[Fanfic] Choice (2/4)

*****

13 Maret 2010

Yunho duduk diam sembari menahan amarahnya. Pria yang duduk dihadapannya saat ini adalah salah satu pemimpin organisasi teroris yang ditangkap saat penyerbuan tadi. Sudah sejak dua jam yang lalu ia menginterogasinya. Namun pria itu tetap bungkam. Yunho hampir saja kehilangan kesabarannya.

Sementara itu, dari ruangan lain, Changmin, Hyemi, dan Jiho melihat proses interogasi dari monitor yang tersambung dengan kamera pengintai di ruangan interogasi.

“ Orang itu sepertinya benar-benar tidak ingin mengatakan sesuatu”, gumam Hyemi.

“ Apa mungkin dia diancam? “ Tanya Changmin.

“ Mungkin saja”

Pada akhirnya Yunho benar-benar tidak bisa menahan amarahnya. Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri pria itu.

“ Sekali lagi aku bertanya, siapa yang menjadi pemimpinmu? “ tanyanya. Pria itu tetap diam. Dihadapannya telah berjejer beberapa foto orang yang dicurigai terlibat dalam organisasi teroris itu.

“ Jawab!!!” kali ini Yunho berteriak sambil memukul meja, tepat disamping pria itu.

Pria itu akhirnya mengulurkan tangannya dan menunjuk sebuah foto seorang pria berjenggot.

“ Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Aku meminta kalian untuk mengawasiku 7 kali 24 jam sebagai imbalannya, sebab dia akan membunuhku jika aku memberitahu hal ini kepada kalian” kata pria itu.

“ Baik, akan kami lakukan” jawab Yunho.

Setelah melihatnya, Changmin dan Hyemi membuka kembali file kasus teroris yang pernah terjadi. Mereka akan melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai pemimpin organisasi itu.

*****

Sementara NDI tengah sibuk melakukan penyelidikan, disuatu tempat pemimpin organisasi itu sedang bertemu dengan seseorang. Ia tersenyum licik kepada orang itu.Ia lalu menyerahkan sebuah buku dan koper kepada orang itu.

“ Ambil itu dan tunggu perintah selanjutnya. Jika kau melakukannya dengan benar, aku akan menepati janjiku. “

Orang itu lalu keluar dari ruangan tersebut sambil membawa koper dan buku tadi.

“ NDI tidak akan pernah menang melawanku!” gumamnya sambil tertawa pelan.

*****

Sekembalinya ke ruangannya, Jiho hanya duduk sambil melamun. Ia menggenggam handphonenya erat, seakan tak mau ada orag lain yang melihatnya.

Apakah pilihanku ini benar? Batinnya berkata.

Apakah mengorbankan orang lain demi keselamatan Jisook adalah tindakan yang tepat? Tetapi apa ada orang lain peduli dengan Jisook? Aku.. akan kulakukan apapun demi dia..

Handphone-nya tiba-tiba bergetar. Ia tersentak. Percakapan hatinya terhenti. Rupanya ada sebuah email yang masuk. Cepat-cepat dibukanya.

Dari dia!

Jiho segera mengambil selembar kertas dan menyalin isi email itu dengan cepat. Kemudian buru-buru dihapusnya email itu dari HP-nya. Ia membuka sebuah buku dan melingkari beberapa kata sesuai petunjuk yang dikirimkan lewat email tadi.

Kill witness…

*****

14 Maret 2010

Divisi dua saat ini tengah mempersiapkan pemindahan saksi terkait organisasi teroris itu ke tempat pengisolasian. Mereka mempersiapkan pengawalan super ketat. Dan dipastikan, organisasi itu tidak mengetahui rencana ini. Sebelumnya, divisi dua telah mendapatkan kabar bahwa pada hari itu organisasi tersebut akan menyerbu markas besar NDI untuk melenyapkan saksi yang ditahan tersebut. Untuk mengantisipasinya, maka disiapkanlah rencana ini.

