[Fanfic] All My Heart Part 1

Annyeong haseyo, ini adalah fanfic keduaku…. ^^

Walaupun yg satunya belum selesai aku udah ngeluarin fanfic kedua, berharap fanfic kali ini bisa kalian sukai yah!! Tentu aku bakalan tetap ngelanjutin fanfic yang pertama dan juga yang kedua…

Fanfic ini menceritakan tentang 12 + 1 idolku…. I hope you enjoy read this😀

“Argh, Oppa liat saja istirahat nanti aku akan memberikan pelajaran kepadamu.” Kata gadis yang baru saja dimarahi oleh penjaga sekolah, ”Tapi untunglah karena hari pertamaku di sekolah ini, penjaga sekolah ini tidak menghukumku dan memakluminya,” dengusnya, kemudian dia melihat jam yang ada di tangannya wah ini sudah lewat 15 menit, seharusnya aku sudah di kelas baruku.

Hyunchan sangat kesal karena hari ini kakaknya pergi ke sekolah tanpa menunggu Hyunchan terlebih dahulu, padahal ini hari pertamanya di ChungDam High School jadi dia terpaksa harus pergi ke sekolah naik kereta dan dia bahkan salah naik kereta dan kembali lagi jadi harus kena marah karena terlambat sampai ke sekolah, ini hari pertamanya dia masuk ke sekolah barunya setelah pindah dari Indonesia. Hyunchan dan kakanya tinggal berpisah di Korea dan Indonesia tapi mereka tetap akrab, saking akrabnya setelah pindah ke Korea Hyunchan dan kakanya kadang-kadang seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur.

“Annyeong haseyo! Mianhae aku terlambat!”

“Oh, kau murid baru itu yah?” tanya seorang wanita yang berada dalam ruang kelas tersebut. “Hari pertamamu saja kau sudah terlambat. Bagaimana sih!”

“I’m Sorry, saya benar-benar menyesal,” jawab gadis yang dari tadi menunggu dipersilahkan masuk.

“Ok, untuk kali ini kau ku maafkan masuklah dan perkenalkan dirimu!”

“Hallo, oh….oh… Annyeong haseyo… Choi Hyunchan imnida. Saya orang Korea tapi selama lima tahun terakhir saya pindah ke Indonesia karena ikut orang tuaku ke sana, jadi maaf kalau bicaraku agak berantakan, jadi mohon bantuannya,”

“Ok, Choi Hyunchan duduklah di sebelah sana karena pelajaran akan dilanjutkan!”

“Baik, Seosangnim!” jawab Hyunchan sambil berjalan ke arah kursi yang ditunjuk guru barunya.

“Oh, iya Hyunchan. Aku adalah wali kelasmu perkenalkan aku Miss. Jung Hyuna,” kata gurunya tadi sambil tersenyum ramah.

Hyunchan berbalik ketika dipanggil oleh gurunya tadi dan berkata,”Gansahamnida, Miss Jung,” sambil membalas senyumannya dan kembali berjalan ke tempat duduknya.

“annyeong haseyo, Han Eunmin imnida,” kata seorang gadis yang duduk disebelahnya.

“Annyeong, Hyunchan imnida,” jawabnya.

Hari pertamanya berjalan tidak begitu bagus pada awalnya, tapi semakin lama semakin membaik, Hyunchan mendapatkan wali kelas yang ramah dan teman sebangku yang ramah pula yang mau menjadikannya teman.

* * * * *

Bell sudah berbunyi menandakan waktu istirahat tiba.

“Hyunchan-sshi, apa kamu mau ikut ke kantin untuk makan?” tanya Eunmin teman sebangku Hyunchan.

“Sorry, aku punya urusan lain yang harus kuselesaikan kau duluan saja! Jawab Hyunchan,”Kalau sempat aku akan menyusulmu ke sana.”

Hyunchan keluar dari kelasnya dan berjalan menyusuri koridor sekolahnya, entah apa yang dicarinya, dia berjalan seperti orang yang sangat marah dan ingin menyergap mangsanya.

“Awas kau, Oppa! Kalau aku menemukanmu habis kau!” katanya sambil tetap berjalan dengan sedikit terburu-buru. Orang-orang yang melihatnya merasa heran.

“Aww, aduh sakit. Kalau jalan liat-liat dong kau menabrakku.” Kata Hyunchan yang emosi ketika tiba-tiba tertabrak oleh seorang laki-laki.

“Mianhaeyo, aku buru-buru, aku dikejar orang,” jawab laki-laki itu dengan nafas sedikit terengah-engah.

“Hei, kemari kau! Kau pikir kau hebat karena kau seorang selebriti? Kata seseorang laki-laki lagi yang sekarang datang berkelompok,”Dasar anak sombong, kau saja tidak lebih tinggi dariku, dan aku lebih tampan darimu.”

Hyunchan yang tadinya tidak melihat laki-laki yang baru datang itu masih sibuk memandangi laki-laki yang menabraknya tadi. Mendengar suara dari laki-laki selanjutnya, dia tersenyum dan berbalik.

