[Fanfic]Choice Part 3/4

15 Maret 2010

Yunho berencana untuk masuk hari ini, padahal ia baru saja dirawat selama satu hari. Ide gilanya itu benar-benar

membuat Changmin geleng-geleng kepala. Yunho sudah memohon-mohon agar Changmin tidak memberitahu Hyemi soal

ini sebab gadis itu pasti akan marah. Yah, Changmin berjanji. Tapi toh pasti akan ketahuan juga. Hyemi kan tidak mungkin

tidak menyempatkan diri untuk menjenguk Yunho sebelum berangkat kerja.

Changmin tertarik untuk melihat rekaman kamera pengintai yang dipasang di atap laboratorium itu. Ia

mengeceknya di ruangan komputer sendirian, sebelum ada orang yang datang. Diperhatikannya rekaman itu dengan

seksama.

Orang itu.. jangan-jangan..

Ia segera menutup video itu dan kembali ke ruangan divisi dua. Dari gorden yang terpasang, ia mengamati

seseorang. Orang itu kini mengangkat telepon dan terburu-buru menuju atap markas besar NDI. Changmin segera

mengikutinya.

Sementara itu, Yunho yang tiba sesaat setelah Changmin meninggalkan ruangan komputer, rupanya memiliki niat

yang sama dengan Changmin. Namun setelah melihat video itu, ia memutuskan untuk menghapusnya.

Biar saja semua orang tidak ada yang tahu. Ia pasti punya alasan.. pasti punya alasan..

                Kemudian ditinggalkannya ruangan itu sebelum ada orang lain yang melihatnya.

*****

                “ Apa kau bilang? Aku sudah mengikuti semua perintahmu. Sekarang lepaskan adikku!” katanya.

Orang diseberang telpon itu tertawa. “ Tidak semudah itu. Kau harus melakukan beberapa perintah lagi”

Jiho benar-benar sudah kehilangan kesabarannya, “ Apa kau bilang? Kau melanggar perjanjian!!” teriaknya tanpa

sadar. Klek! Telpon itu terputus

“ Siapa itu? “ sebuah suara mengagetkannya dari belakang. Ia berbalik. Tampak olehnya Changmin sedang

menodongkan Handgun ke arahnya.

“ Kau berbicara dengan orang organisasi itu, kan? Kau memihak mereka dan menghianati kami? Dan kau tega

menembak sahabatmu sendiri? “ bentak Changmin.

“ kau tidak punya dasar untuk menuduhku seperti ini”, balasnya.

“ Rekaman kamera pengintai itu bisa membuktikannya” Mendengarnya, Jiho menatap tajam.

Changmin mencengkram kerah baju Jiho. Handgun di tangan kanannya ditempelkan ke kepala Jiho, dalam

keadaan siap menembak.

“ Katakan kenapa? Wae yo, Yoon Jiho?”

“ Kau tidak akan pernah mengerti! Kau tidak mengerti!”

Amarah Changmin benar-benar sudah tidak bisa tertahankan. Ia tak bisa memahami mengapa Jiho tega melakukannya.

Dia tega mencoreng lambang organisasi yang menjadi kehormatan mereka. Dia bahkan tega melukai sahabatnya sendiri,

teman seperjuangannya.

Tangan kanan Changmin gemetar. Napasnya memburu. Ia bersiap menarik pelatuk Handgunnya, melepaskan timah

panas ke kepala Jiho.

Dor!

Bunyi tembakan terdengar. Sedetik kemudian, Jiho merasakan lututnya lemas, ia jatuh ke lantai. Changmin tidak

menembaknya, melainkan mengarahkan Handgun itu ke langit. Ia mengira ia bakal mati di tangan sahabatnya itu.

Changmin kembali mengarahkan handgunnya ke kepala Jiho. Matanya mulai berkaca-kaca. Tak lama kemudian,

satu-persatu air mata menetes membasahi kerah mantelnya. Ia lantas mencopot lencana NDI yang terpasang di jas Jiho.