Yunho, Hyemi, dan Changmin bersiap-siap. Mereka akan turut serta dalam pemindahan saksi itu. Sebagai antisipasi akan adanya serangan tiba-tiba, mereka memakai rompi anti peluru untuk melindungi jantung dan paru-paru mereka dari tembakan. Tentu saja Handgun merupakan peralatan yang tidak boleh ditinggalkan.

“ Mana Jiho?” tanya Changmin saat mereka tengah selesai berganti pakaian.

“ Entahlah. Mungkin dia sudah keluar”, jawab Yunho.

` Mereka kemudian bertemu dengan Hyemi dan bersama-sama berjalan menuju pintu keluar. Didepan mereka, saksi tersebut digiring dengan tangan terborgol dan dikawal oleh dua orang.

“ Hey, Jiho!” sapa Yunho.

Jiho yang saat itu tengah bersandar pada tembok itu terkejut.

“ Hai..” sapanya.

“ sedang apa kau disini? Tidak ikut ? “ tanya Hyemi. Jiho menggeleng.

“ Ani.. ah, aku minta maaf. Tadi aku baru saja ditelpon pihak rumah sakit. Mereka bilang saat ini kondisi adikku sedang menurun. Aku akan menemuinya sekarang. Maaf tidak bisa ikut serta dalam misi kali ini”, jawabnya.

“ Gwencana! Semoga adikmu cepat sembuh, ya!” kata Yunho.

“ Kami duluan”

Mereka kemudian berlalu, meninggalkan Jiho yang tengah berdebat dengan nuraninya.

Maafkan aku teman-teman…

Jiho lalu mengganti pakaiannya dengan jaket anti peluru berwarna hitam dan topi. Ia lalu menuju gedung laboratorium milik NDI yang terletak di samping markas utama. Ia mengambil sebuah senapan jarak jauh yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Ia berjalan ke atap laboratorium itu dimana ia dapat melihat dengan jelas ketika teman-temannya membawa saksi itu keluar dari gedung. Ia meletakkan senapan itu diatas penyangganya. Tak lama kemudian, ia melihat saksi itu keluar dengan pengawalan lima orang dari divisi dua. Ia menatap langit biru. Hatinya kembali bergejolak. Ia memejamkan matanya.

Semoga ini pilihan yang tepat..

Ia mengarahkan senapannya ke arah divisi dua yang tengah menuju mobil khusus NDI. Ia menarik pelatuk senapannya. Tembakan pertama mengenai kaca gedung NDI. Para anggota yang tengah lewat itu sontak terkejut mereka lantas mengelilingi saksi itu untuk melindunginya.

“ Jangan sampai lengah!” Yunho memberi instruksi.

“ Kenapa mereka bisa tahu? “ gumam Hyemi. Matanya terus mengawasi sekelilingnya.

“ entahlah. Tetaplah bersiaga”, jawab Changmin

Jiho melepaskan tembakannya yang kedua. Sebagai salah satu sniper andalan NDI, ia tak mungkin meleset. Ia harus menembak salah satu dari mereka. Tembakannya mengenai kaki kanan Yunho. Temannya itu terjatuh. Keempat lainnya mulai panik.

“ Yunho!” Hyemi mendekatinya.

“ Panggil bantuan!” seru Changmin. Ia kemudian berdiri di depan saksi itu.

Jiho merasakan matanya panas. Air mata sudah menggantung di pelupuk matanya. Ia baru saja menembak Yunho, sahabatnya. Teman seangkatannya saat mengikuti training untuk menjadi anggota NDI. Teman seperjuangannya. Dan ia baru saja menembaknya. Ia mengkhianatinya. Tetapi sungguh, ia tak ingin melakukannya. Hatinya memberontak. Namun saat ini ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Berkhianat atau ia tak akan pernah bertemu dengan adiknya lagi.

Ia tak punya pilihan selain menyelesaikannya. Ia kembali mengarahkan senapannya. Kali ini benar-benar sulit, sebab Changmin berada di depan saksi itu untuk melindunginya. Salah menembak, Changmin yang akan terkena pelurunya. Ia menggeser sedikit senapannya. Sambil menahan napas, ia menarik pelatuknya.