“Hyun….Hyun….Hyunchan, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya laki-laki yang mengejar tadi.

“Oppa, memangnya kenapa? ini sekolah baruku dan kau tahu di hari pertamaku aku sudah cukup sial aku harus berjalan menuju terminal dan menaiki kereta yang salah dan harus kembali lagi, juga aku harus terlambat dan dimarahi oleh guru, untung saja gurunya baik dan memberi kesempatan kepadaku,” kata Hyunchan sambil tersenyum seakan-akan sudah mendapatkan mangsanya,”Dan kau tahu itu semua karena apa? Oh, bukan, lebih tepatnya karena siapa.”

“Hyunchan-ah, mianhae. Oppa lupa kalau kau sudah mulai sekolah hari ini, Mianhae Hyunchan-ah dongsaengku tersayang,” kata laki-laki itu yang tidak lain adalah oppa Hyunchan yang bernama Minhwan, yang sepertinya ketakutan melihat adiknya yang sangat marah.

Tapi sudah terlambat, Hyunchan sudah menjewer telinga oppanya itu, sambil berkata,”Aku tidak akan memaafkanmu, kau harus membayar kesalahanmu, “Dan, Oppa. Apa yang kau lakukan? Apakah ini pekerjaanmu setiap hari disekolah, menindas orang?” tanya Hyunchan lagi sambil masih menjewer telinga oppanya.

Teman-teman oppa Hyunchan tersenyum geli melihat Bos mereka jadi lemah dihadapan adiknya. “Minhwan-sshi, kau payah di depan gadis ini kau tidak ada apa-apanya, memangnya dia siapa, pacarmu? Aku baru melihatnya?” tanya salah satu teman Minhwan yang bernama Soohyun.

“Diam kau, ini urusanku sama dia, dan aku ini bukan pacarnya, siapa juga yang mau jadi pacarnya.” Kata Hyunchan sambil memicingkan matanya kepada teman-teman oppanya itu.

“Sudahlah diam, dia ini adikku yang baru kembali dari Indonesia dan akan menetap di sini. Dan Hyunchan, kau sudah mempermalukanku di depan teman-temanku, dan kalau pun kau bukan adikku, aku juga tidak mau jadi pacarmu,”lanjutnya tapi dengan nada sedikit pelan di telinga dongsaengnya, hingga tidak ada yang dengar.

Mendengar perkataan Oppanya, Hyunchan mengencangkan jewerannya sehingga oppanya kesakitan.

“Hyunchan-ah…. sudah-sudah… yah aku mengaku salah, maafkan aku yah,” kata Minhwan dengan muka memelas. Tapi sebelum Hyunchan menjawab, bell sudah berbunyi.

* * * * *

“Hyunchan-ah, kamu kemana tadi?”

“Eunmin, aku lupa aku belum cerita padamu yah, aku tadi habis menemui oppaku!” jawab Hyunchan.

“Jadi kau punya oppa di sini?” tanya Eunmin lebih ingin tahu.

“Iya.”

“Siapa namanya dan kelas berapa?”

“Namanya Choi Minhwan, dia Kelas III A.” Jawab Hyunchan.

“Oh, benarkah? Kau adik dari Minhwan Oppa kapten team basket ChungDam High School sekaligus pemain drum ChungDam Island?” tanya Eunmin lagi semakin ingin tahu.

“Kapten basket? Pemain drum? Aku tidak tahu kalau Oppaku itu ikut team basket,” kata Hyunchan keheranan, “apalagi jadi Kapten basket, aku baru tahu sekarang, memang sih dia suka main basket sejak kecil. Dan drum? Aku tidak tahu kalau dia bisa main drum.”

“Omona…. Minhwan oppa itu keren banget, para gadis di sini mengejar-ngejarnya,” kata Eunmin. “Dia itu orang kedua di ChungDam High School yang dikejar-kejar setelah Taemin oppa, tapi karena Taemin itu sama sekali tidak mau berbicara pada kami, jadi banyak juga yang mundur dan beralih ke sang Kapten Basket.”

“Maksudmu Taemin SHINee boyband yang terkenal itu?” tanya Hyunchan dengan sedikit kaget.

“Iya, dia sekelas dengan kakakmu, kau tidak tahu?” tanya Eunmin,”sebenarnya kau ini saudara Minhwan oppa atau bukan sih?”

“Tentu saja, namaku Choi Hyunchan dan oppaku Choi Minhwan. Kami ini 100% saudara kandung.”

“Wah senang sekali aku bisa berteman dengan adik Minhwan oppa,” kata Eunmin kemudian berfikir sejenak,”Tapi sayang dia sudah milik orang lain.”

“Maksudmu? Milik orang lain bagaimana?” tanya Hyunchan kebingungan dengan perkataan Eunmin.

“Jadi kau tidak tahu kalau oppamu itu sudah punya pacar! Pacar oppa itu dari HyungSeo High School, namanya Park Yoonseo, dia itu seorang model,” kata Eunmin menjelaskan sambil menatap heran pada Hyunchan,”Aku semakin bingung, kau ini adiknya atau bukan sih?”

