu?” tanyanya.

“Sebaiknya aku pulang saja!” kataku. Aku kemudian memeluknya.

“Eh, waeyo?”

“Apa aku tidak boleh memeluk yeojachinguku sendiri?” tanyaku. Dia terdiam, kami hanya berdiri beberapa waktu dalam keadaan seperti ini.

“Sudahlah, pulang sana!” pintanya. Aku berbalik dan melangkah pergi namun kembali lagi. “Apalagi?”

“Kita pacaran, tapi aku sama sekali tidak punya nomor telponmu,” kataku.

“Haha, iya juga yah!” Aku mengeluarkan ponselku dan memberikannya padanya suapaya dia bisa mengetik nomor telponnya, setelah itu aku menghubunginya.

“Jaga dirimu baik-baik!” pesanku yang dibalas dengan senyumnya. Akupun meninggalkannya yang baru saja masuk ke dalam rumah.

* * * * *

“Kwang, bagaimana kencanmu?” tanya Young.

“Hmmm, biasa saja!” jawabku.

“Biasa saja tapi selama pulang kuperhatikan kau tersenyum terus, siapa sih yeoja itu? Apa aku mengenalnya?” tanya Young lagi, aku lupa memberitahunya.

“Dia Kim Haejin!” jawabku datar.

“Oooh namanya Kim Haejin?” katanya paham. “Mwo? Kim Haejin? Jangan bilang kau menyukai gadis itu karena namanya sama dengan Kim Haejin yang dulu!”

“Dia memang Kim Haejin teman SMP kita,” jawabku.

“Mwo? Kau sudah menemukannya? Apa yang kau lakukan padanya agar dia mau pergi bersamamu? Bukankah dia sangat membencimu?” tanya Young bertubi-tubi.

“Yak, Jo Youngmi! Biasa saja! Dia sekarang adalah yeojachinguku.”

Mwo? Yeojachingu? Sejak kapan? Apa kau memaksanya?” tanyanya lagi, suaranya memekakkan telinga.

“Kau pikir aku ini bukan manusia, memaksa seorang yeoja untuk menjadi pacarku!” kataku pada Young, tapi kalau dipikir-pikir aku memang memaksanya, tapi aku tak peduli.

tring….tring…tring…

Ponselku berdering, Haejin memanggil.

“Ada apa? Kita baru saja berpisah, apa kau sudah kangen padaku?” tanyaku sedikit bergurau.

“Kwang-ah!” panggilnya terselip nada takut di suaranya.

“Gwenchana?” aku mulai panik.

“A..aku takut!” katanya gugup. “Kyaaa…,” pekik Haejin dari seberang sana bersamaan dengan suara gedoran pintu yang keras.

 

_TBC_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s