Semoga bukan Changmin

Tembakannya yang ketiga ini tepat sasaran. Pria itu roboh seketika begitu peluru mengenai janungnya. Suasana bertambah kacau. Tim bantuan telah datang. Mereka segera memberikan pertolongan kepada Yunho dan saksi itu. Changmin mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok pria yang tengah berdiri di atap laboratorium. Ia mengejarnya.

Jiho telah meninggalkan tempat itu sebelum Changmin tiba di atap. Sesampainya di sana, Changmin tidak menemukan siapa-siapa. Ia berdiri di tempat dimana pria yang dilihatnya tadi berdiri.

Orang tadi bukan orang sembarangan. Pasti seorang sniper handal. Tidak mungkin ia bisa menembak saksi itu dari sudut ini mengingat aku ada di depannya.

*****

Lorong rumah sakit terasa begitu sunyi. Ia seolah tak mendengar apapun, tak memikirkan apapun. Saat ini yang ada di kepalanya hanyalah Yunho, yang sedang menjalani operasi akibat terkena tembakan pagi tadi. Ia duduk dengan gelisah. Sebentar-sebentar, diliriknya pintu ruangan dimana operasi itu tengah berlangsung.

Tolong selamatkan oppa.

Hyemi berdiri. Berjalan beberapa langkah, kemudian duduk kembali. Ia benar-benar gelisah. Peluru yang bersarang di kaki kanan Yunho cukup dalam. Oppanya itu pun mengalami pendarahan yang cukup serius. Dalam hati ia terus berdoa. Semoga Yunho baik-baik saja.

Pintu ruang operasi itu akhirnya terbuka. Ia cepat-cepat berdiri.

“ Oppa” serunya sambil menghampiri Yunho yang tengah terbaring lemah.

“ Gwencana yo” balas Yunho sambil tersenyum.

“ Syukurlah” Hyemi mengucapkannya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sedetik kemudian, air mata mulai jatuh satu persatu. Ia terisak pelan di sebelah Yunho.

******

“ Annyeong! “ seru Sooyeon sambil melambaikan tangan sebelum berpisah dengan temannya. Ia melangkah dengan senyum yang merekah menuju halte bus.

Oppa pasti sudah menunggu!

Bus yang ditunggunya pun datang. Dalam waktu tiga puluh menit, ia akan tiba di tempat yang ditujunya. Ia duduk sambil mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Tangannya menenteng sebuah tas kecil berisi bekal yang sengaja dibuatnya untuk Changmin. Hatinya berdebar-debar sembari menebak apa reaksi Changmin.

Akhirnya bus tiba di sebuah halte bus dekat taman. Sooyeon segera turun dan menuju ke air mancur tempat dimana mereka janjian. Dari kejauhan, terlihat Changmin telah menunggunya. Ia tersenyum.

“ Oppa!! “ serunya sambil setengah berlari menghampiri Changmin.

“ Annyeong! “ balas Changmin sambil tak lupa tersenyum.

Mereka kemudian duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon.

` “ Ini” Sooyeon mengulurkan tas berisi bekal yang sedari tadi ditentengnya.

“ Gomawo yo! “ katanya sambil mengelus kepala Sooyeon lembut. Gadis itu tersenyum.

Mereka lalu menikmati makan siang berdua, karena Sooyeon juga tak lupa membawa satu bekal lagi untuknya. Sambil makan, diperhatikannya raut wajah Changmin yang tampak berbeda dari biasanya.

“ Wae oppa? “ tanyanya. Changmin menoleh.

“ Mwo? “ ia bertanya balik sambil memasukkan tempat bekal yang telah kosong itu ke dalam tas.

“ Hari ini oppa tidak seperti biasanya. Ada apa? Oppa punya masalah? “

Changmin terdiam. Ia lalu menggeleng pelan.

“ Tidak. Aku tidak apa-apa kok! “ katanya kemudian. Sooyeon menatapnya.

“ Oppa bohong! Aku tahu kalau oppa menyimpan sesuatu. Ne oppa, ceritakanlah padaku. “

Changmin menghela napas. Ia lalu menatap Sooyeon dalam-dalam.