“Aku bersumpah, aku ini adiknya. Aku memang tinggal jauh darinya dan baru ke Korea kemarin dan kami memang hanya sesekali bertemu, tapi kami sangat akrab dan sering berkomunikasi lewat telepon atau internet.”

“Sebenarnya bagaimana sih hubungan kalian?” tanya Eunmin penasaran.

“Lima tahun yang lalu, appaku dipindah tugaskan ke Indonesia, jadi aku ikut ke sana. Tapi Minhwan oppa memilih melanjutkan sekolah karena tanggung satu setengah tahun lagi lulus SMP dan kebetulan kami punya banyak keluarga di sini, jadi oppa tinggal di rumah haramoni. Setelah lulus dia memutuskan tetap di Korea dan melanjutkan sekolah di ChungDam High School.” Jelas Hyunchan,” dan kali ini orang tuaku dipindah tugaskan lagi ke Korea, jadi aku harus sekolah di sini.”

“Oh, begitu yah!” kata Eunmin mengerti.

“Aku senang sekali, di hari pertamaku aku sudah mendapat teman sebaikmu,” kata Hyunchan sambil tersenyum,”terima kasih Eunmin.”

“Oh, aku juga masih punya teman-teman lain. Mereka di kelas II A dan II D,” kata Eunmin,”Di kelas II A ada  Ahn Sora dan Kim HeeHyun, dan di II D ada Lee Chanjung dan Park Daeeun, kau mau aku perkenalkan?”

“ Tentu saja, aku pasti senang karena akan mempunyai banyak teman,” kata Hyunchan sambil tersenyum.

“Nanti aku akan perkenalkan mereka setelah pulang sekolah.”

* * * * *

Shining star, like a little diamond, make me love naege pyungrogateun, dalkoman missorona barabomyeon sonsegeto, hangsang hamge halgora, till the end of time, dering hp Hyunchan,”Yobeoseyo,” jawab Hyunchan.

“Yobeoseyo, Hyunchan-ah mianhaeyo aku tidak bisa mengantarmu pulang, minhae Hynchan-ah!” kata seseorang di seberang sana.

“Oppa, kau ini keterlaluan! Tadi pagi kau meninggalkanku, dan sekarang kau tidak bisa mengantarku pulang. Aku baru pulang kemarin, tapi kau malah mengacuhkanku,” kata Hyunchan pada orang yang menelpon itu yang sebenarnya adalah oppanya,”tau begini lebih baik aku tidak usah pindah ke Korea dan tetap di Indonesia, padahal kau sendiri yang memintaku untuk pindah ke sini.”

“Oppa minta maaf, Hyunchan,” ucap Minhwan dengan nada menyesal,”Aku sangat senang bisa bersama denganmu lagi, tapi urusanku sangat penting, aku akan menyuruh temanku menjemputmu, yah maafkan aku.”

“Tidak perlu, aku benci oppa,” kata Hyunchan sambil menutup telepon.

“Hyunchan-ah,” teriak Minhwan tapi sudah terlambat.

Hyunchan ingin menangis tapi niatnya itu diurungkan, dia mengahpus air mata yang hampir jatuh itu. “Oppa, benar-benar jahat. Tapi sepertinya aku sudah membatasinya, siapa tahu saja urusannya memang betul-betul penting, aku kan juga bukan anak manja,” kata Hyunchan menyesal.

Sebelum sempat keluar, Hujan sudah turun sehingga Hyunchan tidak bisa pulang dan berniat menunggu hujan reda di taman sekolahnya yang teduh. Karena dari tadi menunggu kakaknya yang ternyata tidak bisa menjemputnya, Hyunchan jadi menolak ajakan teman-temannya untuk pulang bersama.

“Tapi walaupun urusannya sangat penting, dia tidak seharusnya mengacuhkanku seperti ini, mana di sini hujan. Aku juga tidak tahu jalan pulang,” kata Hyunchan,”Sekarang yang bisa menghiburku hanyalah ini,” sambil membuka laptop kesayangannya dan membuka file videonya. Hyunchan memang sangat suka menonton MV K-Pop terutama boyband Korea Super Junior.

Neo gateun saram tto eopseo juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi, Hyunchan mulai menonton boyband idolanya itu, dan yang dia pilih adalah MV kesukaannya yang berjudul ‘No Other’, sambil menonton MV itu ia teringat oppanya dan kembali bernyanyi untuk melupakan oppanya itu.

“Hei, kau sedang melihat MV Super Junior sunbaenim yah?” tanya seorang pria yang tiba-tiba mendekat pada Hyunchan,”Bisakah aku ikut melihat?”

“Siapa kau?? Sok kenal sekali!” balas Hyunchan.

“Aku, kau tidak kenal aku?” kata pria itu.

“Memangnya kenapa? Apakah aku harus mengenalmu?” tanya Hyunchan,”Ya sudahlah tidak penting, aku tidak mau dapat musuh di sekolah ini, jadi kalau mau nonton ke sini saja.”