Dilemparnya kemudian ditembaknya benda keemasan itu hingga bolong di bagian tengahnya. Jiho menatap benda itu.

Lencana kebanggaan mereka yang diperoleh dengan susah payah itu kini rusak. Dan ia yang sebenarnya telah

merusaknya dengan menjadi seorang pernghianat.

“ Pergi” kata Changmin pelan. “ Pergi dari hadapanku!” bentaknya kemudian.

Jiho melangkah pelan. Changmin memejamkan matanya. Ia lalu mengacak-acak rambutnya.

“ Sial!” teriaknya

*****

Disaat yang sama, Yunho tengah berada di kamar rumah sakit ditemani Hyemi. Gadis itu benar-benar merasa khawatir

sebab Yunho tidak berada di kamarnya saat ia menjenguk. Ia sempat kesal dan memarahi Yunho.

“ Hyemi ah”, Yunho mengawali pembicaraan. Gadis itu menoleh.

“ Aku ingin berhenti dari NDI” lanjutnya. Hyemi terkejut. “ Peluru kemarin menancap terlalu dalam di kakiku. Kalaupun

aku sembuh nanti, tidak mungkin aku dapat lolos kualifikasi kesehatan anggota NDI. Dokter bilang saraf kakiku terganggu

dan sering nyeri tiba-tiba. “ jelasnya.

Baik Hyemi dan Yunho sama-sama terdiam. Hyemi mendukung keputusan itu meskipun di satu sisi ia merasa kehilangan

motivasinya untuk meneruskan pekerjaannya sebagai anggota NDI.

“ Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri. Setelah ini rencananya aku akan membuka bengkel mobil”

Yunho sudah siap dengan segala resikonya. Ia sudah memikirkannya matang-matang. Termasuk untuk kemungkinan

terburuk bahwa Hyemi akan meninggalkannya.

“ Arasseo. Gwencana yo, oppa!” akhirnya ia membuka mulut. Dipaksakannya untuk tersenyum meskipun hatinya berat.

“ Nanti akan kuberitahu Changmin dan Jiho. Mereka pasti bisa mengerti. Oppa tenang saja. Makan saja yang banyak biar

cepat sembuh”. Yunho tersenyum. Ia meraih tangan Hyemi dan menggenggamnya.

“ Gomawo yo”, katanya.

Hai ini ia benar-benar merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Hyemi. Gadis itu selalu bisa memahaminya dalam

kondisi apapun.

“ Saranghae..”

Hyemi tersipu mendengarnya

*****

16 Maret 2010

Semua barang-barang Yunho telah diangkut dari ruangannya. Tinggal beberapa kardus kecil yang tersisa, yang

akan dibawa sendiri oleh Yunho.

Changmin, Yunho, dan Hyemi tengah bersantai di ruangan mereka sambil menikmati kope hangat. Hyemi

menaruh tangannya di pundak Yunho. Oppa nya itu lalu mengenggamnya. Changmin yang meilhatnya hanya tersenyum.

“ Lalu kapan, hyung?” tanya Changmin.

“ Mwo?” Yunho balik bertanya.

“ Pernikahan kalian” jawabnya.

“ Pernikahan?” kata Hyemi.

“ Kau ini bicara apa? “ sergahnya. Changmin hanya tertawa.

“ Hyung kan sudah tua” katanya lagi. Hyemi mengangguk mengiyakan.

“ Hyemi ah, jangan membelanya! Tapi biar saja, toh aku lebih tampan darimu”

Mereka lalu tertawa bersama. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Jiho memperhatikan mereka. Sungguh, ia ingin

sekali bergabung diantara ketiga sahabatnya itu. Tertawa dan bercanda bersama mereka. Tapi rasa bersalah yang

menghantuinya itu begitu besar. Meski ia tahu bahwa Changmin tidak memberitahu siapa-siapa mengenai maslalah

kemarin. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi menjauh, menjaga jarak dengan mereka. Mungkin ini memang resiko yang

harus ditempuhnya akibat pilihan yang diambilnya. Itu sudah menjadi pilihannya.