“ Aku gagal”, ucapnya kemudian. Sooyeon tersentak.

“ Aku gagal melindungi saksi itu. Ketika kami hendak membawanya ke ruangan isolasi, entah dari mana datangnya, ada seorang sniper yang menembaki kami. Saksi itu tertembak dan meninggal” cerita itu mengalir dari bibirnya disertai dengan rasa sesal yang menumpuk.

“ Oppa baik-baik saja? “ tanya Sooyeon cemas. Changmin mengangguk sambil tersenyum tipis.

“ Tapi.. Yunho hyung terluka. Sniper itu menembak kakinya. Saat ini ia sedang berada di rumah sakit bersama Hyemi. “

Sooyeon terdiam.

“ Aku merasa gagal. Seandainya aku bisa melindungi saksi itu, saat ini kami pasti sudah bisa menangkap pemimpin organisasi itu. Aku benar-benar payah. Dan lagi temanku harus terluka. Cih!” ia memukul bangku taman itu.

“ Ne oppa” kata Sooyeon setelah mereka terdiam agak lama.

“ Aku mengerti perasaan oppa. Seandainya aku ada di posisi oppa, aku juga pasti akan sangat menyesal seperti itu. “

Ia berhenti sejenak dan menatap Changmin.

“ Melakukan kesalahan itu bukan sebuah hal buruk. Karena dengan kesalahan itu maka kita bisa mengetahui apa kebenaran itu sesungguhnya. Orang tidak akan melihat berapa kali kita gagal. Tetapi orang akan melihat berapa kali kita bisa bangkit dari kegagalan itu. “

“ Aku yakin oppa pasti bisa!” tambahnya sambil menepuk pundak Changmin.

Changmin tertawa mendengarnya.

“ Fighting! “ katanya kemudian.

“ Bagaimana kalau kita menjenguk Yunho oppa?” usul Sooyeon.

“ Hmm.. ide bagus! Nanti akan kujemput setelah pekerjaanku selesai” Sooyeon mengangguk.

*****

“ Annyeong!” sapa Changmin saat membuka pintu kamar dimana Yunho dirawat. Hyemi dan Yunho yang berada di dalam, menoleh dan tersenyum

“ Annyeong! “ balas mereka bersamaan.

Changmin tidak langsung duduk, ia malah tetap berdiri di pintu kamar yang terbuka.

“ Hari ini aku ingin memperkenalkan seseorang kepada kalian”, katanya. Ia lalu menyebutkan nama seseorang.

Sooyeon lantas menampakkan diri ke hadapan Yunho dan Hyemi.

“ Ini Sooyeon”, katanya setelah menutup pintu.

“ Dia.. pacarku” muka Changmin memerah saat menyebutkan kata itu. Hyemi dan Yunho tertawa melihatnya. Sooyeon hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum.

“ annyeong hasseo. Han Sooyeon himnida” Ia membungkuk hormat.

Hyemi lalu mengajak mereka untuk duduk. Sooyeon menyerahkan sekeranjang buah kepadanya.

“ Ternyata dia yang kau maksud? “ tanya Yunho. Changmin hanya tersenyum.

“ Kenapa kau tidak memberitahu sejak awal? Aku kan bisa berteman dengannya. Kapan-kapan kita pergi ke Myungdong bersama ya, Sooyeon?” kata Hyemi.

Sooyeon mengangguk sambil tersenyum.

“ Kapan kalian jadi?” tanya Yunho lagi.

“ Tanggal 10 kemarin” jawab Changmin.

“ wah, tanggal yang bagus ya! Sama dengan tanggal jadi kami. Kapan-kapan kita merayakannya bersama, ya? Double date!”

Yunho lalu mengedipkan matanya kearah Changmin.

“ Hyung!”

Hyemi dan Yunho tertawa. Muka Changmin memerah.

“ Kau tampak lucu sekali bila mukamu memerah karena malu” kata Hyemi. Mereka tertawa.