“Woh, omona anak ini!” kata pria itu lagi,”Kau betul-betul tidak tahu aku?”

Hyunchan  menatap pria itu, dan langsung mengenalinya,”Aku ingat, kau tadi pria yang menabrakku kan?” kata Hyunchan.

“Oh, aku ingat. Terima kasih, yah. Kau sudah menyelamatkanku tadi siang. Berkat menabrakmu orang itu berhenti mengejarku.”

”Kau pria yang dikejar oppaku, maafkan oppaku yah, eh….?”

“Taemin.. Lee Taemin,” sambung Taemin sambil mengangkat tangan untuk berjabat dengan Hyunchan.

Taemin tersenyum walaupun bukan itu jawaban yang ingin di dengarnya. “Maaf, yah sudah menabrakmu tadi, jadi kau adiknya Minhwan?” tanya Taemin sedikit kaget.

“Iya, aku adiknya. Mianhae, mianhae atas kesalahan oppaku,” kata Hyunchan dengan sedikit malu, sambil masih mengingat-ingat sesuatu. Dia merasa pernah melihat pria ini sebelumnya, bukan hanya tadi siang tapi sebelumnya, tapi dia belum bisa mengingat.

“Tidak apa-apa! Lagi pula tadi kau sudah menyelamatkanku,” kata Taemin,”Kau sedang apa di sini? Inikan sudah sore.”

“Iya, aku mau pulang tapi tiba-tiba hujan dan sebenarnya aku tidak tahu jalan.”

“Tidak tahu jalan? Maksudnya?” tanya Taemin kebingungan.

“Aku baru pindah kemarin dari Indonesia,” kata Hyunchan.

“Owh, aku pernah ke sana.” Kata Taemin.

“Oh, benarkah!” kata Hyunchan tidak percaya.

“Kau ngefans sama Super Junior, yah?” tanya Taemin sambil menonton MV ‘No Other’ yang terputar dari tadi.

“Iya, aku sangat ngefans sama mereka, aku berharap bisa bertemu dengan mereka.”

“Oh ya, aku sering ketemu mereka,” kata Taemin.

“Siapa tadi?” kata Hyunchan,”Oh yah, Taemin oppa, benarkan aku memanggilmu Taemin oppa, karena tadi kau memanggil oppaku dengan namanya artinya kau setingkat dengannya?”

“Bukan hanya itu, aku juga sekelas dengannya,” kata Taemin.

“Benarkah,” kata Hyunchan keheranan,”Oppa benar-benar keterlaluan, dia mau mangintimidasi temannya sendiri,” lanjutnya dengan sedikit mengomeli oppanya.

“Sudahlah,” kata Taemin,”Itu tidak masalah.”

“Wah, kau baik sekali. Kalau tidak salah, oppa tadi bilang kalau oppa sering bertemu dengan Super Junior, dan kenapa oppa tadi menyebutnya Super Junior sunbaenim?”

“Kau benar-benar tidak kenal aku?” tanya Taemin sekali lagi bersamaan dengan bergantinya ke MV ‘Sorry-Sorry’.

Sambil mengingat-ingat sejenak,”Ah, aku ingat! Kau Lee Taemin dari SHINee kan?” kata Hyunchan,”Yang dibilang sombong di sekolah ini sebagai seorang selebriti.”

“Ah, ternyata kau tahu,” kata Taemin sedikit lega dan melanjutkan menyanyi lagu ‘Sorry-Sorry’, dan dia sadar,”Ah, mereka memang selalu menganggapku sombong, padahal maksudku tidak begitu. Aku hanya takut salah bicara saat berbicara dengan mereka dan bisa menimbulkan gosip-gosip yang tidak enak.”

“Lalu, kenapa kau mau bicara denganku?” tanya Hyunchan,”Kau kan sebelumnya tidak tau kalau aku anak baru.”

“Aku hanya sendirian di sini, sangat tidak enak menunggu sendirian,” kata Taemin,”Aku menunggu hyungku menjemput, nah kebetulan kau memutar MV Super Junior, jadi aku juga pengen melihatnya, sudah lama aku tidak melihat MVnya, lagipula kau juga tidak ingat aku.”

“Maaf, aku tadi tidak mengenalimu,”kata Hyunchan, ”Aku bukan fan SHINee atau Shawol, yah. Aku ELF, tapi aku tahu kok lagu-lagu kalian. Dan oppa sangat berbeda dari yang biasa kusaksikan di layar.”

“Sudahlah, tidak apa-apa,” kata Taemin dan lansung kembali bernyanyi lagu yang sekarang terputar adalah ‘Miracle’.

Sesaat mereka asyik menonton MV-MV dari Super Junior. “Kau tidak punya MV SHINee?” tanya Taemin.

“Aku punya,” jawab Hyunchan,”Aku punya semua MV kalian juga lagu-lagu kalian, aku bahkan hafal gerakan kalian di ‘Love Like Oxygen’.”