*****

Satu tahun kemudian….

4 Februari 2011

Saat ini divisi dua tengah mengadakan rapat membahas mengenai organisasi teroris yang telah menjadi musuh

bebuyutan NDI sejak beberapa tahun. Kasus setahun yang lalu tampaknya mengalami perkembangan. Saat ini NDI telah

mengetahui pergerakan organisasi itu. Divisi dua pun sedang menyiapkan strategi untuk menangkap mereka. Changmin ,

yang saat ini telah menduduki posisi sebagai kepala divisi dua, menutup rapat itu. Sesuai keputusan, NDI akan melakukan

penyergapan pada tanggal 6 Februari malam. Strategi dan segala persiapan lainnya telah dipersiapkan dengan matang.

Changmin melirik alrojinya. Hampir istirahat makan siang. Hari ini ia berjanji untuk menjemput Sooyeon di

tempat kerjanya, sebuah lembaga kursus bahasa Inggris, dan mengajaknya makan siang bersama di sebuah kafe. Selain

itu, ia memang ingin memberikan sebuah kejutan untuk gadis itu. Ia lalu mengambil mantelnya dan bersiap.

Tiba-tiba, matanya tertumbuk pada sebuah foto yang sengaja dipajangnya pada sebuah papan di ruangan divisi

dua. Ia mengambil foto itu. Ia memandangi gambar dirinya, Yunho, dan Jiho yang tengah tersenyum. Gambar itu diambil

oleh Hyemi saat mereka ditetapkan sebagai anggota divisi dua NDI, setelah selesai mengikuti training dan lolos

kualifikasi. Changmin tersenyum sedih mengingatnya. Saat ini hanya ia dan Jiho yang masih bertahan di NDI.

Hubungannya dengan Jiho pun merenggang sejak peristiwa setahun yang lalu.

Handphonenya bergetar, ada email yang masuk.

From : My Little Princess

Oppa, aku sudah selesai..

Aku tunggu ya.. ^^

Changmin tersenyum lalu membalasnya.

To : My Little Princess

Tunggu aku.. ^^

Ia segera berjalan ke tempat mobilnya di parkir. Dengan kecepatan sedang, ia menuju tempat Sooyeon mengajar.

Dalam waktu duapuluh menit, ia akan segera tiba disana.

Mobil hitam itu tiba di depan sebuah gedung. Dari dalam, changmin bisa melihat Sooyeon yang tengah berdiri

diluar, menunggunya.

“ Oppa annyeong!” kata Sooyeon saat menutup pintu mobil.

“ Annyeong Sooyeoni! “ balasnya sambil mencubit pipi gadis itu. Sooyeon meringis kecil

“ Berapa kali aku sudah mengatakan padamu, kalau aku menjemputmu, tunggu saja di dalam. Biar aku yang

masuk”, kata Changmin saat mereka mulai meluncur.

Sooyeon tertawa kecil, “ Tidak apa-apa. Kan repot kalau oppa mesti memarkir mobil dulu dan menjemputku di

dalam”

Mereka tiba di sebuah family restaurant. Setelah memarkir mobil, mereka masuk ke restaurant itu.

“ Oppa, ada yang ingin kuberikan padamu”, kata Sooyeon saat mereka tengah menunggu makanan yang mereka

pesan tiba.

“ Apa itu? “ tanyanya sambil tersenyum. Sooyeon tampak merogoh sesuatu dari tasnya.

“ Tada! “ ia mengeluarkan sebuah paper bag. Changmin membukanya. Ternyata sebuah syal rajutan.

“ Kau membuatnya sendiri? “ tanyanya. Sooyeon mengangguk.