Changmin lantas melirik Sooyeon yang sedang tertunduk. Ia lalu ikut menunduk.

Sepertinya hingga sejauh ini tidak apa-apa

“ Lalu bagaimana keadaanmu, Hyung?” tanya Changmin kemudian.

“ gwenchana” jawabnya singkat

*****

Changmin dan Sooyeon berjalan beriringan di lorong rumah sakit. Masing-masing terdiam dengan pikiran yang berbeda. Changmin masih penasaran dengan sniper bertopi hitam itu.

“ Oppa kenapa? “ tanya sooyeon.

Changmin tersentak. “ Ani. Ah, tidak apa-apa kau terus membawakan makanan untukku? Apa tidak capek bolak-balik dari taman ke tempat kerjamu? “ ia mengalihkan pembicaraan.

“ Lain kali tidak usah repot-repot” katanya lagi. Sooyeon menatapnya.

“ Bu.. bukan berarti aku tidak suka. Aku hanya..” Changmin buru-buru menjelaskan nya.

Sooyeon tersenyum “ Arasseo!” Jawabnya sambil mengangkat tangannya memberi hormat layaknya anggota militer. Changmin tertawa melihat tingkahnya.

“ Sekali-kali aku akan menjemputmu untuk makan siang bersama”

“ Benarkah? Senangnya..” ia tersenyum “ Tapi oppa tidak boleh mengesampingkan tugas gara-gara aku ya! “ katanya lagi

“ Tentu saja! Aku kan, profesional. Kau juga jangan sampai tidak konsentrasi mengajar gara-gara melamunkan aku, ya!” balasnya. Sooyeon mengelak.

“ Ani a”

Mereka lalu menuju tempat parkiran mobil. Changmin mengantar Sooyeon pulang. Masih sore memang, tapi entah kenapa hatinya tidak tenang kalau tidak memastikan dengan mata kepalanya sendiri Sooyeon selamat sampai ke rumah. Ia selalu mengkhawatirkan satu hal: keselamatan Sooyeon. Pikiran-pikiran buruk sering sekali menghantuinya. Ia takut musuh-musuh NDI akan mengincar keselamatan Sooyeon karena ia dekat dengannya.

Sementara itu, sepanjang perjalanan Sooyeon tengah berdialog dengan hatinya. Entah mengapa terlintas dikepalanya bahwa Changmin sedang berada dalam bahaya. Bisa saja orang yang menembak Yunho itu kembali mengincar Changmin. Ia menatap oppa-nya yang tengah serius menyetir itu. Ia takut. Takut sekali kehilangan Changmin.

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di sebuah rumah.

“ Gomawo yo, oppa! “ kata Sooyeon.

Changmin tersenyum, “ Sudahlah, tidak usah mengucapkan kata itu terus. Aku seperti orang lain saja”, Sooyeon tertawa. Ia membuka pintu mobil . Kaki kanannya sudah melangkah keluar, namun ia berbalik lagi. Ia menatap Changmin yang kini tengah menatapnya juga. Perasaan takut itu kembali muncul.

“ Wae ?” pertanyaan Changmin menyadarkannya.

“ Ani a. Ah.. oppa hati-hati di jalan. Jangan mengebut”, pesannya sebelum turun

“ Gwencana yo”, kata-kata itu, seolah Changmin bisa membaca pikirannya, kembali membuat gerakannya terhenti. Sooyeon lalu menangguk dan turun.

Changmin membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya setelah memastikan Sooyeon berada di depan pintu rumahnya. Ia tahu apa yang ada dipikiran gadis itu tadi. Ia bisa membaca ketakutan yang terpancar di wajahnya. Ia tahu Sooyeon mencemaskan dirinya, takut ia juga akan menjadi sasaran organisasi itu selanjutnya. Tapi inilah pekerjaannya. Inilah pilihannya.

Apa harus berhenti sampai disini? Rasanya aku telah membebaninya..

I wondered if you might just fly away from my side
I couldn’t even rest for a day or breathe a sigh of relief
I didn’t know at all that these dumb obsessions of mine would hurt you

To Be Continued…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s