“Oh, yah!” kata Taemin kaget,”kau mempelajari itu tapi lupa padaku.”

“Mianhae, aku dan teman-temanku di Indonesia pernah membawakan dance itu di praktek kesenian kami,” jelas Hyunchan.

Mereka kembali terdiam sambil menonton MV dan sesekali bernyanyi bersama.

“Siapa yang kau suka di Super Junior?” tanya Taemin tiba-tiba.

Hyunchan kaget mendengar pertanyaan itu,”Aku menyukai Ryeowook oppa dan Henry oppa.”

Shining star, like a little diamond, make me love naege pyungrogateun, dalkoman missorona barabomyeon sonsegeto, hangsang hamge halgora, till the end of time. Hp Hyunchan berbunyi dan langsung dimatikan.

*  *  *  *  *

“Hyunchan-ah, angkat teleponnya,” kata Minhwan dengan sibuknya mengacak-acak tombol hpnya, “Sudahlah HPnya tidak aktif nanti akan kucoba jelaskan di rumah. Pasti dia sangat marah,” kata Minhwan.

“Minhwan, kau menelpon siapa sih?” tanya seorang gadis di sebelah Minhwan,”Dari tadi sibukk sekali, marah-marah tidak jelas. Tau begini mending kita tidak usah jalan.”

“Yoonseo, kau sendiri yang memaksaku menemanimu,” kata Minhwan,”Katanya urusan penting, sampai mengancam segala. Tau-taunya kau hanya mengajakku jalan-jalan ke mall, sehingga aku meninggalkan adikku sendirian.”

“Hanya, katamu,” jadi menurutmu ini hanya jalan-jalan biasa,”Kita ini sedang kencan, kita baru pacaran satu minggu yang lalu dan baru sekali kita kencan.”

“Jadi, begitu,” bentak Minhwan,”Aku harus meninggalkan adikku sendirian hanya untuk bersenang-senang.”

“kenapa sih kau harus membesar-besarkan ini?” bela gadis itu,”Lagi pula sekarang dia pasti sudah di rumah bersantai.”

“Dia itu baru pindah kemarin ke Korea,” kata Minhwan dengan emosi semakin memuncak,”Ya Tuhan, aku baru ingat dia tidak tau jalan pulang dan dia pasti kebingungan. Oppa macam apa aku ini?” sesalnya.

“Aku tidak tahu kalau kau punya adik, apalagi kalau adikmu itu baru datang ke Korea,” kata gadis itu tanpa sedikitpun merasa bersalah,”Tapi, kenapa kau menyalahkanku atas semua ini.” Gadis itu berlari dan pergi meninggalkan Minhwan sambil menangis.

“Yoonseo-ah….,” teriak Minhwan dan tidak dipedulikan.

*  *  *  *  *

“Kalau SHINee?”

“Eh,….” Hyunchan sedikit ragu-ragu menjawabnya,”Aku suka Minho oppa, mianhae oppa.”

“Kenapa minta maaf? Tidak apa-apa kau tidak menyukaiku.”

Hyunchan hanya tersenyum malu pada Taemin.

“Siapa tadi?” tanya Taemin lagi.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Hyunchan.

“Sepertinya hujannya sudah reda, kau tidak mau pulang?” tanya Taemin,”Ini juga sudah sore sekali.”

“Sebenarnya dari tadi aku mau pulang, tapi aku tidak tau mau naik apa.”

“Memangnya rumahmu dimana,” tanya Taemin.

“Yang aku tahu, rumahku di Myungdoo Street.”

“Oh sepertinya aku melewati jalan itu,” kata Taemin.

Tiba-tiba datang seseorang membawa payung. “Taemin-ah, sudah lama menunggu? Maaf aku terlambat,” katanya pada Taemin.

“Oh hyung, tidak apa-apa. Terima kasih karena mau menjemput.”

“Tidak apa-apa,” katanya lagi.

Hyunchan yang melihat pria yang barusan datang hanya terdiam dan bingung harus melakukan apa.

“Siapa dia?” tanya pria itu.

“Dia……,” kata Taemin pada pria itu dan baru ingat kalau dia belum tahu namanya.

“Choi Hyunchan imnida,” Hyunchan memperkenalkan diri dengan inisiatif sendiri karena tahu Taemin belum tahu namanya.

“Annyeong,” sapa pria itu yang sebenarnya adalah Minho,”Ayo Taemin, kita pulang. Ini sudah sangat sore.”

“Hyung, bisakah dia pulang bersama kita?” pinta Taemin,”Kita melewati daerah rumahnya kok.”

“Taemin-ah, kau saja baru mengenalnya, masa’ sudah mengajaknya pulang bersama. Nanti kalau dia macam-macam bagaimana?” tanya Minho.

“Hyung tenang saja, dia baru pindah dari Indonesia,” kata Taemin,”Dia juga bukan fan kita, bahkan tadi dia sempat tidak tahu aku.”

“Tapi tetap saja, kita tidak boleh langsung percaya pada orang lain.”