“ Gomawo yo, little princess”, Ia mengelus kepala Sooyeon lembut. Gadis itu tersenyum. Saat-saat seperti inilah

yang paling disukainya, saat Changmin mengelus kepalanya lembut.

“ Aku juga punya sesuatu untukmu” katanya kemudian. Sooyeon menatapnya penuh tanya.

Changmin mengeluarkan sebuah kotak dari saku jasnya dan memberikannya pada Sooyeon.

“ Coba dibuka” Sooyeon membukanya. Ia tak percaya setelah melihat isi kotak itu, sebuah kalung berlian dengan

liontin berbentuk kupu-kupu.

“ Oppa..” ia menatap Changmin tak percaya. Sungguh ia tak pernah sekalipun memintanya. “ Oppa gomawo yo”

katanya. Ia menatap Changmin. Oppanya itu telah memberinya terlalu banyak.

“ Gwencana yo” sekali lagi ia mengelus kepala gadis itu lembut.

*****

                “ Bagaimana mobil yang kemarin? Apa sudah selesai? “ tanyanya pada salah seorang stafnya.

“ Belum. Tinggal sedikit lagi. Kami akan melakukan perbaikan pada cat mobil yang terkelupas di beberapa tempat.

Perkiraan besok sudah bisa diambil”, jawab staf itu.

“ Baiklah. Kuserahkan padamu”

Yunho lalu menuju ruangan kerjanya. Saat ini, bengkel yang dikelolanya sudah bertambah besar. Ia membuat

sebuah show room sebagai tambahannya. Ia juga membuka cabang di beberapa tempat.

Di ruang kerjanya, ia mengambil sebuah foto yang dibingkai dan diletakkan di mejanya. Ia teringat masa ketika

foto itu diambil. Saat mereka bertiga, ia, Changmin, dan Jiho, lulus kualifikasi sebagai anggota NDI divisi dua. Sungguh

saat yang sangat membahagiakan. Ia rindu saat-saat seperti itu, saat ia dan Jiho menganggu Changmin, saat mereka

berkumpul dan membicarakan hal-hal yang menarik, yang sering membuat Hyemi kesal sebab ia merasa di abaikan.

Yunho tersenyum sendiri. Tiba-tiba ia teringat peristiwa setahun yang lalu. Ia sungguh tak menyangka Jiho tega

melakukannya. Tetapi ia yakin bahwa Jiho pasti memiliki alasan. Ia sengaja tidak memberitahu Hyemi dan Changmin

sebab ia takut persahabatan mereka akan rusak. Biarlah hanya ia yang tahu..

“ Dor!” sebuah suara yang sangat ia kenal mengagetkannya dari belakang. Ia menoleh. Hyemi!

“ Hyemi annyeong!”

“ Oppa annyeong”

Hyemi tersenyum. Saat ini ia bukan lagi anggota NDI. Dua bulan setelah Yunho mengundurkan diri, ia juga ikut

mengundurkan diri.  Sejujurnya setelah Yunho tidak lagi bergabung dengan NDI, ia seolah tidak memiliki semangat lagi

ketika berada di kantor. Selain itu, ia ingin menekuni apa yang sudah dicita-citakannya sejak kecil, menjadi seorang

designer.

Hyemi lalu memperhatikan foto di tangan Yunho “ Itu tiga tahun yang lalu, kan? “ Yunho mengangguk.

“ Sudah lama sekali, ya? “

“ Coba lihat, menurutmu siapa yang paling tampan di foto ini? “, tanya Yunho. Hyemi pura-pura berpikir.

“ Ehm.. yang mana ya? Ah.. aku bingung soalnya ada dua orang yang tampan”, katanya.

“ Eh.. memangnya siapa? “

Hyemi menunjuk dua wajah, wajah Changmin dan Jiho.

“ oh”, kata Yunho singkat. Wajahnya cemberut. Hyemi tertawa

“ Jangan memasang muka seperti itu, oppa! Aku hanya bercanda kok! “,

Yunho pura-pura membuang muka.