Hyunchan yang mendengar percakapan mereka merasa tidak enak, ”Maaf, kalian tidak perlu mengantarku, nanti aku merepotkan kalian lagi! Biar aku naik bus saja.”

“Bukankah kau tidak tahu jalan? Lagi pula ini sudah gelap, tidak baik seorang gadis pulang sendirian malam-malam,” kata Taemin, ”Hyung boleh kan? Kau kan bukan tipe orang yang mau meninggalkan seorang gadis sendirian, dan baru kali ini aku sangat percaya pada orang yang baru kukenal. Lagi pula dia itu ELF, Hyung,” kata Taemin dengan sedikit berbisik pada Minho.

Minho sangat dekat dengan Super Junior, jadi dia senang waktu mendengar gadis itu ELF. Lagi pula Minho tidak mau kehilangan harga diri sebagai pria dengan meninggalkan seorang gadis sendirian.

“Baiklah, Taemin benar,” kata Minho,”Kau tidak boleh pulang sendirian karena hari mulai gelap, ikutlah dengan kami!”

Hyunchan merasa tersanjung dengan ajakan Minho, walaupun dia bukan Shawol, tapi dia menyukai Choi Minho. Mereka pun masuk ke mobil yang dibawa oleh Minho, Hyunchan masih merasa tidak enak dengan mereka berdua, orang asing yang baru dia kenal.

*  *  *  *  *

Minhwan pulang ke rumah haramoninya segera untuk menemui Hyunchan, dia langsung membanting stir dan sesampainya di depan rumah dia langsung mengerem mobilnya sehingga membuat haramoninya kaget.

“Haramoni, Hyunchan mana?”

“Minhwan, ada apa? Pulang-pulang langsung membanting stir,” tanya haramoni kebingungan, ”Bukankah kalian satu sekolah dan seharusnya pulang bersama? Seharusnya haramoni yang bertanya padamu, bagaimana sih kamu ini! Adikmu itu baru datang kemarin pasti dia belum tahu jalan.”

“Mian, haramoni. Aku lupa kalau Hyunchan tidak tahu jalan,” kata Minhwan dengan penuh penyesalan. “Dongsaeng, maafkan aku,” sekarang Minhwan sudah mulai meneteskan air mata.

*  *  *  *  *

Selama perjalanan, Taemin berusaha untuk akrab dengan Hyunchan, dia menanyakan kelas Hyunchan dan juga menanyakan tentang kegemarannya dengan K-Pop. Hyunchan juga sempat menceritakan tentang Shawol Indonesia, dan fans-fans lainnya.

“Hyunchan-ah, sudah berapa lama kau menyukai Super Junior sunbaenim?” kali ini Minho yang bertanya.

“Kira-kira sekitar tiga tahun, waktu aku di kelas 2 Middle School,” jawab Hyunchan.

“Oh, begitu yah,” sekarang malah Taemin yang mengangguk padahal Minho yang bertanya.

“Bisakah kau tidak memberitahukan siapa-siapa kalau kami mengantarmu?” tanya Minho, “Bukannya apa-apa, kami hanya tidak ingin ada gosip yang tidak enak di dengar dan nanti kau sendiri yang akan kena, kami hanya tidak mau melibatkanmu terlalu jauh,” jelas Minho.

“Iya, oppa. Aku mengerti, aku janji tidak akan memberitahukan siapa-siapa tentang hal ini,” ucap Hyunchan. “Aku sudah merepotkan kalian, aku tidak akan merepotkan kalian lebih jauh lagi.”

“Terima kasih kalau kau mengerti,” ucap Minho sambil sekali lagi menebar senyumnya yang khas dan membuat Hyunchan sesaat senang. Taemin hanya diam mendengarkan karena dari tadi dia sudah terlalu banyak bicara.

Sekarang Minho, Taemin, dan Hyunchan sudah dekat dari rumah Hyunchan karena Hyunchan bisa mengenali daerah-daerah yang di lewatinya tadi pagi. Walaupun Hyunchan baru datang ke Korea setelah lima tahun di luar negeri, tapi dia mempunyai ingatan yang kuat tentang rumah tempatnya lahir itu.

“Turun di sini saja oppa!” kata Hyunchan, “Sepertinya aku ingat tempat ini, aku tinggal berjalan sebentar dan bisa sampai di rumah.”

“Apa tidak sebaiknya kau kami antar sampai rumah?” kata Minho.

“Iya, sebaiknya begitu,” lanjut Taemin.

“Gomawo oppa, aku sudah terlalu merepotkan kalian, kalian pasti punya jadwal yang padat,” kata Hyunchan yang senang karena Minho menawarkannya untuk mengantar sampai rumah.

“Baiklah kalau itu maumu,” kata Minho cuek. Hyunchan pun keluar dari mobil mereka dan melambaikan tangan pada keduanya.

“Hati-hati, yah!” kata Taemin sambil tersenyum.

“Baik, sekali lagi gomawo,” ucapnya lagi yang sekarang diiringi dengan sedikit membungkukkan badan. Mobil mereka pun kembali melaju, dan setelah melihat mobilnya semakin jauh Hyunchan melanjutkan berjalan sambil mengingat-ingat jalan.

*  *  *  *  *

“Aku tidak bisa tinggal seperti ini, aku harus pergi mencarinya,” kata Minhwan sambil berdiri dari sofa dan kemudian berlari dan menaiki mobilnya.

Minhwan menjalankan mobilnya dan belum jauh dari rumah dia melihat seorang gadis berjalan kebingungan. Kemudian dia turun dari mobil dan berteriak, “Hyunchan-ah….. Hyunchan-ah….” Minhwan menyadari kalau itu adiknya, ia kemudian berlari dan menarik lengan gadis itu yang memang adalah Hyunchan.

Hyunchan berusaha melepaskan diri dari oppanya, dia sadar kalau yang memeluknya itu oppanya, tapi karena terlalu marah dia berniat untuk lari dari situ. “Lepaskan…,” bentak Hyunchan, ”Oppa sudah meninggalkanku dan sekarang pergilah tinggalkan aku lagi untuk ketiga kalinya, aku bisa pulang sendiri.”

“Hyunchan, Mianhae.”

“Sudahlah, kau sudah berulang kali mengatakan itu,” kata Hyunchan yang jelas kecewa dengan oppanya itu. “Aku kira, aku pasti senang pindah ke Korea karena aku bisa dekat dengan oppa, tapi justru sebaliknya, kau bahkan tidak peduli kepadaku. Tahu begitu aku tidak usah cepat-cepat ke Korea, dan tetap di Indonesia biar Appa dan Oemma saja yang ke sini,” sekarang dia berusaha berlari dari oppanya.

“Hyunchan, ayo kita pulang dulu. Kita bicarakan ini di rumah ini sudah malam, haramoni kawatir sekali padamu,” kata Minhwan.

Hyunchan terpaksa mengikuti oppanya, karena tidak mau haramoninya kawatir. Hyunchan juga pada dasarnya bukan anak yang pemberontak, jadi dia mengikuti kata oppanya.

Selama perjalanan pulang yang singkat, Minhwan mencoba untuk mengajak Hyunchan mengobrol, dia sudah lama sekali tidak mengobrol dengan dongsaengnya itu, terakhir waktu 6 bulan yang lalu dia liburan ke Indonesia untuk mengunjungi Appa, Oemma, dan dongsaeng satu-satunya. Dia di sana hanya 1 bulan dan baginya itu sangat singkat, ditambah sekarang dongsaengnya itu sudah ada di dekatnya, namun dalam keadaan marah dan tidak mau bicara.

“Haramoni, Hyunchan pulang,” ucap Hyunchan sambil menyembunyikan semua kekesalannya hari ini pada haramoninya kemudian memeluk haramoninya yang sudah cukup tua itu. Minhwan pun mengikutinya dari belakang.

“Hyunchan, darimana saja kamu?” tanya Haramoni, ”Kamu membuat haramoni sangat kawatir, bagaimana kalau kamu hilang?”

“Mianhae telah membuat haramoni kawatir, aku baik-baik saja. Tadi aku pergi jalan-jalan sebentar sama teman, dan baterai hpku pun habis jadi tidak bisa menghubungi ke rumah,” kata Hyunchan menyembunyikan kesalahan oppanya sambil menenangkan haramoninya.

“Kau ini baru datang ke Korea setelah 5 tahun, jadi jangan pergi sendirian, kan ada oppamu yang bisa mengantar,” kata haramoni.

“Oh, iya aku lupa kalau aku punya oppa,” ucap Hyunchan dengan nada kesal dan berpura-pura menatap kemana-mana. Minhwan merasa tersinggung dengan kata-kata Hyunchan itu, tapi setidaknya Hyunchan sudah melindunginya.

“Haramoni, Hyunchan pasti lelah, jadi biar ku antar dia ke kamarnya,” kata Minhwan sambil menarik lengan Hyunchan.

“Tapi aku masih mau di sini  bersama haramoni,” kata Hyunchan yang di tarik oleh Minhwan ke atas.

Haramoni hanya tersenyum melihat tingkah kedua cucunya itu, dia tahu kalau Hyunchan tadi berbohong walaupun sudah lama dia tidak bertemu Hyunchan, tapi Hyunchan tetaplah cucunya dan dia tahu bagaimana Hyunchan menyembunyikan sesuatu.

*  *  *  *  *

Sekarang Minhwan sudah sampai di depan kamar Hyunchan bersama Hyunchan, Hyunchan menatap sekilas oppanya itu.

“Kenapa?” tanya Minhwan yang merasa dongsaengnya itu menatapnya dengan tajam, “Terima kasih yah tidak mengatakannya pada haramoni, tapi ini semua kesalahanku aku pantas dimarahi untuk semua ini, kau seharusnya tidak….” belum selesai bicara Hyunchan bergegas masuk ke kamarnya dan menutup pintu segera.