“ Yang paling tampan itu.. ehm.. yang ini!” Hyemi mencubit pipi Yunho. Oppa nya itu lalu tersenyum.

“ Dan yang ini yang paling cantik!” ia mempererat rangkulannya. Mereka tertawa bersama

“ Oppa.. hari sabtu besok oppa ulang tahun kan?” tanya Hyemi.

“ Oya? Memangnya lusa tanggal berapa?”

Hyemi memukul bahu Yunho, “ Oppa ini bagaimana? Masa’ ulangtahun sendiri lupa! Lusa itu tanggal 6”

Yunho menepuk jidatnya, “ Oh iya! Lalu kenapa?”

Hyemi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat muka polos Yunho.

“ Bagaimana kalau kita membuat pesta kecil-kecilan di showroom oppa. Kita undang juga Jiho, Changmin, dan

Sooyeon, oppa sudah lama tidak bertemu dengan mereka kan?” usulnya

Yunho mengangguk tanda setuju

“ Idemu cemerlang sekali. Kalau begitu, besok  kau mau menemaniku menyiapkan segalanya kan?”

Hyemi mengangguk dan tersenyum.

******

Malamnya, dihari yang sama, Jiho tengah mengendarai mobilnya sendirian. Hari ini benar-benar melelahkan. Rapat,

laporan, semua kegiatan itu meluluhlantakkan seluruh persendian tubuhnya. Dan lagi semua itu harus dilakukan dalam

situasi yang tidak nyaman. Ya, hari ini sudah lewat setahun sejak kejadian itu. Hubungannya dengan Changmin menjadi

renggang. Apalagi sejak Yunho dan Hyemi mengundurkan diri, tinggal Changmin satu-satunya teman seperjuangannya.

Handphone-nya tiba-tiba bergetar. Ia merogoh saku jaketnya. Ada sebuah video message yang masuk. Dari

Jisook. Ia menghentikan mobilnya.

Oppa annyeong! Apa kabar? Oppa pasti sangat sibuk ya, sampai-sampai tidak mengunjungi aku akhir pekan

lalu. Ne oppa.. aku bosan disini. Kapan aku bisa keluar? Aku ingin bermain ice skating lagi bersama oppa.

                Jiho tersenyum melihatnya. Rasa rindu seketika menyeruak dari lubuk hatinya. Jisook,dalam video itu, kemudian

tampak berbicara dengan seorang pria di belakangnya. Tak lama kemudian, viedo itu gelap. Dan yang terdengar hanya

teriakan Jisook.

Jiho terperanjat, Mereka?! Sial!

Tak lama setelah itu, sebuah email masuk ke handphone-nya. Ia membacanya. Sedetik kemudian ia tenggelam

dalam kesibukan memecahkan kode yang diberikan leh orang itu berbekal sebuah buku yang sudah lama berada di

tangannya. Ia mencermati kode-kode itu

                Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Gila! Ini benar-benar gila! Mereka keterlaluan! Bagaimana bisa aku melakukan hal ini? Kejadian setahun yang

lalu saja masih terus membayangiku.

                Kemudian di kepalanya terputar satu persatu memori itu bersmaan dengan bayangan Jisook yang terbaring

lemah di rumah sakit dalam penyanderaan mereka. Oraganisasi itu mengaku sebagai keluarganya dan menjaga Jisook

seharian. Bahkan yang ia tahu, salah satu dokter yang rutin memeriksa adiknya itu juga merupakan anggota mereka.

Ia memukul stir mobilnya! Kali ini Jiho benar-benar dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Apa yang harus

dilakukannya?

Sial!

Kemarahan benar-benar menguasainya. Diambilnya buku itu, dan diseobeknya dengan penuh amarah. Lalu

tangan kanannya merogoh dasboard mobilnya mencari korek  api. Begitu ketemu, dinyalakannya korek itu dan ia

menyulutkan api, membakar buku itu. Tak lama kemudian, apinya padam. Karena terlalu tebal, buku itu hanya terbakar

di ujung-ujungnya saja. Jiho membiarkannya tergeletak di jok mobilnya sementara ia meneruskan perjalanannya. Dari

lembaran buku yang terbuka, masih terbaca dengan jelas kode yang telah ia pecahkan.

*****

5 Februari 2011

Hyemi merasakan seluruh tubuhnya lelah sekali. Hari ini banyak pengunjung yang datang ke gallery-nya.

Mungkin karena sudah mendekati hari valentine. Meski begitu, ia tetap semangat. Ya, setelah ini ia akan segera menuju

bengkel milik Yunho. Sore ini, mereka akan membuat cake spesial untuk ulang tahun Yunho besok. Ia yakin ini akan

sangat menyenangkan.

Handphone-nya tiba-tiba berdering saat ia baru saja duduk di bangku bus. Ia sumringah begitu melihat nomor

yang terpampang di layar handphone-nya.

“Oppa?” katanya.

“ahahaha.. kau tahu saja kalau ini aku. Hm.. kau sudah dimana sekarang? “ Tanya Yunho.

“ Aku sedang di bus, perjalanan menuju tempat Oppa. Aku juga sudah membawa semua bahan yang diperlukan”

jawabnya.

Di seberang sana, Yunho tersenyum, “Baiklah. Aku tunggu ya. Hati-hati..”

Hyemi tersenyum, “Arasseo!”

“ Jaga barangmu baik-baik. Tas mu juga. Handphone mu jangan ditaruh di.,..”

“ Arasseo..arasseo, oppa! “ potongnya sambil tersenyum. Yunho benar-benar sangat menjaganya.

“ Hm… kau selalu begitu. Ya sudah, aku tunggu. Saranghae..” katanya sebelum menutup telepon.

“ saranghae..” balas Hyemi.

Lima belas menit kemudian, ia telah sampai di bengkel milik Yunho. Sambil masuk, ia menyapa karyawan yang

bekerja di situ. Ia sudah akrab dengan mereka. Para karyawan itu pun sangat senang bila Hyemi berkunjung. Gadis itu

ramah.

“ Oppa annyeong!” sapanya. Rupanya Yunho telah menunggunya.

“ annyeong! Ayo segera kita mulai! “ balas Yunho.

“ Let’s go!”

Sore itu benar-benar terasa menyenangkan. Seluruh lelah dan penat seakan menguap hilang. Dapur Yunho

menjadi sangat kotor gara-gara tingkahnya. Dasar namja! Hyemi sampai geleng-geleng kepala. Oppa-nya itu benar-benar

tidak tahu mengenai urusan masak-memasak. Yang ia lakukan dengan benar hanyalah memecahkan telur. Mengocok

adonanpun tidak beres sehingga adonan itu malah terciprat kemana-mana dan mengotori mereka. Bahkan dengan

usilnya, Yunho mengoleskan adonan itu di pipi Hyemi.

“ Oppa.. hentikan!” katanya. Sementara itu, Yunho malah tersenyum jahil. Hyemi cemberut. Mukanya saat ini

pasti sudah tidak karuan.

“ Mianhae yo… “ kata Yunho. Tapi ia tak bisa menahan tawanya.

“ Oppa jangan tertawa!” Hyemi meukul pundak Yunho. Ia lalu dengan cepat mengambil adonan itu dan membalas

perbuatan Yunho.

“ Hyemi.. “

Kali ini giliran Hyemi yang tertawa melihat muka Yunho. Lucu sekali.

“ Sudah dong oppa.. kali ini kita seimbang. Lagi pula kalu bermain terus, kapan kuenya jadi?”

“ Ah, benar juga ya! Ayo kita teruskan. Tapi kalau kubantu dengan semangat saja bisa tidak?” tanyan Yunho usil.

Hyemi mendelik ke arahnya.

“Oppa!!”