“Hyuncan, mianhae…,” Minhwan kembali sangat merasa bersalah, padahal tadi dia kira dongsaengnya itu sudah memaafkannya. Minhwan masih terus mengetuk pintu kamar Hyunchan dengan pelan karena takut haramoninya mendengar.

Hyunchan hanya berbaring di atas tempat tidurnya dan tidak menghiraukan panggilan kakanya, kekesalannya itu sudah sangat memuncak padahal Hyunchan adalah orang yang tidak bisa mengabaikan panggilan orang lain meskipun itu orang yang dia benci sekalipun.

“Hyunchan… Mianhae… oppa sangat merasa bersalah, oppa sangat merindukanmu, apakah kau tidak merindukan oppa?” kata Minhwan.

Jelas saja Hyunchan sangat merindukan oppanya itu, kemarin waktu dia datang dia hanya bisa bertemu dengan oppanya itu sebentar dan langsung ke kamar kemudian tidur karena sudah terlalu malam dan dia sangat lelah jadi langsung tidur karena harus sekolah besok.

“Hyunchan, banyak sekali yang ingin oppa ceritakan padamu, buka pintunya,” kata Minhwan lagi.

Hyunchan membukakan pintu setelah satu jam oppanya itu menunggu, itu pun dengan sangat ragu-ragu, Hyunchan memang orang yang gampang sekali memaafkan orang lain. Minhwan yang terduduk di depan pintu kamar Hyunchan yang nyaris ketiduran karena terlalu lama menunggu kaget bercampur senang karena dongsaengnya itu sudah membukakan pintu.

“Hyunchan-ah, akhirnya kau membukakan pintu,” kata Minhwan yang juga kehabisan energi karena memang belum sempat makan siang sampai sekarang, “Kau mau memaafkanku?”

Hyunchan dengan terpaksa mengangguk, “Ne ~,” jawabnya singkat.

“Hyunchan-ah, tolong aku! Aku tidak bisa berdiri, aku belum makan dari tadi siang,” kata Minhwan.

“Aku baru saja memaafkanmu kau sudah merepotkanku lagi,” kata Hyunchan sambil mengulurkan tangan pada oppanya, “Kenapa oppa tidak makan? Kau ini mau mati? Oppa babo-ya!”

Minhwan hanya tersenyum melihat wajah dongsaengnya yang tiba-tiba khawatir dan meraih tangannya tapi tidak bangkit melainkan menarik lengan Hyunchan sampai membuatnya duduk di sampingnya.

“Katanya kehabisan tenaga, nyatanya menarikku sampai jatuh, sakit tau’!” omel Hyunchan pada oppanya.

Minhwan  marangkul dongsaengnya itu, dan berkata, “Aku hanya berbohong, agar kau mau memaafkanku, sudahlah itu tidak penting! Ayolah, maafkan aku, yah!” pinta Minhwan sambil mencolek-colek dagu Hyunchan.

“Aku mau memaafkanmu, tapi dengan 2 syarat!” kata Hyunchan.

“Dua?” kata Minhwan keheranan, namun langsung tersenyum, “Hanya dua? Aku akan melakukan apapun agar dongsaeng kesayanganku ini tidak marah padaku, tapi jangan minta nyawaku yah!” lanjut Minhwan.

“Kenapa?” tanya Hyunchan.

“Kalau kau ambil nyawaku, nanti kau yang kasihan!”

“Maksudnya?” tanya Hyunchan tambah heran.

“Iya, nanti kau tidak bakalan punya oppa yang tampan, keren, baik hati, kyopta, dan tidak sombong seperti aku ini,” kata Minhwan menyombongkan diri.

“Huft, dasar oppa narsis. Ternyata kau tidak hanya narsis di telpon, yah? Ternyata aslinya memang begini,” kata Hyunchan sambil menjitak kepala oppanya dan sekarang dia tersenyum.

“Begitu dong, kalau tersenyum dongsaengku jadi lebih manis kan kelihatan pantas menjadi dongsaeng Choi Minhwan yang super keren,” kata Minhwan kembali narsis sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk Hyunchan,”Ayo kita makan!”

“Sumpah, oppa betul-betul narsis, aku ragu apa kita saudara? Aku sama sekali tidak pernah narsis sepertimu,” kata Hyunchan bercanda.

“Aku juga ragu, masa aku yang seganteng ini punya dongsaeng yang jelek sepertimu,” kata Minhwan sambil mengulurkan lidahnya mengejek Hyunchan dan berlari ke arah dapur mencari makanan.

“Dasar, oppa awas kau!” Hyunchan ikut berlari mengejar oppanya dan sesaat melupakan kekecewaannya hari ini juga pertemuannya dengan dua orang terkenal.

*  *  *  *  *

mian kalau menurut kalian ceritanya nggak jelas…kekeke

Fanfic ini membutuhkan kritik dan saran kalian, jadi please komen yah!!

Admin YunTaeryeo🙂

One thought on “[Fanfic] All My Heart Part 1

  1. Ping-balik: [Fanfic] All My Heart Part 2 « Asian Pop City

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s