*****

                Hari sabtu yang ditunggu pun tiba. Yunho dan Hyemi telah siap sedari tadi di ruang meeting bengkel Yunho yang

telah mereka sulap sehingga menyerupai sebuah cafe. Mereka tinggal menunggu Changmin, Sooyeon, dan Jiho. Sebentar

lagi mereka pasti datang.

Dugaan Yunho terbukti. Changmin datang tepat jam tujuh, bersama Sooyeon tentunya. Tangan kanan Sooyeon

menjinjing sebuah paperbag yang cukup besar. Sepertinya itu adalah hadiah untuk Yunho.

“ Ini oppa. Hadiah dari Changmin oppa dan aku” kata sooyeon sambil menyerahkan paperbag  itu kepada Yunho.

“ Gomawo yo.. ku buka ya..”

Yunho lalu membuka kado itu perlahan. “ waw..” gumamnya saat kado itu telah terbuka. Hyemi yang duduk di

sebelahnyapun ikut terkejut.

“ Bagus sekali!” kata Hyemi.

Kado itu, sepasang hoodie berwarna merah , sangat cocok buat Hyemi dan Yunho.

“ Terima kasih. Wah.. Yunho oppa yang ulang tahun, tapi aku juga dapat hadiahnya.. “ kata Hyemi.

“ Itu semua ide Changmin oppa. Katanya, supaya kalian segera menikah” jawab Sooyeon. Mendengar itu,

Changmin cepat-cepat menyenggolnya.

“ Sstt! Kenapa kau bilang?” Changmin menempelkan telunjuk di bibirnya. Sooyeon cepat-cepat mendekap

mulutnya.

“ Changmin ah..” seru Hyemi dan Yunho bersamaan. Changmin hanya tersenyum jahil sambil mengangkat bahu.

“ Jiho oppa tidak datang?” tanya Sooyeon.

Deg! Changmin terpaku. Dia…

“ sepertinya dia terlambat. Tadi dia bilang mau menemui adiknya dulu” jawab Yunho.

“ Ya sudah, ayo kita mulai acaranya. Nanti juga dia datang,” lanjutnya.

Mereka lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Yunho. Setelah itu, Yunho mengajak mereka menikmati

hidangan yang telah dipersiapkan olehnya dan Hyemi.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, Jiho tengah memperhatikan dari luar. Hatinya bergejolak. Tenggat

pelaksanaan perintah itu adalah hari ini, pukul 12 malam. Jika tidak, adiknya akan.. Ah! Ia meraba sebuah benda yang ia

selipkan di kantong belakang celananya. Kemudian ia menghela napas, dan masuk ke dalam.

“ annyeong!” sapanya sambil membuka pintu. Semua yang di dalam menoleh.

“ Jiho!” seru Yunho yang langsung merangkulnya. Jiho membalasnya sambil tak lupa menyerahkan bingkisan

yang telah disiapkannya.

Raut wajah Changmin langsung berubah. Tapi tidak ada yang memperhatikannya.

*****

                “ Hyung, aku duluan ya! Ada panggilan mendadak,” kata Changmin.

“ Ah.. iya tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang,”

Changmin tersenyum, “ ayo Sooyeon!”

Hyemi buru-buru mencegahnya,”Sooyeon biar disini bersamaku. Yunho oppa akan mengantarku pulang,

Sooyeon ikut saja dengan kami. Arah rumahnya searah dengan rumahku,”

Sooyeon menatap Changmin, meminta persetujuan. Ia memang ingin tinggal lebih lama.

“ apa tidak akan merepotkan kalian? Mungkin kalian ingin menghabiskan waktu  berdua..” kata Changmin.

“ ah, kau ini bicara apa? Tentu saja tidak. Lagi pula aku sudah lama tidak bertemu Sooyeon.. ya kan?” sanggah

Hyemi sambil melirik ke arah Sooyeon yang membalasnya dengan senyum.

“ Baiklah kalau begitu” kata Changmin akhirnya. Ia memakai mantelnya dan bersiap keluar.

“ Hyung, sepertinya akan kesepian..” katanya pada Yunho sambil menunjuk Hyemi dan sooyeon yang sedang

asyik mengobrol. Yunho hanya mengangkat bahu.

“ Jiho.. kau tidak ikut?” tanya Changmin. Jiho terperanjat.

“ Tentu saja ikut. Ya.. aku juga harus segera pergi. Permisi,” ia lalu segera keluar dan menuju mobilnya.

“ Hati-hati ya, oppa” kata Sooyeon saat mengantar Changmin keluar.

“ Kau juga. Nanti kalau sudah sampai rumah, hubungi aku ya! Ingat, jangan keluar rumah diatas jam 9,” pesannya

sambil men-starter mobilnya.

Sooyeon tersenyum dan mengangguk, “ arasseo!” namun wajahnya mengatakan lain.

“ Wae?” tanya Changmin. Sooyeon tersentak.

“ Ani..” jawabnya sambil menunduk. Hatinya tiba-tiba diliputi oerasaan tidak enak.

“ Jangan menatapku dengan wajah seperti itu, aku akan baik-baik saja” Changmin berusaha menenangkannya.

Sooyeon hanya mengangguk.

“ Aku akan segera menyelesaikan tugas ini malam ini juga. Besok aku janji akan mengajakmu jalan-jalan

kemanapun yang kau mau. “ katanya lagi. Sooyeon menatap matanya lalu mengangguk.

Changmin tersenyum, “ Aigoo.. sejak kapan my little princess jadi cengeng seperti ini? “

“ Aku kan.. memang cengeng” kata Sooyeon sekenanya. Hatinya masih belum tenang.

“ Hei.. selama aku mengenalmu, aku belum pernah melihatmu menangis. Aku tidak mau kau menangis di depanku

untuk yang pertama kalinya gara-gara aku,”

“ Arasseo..” dipaksanya untuk tersenyum. Changmin juga tersenyum.

“ Aku pergi ya…” Changmin melambaikan tangannya dan segera meninggalkan bengkel Yunho.

Sooyeon membalasnya.

Oppa…

Pandangannya tiba-tiba tertuju pada Jiho yang tengah masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu teringat raut wajah

Changmin yang berbuah saat ia menanyakan kabar Jiho kepada Changmin.

Apa sebenarnya hubungan mereka tidak baik?

                 Ia mulai menerka-nerka.

“ Sooyeon?” seseorang memanggilnya dan menepuk pundaknya. Ia menoleh. “ Sedang apa kau di luar? Ayo

masuk,”

“ Hyemi eonnie? Ah iya ya..” mereka lalu masuk ke dalam.

Sementara itu, Jiho men-starter mobilnya. Tetapi hasilnya sama saja. Berkali-kali ia sudah melakukannya, namun

mesin mobilnya tidak juga menyala. Pasti ada yang rusak. Ia lalu teringat, sudah dua bulan ia tidak melakukan servis

berkala untuk mobilnya itu.

“ ada apa Jiho?” tanya Yunho yang berjalan ke arahnya. Jiho keluar.

“ Mobilku tiba-tiba macet. Apa boleh kutinggal di sini dulu? “ jawabnya.

“ silakan, biar nanti kuperbaiki. Kau pakai mobilku saja, nanti kau terlambat,” kata Yunho.

“ Terima kasih,” Jiho lalu mengambil mantel yang di taruhnya di jok depan. Pandangannya tertuju pada buku itu

yang berada di samping mantelnya. Ia terdiam sejenak. Lalu diputuskannya untuk meninggalkan buku itu di situ,

berharap Yunho menemukannya.

Mungkin ini bisa membantuku untuk mencegah rencana mereka..

                “Ini kuncinya” Yunho melemparkan sebuah kunci ke arahnya.

“ Terima kasih. Aku pergi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s